Without You

Without You
[S2] Terlantar


__ADS_3

Udara malam yang dingin mulai menyeruak menembus kulit, saat ini Syabil sedsng memeluk tubuhnya sendiri. Ia berjalan sendirian di malam yang gelap sambil terus terisak.


Syabil tidak tau harus melangkah kemana lagi, ia di usir dari rumah kontrakannya karna tidak sanggup membayar uang kontrakkan.


Syabil menjinjing tasnya berjalan menyusuri jalanan yang gelap, dengan pakaian seadannya dan tujuan yang masih tidak jelas mau kemana. Selain itu keadaan Kevin juga sudah membaik, pria itu tadi pagi sudah pulang ke kosannya. Maka dari itu Syabil akhirnya memutuskan untuk ke kosan Kevin saja daripada harus terlantar malam-malam begini.


Bibir Syabil mengigil, udara dingin malam mulai mengusiknya. Syabil tidak memakai jaket, ia hanya menggunakan baju lengan pendek serta hotpants saja saat ini, jadi tak heran jika dia merasa kedinginan.


Syabil kembali menyeret langkahnya, meskipun lelah berjalan tapi Syabil tidak mau mengeluh. Tangan Syabil tergerak merongoh saku tasnya, ia hanya menemukan uang sepuluh ribu saja dari dalam sana.


Rasanya Syabil ingin menangis saja saat ini, bahkan sejak tadi siang ia belum makan sama sekali alhasil kini perut Syabil sudah berbunyi meminta untuk segera di isi asupan makanan.


Namun Syabil sadar diri uang yang ia punya hanya cukup untuk naik angkutan umum saja, jadilah Syabil berusaha menahan rasa laparnya demi bisa sampai di rumah Kevin. Mungkin saat sampai di rumah Kevin nanti Syabil bisa mendapatkan makanan di sana.


Jalanan malam ini tidak terlalu ramai, langkah Syabil terhenti saat ia tidak sengaja melewati kedai sate yang saat ini tampak ramai dengan para pembeli, mendadak Syabil merasa lapar. Bahkan hanya dengan mencium wanginya saja cacing di perut Syabil sudah meronta-ronta.


Karna teringat kembali dengan kondisinya saat ini, Syabil hanya bisa menatap nanar sambil menelan salivanya seraya meratapi kedai sate tersebut.


Akhirnya Syabil memilih kembali melanjutkan langkah, meskipun rasanya berat tapi tak apa Syabil masih kuat untuk berjalan.


"Huaaa ... sakitt ... hiks."


Syabil langsung berlari saat melihat seorang anak kecil menangis, sepertinya anak itu baru saja terjatuh. Dengan sigap Syabil pun segera berlari dan menghampiri anak kecil tersebut.


"Kamu gk apa-apa? Mana yang sakit? Sini biar Kakak obati," ujar Syabil yang tampak panik bahkan tidak sempat melihat wajah anak itu.


"Kak Syabil?"


Syabil mengangkat kepalanya saat mendengar namanya di sebut, mata anak kecil itu langsung berbinar senang saat tebakannya ternyata tepat sasaran.


"Tuh kan bener Kak Syabil!" Seru anak kecil itu senang bahkan tangisannya sudah berhenti, berganti dengan senyuman.


"Loh Reilla? Ya ampun Kakak kira siapa," ucap Syabil yang sangat senang mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Reilla lagi.


"Kaki kamu luka Rei, bentar Kakak obatin dulu deh ya."


Syabil mengeluarkan betadine dan kapas dari dalam tasnya, lalu ia mulai mengobati luka memar di lutut Reilla dengan sangat hati-hati. Sesekali Syabil meniupi luka Reilla membuat Reilla tidak terlalu merasa sakit.


"Sudah selesai," ujar Syabil yang kembali menaruh kapas serta betadine kembali ke dalam tas.


"Makasih Kak Syabil!" Seru Reilla yang senang karna lukanya sudah di obati oleh Syabil.


"Kok Rei bisa ada di sini? Sama siapa?" Tanya Syabil yang bingung kenapa Reilla malam-malam begini bisa berada di luar, jadi tidak mungkin jika anak itu hanya sendirian saat ini.

__ADS_1


"Rei tadi sama- Ayah!"


"Ayah?" Tanya Syabil saat tiba-tiba saja Reilla berteriak memanggil Ayahnya.


Melihat Reilla yang terus menatap ke arah belakangnya, Syabil pun ikut menoleh ke belakang. Matanya membulat ketika melihat sosok Ayahnya Reilla.


"Kamu Ayah cariin ternyata ada di sini," ujar Arya yang melewati Syabil begitu saja sepertinya dia tidak melihat wajah Syabil.


"Tadi Rei jatuh terus luka tapi untungnya ada Kakak cantik ini yang bantuin Rei hehe."


"Terimakasih sudah-" Ucapan Arya terhenti, ekspresinya terlihat terkejut melihat keberadaan Syabil.


"Ayah ini namanya Kak Syabil, Kak Syabil yang udah nolongin Rei buat kue ulang tahun buat Aksa waktu itu terus tadi Kak Syabil juga udah ngobatin lukanya Rei. Kak Syabil baik banget Rei suka," ucap Reilla memperkenalkan Syabil pada Arya.


"Saya Ayahnya Reilla," Ucap Arya yang mencoba menghilangkan rasa keterkejutannya, karna ia baru tau kalau Kakak cantik yang Reilla ceritakan padanyanya itu adalah Syabil.


"Syabil," jawab Syabil singkat, ia juga sama seperti Arya masih terkejut dengan fakta tersebut.


