
Rayn mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menyesuaikannya dengan cahaya yang kini membuat matanya silau.
"Hng? Dimana ini?" tanya Rayn pada dirinya sendiri setelah berhasil membuka kedua matanya secara sempurna.
Hal yang pertama kali yang Rayn lihat adalah atap langit-langit ruangan ini yang berwarna putih. Perlahan Rayn berusaha mengerakkan kepalanya untuk bisa menoleh ke samping, Rayn mengerenyitkan dahi lalu terpaku menatap sosok seseorang yang kini berada di sisi kanannya.
Rayn menyungingkan senyumnya, melihat pemandangan Keira yang kini sedang tertidur lelap dengan kedua tangannya yang gadis itu jadikan sebagai bantal.
Rayn terkesima melihat Keira, wajah Keira ternyata sangat cantik. Hidung mancungnya, bulu mata lentik, dan bibir tipis menambah indah ciptaan Tuhan yang satu ini. Tanpa sadar Rayn mengerakkan tangannya mengusap lembut kepala Keira dengan lembut dan sehati-hati mungkin agar tidak sampai membangunkan gadis itu.
Tangan Rayn refleks menjauh dari Keira saat melihat ada pergerakkan dari gadis itu, dan benar saja perlahan-lahan mata yang dilapisi oleh bulu mata lentik itupun terbuka membuat Rayn berdehem singkat menetralkan detak jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Loh?" Rayn menatap Keira yang terlihat terkejut melihat dirinya telah sadar.
"Lo udah sadar? Kok gue gk tau? Kenapa lo gk bangunin gue sih? Ish nyebelin," kata Keira yang langsung menegakkan badan. Gadis itu kemudian mengerutu pada Rayn dan terus bertanya sejak kapan Rayn mulai sadarkan diri.
"Saya baru aja sadar kok," kata Rayn membuat Keira menghela nafas pelan lalu menatap Rayn sementara yang ditatap hanya diam dan ikut-ikutan memandang Keira juga.
"Syukurlah lo gk kenapa-kenapa," ujar Keira yang bisa menghembuskan nafas lega kali ini.
"Kamu khawatir saya kenapa-kenapa ya?" Tanya Rayn membuat Keira refleks menabok lengan pria itu membuat Rayn meringis.
"Eh sorry, abisnya lo baru sadar udah ngomong yang aneh-aneh gini sih kan gue kaget," kata Keira yang merasa tak enak hati sudah menabok lengan Rayn.
Rayn mengulum senyumnya, merasa gemas dengan segala tingkah yang Keira lakukan.
"Rayn gue boleh tanya sesuatu?"
"Boleh, mau tanya apa?"
Keira diam sejenak terlihat sedang menimbang-nimbang pertanyaannya.
"Lo kenapa sampai bisa luka begini?"
Rayn terdiam tak langsung menjawab pertanyaan yang Keira lontarkan padanya.
"Ada seseorang yang-" belum selesai Rayn bicara Keira sudah memotongnya lebih dulu.
"Seseorang? Siapa? Jadi lo luka-luka kaya gini gara-gara orang? Wahh kurang asem tuh orang, siapa orangnya? Lo kenal gk? Maksud gue lo liat mukanya gk?" Tanya Keira yang bertubi tubi membuat Rayn menghela nafas pelan tak menyangka bahwa gadis di hadapannya akan breaksi seheboh ini.
"Saya gk lihat wajahnya dan saya juga gk kenal siapa dia," jawab Rayn singkat membuat Keira agak kecewa karna tidak bisa mengetahui siapa orang yang sudah berani menyerang Rayn.
"Yahh gue kira lo tau siapa orangnya, kan bisa kita laporin udah bikin lo babak belur gini." Rayn tersenyum mendengar perkataan Keira yang agak melebih-lebihkan kondisinya, padahal Rayn sebenarnya tak babak belur amat hanya saja memang kini kondisinya tidak bisa di katakan sedang baik-baik saja juga.
Cklek
__ADS_1
Kemudian pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok Mamah Rayn yang setelah masuk langsung menghampiri Rayn.
"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Mamah Rayn pada putranya itu.
"Sudah lebih baik," jawab Rayn kemudian Mamah Rayn menoleh ke arah Keira yang sedaritadi hanya jadi penonton.
"Keira," panggil Mamah Rayn membuat Keira tersentak.
"E ... eh iya Mah? Ada apa Mah?" Tanya Keira pada Mamah Rayn yang baru saja memanggil namanya.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Mamah Rayn membuat Keira melongo tak percaya, pasalnya sangat tiba-tiba sekali Mamah mertuanya itu menanakan kabarnya.
