
Semenjak pulang dari sekolah Keira tidak ke luar dari kamarnya, ia masih tinggal di kamar tamu di rumah Rayn karna gadis itu masih ada di rumah ini.
Keira memejamkan matanya, kepalanya sedaritadi terus berdenyut. Selama berada di sekolah tadi Keira terus memikirkan perkataan Mamah mertuanya yang mengatakan bahwa dirinya harus bersekolah di rumah atau home schooling.
Keira enggan sekolah di rumah, itu sangat bertolak belakang dengan keinginannya namun apa boleh buat ia tak bisa melakukan apapun saat ini.
Tok tok tok
Keira menghela nafasnya pelan saat mendengar suara ketukan pintu yang sudah berhasil menganggu waktu istirahatnya. Walaupun agak enggan meninggalkan kasur empuk dan nyamannya Keira tetap beranjak menghampiri pintu.
Cklek
"Ngapain?" tanya Keira dengan tidak santainya efek kepalanya yang terus berdenyut.
"Saya mau ajak kamu makan malam bareng," ucap Rayn pelaku yang telah membuat tidur Keira terganggu.
"Gue gk laper," sahut Keira yang hendak menutup pintu kamarnya kembali namun berhasil di tahan oleh Rayn.
"Ck, lo mau ngapain lagi sih? Kan udah gue bilang, gue gk laper," ucap Keira dengan juteknya. Mungkin ini efek PMS nya dan juga efek dari kepalanya yang pusing.
"Kamu sakit?" tanya Rayn yang sudah bagaikan cenayang membuat Keira mengerenyitkan dahinya bingung darimana Rayn bisa tahu bahwa dirinya sedang sakit saat ini.
"Wajah kamu pucet makannya saya tau," ujar Rayn lagi membuat Keira terkejut lagi karna lagi-lagi Rayn berhasil membaca raut wajahnya.
"Fix lo emang cenayang ya? Ngaku lo?!" desak Keira membuat Rayn mendengus geli melihat kelakuan Keira.
"Ya sudah masuk lagi sana."
Keira mendengus mendengar perkataan Rayn barusan.
"Yehh lo ganggu orang lagi rebahan aja," ujar Keira lalu tanpa menunggu perkataan Rayn lagi Keira langsung menutup pintu kamarnya membuat Rayn yang masih berdiri di depan pintu tersenyum tipis.
"Rayn, ngapain kamu di situ?" Rayn menolehkan kepalanya saat ada seseorang yang memanggil namanya.
__ADS_1
"Nayya? Nggak ngapa-ngapain kok," jawab Rayn dengan ekspresi wajah seperti orang yang sudah tercyduk karna memang Rayn sudah tercyduk oleh Nayya.
"Katanya mau makan malam? Kok malah di sini?" Rayn agak gelagapan saat Nayya bertanya lagi padanya.
"Ah iya, ya udah ayo kita makan malam bersama," jawab Rayn seraya mengandeng tangan Nayya dan mengajak gadis itu untuk pergi bersamanya dan untungnya setelah itu Nayya tak bertanya apapun lagi padanya membuat Rayn bernafas lega.
Sementara itu di dalam kamar Keira kembali melanjutkan sesi rebahannya yang tadi sempat terganggu karna kedatangan Rayn ke kamarnya.
Keira menghela nafasnya pelan, menatap lurus ke arah langit-langit kamar seraya berdecak sebal. Ia sebal pada dirinya sendiri karna tak kunjung memejamkan mata jua padahal dirinya ingin sekali berusaha tidur saat ini.
Keira memiringkan tubuhnya ke kanan lalu ke kiri, dan begitu seterusnya sampai akhirnya ia kembali mendengar suara pintu kamarnya yang di ketuk membuat Keira berdecak pelan namun tetap bangkit dari posisi rebahannya dan berjalan ke arah pintu kamar dengan langkah gontai.
"Apaan lagi sih?!" ucap Keira dengan nada agak ketus saat tau bahwa yang mengetuk pintunya adalah orang yang sama seperti sebelumnya yaitu suaminya sendiri, Rayn.
"Ini aku bawain kamu makan malam," ucap Rayn seraya memberikan nampan yang berisikan bubur ayam dan es teh manis hanga pada Keira.
"Makasih," ujar Keira yang sudah menggambil alih nampan yang di berikan oleh Rayn.
"Itu juga ada obat buat kamu, semoga lekas sembuh." Keira menganggukkan kepalanya dan mengamini perkataan Rayn barusan.
"Udah, kalau gitu saya pergi dulu. Istirahatlah, kalau butuh sesuatu datang saja ke kamar saya," ujar Rayn dan hanya di balas anggukkan kepala oleh Keira setelahnya Rayn benar-benar pergi dan Keira kembali menutup pintu kamarnya.
