Without You

Without You
[S2] Pertemuan


__ADS_3

Matahari siang ini bersinar begitu terik, membuat semua orang yang terkena sinarnya merasa panas.


Begitupun dengan Reilla yang saat ini sedang bersembunyi di balik pohon, gadis itu rupanya sedang memata-matai seorang pria. Pria yang selama ini begitu ia kagumi.


"Hmmm."


Suara deheman seseorang membuat Reilla tersentak kaget, gadis itu membalikkan badannya lalu menghela nafas saat ia tau siapa orang yang kini berdiri di belakangnya itu.


"Ngapain lo di sini?" Tanya orang tersebut memandang Reilla dengan pandangan datarnya.


"Eh? Ng ... nggak ngapa-ngapain kok," ucap Reilla terbata-bata sambil menunjukkan cengirannya.


"Kok gue gk percaya ya?" Tanya orang tersebut membuat Reilla menelan salivanya.


"Eh bentar deh itu bukannya anak baru itu kan? Yang baru pindah ke perumahan ini?" Tanya orang itu ketika melihat pria yang sedaritadi Reilla amati dari balik pohon.


"Lo kenal sama dia?" Tanya orang itu lagi membuat Reilla gelagapan.


"Nggak kok, mana mungkin aku kenal hehe, dia kan lebih tua dari Rei," ujar Reilla lagi sambil menunjukkan cengirannya.


"Gue juga lebih tua setahun dari lo, tapi lo kenal gue."


"Ya itu kan beda ceritanya, kalau aku sama Kak Rendi kan udah kenal dari kecil. Bahkan kita tetanggaan udah lama Kak," sahut Reilla yang masih berusaha bersikap biasa-biasa saja.


Lalu Reilla dan orang bernama Rendi itu sama-sama diam, Reilla kembali menatap pria pujaannya yang saat ini sedang bermain basket bersama anak-anak komplek lainnya dari balik pohon sambil menyungingkan senyuman yang tak pernah sirnah dari wajahnya.


"Lo beneran gk kenal dia?" Tanya Rendi.


Reilla yang sedang fokus menatapi pujaan hatinya pun hanya bisa mengelengkan kepalanya sambil memasang ekspresi keterkagumannya.


"Oh gitu, nama cowok itu siapa?"


"Kak Aksara," jawab Reilla tanpa sadar membuat Rendi tersenyum miring.


Sadar jika Reilla baru saja keceplosan pun langsung membulatkan matanya, perlahan ia menoleh pada Rendi sambil memasang cengiran konyolnya.


"Katanya lo gk kenal, kok bisa tau namanya? Hmm?" Tanya Rendi membuat Reilla mati kutu.


"Hehe kayanya Rei ada PR deh, Rei permisi pulang dulu ya Kak. Dah Kak Rendi!" Ujar Reilla sambil berlari menjauh dari Rendi.


Reilla menutup matanya sambil berlari ia begitu malu sekali, bisa-bisanya ia keceplosan seperti itu tadi. Reilla yakin pasti setelah ini Rendi akan meledekinya habis-habisan.


"Rei awas!" Teriak Rendi dari tempatnya berdiri, saat ia melihat bola basket yang melayang hendak mengenai kepala Reilla.


Brukkk


Rendi meringis ketika melihat Reilla sudah jatuh tersungkur ke tanah, tak tinggal diam Rendi pun bergegas menghampiri Reilla karna ia takut gadis itu kenapa-napa.


"Rei lo gk apa-apa?" Tanya Rendi yang sudah berjongkok di hadapan Reilla.


Reilla bangkit perlahan sambil meringis kesakitan.


"Gk apa-apa kok Kak," jawab Reilla sambil memaksakan senyumannya.

__ADS_1


"Gk apa-apa gimana? Itu hidung lo berdarah, lo mimisan Rei!" Seru Rendi yang panik melihat darah mengalir dari hidung Reilla.


"Kak Rei gk apa-" ucapan Reilla terhenti saat Rendi mengeluarkan sapu tangan dan mulai mengelapi darah yang mengalir dari hidung Reilla dengan sangat hati-hati.


"Makasih Kak Rendi," ujar Reilla setelah Rendi selesai membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya.


Rendi pun membantu Reilla untuk berdiri, lalu tatapan Rendi menajam saat melihat orang yang tadi dengan begitu sengaja mengenai Reilla dengan bola basket.


