
1 bulan kemudian ....
Satu bulan sudah berlalu, dan sesuai dengan perundingan dua keluarga besok adalah waktu dimana pernikahan Rayn dan Keira di laksanakan.
Rayn menghela nafasnya berat, besok ia akan menikahi seorang gadis yang tak lain adalah targetnya sendiri. Rayn tak pernah menduga hal ini sebelumnya, ia tidak pernah berfikir bahwa hari ini akan tiba. Hari di mana ia akan menikah dan berkeluarga, mendengar kata menikah saja rasanya begitu asing bagi Rayn karna dulu ia selalu merasa bahwa menikah bukanlah hal penting dalam hidupnya.
Pernikahan ini hanya di ketahui oleh orang-orang tertentu saja, bahkan Naya pun tak tau perihal pernikahan ini. Gadis manis itu dari dua hari yang lalu sudah pulang kembali ke rumahnya yang letaknya berada lumayan jauh dari rumah Rayn.
Banyak hal yang sudah terjadi selama sebulan ini, terlebih hubungan antara dirinya dan juga Mamahnya yang sudah merenggang serta sikap Rayn yang berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
Tok tok tok
"Masuk," ucap Rayn saat mendengar pintu kamarnya di ketuk.
Tak lama seorang wanita paruh baya yang merupakan pelayan di rumahnya pun masuk sambil membawa kotak berwarna hitam.
"Maaf menganggu waktunya tuan muda, saya ke sini ingin memberikan pakaian untuk tuan pakai esok hari." Rayn hanya mengangguk singkat lalu meminta pelayan tersebut meletakkannya di atas tempat tidurnya saja dan pelayan itu pun menurut setelahnya ia pun pamit pergi.
Rayn menatap kotak berwarna hitam tersebut lalu membukanya, di dalam kotak tersebut rupanya berisi jas berwarna hitam lengkap dengan setelannya yang harus ia pakai besok di acara pernikahannya.
Rayn pun menutup kotak tersebut kembali dan meletakkan lagi tanpa minat, perasaannya masih kalut. Ia masih membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi jika nanti Naya sampai tahu perihal pernikahannya dengan Keira.
Padahal Naya selalu bercerita padanya tentang segala hal yangia fikirkan jika nanti ia menikah dengan Rayn, ia bilang dia akan tinggal dan pergi jauh bersama Rayn. Memulai kehidupan mereka yang baru, dan menjalani hidup yang normal layaknya pasangan lain di luar sana.
Kedengarannya memang sangat indah, namun realita yang terjadi justru mematahkan hati dan perasaan Rayn. Dalam hati Rayn terus mengumamkan kata maafnya berharap hal itu dapat di dengar oleh Naya padahal nyatanya mustahil.
Tak ingin larut dalam kesedihan, Rayn pun bangkit dan berjalan ke arah meja kecil yang ada di kamarnya. Tangannya menggambil gelas yang berisikan minuman, yang Rayn yakini dapat menghilangkan segala lara di hatinya.
Dengan sekali tegukkan Rayn dapat menghabiskan minumannya, dan seketika bau alkohol pun menyeruak dari dalam mulutnya. Bahkan tak tanggung-tanggung Rayn menghabiskan minuman tersebut hingga satu botol penuh.
Setelah merasa kepalanya berdenyut nyeri, dengan langkah sempoyongan Rayn berjalan menuju ke kasurnya lalu merebahkan dirinya dan kesadarannya pun langsung terengut. Rayn sudah memasuki alam mimpi.
........
"Rayn bangun!" suara bernada bentakkan itu mengusik tidur lelap Rayn, ia pun perlahan membuka matanya walaupun kepalanya masih terasa pusing.
__ADS_1
"Bangun cepat! Anak kurang ajar! Sudah tau hari ini adalah hari penting dan kamu berani-beraninya minum alkohol! Dasar anak kurang ajar!"
Mata Rayn pun terbuka sempurna dan langsung di serbu dengan omelan Mamahnya yang nampak begitu kesal pada Rayn.
"Cepat bangun! Bersiaplah! Saya tunggu di bawah," ucap Mamah Rayn dengam begitu ketusnya lalu melengang pergi meninggalkan kamar Rayn.
Rayn hanya bisa berdecak kesal, tangannya terulur memijat keningnya yang masih terasa pening. Namun karna ia sadar bahwa dirinya harus segera bersiap, Rayn pun segera bangkit dan meraih handuk lalu melengang memasuki kamar mandi untuk menyegarkan dan membersihkan tubuhnya.
.......
Setelah selesai bersiap, Rayn segera turun dan menemui Mamahnya, lalu keduanya pun berangkat menuju ke tempat di mana akad akan di laksanakan pagi ini.
Dengan wajah datar Rayn hanya diam di sepanjang perlajanan, ia lebih memilih menatap ke arah luar dan mendengarkan segala ucapan Mamahnya yang mengatakan bahwa Rayn harus fokus pada misi ini, Rayn tak mendengarkan sepenuhnya karna ia juga merasa bosan mendengarkannya.