Keira berjalan ke arah nakas lalu meletakkan nampan pemberian Rayn di atas nakas, ia pun mulai menikmati bubur ayam yang Rayn berikan padanya. Ia harus makan terlebih dahulu baru setelah itu ia bisa minum obat yang juga Rayn berikan untuk dirinya.
"Alhamdulillah," ucap Keira setelah selesai menyanyap menu makan malamnya kemudian di lanjut dengan meminum obat yang tadi Rayn berikan.
Setelah selesai, Keira memutuskan untuk langsung merebahkan diri lagi karna ia merasa benar-benar tidak enak badan saat ini. Keira berusaha memaksakan matanya untuk terpejam awalnya tidak bisa namun lama-lama Keira pun terbiasa dan akhirnya ia pun terlelap ke alam mimpi.
...........
Keira terbangun di tengah malam, kepalanya masih terasa sakit ia juga merasa tubuhnya mengigil padahal sebelumnya hanya kepalanya dan badannya saja yang lemas tapi sekarang tubuhnya bahkan ikut terasa mengigil.
Keira melihat ke arah jam dinding ternyata jam baru menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Keira ingin kembali melanjutkan tidurnya namun ia tidak bisa tubuhnya terasa sangat mengigil.
__ADS_1
"Bunda ... bunda," racau Keira yang memilih untuk kembali merebahkan dirinya.
Tanpa sadar Keira bahkan meneteskan air matanya, di saat sakit seperti ini biasanya ada Bunda yang selalu merawat Keira namun saat ini ia dan Bundanya berjauhan tentu saja itu membuat Keira merindukan Bundannya apalagi di saat sakit seperti sekarang ini.
"Hiks ... Bunda Kei kangen Bunda," racau Keira lagi sesekali bibir pucatnya bergetar karna mengigil.
Cklek
Keira masih memejamkan matanya namun telinganya sayup-sayup mendengar suara seseorang yang membuka pintu kamarnya, lalu kemudian kasur yang ia tidur bergerak seperti ada seseorang yang duduk di sampingnya.
Hingga pada akhirnya Keira merasakan tangan seseorang menyentuh dahinya dan barulah Keira berusaha membuka kedua matanya.
"Gk perlu bangun, kamu tiduran saja," ucap orang tersebut membuat Keira mengurungkan dirinya yang tadi ingin bangun dari posisi berbaringnya.
"Rayn, gue gk apa-apa kok," ucap Keira dengan nada suara yang bergetar.
Rayn masih menempelkan punggung tangannya di dahi Keira, dan hal yang membuat jantung Keira terasa berdetak lebih cepat dari biasanya adalah saat Rayn mengusap kepalanya dengan lembut seraya membisikkan hal-hal yang menenangkan pada Keira.
"Tenang, saya di sini. Kamu tidak perlu khawatir, kita ke dokter ya?" tanya Rayn meminta persetujuan Keira untuk ia bawa ke dokter.
Keira menatap wajah Rayn yang menampilkan raut wajah kekhawatirannya.
"Gue baik-baik aja kok," ucap Keira namun nyatanya perkataan Keira tak selaras dengan keadaannya selanjutnya saat Keira merasakan perutnya terasa sangat sakit sekali bahkan sampai membuat Rayn semakin khawatir dengan kondisi gadis di hadapannya saat ini.
"Arggg," erang Keira seraya memegangi perutnya yang terasa begitu melilit.
"Kita ke rumah sakit sekarang, gk ada penolakkan," ucap Rayn yang sudah membuat keputusan final dan Keira tak bisa lagi menyangkalnya.
Rayn tanpa aba-aba langsung mengendong tubuh Keira, dan meskipun enggan Keira tetap tak bisa melawan saat Rayn mengendong tubuhnya ke luar dari kamar karna tubuhnya yang terasa lemah dan bertenaga saat ini, jadi Keira membiarkan saja Rayn mengendong tubuhnya.
"Rayn ada apa?" Keira membuka mata dan melihat sosok gadis kemarin malam yang menatap Rayn dengan tatapan bingung lalu melirik ke arah Keira sekilas.
"Aku gk bisa jelasin sekarang, aku harus cepat ke rumah sakit Nay," ucap Rayn yang kemudian melewati Nayya begitu saja dan segera membuka pintu mobilnya lalu memasukkan Keira ke dalam mobil setelah itu Rayn segera menyusul masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Bertahan Kei, kita pasti akan segera sampai di rumah sakit," ucap Rayn menoleh menatap Keira yang terbaring di jok belakang setelahnya tanpa menunggu lama lagi Rayn segera menjalankan mobilnnya menuju ke rumah sakit.