Without You

Without You
[S3] Kebahagiaan Setelah Duka


__ADS_3

Vidya sedang membantu Arya memasang dasi, Arya tersenyum melihat Vidya yang kini sudah lebih baik dari sebelumnya. Semenjak Gama pergi, Vidya selalu terlihat murung dan sering melamun. Arya bahkan tidak tega melihat istrinya itu bersedih, ia juga sama sedihnya seperti Vidya. Tapi mau bagaimana lagi, takdir sudah tak berpihak padanya.


"Sudah selesai," ujar Vidya yang baru saja menyelesaikan tugasnya memasangkan dasi Arya.


Arya tersenyum, ia menahan tangan Vidya yang ingin berlalu pergi. Pria itu membuat Vidya tersentak dan menghela nafasnya perlahan.


"Ada apa lagi?" Tanya Vidya menatap manik mata Arya yang juga kini sedang menatap padanya dengan tatapan penuh cinta.


"Jangan pergi dulu, aku kangen kamu," ucap Arya lagi yang kini sudah mengusap lembut wajah Vidya dengan jarinya.


Vidya hanya menyungingkan senyumannya, ia lalu memegang tangan Arya dan mengenggamnya erat.


"Aku juga kangen kamu," ujar Vidya setelah itu ia berhambur ke dalam pelukkan Arya.


Arya membalas pelukkan Vidya tidak kalah erat, ia mendaratkan kecupannya di puncak kepala Vidya. Ia berharap kesedihan Vidya segera berlalu, ia tidak mau melihat istrinya itu terus bersedih karna itu sangat menyakitkan bagi Arya.


"Kamu gk bisa di rumah aja gitu?" Tanya Vidya sambil memainkan jari-jarinya di dada bidang Arya.


"Maaf sayang, hari ini aku gk bisa libur karna mau ketemu sama mitra bisnis ku," ucap Arya lagi dan Vidya hanya bisa menghela nafasnya.


"Jangan sedih ya, aku janji kok. Aku bakalan pulang cepet supaya bisa memenin kamu."


Vidya tersenyum senang, ia lalu kembali memeluk Arya. Ia memejamkan mata, menghirup wangi  mint yang menguar dari tubuh suaminya itu. Wangi Arya adalah kesukaan Vidya, karna ia selalu merasa nyaman.


"Aku berangkat dulu ya sayang," ucap Arya sambil mengecup dahi Vidya lama. Vidya mengangguk lalu mulai ikut mengantarkan Arya hingga ke depan rumah.


"Jaga diri baik-baik ya, jangan lupa makan. Aku gk mau kamu nanti sakit," pesan Arya sebelum dia pergi bekerja.


"Jangan capek-capek, kalau butuh apa-apa minta tolong Bi Imah ya," lanjut Arya lagi dan Vidya hanya menganggukkan kepalanya menuruti ucapan Arya. Setelahnya Arya tersenyum lalu kembali mendaratkan kecupan di dahi Vidya.


"Aku berangkat ya, Assalamu'alaikum," pamit Arya untuk yang ke dua kalinya. Vidya tersenyum dan mengangguk serta menjawab salam dari Arya.


"Hati-hati Mas!" Seru Vidya dan di balas anggukkan kepala oleh Arya.


Setelahnya mobil yang Arya kendarai pun melesat pergi, Vidya pun akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Ayah sudah berangkat ya Ummah?" Tanya Reilla yang baru saja turun dengan wajah segarnya, yang Vidya yakin pasti putrinya itu baru saja selesai mandi.


"Iya, Ayah baru saja berangkat. Kita sarapan dulu yuk," ajak Vidya dan di balas anggukkan kepala oleh Reilla.


"Gama ke man-" ucapan Vidya terhenti saat ia kembali sadar bahwa Gama sudah tiada lagi.


Setiap melihat kursi di samping Reilla yang biasa di duduki oleh Gama, Vidya langsung selalu teringat pada sosok Gama yang sudah tidak ada lagi.


"Ummah," panggil Reilla menatap khawatir Vidya.


"Gk apa-apa kok sayang, Ummah hanya lupa. Biasanya pagi begini kita selalu makan bertiga bersama Gama, rasanya hanya sedikit berbeda saja," ucap Vidya sambil tersenyum sendu.


