
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Okee deh Happy reading!
-
-
-
-
-
Hari ini adalah jadwal Vidya untuk chek up kandungannya.
Dengan di temani Astrid yang selalu setia menemani Vidya pergi ke rumah sakit.
Kini Vidya dan Astrid sedang berjalan di lorong rumah sakit, mereka sudah memiliki janji dengan dokter Afifah- dokter kandungan yang selama ini menjadi tempat konsultasi Vidya perihal kandungan dan juga merupakan salah satu teman dokter Anam.
"Vidya, Bunda mau ke toilet dulu ya nak. Kamu tunggu duluan aja ke ruangan dokter Afifah nanti Bunda nyusul, gk apa-apa kan nak?" Tanya Astrid, di balas senyuman dan gelengan oleh Vidya.
"Nggak apa-apa Bunda, Vidya kan sudah besar bukan anak kecil lagi." Astrid tersenyum sebelum ke toilet ia mencium kening Vidya lalu setelah itu berlalu pergi ke toilet.
Vidya pun memutuskan untuk berjalan ke ruangan dokter Afifah seorang diri.
Bukk
"Aduh." Vidya meringis kesakitan saat ia tidak sengaja terjatuh.
"Maaf mbak saya gk lihat, mbak gk apa-apa?" Tanya orang yang baru saja menabrak Vidya.
Vidya masih menundukkan kepalanya, ia tidak mengubris pertanyaan orang yang baru saja menabraknya.
Vidya malah meraba-raba perutnya dan ia dapat bernafas lega karna ia merasa perutnya baik-baik saja.
"Syukurlah kamu gk apa-apa sayang." Ucap Vidya, perilaku Vidya tak lepas dari pandangan orang itu yang menyungingkan senyumannya.
"Mbak, mari saya bantu." Ucap orang tersebut sambil menyodorkan tangannya ke arah Vidya yang masih menunduk.
Vidya pun mengangkat kepalanya, kedua matanya terbelalak lebar ketika melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.
Seseorang yang tak pernah Vidya harapkan kehadirannya, dan Vidya harap ia ingin menghilang saja saat ini.
__ADS_1
Tatapan orang itu berubah, senyumannya hilang berganti dengan raut wajah kaget melihat sosok Vidya.
"Vi...Vidya?" Tanya orang itu, namun Vidya hanya bungkam tidak berkata sepatah katapun semuanya terasa begitu mengagetkan untuknya.
"Vidya, ya ampun sayang Bunda cariin kamu di ruangan dokter Afifah ternyata kamu malah duduk di sini, ayo sayang kita ke ruangan dokter Afifah untuk meriksa kandungan kamu." Ucap Astrid yang langsung menghampiri Vidya dan membantu putrinya itu berdiri.
"Mas misi dulu ya, saya mau bawa anak saya dulu permisi." Ucap Astrid pada seorang pria yang sedaritadi diam berdiri memeperhatikan Vidya dengan raut wajah penuh keterkejutan.
Astrid tidak tau pria itu siapa, ia mengajak Vidya pergi dari sana, dan langsung pergi menuju ke ruangan dokter Afifah yang sudah menunggu Vidya sedaritadi.
"Kamu kenapa sayang? Kok mukanya pucet gitu? Kamu baik-baik aja kan Vidya?" Tanya Astrid pada Vidya yang wajahnya terlihat pucat padahal sebelumnya wajah Vidya terlihat cerah dan biasa saja.
"Vidya gk apa-apa Bunda." Ucap Vidya sebisa mungkin ia mencoba menyungingkan senyumannya.
Astrid pun menganggukkan kepalanya, lalu mengajak Vidya masuk ke dalam ruangan dokter Afifah.
"Assalamu'alaikum, selamat siang dokter Afifah." Sapa Astrid pada dokter Afifah yang usianya sama dengan dirinya.
"Wa'alaikumussalam, selamat siang juga Bu Astrid dan Vidya. Kita mulai saja ya pemeriksaannya." Ujar dokter Afifah dan di angguki oleh Vidya.
Astrid terus menatap Vidya yang sedang di periksa.
Ada yang aneh dengan Vidya, biasanya setiap kali periksa kandungan Vidya selalu merasa senang dan bersemangat namun kali ini Vidya terlihat diam dan melamun raut wajahnya juga terlihat sedih, membuat Astrid bertanya-tanya ada apa dengan Vidya saat ini.
"Vidya." Panggil Astrid membuat Vidya kembali sadar dari lamunanya.
"Ah iya? Ada apa dokter?" Tanya Vidya sambil menoleh ke arah dokter Afifah.
"Kamu mau mendengar suara detak jantung anak kamu?" Tanya dokter Afifah dan tentu saja Vidya menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang baru saja terbit lagi di bibirnya.