"Alhamdulillah kabar Keira baik Mah, Kabar Mamah gimana?" Tanya Keira sambil tersenyum ramah.
"Saya baik, kalau begitu saya mau bicara berdua dengan Rayn."
Keira diam, barusan Mamah mertuanya mengusir dirinya secara halus? Yang benar saja.
"Kenapa malah diem? Perkataan saya kurang jelas ditelinga kamu?"
"Eh? I ... iya Mah Kei keluar dulu hehe," ucap Keira lalu segera berjalan ke luar ruangan.
Kini tinggal Rayn dan Mamahnya saja yang berada di dalam ruangan, Mamah Rayn menatap putranya itu dengan tatapan datarnya.
"Mamah mau menagih tugas yang Mamah berikan pada kamu," ujar Mamah Rayn.
"Tugas? Tugas apa Mah?" Tanya Rayn yang bingung tugas apa yang sedang Mamahnya maksudkan itu.
"Tugas untuk menghamili Keira, apakah sudah kamu laksanakan?"
Rayn membelakkan matanya, kaget. Ia kira Mamahnya sudah lupa dengan tugas yang satu itu ternyata Mamahnya masih saja ingat tentang tugas tersebut.
Glegh
Rayn menelan ludahnya kasar saat mendengarkan ucapan Mamahnya barusan.
"Kamu harus segera menuntaskannya Rayn atau kalau tidak ..." Rayn diam menunggu Mamahnya untuk meneruskan ucapannya tersebut.
"Kalau tidak Naya akan tambah sengsara atau bahkan Mamah gk segan-segan buat bunuh dia."
Mendengar hal itu Rayn kaget sekali, ia membulatkan matanya.
"Tenang saja kalau kamu menjalankan tugas dengan benar, mamah janji tidak akan menyakiti Naya dan kamu bebas melakukan apa yang kalian mau."
Mendengar hal itu Rayn diam, dan mulai berfikir dia mengabaikan tepukkan tangan Mamahnya di pundak. Setelah mengatakan itu Mamah Rayn pergi ke luar dari ruangan.
__ADS_1
Tak lama Keira pun masuk menghampiri Rayn yang masih termenung.
"Rayn nih gue beliin lo buah, mau gk? Gue bukain satu buat lo," kata Keira namun Rayn masih saja termenung dalam diam.
Merasa dikacangin oleh Rayn, Keira pun mengerenytikan dahi bingung menatap Rayn yang tampangnya nampak tertekan dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Hei Rayn! " Ujar Keira tepat di dekat telinga Rayn membuat Rayn tersentak dari lamunannya.
"Gue daritadi ngomong lo kacangin terus," kata Keira mengerutu kesal.
"Maaf." Keira mendengus mendengar perkataan maaf dari Rayn barusan.
"Kamu marah sama saya?" Tanya Rayn yang melihat raut wajah Keira berubah.
"Kalau mau makan buah, makan aja. Gue pergi dulu," ucap Keira yang sudah bangkit dari duduknya.
"Keira tunggu!"
Langkah Keira terhenti saat Rayn tiba-tiba menahan tangannya untuk tidak pergi, Keira menghela nafas pelan lalu membalikkan badan menghadap ke arah Rayn dengan tampang wajah betenya.
"Apa lagi?" Tanya Keira tak bersahabat.
"Duduk, tolong temani saya makan buah di sini ya?" Pinta Rayn dengan ekspresi wajah memelas membuat Keira jadi merasa tak tega.
"Lima menit, gue temenin lo lima menit doang setelah itu gua harus pulang ambil baju lo."
Rayn menyungingkan senyum tipisnya sambil melihat Keira yang sudah duduk kembali.
"Mau buah apa?" Tanya Keira agak ketus.
"Apel," jawab Rayn yang masih serius memperhatikan wajah Keira yang cemberut.
Akhirnya Keira mengupaskan buah apel untuk Rayn, meskipun sebenarnya ia sebal pada pria itu karna sudah cuek padanya.
"Nih apel nya udah gue kupasin sekaligus gue potong-potong," kata Keira sambil memberikan potongan Apel itu pada Rayn.
Rayn menerimanya tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada Keira.
"Buka mulut kamu," ucap Rayn membuat Keira bingung.
"Buat apaan?" Tanya Keira mengutarakan kebingungannya.
Rayn tak menjawab ia justru malah memasukkan sepotong apel ke dalam mulut Keira.
Keira yang syok dan setengah percaya atas apa yang Rayn barusan lakukan hanya terdiam membeku di tempat, sementara Rayn hanya tidak dapat menahan senyum ketika melihat ekpresi wajah Keira saat ini yang seketika membuat mood nya yang sebelumnya hancur karna perkataan Mamahnya kini menjadi membaik.
__ADS_1