Reilla menghela nafasnya, ia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Vidya. Ia memeluk tubuh Vidya dari samping, ia berusaha menenangkan Ummahnya itu yang selalu merasa sedih tiap kali mengingat tentang adiknya.


"Ummah gk sedih kok nak, udah yuk kita makan aja," ajak Vidya dengan senyumannya. Reilla mengangguk dan menurut, ia kembali duduk besebrangan dengan Vidya.


Mereka berdua pun mulai menikmati makanan masing-masing dalam diam, tak ada pembicaraan selama acara sarapan tersebut.


"Biar Rei aja yang beresin bekas makanannya Ummah," ucap Reilla yang sudah menggambil alih piring kotor dan menumpuknya jadi satu untuk ia cuci nanti.


Setelah selesai berberes rumah, Reilla pun pamit pergi ke luar pada Vidya. Pagi ini ia sudah ada janji dengan Kayla pagi ini.


"Rei, berangkat dulu ya Ummah. Assalamu'alaikum," pamit Reilla lalu akhirnya pergi ke luar dari rumah.


Tak perlu waktu lama Reilla sampai di sebuah kafe, tempat ia dan Kayla sudah janjian sebelumnya. Sambil menunggu Kayla yang belum datang, Reilla memainkan ponselnya sebentar sekedar untuk menghubungi Kayla.

__ADS_1


"Permisi."


Reilla pun mengalihkan tatapannya dari gawai yang tadi ia mainkan, ia mengangkat kepalanya dan agak terkejut melihat sosok yang datang menghampirinya saat ini. Dia adalah perempuan yang sama dengan yang sebelumnya Reilla lihat sedang bersama dengan Aksara.


"Iya?" Tanya Reilla sambil menaikkan satu alisnya.


"Hmm, kamu punya charger ponsel gk? Baterai ponsel ku habis, padahal aku harus menghubungi seseorang. Jadi boleh pinjem charger kamu gk?" Tanya perempuan itu sambil menunjuk chargeran milik Reilla yang memang ia letakkan di atas meja.


"Ah iya, silahkan," ucap Reilla sambil menyungingkan senyuman. Walaupun dia agak bingung sebenarnya kenapa perempuan ini tiba-tiba datang pada dirinya, tapi karna perempuan itu kelihatan sangat membutuhkan charger Reilla pun tidak keberatan meminjamkan chargerannya.


Perempuan itu mengucapkan terimakasih, lalu berjalan menuju tempat colokkan untuk mencharger ponselnya. Reilla hanya mengamati tingkah perempuan itu dari tempat ia duduk saat ini, ia mengamati perempuan itu dalam diam dan masih bertanya-tanya hubungan apa yang Aksara dan perempuan itu miliki.


Perempuan itu terlihat sedang menghubungi seseorang dari ponselnya, wajahnya terlihat panik bahkan ia terlihat sudah meneteskan air matanya. Setelahnya perempuan itu duduk di tempatnya, sambil masih terisak. Reilla jadi bingung, sebenarnya perempuan itu kenapa? Apakah dia sedang ada masalah? Sehingga ia menangis begitu?


Reilla tak ambil pusing, ia mencoba menghubungi Kayla lagi dan memintanya untuk segera datang. Namun Kayla membalas pesan Reilla, katanya ia agak terlambat karna harus mengantarkan Keira, adiknya Kayla ke mendaftar ke TK barunya. Karna Keira, baru saja pulang dari Inggris. Adiknya itu besar di Inggris dan tinggal bersama dengan Kakak perempuannya Kayla yang bernama Almeera.


Jadilah Reilla harus kembali menunggu Kayla datang, pesanan coklat hangat milik Reilla pun sudah tiba. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada pelayan yang sudah mengantarkan pesanannya.


Reilla menyesap sedikit coklat panasnya, namun tiba-tiba saja ia tersedak saat melihat sosok pria yang baru saja masuk ke dalam kafe tersebut. Pria itu tak lain adalah Aksara, ia datang dan menghampiri perempuan yang tadi baru saja meminjam chargeran pada Reilla.


Wajah Aksara terlihat begitu menyiratkan kekhawatiran, pria itu datang dan berusaha menenangkan perempuan itu yang kembali menangis. Reilla hanya diam terpaku di tempatnya, ia terus mengamati Aksara dan perempuan itu dalam diam.


"Kamu gk apa-apa kan?"