Vidya terdiam, air matanya menetes mendengar suara degup jantung bayinya membuat Vidya ingin cepat-cepat memeluk anaknya.
"Masyaallah...Allahu Akbar." Ucap Vidya yang takjub dapat mendengar suara degup jantung bayinya.
Bahkan Astrid juga sudah menangis mendengarnya, ia merasa terharu mendengar suara degup jantung bayi yang di kandung Vidya. Ia merasa bahagia mendengarnya.
"Saya juga akan berikan foto hasil USG hari ini pada kamu." Ucap dokter Afifah membuat Vidya tersenyum senang.
Setelah berkonsultasi dan di beri resep vitamin yang harus di konsumsi Vidya, sesuai ucapan dokter Afifah sebelumnya, ia memberikan foto hasil USG tadi pada Vidya.
Vidya menerima foto tersebut, ia dan Astrid menatap foto hasil USG tersebut dengan raut wajah penuh haru, tak henti-hentinya juga Astrid dan Vidya menyebut nama Allah karna begitu takjub dengan kebesaran dan kekuasaan Allah.
"Sayangnya Ummah..." ucap Vidya lirih sambil tersenyum penuh haru menatap foto hasil USG tersebut.
__ADS_1
Setelah pamitan pada dokter Afifah, Vidya dan Astrid melangkah keluar menyusuri koridor rumah sakit.
Mereka berdua sama-sama baru saja selesai menangis penuh haru, dan tiada henti-hentinya melihat foto hitam putih hasil USG tadi.
Vidya terkekeh melihat Astrid yang begitu antusias melihat foto USG anaknya.
"Vidya."
Vidya dan Astrid pun menghentikan langkah mereka, ketika langkah mereka di hadang oleh seseorang, yang Astrid ingat adalah pria yang menghadang jalan sama seperti pria yang sebelumnya berada dengan Vidya di koridor.
"Anda siapa ya?" Tanya Astrid menatap pria di hadapannya lalu tatapannya beralih pada wajah Vidya yang begitu tegang.
"Bu...Bunda, ayo ki...kita pulang." Ujar Vidya terbata-bata, ia mengenggam tangan Astrid begitu erat, Astrid dapat meraskan bahwa Vidya sedang tertekan saat ini.
"Permisi, kami ingin pulang. Jangan halangi jalan kami." Ucap Astrid dengan begitu tegas, ia menyuruh pria itu untuk segera menyingkir.
"Vidya lo hamil?" Bukannya menyingkir pria itu malah bertanya seperti itu pada Vidya.
Vidya menggelengkan kepalanya ia langsung menutupi perutnya dengan kedua tangan.
"Bunda, ayo kita pergi." Bisik Vidya penuh harap pada Astrid.
"Vidya! Lo hamil anak siapa?!" Tanya pria itu dengan nada membentak, wajahnya juga terlihat begitu marah.
"Kamu?! Jangan berteriak seperti itu pada putri saya!" Balas Astrid menatap tajam pria tidak tau malu itu.
"Kak Di...dimas, Vidya mau pulang...hiks...birin Vidya pergi Kak." Ucap Vidya dengan suara bergetar memohon pada Dimas agar membiarkan dirinya pergi.
Namun Dimas yang terlihat marah itu sepertinya belum bisa menerima semua ini, apalagi ia melihat Vidya dengan kondisi yang sedang hamil begini.
"Vidya! Kamu harus jawab pertanyaan Kakak Vidya!" Vidya tersentak kaget ketika Dimas mencengkram lengannnya.
"Tolong! Tolong!" Astrid berteriak, seketika orang yang sedang berlalu lalang pun menghampiri Astrid yang meminta tolong.
"Tolong anak saya mau di sakiti oleh pria ini." Ucap Astrid, lalu orang-orang pun menaril tangan Dimas yang mencengkram tangan Vidya hingga pergelangan tangan Vidya memerah.
Lalu dua pihak keamanan pun datang dan hendak membawa Dimas pergi, namun Dimas mencoba memberontak.
"Lepas! Vidya inget! Gue gk akan lepasin lo lagi! Lo udah bikin gue sakit hati Vidya! Gue akan balas dendam, dan buat lo lebih menderita! Inget itu!" Teriak Dimas yang sedang di bawa paksa oleh pihak keamanan.
"Kamu gk apa-apa sayang?" Tanya Astrid menatap lengan Vidya yang memerah.
"Nggak apa-apa Bunda...hiks...ayo Bunda kita pulang." Astrid pun menganggukkan kepalanya lalu merangkul Vidya yang terlihat begitu ketakutan karna kejadian yang baru saja ia alami.
__ADS_1