
Niar menghela nafasnya, menatap lurus ke arah sahabatnya serta seseorang yang kini ikut gabung duduk bersama dengannya.
Syabil dan orang itu sedaritadi hanya diam, Niar mengamati ekspresi wajah mereka secara bergantian. Sahabatnya saat ini sedang memasang wajah kesalnya sementara orang di sampingnya hanya bisa menghela nafasnya saja.
"Ini mau sampai kapan kita diem-dieman terus?" Tanya Niar yang sudah jengah dengan situasi saat ini, terkesan sungguh akward.
Syabil terlihat menoleh sekilas ke arah sampingnya, ketika orang di sampingnya juga ikut melirik padanya Syabil langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain sambil berdecak kesal.
"Sebenarnya kalian berdua ini udah saling kenal?" Tanya Niar mulai mengintrogasi Syabil dan orang di sampingnya.
"Gk!"
"Tidak!"
Niar menatap keduanya secara bergantian, Syabil dan orang itu baru saja menjawab pertanyaan Niar secara serentak sudah seperti pemilu saja yang di adakan serentak, begitulah fikir Niar.
"Syabil jelasin ke gue, lo kenal sama Kakak ini dimana?" Tanya Niar yang mulai mengintrogasi Syabil.
Syabil melirik tajam pada orang di sampingnya, sementara yang dilirik hanya bisa menatap Syabil datar.
"Dia orang yang bikin harus telat datang ke seminar pagi ini," ujar Syabil mengingat dirinya harus telat datang ke seminar pagi ini padahal Syabil ada tugas merangkum isi materi dari seminar tadi tapi gara-gara orang di sampingnya ini, Syabil tidak bisa menyaksikan seminar.
Kalau sudah begini Syabil berada dalam masalah besar mengingat dosen yang memberikan tugas itu termasuk dosen yang killer, makannya Syabil selama ini selalu berusaha agar tidak terlibat masalah tapi karna kejadian menyebalkan itu yang justru mendorong Syabil ke jurang penuh masalah.
"Loh? Bukannya tadi lo bilang kalau lo gk bisa datang pagi karna telat bangun?" Tanya Niar yang masih tak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Maaf gue udah bohong sama lo tadi, sebenarnya gue udah berangkat pagi banget tapi gara-gara orang ini nih yang nabrak gue seenaknya! Alhasil gue telat deh datang seminar karna harus pergi ke rumah sakit buat berobat dulu," jelas Syabil panjang lebar tak lupa dengan tatapan tajam ia berikan untuk orang di sampingnya.
"Saya kan sudah minta maaf, lagipula tadi saya sudah tanggung jawab," jawab orang tersebut yang menyangkal ucapan Syabil yang sedang berusaha memojokkan dirinya.
Syabil menatap penuh emosi pada orang yang duduk di sampingnya itu, orang tersebut yang tak lain adalah si penulis sok kegantengan itu yang baru Syabil ketahui bernama Arya itu sungguh orang yang sangat menyebalkan bagi Syabil.
"Mentang-mentang orang kaya ya, main asal ganti rugi gitu aja."
Arya menghembuskan nafasnya, lama-lama ia jadi bingung sendiri sebenarnya gadis di sampingnya ini mau apa sih dari dirinya? Membuat kepala Arya mumet jadinya.
"Terus kamu maunya apa? Kamu mau nyuruh saya salto gitu? Hah?"
"Yehh malah ngegas lagi dasar gk punya sopan santun banget jadi orang, Niar! Lo liatkan? Orang kaya gini yang lo idolakan? Cih, heran kenapa cewek-cewek pada suka sama cowok modelan kaya gini."
Arya mengepalkan tangannya, ia benar-benar merasa jengkel dengan perempuan di hadapannya ini yang entah apa maunya.
"Oke saya minta maaf karna tidak sengaja menabrak kamu tadi pagi dan sebagai permintaan maaf saya ke kamu, saya akan tulis ulang materi seminar tadi untuk kamu."
Niar membulatkan matanya, ia tidak salah dengarkan? Sungguh beruntung sekali Syabil tidak perlu lelah mencatat materi karna ia langsung di bantu oleh pengisi seminarnya langsung.
Syabil sendiri merasa terkejut mendengar ucapan Arya, ia diam dan berfikir mempertimbangkan tawaran Arya barusan yang bisa di bilang sangat menguntungkan.
"Gimana?" Tanya Arya yang menunggu persetujuan dari Syabil.
Syabil pun menganggukkan kepalanya dan nenyetujui tawaran yang di berikan Arya untuknya.
"Kalau begitu apa saya sudah boleh pergi sekarang?" Tanya Arya menatap kedua gadis muda itu secara bergantian.
"Eitss, tapi ada syaratnya!"
Arya berdecak sebal, gadis ini sangat membuat dirinya kerepotan.
"Apa syaratnya?"
"Gue minta nomor lo," ucap Syabil yang menyodorkan gawainya pada Arya.
__ADS_1
"Buat apa? Saya gk bisa seenaknya aja ngasih nomor saya ke orang yang gk saya kenal."