Karna jarak Reilla dan tempat perempuan itu tidak terlalu jauh, Reilla masih bisa mendengar suara Aksara walaupun hanya sedikit. Perempuan itu terlihat mengelengkan kepalanya, masih dengan tangisannya.


Aksara tidak bertanya lagi, ia justru merangkul gadis itu. Ia berusaha menenangkannya, Aksara yang saat ini Reilla lihat adalah Aksara yang berbeda dengan Aksara yang biasanya. Aksara yang biasanya terkesan dingin dan kaku, sedangkan Aksara yang saat ini sedang ia lihat adalah sosok Aksara yang sangat lembut dan jauh dari kesan kaku dan juga dingin.


Reilla semakin yakin bahwa hubungan Aksara dan perempuan itu begitu dekat, lihat saja sikap yang Aksara tunjukkan padanya sangatlah berbeda dan terkesan begitu spesial.


Reilla pun berusaha menghibur dirinya, walaupun Reilla tak bisa mengelak kalau dirinya cukup merasa agak kecewa melihat kedekatan Aksara dan perempuan itu. Namun sekali lagi Reilla tegaskan pada dirinya, bahwa ia dan Aksara tidak punya hubungan apapun. Bahkan teman pun juga tidak, mungkin hanya Reilla saja yang menganggap Aksara sebagai temannya dan Aksara tidak menganggapnya demikian.


"Hei!"


"Udah lama ya nunggunya? Sorry banget nih tadi aku harus nganter Keira daftar sekolah dulu," ujar Kayla yang merasa tak enak karna sudah membuat Reilla menunggu lama.


"Gk apa-apa aku ngerti kok," balas Reilla sambil menyungingkan senyumannya. Lalu keduanya pun mulai larut dalam obrolan sampai pada akhirnya obrolan mereka terhenti.


"Hai, makasih banyak ya atas pinjaman chargernya."


Rupanya itu adalah gadis yang sama yang tadi dekat dengan Aksara, gadis itu tersenyum lebar dengan mata sembabnya. Walaupun begitu ia tetap terlihat begitu cantik, wajah bulat nya terlihat begitu imut dan jangan lupakan tubuh rampingnya yang membuat gaddis itu semakin terlihat menarik.


"Iya, sama-sama," balas Reilla yang juga menyungingkan senyumannya.


Reilla lalu tak sengaja melirik ke arah Aksara, rupanya pria itu juga ikut melirik padanya. Pandangan mereka bertemu beberapa saat, karna Reilla memilih untuk mengalihkan tatapannya pada gadis yang masih berdiri di depannya ini.


"Ah iya, kenalin nama aku Naya," ucap gadis itu dengan ramah sambil menyodorkan tangannya pada Reilla.


Rupanya gadis imut itu bernama Naya, Reilla menyambut uluran tangan Naya dan juga menyebutkan namanya.


"Senang berkenalan dengan kamu, semoga kita bisa bertemu lagi," ucap Naya dengan senyumannya. Reilla mengangguk dan tersenyum juga.


"Nay, ayo kita pergi," ucap Aksara yang entah sejak kapan sudah berdiri tak jauh dari meja tempat Reilla dan Kayla berada.


"Sebentar Aksa, gais aku pergi dulu ya. Sampai ketemu lagi!" Seru Naya sambil melambaikan tangannya lalu berjalan ke arah Aksara yang sudah menunggunya.


Aksara langsung mengandeng tangan Naya saat perempuan itu sudah datang menghampiri dirinya, lalu setelah itu keduanya pun pergi ke luar dari kafe tersebut secara beriringan dan bergandengan tangan.


"Pake gandengan segala kaya mau nyebrang jalan aja," cibir Kayla.


Reilla hanya tersenyum menanggapi ucapan Kayla, ia lebih memilih menyesap minumannya.

__ADS_1


"Kamu gk pesen minum Kae?" Tanya Reilla pada sahabatnya itu.


"Udah kok tadi, kamu gk nyadar emangnya?" Tanya Kayla sambil membulatkan matanya, terlihat begitu dramatis.


"Masa sih? Aku gk liat tadi, maaf ya," ucap Reilla sambil meringis.


"Ck, lagi mikirin apa sih kamu? Kayanya lagi banyak fikiran banget," kata Kayla lagi dan di balas gelengan kepala oleh Reilla.