"Lo punya masalah apa sih sama Rei? Lo sengajakan ngenain dia pakai bola basket?!" Ujar Rendi yang terlihat emosi.


Pria yang Rendi omeli itu pun menyungingkan senyuman miringnya, ia berjalan dan berdiri tepat di depan Rendi.


"Bukan salah gue, itu salah cewek ini yang jalan gk pake mata!" Ucap pria itu yang ikut menatap tajam Rendi.


"Sialan lo!" Ujar Rendi yang langsung memberikan pukulan di wajah pria itu.


"Kak Aksa!" Pekik Reilla ketika melihat pria yang di pukul Rendi itu yang tak lain adalah Aksara.


"Kak Aksa gk apa-apa kan?" Tanya Reilla yang langsung menghampiri Aksara.


"Gk usah sok perduli!" Ujar Aksara ketus sambil menghempaskan tangan Reilla dari pundaknya.


"Kak Aksa maafin Rei ya," ucap Reilla yang meminta maaf pada Aksara.


"Rei lo gk harus minta maaf sama dia? Dia yang salah bukan lo Rei!" Ujar Rendi geram melihat Reilla yang meminta maaf padahal gadis itu tidak salah.


"Kak Rendi udah! Kak Rendi kenapa mukul Kak Aksa?" Tanya Reilla yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Udah cukup! Sekarang Kak Rendi minta maaf sama Kak Aksa," ucap Reilla membuat Rendi membulatkan matanya.


"Lo nyuruh gue minta maaf? Salah gue apaan? Cowok itu yang salah udah nyakitin lo," ujar Rendi tak terima ketika Reilla menyalahkannya.


"Rei pulang dulu ya Kak Aksa," ujar Reilla yang berusaha memasang senyumannya lalu setelah itu ia pergi meninggalkan Aksara yang masih mengepalkan tangannya sementara Rendi, pria itu memilih untuk pergi juga.


Reilla berjalan sambil menundukkan kepalanya, ia masih berfikir sampai saat ini kenapa Aksara terus membencinya? Padahal sudah 15 tahun berlalu tapi pria itu masih terus membencinya, entah kesalahan apa yang sudah Reilla perbuat sampai Aksara tak pernah mau memaafkannya.


Tinnnnn


Suara klakson yang nyaring, membuat Reilla mengangkat kepalanya. Matanya membulat ketika melihat sebuah mobil yang melaju cepat hendak menuju ke arah seorang wanita yang sepertinya belum menyadari keberadaan mobil itu.


"Awas!" Teriak Reilla seraya berlari ke arah wanita itu, Reilla berharap ia belum terlambat untuk menyelamatkan wanita itu.


Brakkkk


Deg deg deg


Degup jantung Reilla berpacu dengan cepat, nafasnya terasa tercekat bahkan ia melupakan rasa sakit di pungungnya yang menghantam aspal.


Lalu Reilla kembali teringat dengan wanita yang tadi ia dorong, Reilla pun berusaha bangkit namun punggungnya terasa sangat sakit.


Akhirnya ia memutuskan untuk berusaja membalikkan badannya ke arah kiri, dan akhirnya setelah menahan rasa sakit di punggungnya yang teramat Reilla bisa membalikkan badannya juga.


Ia melihat wanita yang ia tolong tadi sedang terduduk tidak jauh dari tempatnya saat ini, wanita itu sepertinya terlihat sangat syok namun Reilla bersyukur wanita itu baik-baik saja.

__ADS_1


Karna tidak kuat terlalu lama memiringkan badannya, Reilla pun kembali ke posisi semula yaitu telentang sambil memejamkan matanya.


"Nak apa kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?"


Reilla yang sedang kesakitan berusaha unuk membuka matanya perlahan, cahaya matahari yang terik membuat Reilla kembali menutup matanya lagi namun tak lama ia kembali membuka matanya lagi.


Mata Reilla terbelalak saat ia melihat sosok wanita yang kini berada di hadapannya tengah menatap khawatir padanya.


"Nak? Ada apa? Apa kamu terluka? Terimakasih sudah menyelamatkan saya."


Namun Reilla masih diam, dengan raut wajah begitu terkejut.


