Without You

Without You
44. Mencekam


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Vidya menatap tak percaya pada  Arya yang baru saja menyatakan perasaan cinta padanya.


Vidya merasa ini seperti mimpi, mimpi yang sangat indah namun juga memilukan.


"Vidya gue gk tau sejak kapan gue cinta sama lo, tapi Vidya jujur dari lubuk hati gue yang paling dalam. Kalau gue sebenernya gk mau kehilangan lo, gue sayang dan cinta banget sama lo Vidya."


Vidya hanya diam, matanya sudah berkaca-kaca.


Doanya pada Allah akhirya terkabulkan, namun di saat yang tidak tepat karna kelak Arya dan dirinya akan berpisah sesuai dengan kesepakatan mereka.


"Gue tau Vidya lo juga cinta kan sama gue? Gue mohon Vidya tetaplah di sisi gue, lo bisa kan?" Tanya Arya penuh harap pada Vidya, ia mengenggam kedua tangan Vidya dengan erat.


Vidya menarik kedua tangannya dari genggaman Arya.


"Maaf Arya, aku gk bisa tetap ada di samping kamu. Perjanjian yang kita buat, kamu ingatkan? Dan ini adalah bulan terakhir kita bersama, setelah itu kita akan berpisah. Kamu dengan kehidupanmu dan aku dengan kehidupanku." Ucap Vidya yang susah payah mencoba untuk tetap tegar.


"Gue gk perduli sama perjanjian itu! Gue mau lo tetap jadi istri gue, selamanya Vidya! Selamanya!" Ucap Arya namun Vidya mengelengkan kepalanya sambil terisak.


"Maaf Arya aku gk bisa...hiks...aku gk bisa." Ujar Vidya, Arya terlihat sangat kecewa sekali mendengar ucapan Vidya barusan.


"Gue akan buat lo supaya lo, gk akan pernah bisa ninggalin gue." Ucap Arya yang menatap Vidya lekat.


"Arya! Lepasin..." ringis Vidya saat Arya menarik tangannya.


Namun Arya tidak perduli, ia malah menarik Vidya masuk ke dalam mobil.


"Arya kita mau kemana?" Tanya Vidya yang bingung ketika Arya menggambil arah berlawanan dengan arah pulang ke rumah mereka.


Namun Arya tetap diam membuat Vidya semakin kebingungan.


"Arya lepas!" Vidya meronta-ronta, namun Arya masih tetap mencengkram tangan Vidya dengan erat.


Ia tidak perduli dengan ringisan Vidya yang kesakitan karna ia mencengkram tangan Vidya begitu erat.


"Arya! Lepas, aku mau pulang. Aku gk mau ke tempat ini!"


Vidya mengelengkan kepalanya, ketika ia sadar kalau Arya mengajaknya ke sebuah hotel bintang lima.


Namun Arya tetap diam tidak mengubris ucapan Vidya.


Cklek


Arya menutup pintu kamar hotel yang sudah ia pesan.


Ia melepaskan tangan Vidya dan mendudukan Vidya di atas ranjang.

__ADS_1


"Arya...hiks aku takut...hiks...aku mau pulang." Vidya masih terus saja menangis.


"Maafin gue, gue gk bermaksud bikin lo takut kaya gini." Ucap Arya sambil membelai lembut pipi Vidya.


"Vidya, malam ini gue minta hak gue sebagai seorang suami."


Vidya menghentikan isak tangisnya, menatap wajah Arya yang terlihat sangat serius.


"Lo gk akan nolakkan?" Tanya Arya lagi.


Tengorokan Vidya rasanya tercekat ketika mendengar permintaan Arya.


Ia tidak bisa menolaknya karna ini adalah kewajibannya sebagai seorang istri.


"Vidya." Panggil Arya lagi.


"Baiklah." Jawaban Vidya membuat senyuman Arya mengembang.


Lalu malam itu hanya Vidya, Arya dan, Allah lah yang tau apa yang terjadi sepanjang malam itu.


[]


"Vidya bangun." Panggil Arya pada Vidya yang masih tidur sambil memeluk dirinya.


"Hngg." Vidya bergumam namun matanya masih terpejam.


Arya kemudian tersenyum jahil, ia meniup-niup kedua mata Vidya membuat Vidya terganggu, dan akhirnya membuka kedua matanya.


Cup


"Bangun udah mau subuh, lo gk mau sholat subuh?" Tanya Arya, Vidya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, ia merasa terganggu tidurnya karna mendapat ciuman dari Arya.


Mendadak Vidya teringat keajadian semalam, yang membuat dirinya seketika menjadi malu, bahkan muka Vidya sudah memerah.


"Gue duluan ke kamar mandi ya, lo jangan tidur lagi. Udah mau subuh." Ucap Arya lalu pria itu bangkit dari atas ranjang.


Vidya juga baru sadar kalau Arya tidak memakai bajunya, hanya memakai celana pendeknya.


[]


Vidya sudah selesai membersihkan badannya, ia juga sudah melaksanakan sholat subuh.


Kini Vidya dan Arya sedang sarapan berdua di sebuah restoran yang letakknya tak jauh dari hotel tersebut.


"Udah selesai makannya? Mau langsung pulang atau balik lagi ke hotel? Hmm?" Arya mulai mengoda Vidya, membuat wajah Vidya memerah.


