Without You

Without You
53. Hilang (1)


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Sepanjang perjalanan menuju pulang, Arya terus memikirkan kejadian beberapa saat yang lalu.


Ia masih berfikir apakah gadis itu benar-benar Vidya atau bukan.


Namun Arya agak ragu jika gadis itu adalah Vidya, karna gadis yang pingsan tadi sedang mengandung.


Sedangkan Vidya? Entahlah Arya juga belum tau lagi kabar mengenai gadis itu setelah mereka berdua resmi bercerai.


"Arya!" Arya tersentak saat suara Siren memanggil namanya.


"Kenapa?" Tanya Arya yang tatapannya fokus ke depan, karna ia sedang menyetir mobil.


"Kamu tuh yang kenapa, aku dari tadi teriakin kamu tau. Aku bilang kan kita berhenti dulu di toko baju, aku pengan beli baju tapi kamu malah jalan terus gk dengerin." Omel Siren panjang lebar, membuat Arya menghembuskan nafasnya mencoba untuk sabar menghadapi Siren.


"Maaf ya sayang, tadi aku gk denger."


Siren memalingkan wajahnya, ia merasa kesal karna Arya sudah mengabaikan dirinya.


Arya yang melihat Siren memalingkan wajah, pun akhirnya memilih untuk menepikan mobilnya terlebih dahulu.


Arya menoleh dan menatap Siren yang masih mengacuhkan dirinya.


"Mau puter balik lagi? Hmm?" Tanya Arya sambil mengelus rambut Siren dengan lembut.


"Gk perlu." Jawab Siren ketus, ia sedang merajuk pada Arya saat ini.


"Ya udah deh, kamu maunya gimana sekarang?" Tanya Arya, Siren pun menolehkan kepalanya menatap sebal suaminya itu.


"Pulang aja, aku kesel sama kamu."


Arya pun akhirnya kembali menyalahkan mesin mobilnya, dan melanjutkan perjalanan pulangnya.


Setelah menempuh waktu yang lumayan, akhirnya Arya dan Siren pun sampai di rumah mereka.


Arya dan Siren, semenjak mereka telah menikah, mereka berdua sudah membeli rumah baru dan rumah lama yang dulu di tinggali Arya bersama Vidya kini sudah di jual atas permintaan Siren.

__ADS_1


Brakk


Arya hanya bisa menghela nafasnya saja melihat Siren yang baru saja menutup pintu mobil dengan cara membantingnya begitu keras.


Setelah memarkirkan mobil, Arya hendak turun, namun ketika ia meraba saku bajunya, ia tidak menemukan keberadaan ponsel miliknya.


"Dimana ya? Apa jangan-jangan ketinggalan di rumah Bu Astrid?" Tanya Arya pada dirinya sendiri, Arya terlihat berfikir dan menimang-nimang, lalu ia pun memutuskan kembali ke rumah Astrid untuk menggambil ponselnya yang tertinggal.


[]


"Kamu kenapa? Kok bisa tiba-tiba pingsan gitu?" Tanya Astrid yang kini sedang mengelus kepala Vidya lembut.


Wajah Astrid terlihat sangat khawatir dengan kondisi Vidya saat ini.


"Vidya gk apa-apa kok Bunda, Bunda gk usah khawatir." Ucap Vidya seraya tersenyum dengan bibirnya yang terlihat lebih pucat dari biasanya.


"Gk apa-apa gimana, Bunda aja sampai khawatir banget sama kamu loh nak." Vidya tersenyum mendengar Bundanya yang begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Bunda Sayang, dengerin Vidya ya. Vidya gk apa-apa kok, cuma kecapean aja." Ujar Vidya lagi dan mencoba meyakinkan Astrid.


"Beneran?"


"Iya Bunda, aku gk apa-apa. Maaf ya udah bikin Bunda khawatir."


Astrid tersenyum lalu ia mencium kepala Vidya dengan penuh kasih sayang, Vidya juga merasa sangat senang mendapatkan perhatian seperti ini dari Astrid.


"Kamu langsung istirahat aja ya, Bunda masih ada yang perlu Bunda urus masalah pekerjaan. Kamu gk apa-apa Bunda tinggal sendiri?" Vidya tertawa pelan mendengar pertanyaan Astrid.


"Bagi Bunda kamu selalu jadi putri kecil Bunda, makannya kamu tidur ya. Bunda mau lanjut kerja, selamat malam anak dan cucu Bunda." Ucap Astrid, membuat senyum Vidya mengembang lebih lebar.


Setelah berpamitan Astrid pun pergi keluar dari kamar Vidya, kini hanya tinggal Vidya yang berada di kamar.


Perlahan senyuman Vidya yang tadi mengembang luruh seketika, fikirannya kembali teringat akan sosok pria yang tadi ia lihat di ruang tamu.


Pria itu, ia tidak mungkin salah lihat.


Pria itu adalah Arya, mantan suami nya. Melihat Arya entah kenapa membuat tubuh Vidya menegang dan berakhir dengan dirinya yang pingsan.