"Kemarilah aku bantu kamu tuk duduk," ujar wanita itu yang perlahan mengangkat tubuh Reilla lalu menyenderkan Reilla ke tembok sebuah toko yang saat ini sedang tutup.


"Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa saya," ujar wanita itu lagi sambil tersenyum tulus pada Reilla.


"Kata pengemudi mobil itu, rem di mobilnya mendadak tidak berfungsi namun syukurlah tidak ada yang menjadi korban jiwa di sini," ujar wanita itu lagi menjelaskan semuanya pada Reilla.


Reilla hanya diam sambil terus menatap wajah wanita itu, matanya bahkan sudah berkaca-kaca saat ini.


"Apa seseorang yang sudah meninggal bisa hidup lagi?" Tanya Reilla membuat wanita itu mengerenyitkan dahinya bingung.


"Maksud kamu?" Tanya wanita itu tidak mengerti, Reilla tidak menjawab ia malah menangis saat ini.


"Hei ada apa? Apa ada yang sakit? Apa kamu terluka?" Tanya wanita itu yang kembali merasa panik saat melihat Reilla menangis.


"Reilla!"


Reilla yang mendengar namanya di panggil pun segera mengangkat kembali kepalanya, ia melihat Rendi sedang berlari ke arahnya.


"Lo kenapa? Lo gk apa-apa kan Rei? Ada yang luka gk? Hmm? Tangan lo sakit gk?" Tanya Rendi dengan bertubi tubi.


Wanita itu yang bangkit lalu memundurkan langkahnya dari Rendi dan Reilla pun hanya bisa terdiam, ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan sama seperti yang Reilla lakukan sebelumnya.


"Reilla! Lo gk apa-apa kan?" Tanya Rendi lagi dan di balas gelengan kepala oleh Reilla yang malah kembali menangis.


Wanita itu mengelengkan kepalanya, ia menatap lurus ke arah gadis yang menolongnya, yang saat ini sedang menundukkan kepalanya sambil menangis.


Wanita itu mengelengkan kepalanya, ia tidak salah dengarkan? Remaja muda itu memanggil gadis itu dengan sebutan Reilla?


Wanita itu kembali mengamati wajah Reilla, ia amati dan air mata pun menetes dari pelupuk matanya. Rasa sesak dan senang serta haru bercampur menjadi satu dalam benaknya.


Gadis itu adalah orang yang selama ini selalu ia impikan, gadis itu yang selama 9 bulan berada dalam kandungannya, kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik.


Wanita itu yang tak lain adalah Vidya hanya bisa memundurkan langkahnya, lalu perlahan ia belari pergi memilih untuk menjauh dari hadapan putrinya.


Merasa sudah jauh dari tempat Reilla berada, tubuh Vidya pun luruh ke aspal. Ia menangis sejadi-jadinya untung saja tempat itu saat ini sepi. Vidya menangis, ia masih tak menyangka bisa bertemu dengan putrinya setelah 15 tahun lamanya.


Vidya kembali terbayang masa-masa dimana ia mengandung Reilla selama 9 bulan, masa-masa kebersamannya dengan Reilla yang tak mungkin ia lupakan begitu saja dan sangat penuh dengan perjuangan. Gadis kecilnya itu kini sudah tumbuh besar dan cantik. Vidya bersyukur saat tau bahwa putrinya saat ini baik-baik saja.


Namun rasa sedih kembali meliputi hatinya, ia merasa sedih walaupun Reilla berada di hadapannya sekalipun ia tetap tak akan bisa memeluknya. Mau sekeras apapun Vidya berusaha Reilla tak mungkin mempercayai ini semua, Reilla tak mungkin percaya jika Ummahnya sampai saat ini masih hidup dan baru saja bertemu dengannya.


Walau bagaimanapun Vidya tau bahwa ia tak berhak lagi berada di dalam kehidupan Arya dan putrinya, saat ini mereka sudah bahagia dan jika dirinya kembali itu sama saja membuat putrinya kembali terluka, putrinya akan menggap bahwa dirinya telah membohonginya selama 15 tahun ini dan Vidya tidak mau Reilla jadi membenci dirinya. Bagi Vidya, Reilla tidak boleh tau yang sebenarnya. Putrinya harus terus seperti ini, putrinya harus terus menganggap dirinya sudah tiada karna itu lebih baik daripada Vidya harus kembali melihat putrinya terluka.

__ADS_1


__ADS_2