"Langsung pulang aja, kasian Siren sendirian di rumah." Ucap Vidya, Arya pun menghela nafasnya.


"Tunggu sebentar, gue mau bayar makanan kita dulu." Vidya menganggukkan kepalanya, menunggu Arya kembali.


"Ayo, kita pulang." Ajak Arya yang langsung mengandeng tangan Vidya untuk ikut pulang bersamanya.


[]


Vidya sudah sampai rumah sedaritadi, sedangkan Arya? Pria itu tentu saja sudah berangkat ke kantor setelah mengantarnya pulang tadi.


"Dari mana lo semalem sama Arya?" Tanya Siren dengan nada judes nya.


"Kenapa memangnya kamu mau tau?" Vidya malah balik bertanya, membuat Siren geram.

__ADS_1


"Gue gk suka kalau Arya deket-deket sama lo, gue bakalan pastiin lo bisa dengan secepatnya keluar dari rumah ini." Ucap Siren lalu setelah itu ia pergi dari hadapan Vidya.


Vidya menghela nafasnya, tangannya meraba perutnya yang masih rata.


"Kok aku jadi pengen makan rujak." Ujar Vidya, lalu ia tersenyum sementara tangannya masih tetap mengelus permukaan perutnya.


"Pasti kamu nih yang kepengen rujak hmm? Oke deh yuk kita beli rujak nak." Vidya tersenyum senang, lalu ia melangkah riang keluar dari rumah.


Vidya menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan tukang rujak.


"Aaaaaa."


Vidya tersentak saat mendengar jeritan yang berasal dari dalam rumah.


Vidya pun segera berlari ke dalam rumah, melupakan tujuannya yang ingin membeli rujak.


"Siren? Ada apa?" Tanya Vidya ketika sudah sampai di kamar Arya.


Ia melihat Siren yang sudah tertawa, namun tawanya Siren terlihat sangat berbeda dan terlihat begitu menakutkan.


Siren menatap Vidya dengan senyuman sinisnya, pipi Siren sudah basah dengan air mata gadis itu.


"Siren? Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Vidya yang sebenarnya tau bahwa Siren sedang tidak baik-baik saja.


Siren tersenyum sinis mendengar pertanyaan Vidya barusan.


"Baik-baik aja? Setelah gue tau lo hamil, gue bisa baik-baik aja? Iya?!" Siren meninggikan suaranya membuat Vidya memejamkan mata.


Vidya mulai ketakutan sekarang, apalagi melihat Siren sudah tertawa, tawa yang mengema dan terdengar sangat menakutkan, membuat Vidya ciut seketika.


"Ka...kamu tau da...darimana?" Tanya Vidya menatap tak percaya pada Siren, bagaimana perempuan itu bisa tau kalau dirinya sedang hamil?


"Gue gk kaya Arya ya, yang bisa lo tipu gitu aja. Gue tau semuanya, lo lagi hamil kan? Dan anak itu...Dia anak Arya." Siren terdiam sebentar, tatapannya mengarah pada perut Vidya. Lalu seringai muncul di bibirnya.


"Karna dia anak Arya dan lo Ibu nya, anak itu harus mati! Dia harus mati! Dia bakalan rebut Arya dari gue kan? Nggak! Gue gk mau Arya pergi...hiks...hiks." Siren terlihat panik, ia menangis lalu tak lama ia sudah tertawa.


Vidya hanya bisa menangis sambil menutupi perutnya dengan kedua tangan, ia sangat takut jika Siren melakukan sesuatu pada dirinya terlebih pada bayi yang sedang ia kandung.


"Kalian berdua harus mati! Lo dan bayi di kandungan lo harus mati! Kalian brengsek!" Teriak Siren dengan tatapan tajam penuh dendam.


"Si...Siren, istighfar Siren...kamu gk boleh membunuh Siren, i...itu dosa."


Dengan susah payah Vidya mengeluarkan suaranya untuk berbicara para Siren, itu pun dengan suara yang bergetar.


"Dosa? Hahaha persetanan sama dosa! Gue cuma mau Arya jadi milik gue seutuhnya!"


Vidya hanya bisa menangis, ia sangat ketakutan sekali saat ini. Terlebih di rumah ini hanya ada dirinya dan Siren saja.


"Mati lo berdua!"


"Siren, jangan!"


Vidya memekik kencang penuh ketakutan, saat Siren mencengkram bahunya, lalu mendorong Vidya begitu saja hingga kepala Vidya terkena ujung kursi yang terbuat dari kayu yang ada di kamar itu.


Vidya meringis, tangannya yang bergetar meraba ke daerah pelipisnya yang sudah mengeluarkan cairan merah kental dan terasa sangat sakit.


"Kalau gue langsung bunuh lo gitu aja, nanti yang ada Arya curiga sama gue. Hmm, kalau gitu gue bakal buat kematian lo seolah-olah cuma kecelakaan, jadi Arya atau siapapun gk akan ada yang curiga sama gue." Siren kembali tersenyum licik.


Vidya mengelengkan kepalanya, ia kembali menangis. Kedua tangannya sudah ia gunakan untuk memeluk perutnya, seolah-olah ia tidak akan membiarkan bayi dalam kandungannya dilukai oleh Siren.

__ADS_1


Tenang nak, Ummah akan selalu melindungi kamu. Kamu jangan takut sayang, Allah selalu bersama kita, itu pasti.


__ADS_2