Syabil berdecak kesal, lalu ia menatap Arya dengan tatapan tajam seperti sebelumnya.
"Gue gk akan aneh-aneh kok, gue cuma mau mastiin aja kalau sekarang lo lagi gk nipu gue."
Arya terdiam, menatap tak percaya dengan jalan fikiran gadis itu yang sungguh tidak bisa di tebak. Memangnya wajah Arya ini terlihat seperti tukang tipukah? Ck, ada-ada saja memang betina satu ini.
"Baiklah," jawab Arya yang langsung menggambil gawai milik Syabil, lalu ia mulai mengetikkan nomornya.
"Sudahkan? Saya bisa pergi sekarang?" Tanya Arya yang ingin cepat-cepat pulang karna saat ini putrinya sedang demam dan tentu saja Arya merasa khawatir pada putrinya di rumah.
"Oke, Om bisa pergi sekarang."
"Jangan panggil saya Om saya tidak setua itu," ucap Arya yang sedaritadi lelah di panggil Om terus oleh gadis remaja itu.
"Biarin, pokoknya saya tetap mau manggil Om."
Skarep mu.
Arya akhirnya hanya diam, ia tidak mau berdebat lagi. Setelah mendapatkan persetujuan dari dua gadis muda itu, Arya pun benar-benar beranjak pulang karna ia yakin pasti di rumah Reilla sudah menunggu dirinya.
.............................
Arya sudah sampai di rumah sedaritadi, saat ini pria itu sedang menjaga Reilla yang sedang terlelap di alam mimpi.
Arya tersenyum lalu tangannya tergerak mengusap lembut rambut panjang Reilla, wajah Reilla terlihat pucat dan suhu tubuhnya juga masih agak panas namun sudah lebih mendingan dari sebelumnya.
Arya membawa tangan Reilla dalam genggamannya, ia usap lembut tangan mungil tersebut lalu ia mengecup sekilas tangan milik Reilla. Entahlah Arya sangat menyayangi Reilla, ia tidak mau kehilangan Reilla yang kini sudah menjadi dunianya dan menjadi semangat hidupnya.
Setiap putri kecilnya tersenyum, Arya selalu merasa dunianya penuh dengan warna. Saat Reilla tertawa bahagia Arya merasa menjadi Ayah yang paling beruntung sedunia karna bisa membuat putrinya tertawa bahagia, tapi saat Reilla sakit seperti ini Arya menjadi sangat rapuh dan tak berdaya.
"Ummah ...."
"Ummah ...."
Lagi, Reilla kembali memanggil Vidya untuk kedua kalinya. Sebelag tangan Arya lainnya yang bebas ia gunakan untuk mengusap kepala Reilla mencoba menenangkannya.
"Ayah."
Kali ini bukan Vidya yang di panggil oleh Reilla melainkan dirinya, Arya pun mengangkat kepalanya melihat Reilla yang sudah bangun dari tidurnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Arya lembut sambil mengusap pipi Reilla yang terasa panas.
"Rei kangen Ummah ... hiks ... Rei mau ketemu Ummah," ujar Reilla yang sudah menangis.
Arya hanya bisa menyungingkan senyuman sendunya, Reilla tak pernah seperti ini sebelumnya tapi kali ini Arya tidak tau kenapa putrinya tiba-tiba ingin bertemu dengan almarhumah Vidya.
"Ayah ayo anter Rei, anter Rei ketemu Ummah!"
Arya segera membawa Rei ke dalam gendongannya, Rei pun melingkarkan tangannya di leher Arya. Wajahnya ia tengelamkan di pundak Ayahnya itu, ia masih terisak saat ini dan Arya mencoba menenangkan putrinya.
"Ayah," panggil Reilla dan di balas deheman saja oleh Arya yang saat ini sedang mengusap punggung Reilla yang ada di gendongannya.
"Kenapa Ummah pergi?" Tanya Reilla yang kini menatap wajah Arya meminta penjelasan namun Ayahnya itu malah terdiam.
"Apa Ummah sudah gk sayang lagi sama Rei? Apa karna Rei dulu nakal ya sampai-sampai Ummah gk mau ketemu sama Rei?" Tanya Reilla lagi, kali ini Arya benar-benar merasa terperanjat mendengar pertanyaan aneh putrinya itu.
"Siapa yang bilang kalau Ummah pergi kerna Rei nakal?"
Reilla terdiam ia menundukkan wajahnya sejenak, lalu kembali menatap wajah tampan Ayahnya.
__ADS_1
"Kemarin Ulil marah sama Rei terus dia bilang kalau Rei itu nakal, dan kata Ulil Ummah Rei pergi pasti karna Rei udah nakal jadi Ummah marah terus pergi tinggalin Rei. Apa bener Ummah pergi karna Rei nakal?" Tanya Reilla yang matanya kembali berkaca-kaca.
Arya menghela nafasnya ia lalu mendaratkan kecupan singkat di hidung mancung Reilla, lalu setelahnya ia tersenyum teduh seraya menatap wajah Reilla.