Vidya memejamkan matanya, ia kembali beristigfar ketika kenangan masalalunya kembali muncul terlebih lagi kenangan saat dirinya yang hampir ke guguran dan harus berjuang sendirian menyelamatkan nyawa bayi yang ada di dalam kandungannya ini.


Kini usia kandungan Vidya sudah memasuki usia lima bulan, dan sudah terlihat mulai membesar.


Ia tidak bisa lagi menyembunyikan kehamilannya ini, karna lambat laun semua orang pasti akan tau tentang kehamilannya terlebih lagi Arya.


Memikirkannya saja membuat tenggorokkan Vidya terasa haus, ternyata terlalu banyak berfikir bisa bikin haus juga. Begitulah fikir Vidya.


Vidya pun turun dari atas ranjangnya, ia berjalan keluar dari kamarnya.


Kamar Vidya sudah di pindahkan di lantai dasar, karna Astrid tidak mau Vidya sampai kelelahan jika harus naik turun tangga setiap hari. Alhasil kamar Vidya pun pindah ke lantai bawah untuk sementara waktu sampai ia melahirkan.

__ADS_1


Vidya pun keluar hendak berjalan menuju dapur, namun ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya.


Vidya baru saja hendak berbalik, namun sesuatu datang dan membekap mulutnya dari belakang.


"Mmphhh." Vidya meronta-ronta dari sekapan itu, namun ia tidak bisa lalu lambat laun kesadarannya mulai terengut secara perlahan.


[]


Vidya mengerjapkan matanya, kepalanya terasa pusing sekali.


Perlahan Vidya membuka matanya, lalu terbuka secara sempurna. Vidya kaget ketika melihat dirinya tidak lagi berada di dalam rumah.


Melainkan kini dia sedang berada di dalam sebuah mobil, yang entah mobil milik siapa ini.


"Udah bangun ternyata." Ucap sebuah suara yang berasal dari bangku kemudi.


Dari tempatnya kini, Vidya bisa melihat punggung tegap seseorang yang kini membelakangi dirinya.


"Si...siapa kamu?" Tanya Vidya ketakutan, namun bukannya menjawab orang itu malah menyalahkan mesin mobil tersebut, membuat Vidya panik.


"Berhenti! Turunkan saya! Hei!" Vidya tidak bisa apa-apa ia hanya bisa meronta-ronta di tempat, sementara kedua tangan dan kakinya terikat.


"Kamu mau bawa saya kemana?!" Teriak Vidya, matanya sudah mulai berkaca-kaca ia sangat ketakutan.


Namun orang itu tidak menjawab, Vidya juga tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, karna orang itu menggunakan masker dan kaca mata hitam.


Vidya sudah mulai terisak, dalam hati ia terus merapalkan doa, memohon perlindungan pada Allah agar ia dan bayinya tetap baik-baik saja dalam lindungan Allah.


Mobil masih terus berjalan, entahlah Vidya juga tidak tau mobil ini mau membawanya kemana yang Vidya tau sekarang ia begitu takut, ia takut nyawa anaknya bisa terancam.


"Lepasin saya! Lepasin! Tolong turunkan saya...hiks, lepas!"


"Diam!"


Vidya berjengit kaget mendengar bentakan orang itu, Vidya juga di buat tak berkutik saat sebuah pistol tertodong ke arah perutnya.


"Lo diam! Kalau lo gk diam, anak lo ini gua pastikan akan mati di tempat." Vidya mengelengkan kepalanya, ia tidak mau anaknya kenapa-napa alhasil Vidya pun menutup mulutnya, untuk tetap diam.


Tenang ya nak, Ummah yakin kita pasti bisa melewati ini semua. Kita gk perlu takut sayang, ada Allah yang selalu bersama kita.-batin Vidya berusaha untuk tetap kuat dan menghilangkan rasa takutnya.


Selama di perjalanan Vidya hanya diam seperti yang di perintahkan orang itu padanya.


"Sialan!" Umpat orang yang menculik Vidya itu, ketika ia melihat ada sebuah mobil di belakang yang mengikuti dirinya.


Akhirnya penculik itu mempercepat laju mobilnya, membuat Vidya ketakutan bukan main.


Vidya bahkan sampai berteriak, ketika mobil yang ia membawanya ini hampir menabrak sebuah pohon di pinggir jalan.


Namun penculik itu kembali menodongkan pistolnya ke belakang pada Vidya, sementara pandangannya masih fokus ke depan untuk menyetir dengan kecepatan yang maksimal agar bisa terhindar dari mobil yang mengikutinya.

__ADS_1


Vida menolehkan kepalanya ke belakang, mobil itu masih ada di sana.


Vidya berdoa dalam hati semoga orang yang berada di dalam mobil yang mengikutinya itu dapat menolong dirinya dari cengkraman penculik, yang membuat Vidya begitu ketakutan, semoga saja.


__ADS_2