Kayla tak bertanya lagi ia lebih memilih diam, Reilla juga diam saja karna fikirannya masih tertuju pada sikap Aksara yang begitu manis dan lembut saat bersama dengan Naya. Tidak di ragukan lagi, Naya adalah gadis yang spesial bagi Aksara.


[]


Ting tong ting tong


"Iya sebentar!" Teriak Vidya saat bel rumahnya berbunyi.


Ia pun segera berjalan ke arah pintu rumah dan segera membukanya.


"Assalamu'alaikum putri Umi."


Mata Vidya berbinar senang, ia tersenyum dan membalas salam Umi nya itu, lalu segera mempersilahkan Umi nya untuk masuk ke dalam rumah.


"Duduk dulu Umi," ucap Vidya mempersilahkan Umi nya untuk duduk.


"Kamu kenapa? Sakit? Kok mukanya pucet?" Tanya Umi Vidya, ia merasa khawatir saat melihat wajah pucat putrinya itu.


"Gk tau nih mi, dari tadi pagi kepala Vidya pusing gitu " jawab Vidya yang memang ternyata sedang merasa tak enak badan.


Umi Vidya menatap khawatir pada anak nya itu, ia meraba dahi Vidya yang ternyata memang terasa panas.


"Umi mau minum apa? Biar Vidya ambilkan," tawar Vidya.


"Gk usah repot-repot, Umi ke sini cuma datang berkunjung aja kok," ucap Umi Vidya namun karna Vidya merasa tak enak, ia pun tetap menggambilkan minum untuk menyambut Umi nya.


Namun saat Vidya hendak membuatkan teh hangat untuk Umi nya, kepalanya tiba-tiba terasa pening. Tubuh Vidya pun limpung bahkan gelas teh yang tadi ia bawa pun terjatuh dan menimbulkan bunyi yang lumayan nyaring.


Umi Vidya yang tadi ada di ruang tamu segera bangkit, ia lalu bergegas mengecek keadaan putrinya di dapur.


"Astagfiruallahaladzim Vidya!" Pekik Umi Vidya yang begitu kaget melihat Vidya sudah terduduk di lantai.


"Kamu gk apa-apa nak?" Tanya Umi Vidya begitu khawatir. Vidya mengeleng lemah, Umi Vidya pun membantu putrinya itu untuk pergi ke kamar dan meletakkannya di atas ranjang.


"Istirahat aja ya nak," ujar Umi Vidya sambil menyelimuti tubuh Vidya.


Umi Vidya juga bergegas menghubungi dokter dan juga menghubungi Arya, ia khawatir pada Vidya yang terlihat begitu lemas saat ini.


Tak lama dokter pun datang lebih dulu di bandingkan dengan Arya, dokter segera memeriksa keadaan Vidya.


Lalu setelah pemeriksaan berakhir, Arya pun baru saja tiba. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang begitu mendalam. Arya begitu panik saat ia mendengar kabar bahwa Vidya sedang sakit.


"Kamu gk apa-apa kan sayang?" Tanya Arya yang sudah duduk di pinggir ranjang menatap wajah pucat istrinya itu.


Vidya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Walaupun Vidya bilang bahwa ia baik-baik saja, tapi tetap saja Arya merasa khawatir padanya.


"Dokter istri saya kenapa ya?" Tanya Arya sambil menatap dokter yang masih ada di dekatnya.


"Bapak gk usah khawatir, istri anda hanya kelelahan saja dan kabar baiknya istri anda saat ini sedang mengandung. Usia kandungannya sudah memasuki dua minggu."


Arya membulatkan matanya, ia menatap Vidya yang sudah tersenyum melihat reaksi antusias yang Arya tunjukkan.


"Jadi? Kita bakalan punya anak lagi?" Tanya Arya memastikan dan di balas anggukkan oleh Vidya.

__ADS_1


"Terimakasih sayang," ucap Arya seraya mengecup dahi Vidya lama. Ia begitu bahagia mendapat kabar bahwa istrinya saat ini sedang hamil. Itu adalah kabar yang begitu membahagiakan bagi Arya dan juga Vidya tentunya. Kabar yang sudah sangat mereka nantikan selama ini, sebentar lagi mereka akan memiliki anak lagi.


Tak bisa Arya ungkapkan dengan kata-kata, intinya ia begitu merasa bahagia mendapatkan kabar ini.


__ADS_2