Tanpa di rasa mobil yang Rayn naiki pun sudah tiba di tempat tujuan mereka yaitu tempat akad nikahnya dan Keira di laksanakan.
"Cepat turun," suruh Mamah Rayn dan Rayn pun menurut.
Di tempat tersebut sudah ramai orang-orang yang menyambut kedatangannya, ekspresi wajah Mamah Rayn pun sudah berubah drastis menjadi ramah berbanding terbalik saat bersama Rayn tadi, melihat hal itu Rayn hanya berdesis sinis.
Rayn di tuntun memasuki sebuah ruangan yang sudah di hias, ruangan itulah yang menjadi tempat prosesi akad nikah di laksanakan pada pagi hari ini.
Lalu tibalah bagi Rayn untuk mengucapkan ijab qabul, Rayn merasa dirinya agak tengang saat menjabat tangan Ayah Keira yang tak lain adalah Langit Agam Perkasa.
Dengan satu tarikkan nafas, Rayn mulai mengucapkan kalimat ijab qabulnya dengan lancar. Lalu tak lama semua orang mulai berseru kata "sah" pertanda bahwa pernikahannya dengan Keira memang sudah sah.
Dan tak lama semua orang mulai berseru, tatapan Rayn pun beralih pada seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah ruangan lain. Rayn menatap lurus gadis tersebut yang berjalan menuju ke arahnya, gadis itu nampak menundukkan kepalanya namun walaupun begitu mampu membuat Rayn terpesona.
"Nak Keira silahkan duduk," ujar pak penghulu yang menyadarkan Rayn dari keterkagumannya pada gadis di depannya yang tak lain adalah Keira.
Keira mengangguk dan perlahan duduk di sebelah Rayn yang kini sudah menjadi suaminya.
"Silahkan di cium punggung tangan suaminya," kata pak penghulu memberi intruksi pada Keira.
Gadis itu pun mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat wajah Rayn, Rayn pun juga ternyata sedang menatapnya hal itu tentu saja membuat Keira menjadi semakin canggung.
__ADS_1
Namun meskipun agak cangung, Keira tetap menyalami tangan Rayn dengan khitmad.
"Silahkan di kecup kening istrinya," kata pak penghulu lagi yang kali ini mengintruksi Rayn.
Rayn berdehem sebentar untuk menetralkan rasa gugupnya, ia pun agak mendekat ke arah Keira lalu menundukkan sedikit kepalanya untuk mengecup kening Keira.
Keira yang merasakan kecupan hangat Rayn di dahinya hanya bisa memejamkan mata, semakin merasa gugup jadinya.
Lalu setelahnya terdengar suara tepukkan tangan dan godaan dari para tamu undangan yang hadir, tentu saja hal itu membuat Keira semakin merasa malu.
Setelah acara akad selesai, tak ada acara resepsi di pernikahan mereka karna ini adalah permintaan dari Keira dan Rayn yang ingin melaksanaka pernikahan mereka dengan sederhana saja.
"Ciee yang udah nikah ngeduluin Kakak." Keira mendengus sebal mendengar godaan yang datang dari Keanu--Kakaknya.
"Selamat ya Kei." kali ini Keira tak merasa sebal lagi mendengar perkataan dari Kakaknya yang pertama, yang bernama Nata.
"Terimakasih Kak," kata Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Nata.
Nata pun merentangkan tangannya lalu membawa adik kecilnya ke dalam dekapannya,ia tak pernah menyangka akan melepaskan sang adik secepat ini. Keira adalah adik bungsunya, yang sudah menikah di usianya yang masih sangat muda. Awalnya tentu saja Nata menolak namun ia tak bisa berbuat banyak keputusan Abi nya sudah mutlak tak bisa di ganggu gugat.
"Jangan nangis dek," kata Nata yang mengusap lembut punggung adiknya yang bergetar.
"Kakak akan selalu ada buat kamu, kamu gk usah sedih ya dek bagaimanapun keadaannya sekarang kamu tetaplah adik kecil kesayangan Kakak," kata Nata dengan lembut dan semakin membuat Keira menangis.
"Kak Nata ...." panggil Keira dengan lirih.
"Kei takut ...." cicit Keira pelan namun masih mampu di dengar oleh Nata.
"Takut kenapa? Hmm?" tanya Nata sambil melerai pelukkannya dan menangkup wajah Keira.
"Kei takut gk bisa jadi istri yang baik," kata Keira yang mengemukakan ketakutannya.
Nata tersenyum lalu mengusap pipi adiknya, ia kembali membawa Keira ke dalam pelukkannya.
"Kamu pasti bisa dek, Kakak yakin kalau kamu pasti bisa jadi istri yang baik untuk suamimu," balas Nata dengan suaranya yang membuat Keira tak lagi risau.
__ADS_1
"Makasih banyak Kak," kata Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Nata.
Setelahnya Keira habiskan waktunya untuk bercengkrama dengan kakak-kakaknya yang sebentar lagi akan sangat jarang ia temui dan pasti Keira yakin ia akan merindukan mereka.