"Kamu gk nakal kok, Ummah pergi bukan karna Rei yang nakal tapi karna itu semua sudah takdir dari Allah," jelas Arya berusaha memberikan penjelasan yang logis pada putrinya.
"Terus sekarang Ummah ada di Surganya Allah ya Yah? Apa Ummah tau kalau Reilla di sini kesepian? Apa Ummah tau kalau Reilla rindu sama Ummah?"
Arya tidak langsung menjawab pertanyaan Reilla, ia justru membawa Reilla ke dekapannya.
"Ayah? Ayah belum jawab pertanyaan Rei," ucap Reilla yang masih belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan.
"Ummah pasti tau semua itu, makannya Rei jangan sedih lagi ya? Rei gk mau kan kalau Ummah di sana nangis?"
Reilla mengelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Ayahnya itu, tentu saja dia tidak ingin melihat Ummahnya di sana bersedih karna dirinya.
"Anak pintar, Rei tadi bilang rindu sama Ummahkan? Rei mau bilang langsung gk?" Tanya Arya dan langsung di balas anggukkan penuh semangat oleh Reilla.
"Mau banget Yah, Rei mau banget bilang rindu sama Ummah."
Arya tersenyum melihat putrinya yang sudah tidak lagi bersedih dan sudah kembali ceria.
"Kalau begitu ayo kita Salat, nanti setelah itu Rei bisa berdoa pada Allah agar rindu Rei untuk Ummah bisa tersampaikan, gimana Rei mau kan?"
"Iya mau! Ayo kita Salat Yah," ujar Rei yang sangat semangat untuk Salat.
Arya membantu Rei untuk menggambil wudhu, kali ini keduanya akan melaksanakan salat maghrib karna kebetulan adzan magrib sudah berkumandang.
Reilla sudah mengelar sajadah kecilnya di belakang sajadah milik Arya, gadis kecil itu juga sudah siap dengan mungkena yang melekat di tubuh mungilnya.
"Rei sudah siap?" Tanya Arya yang menoleh kebelakang memastikan apakah putrinya itu sudah siap untuk sholat atau belum.
"Sudah!" Jawab Rei dengan penuh semangat.
Arya pun mulai memimpin salat tersebut, di belakang Reilla berusaha salat dengan khusyu agar salatnya di terima oleh Allah. Reilla juga sudah hafal gerakkan salat bahkan ia juga sudah hafal bacaan salat di usianya yang baru 5 tahun ini.
Salat pun selesai, Reilla segera menyalimi punggung tangan Arya. Arya tersenyum lalu mengusap lembut kepala Reilla.
Setelah itu Reilla mulai mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dengan khusyu Reilla mulai memanjatkan doanya.
"Ya Allah Rei rindu banget sama Ummah, Allah kan Maha Baik dan Rei yakin Allah pasti akan selalu mengabulkan doa Rei. Rei mohon Ya Allah, sampaikan rindu Rei untuk Ummah, tolong bilang sama Ummah kalau Rei sangat rindu Ummah. Bilang juga sama Ummah kalau Rei dan Ayah di sini baik-baik aja, Rei juga udah jadi anak baik kok. Rei juga udah nurut semua perkataan Ayah."
Arya yang sedaritadi mendengarkan doa Reilla perlahan mulai meneteskan air mata merasa tersentuh dengan doa yang Reilla panjatkan.
"Semoga Allah mau mengabulkan doa Rei, Rei juga berdoa semoga Ayah selalu sehat dan di berikan umur yang panjang supaya Ayah bisa terus jagain Rei di sini, Aamiin."
Reillah mengakhiri doanya, ia mengusapkan kedua tangannya ke wajah. Setelah selesai berdoa gadis kecil itu menatap punggung Ayahnya yang bergetar.
"Ayah kenapa?" Tanya Reilla yang bingung.
Arya pun segera menghapus air matanya, ia kemudian membalikkan badan lalu memasang senyuman pada Reilla.
"Ayah gk apa-apa sayang, Ayah cuma terharu dengar doa kamu," ujar Arya yang kini sudah berhadapan dengan putrinya.
Reilla bangkit dan mendekat pada Arya, tangan mungilnya ia gunakan untuk menghapus air mata yang menetes di pipi Ayahnya itu.
"Ayah jangan sedih ya, nanti Ummah juga ikut sedih loh," ucap Reilla membuat Arya kembali tersenyum.
Setelah itu Arya langsung mendekap Reilla, menghujani kepala putrinya dengan kecupan. Ia sungguh merasa bersyukur pada Allah yang telah mengirimkan Reilla.
Arya juga berharap bahwa Allah akan mengabulkan doa tulus putrinya itu, Arya tau bahwa saat ini Reilla pasti sangat merindukan Ummahnya.
__ADS_1
Tapi Arya tidak bisa berbuat banyak, namun di dalam hatinya sama seperti Reilla dia juga merindukan sosok Vidya.
Vidya kamu dengarkan? Putri kita sangat merindukanmu dan aku juga sangat merindukan dirimu-Batin Arya penuh dengan kerinduan.