"Ehem ... kamu ngapain sendirian keluyuran malam-malam begini?" Tanya Arya yang bingung kenapa Syabil keluar rumah malam-malam begini dengan pakaian serba pendek kurang bahan seperti itu pula.


Lalu tatapan Arya beralih pada tas jinjing besar milik Syabil, Syabil yang sadar jika Arya memperhatikan tas jinjingnya ia pun segera mengenggam erat tas itu.


"Kak Syabil mau kemana? Kenapa bawa tas besar gitu?" Tanya Reilla yang juga penasaran kenapa Syabil membawa tas besar seperti itu.


"Ngobrolnya di kedai sate aja, gk enak di pinggir jalan gini," usul Arya yang kemudian mengajak Reilla serta Syabil melipir ke kedai sate.


"Kamu belum makankan? Kalau begitu biar saya pesankan juga untuk kamu," ucap Arya saat mereka sudah duduk di kedai sate tersebut.


"Jangan, saya udah makan kok Om- eh maksudnya Pak," ujar Syabil sambil merutuki ucapannya yang keceplosan memanggil Arya dengan sebutan Om.


"Gk apa-apa Kak Syabil, kita makan bareng aja ya? Mau kan makan bareng Rei?" Tanya Reilla penuh harap, Syabil yang lemah di tatap oleh Reilla seperti itu pun akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.


Reilla bersorak girang, lalu Arya pun memanggil pelayan dan mulai memasan tiga porsi sate untuk mereka bertiga.


"Gimana kue yang kita buat waktu itu? Teman kamu suka?" Tanya Syabil yang memilih untuk mengajak ngobrol Reilla dan menggangap Arya tak kasat mata.


Reilla terdiam, senyumannya luntur perlahan. Raut wajah anak itu terlihat murung ketika mendengar pertanyaan Syabil.


"Ada apa?" Tanya Syabil yang menyadari perubahan raut wajah Reilla.


"Temannya menolak kue ulang tahun buatan Reilla."


Syabil pun menolehkan kepalanya ke arah Arya, ia cukup terkejut mendengar hal itu. Padahal Syabil sangat tau betapa gigihnya Reilla membuat kue tersebut, pantas saja Reilla terlihat sedih karna usahanya membuatkan kue hanya sia-sia saja.

__ADS_1


"Maaf Rei ... Kak Syabil gk tau," ucap Syabil yang merasa bersalah.


"Gk apa-apa kok, Kak Syabil kan gk tau hehe."


Syabil menghela nafasnya lega, akhirnya Reilla kembali tersenyum ia kira anak itu akan terus murung dan hal itu pasti akan lebih membuat Syabil semakin merasa bersalah.


"Kamu mau kemana dengan tas besar itu, malam-malam begini?" Tanya Arya membuat Syabil mengalihkan tatapannya dari Reilla.


"Gk kemana-mana."


Arya menatap Syabil dengan curiga, sepertinya gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


"Gimana keadaan kekasihmu itu? Apa dia sudah membaik? Aku dengar dia sudah keluar dari rumah sakit," ujar Arya yang lebih memilih menanyakan hal lain.


"Iya dia sudah pulang ke rumahnya tadi pagi."


Arya pun menganggukkan kepalanya, lalu ia memilih diam. Kini yang berbicara hanya Reilla dan Syabil yang tampak sangat akrab antara satu sama lain, Arya heran biasanya anaknya itu tidak terlalu akrab dengan orang yang belum terlalu lama ia kenal tapi dengan Syabil anaknya terlihat seperti sudah lama mengenal sosok Syabil.


"Silahkan di nikmati satenya," ujar seorang pelayan yang mengantarkan pesanan.


"Terimakasih," balas Arya.


Reilla segera menyantap satenya, namun tidak dengan Arya. Pria itu tidak langsung menyantap sate nya ia memperhatikan Syabil yang juga belum memakan sate nya.


Gadis itu malah menompang dagu sambil memperhatikan Reilla yang ada di hadapannya yang saat ini sedang lahap menyantap satenya.


"Makannya pelan-pelan ya," ujar Syabil yang tangannya terulur membersihkan bumbu kacang yang menempel di sudut bibir Reilla dengan tisu, Reilla mengucapkan terimakasih dan kembali melanjutkan makannya.


"Kamu juga makan," ucap Arya yang membuat Syabil mengalihkan tatapannya.


Syabil pun menurut, ia menyantap sate yang sudah Arya pesankan untuknya. Kebetulan juga perut Syabil sudah keroncongan sedaritadi, lumayan  juga ia bertemu dengan Arya. Perutnya akhirnya bisa terisi makanan juga bahkan secara gratis dan itu sangat menguntungkan bagi Syabil.


"Terimakasih."


Arya menatap Syabil yang saat ini juga sedang menatapnya, bahkan gadis itu memberikan Arya senyuman. Senyuman yang terlihat tulus.


"Hmm."


Arya hanya membalas dengan deheman saja, lalu ia kembali menyantap satenya.


Mereka bertiga menikmati sate tersebut dengan nikmat, Arya hanya diam saja sesekali ia tersenyum saat Reilla dan Syabil terlihat begitu akrab. Bahkan Reilla terlihat begitu senang berbincang dengan Syabil.


Arya juga baru tau jika perempuan menyebalkan seperti Syabil bisa memiliki sisi lembut juga, namun ada sesuatu yang menganggu Arya. Arya melihat luka lebam di sudut bibir Syabil, di pipinya juga ada bekas luka yang membiru.

__ADS_1


Arya penasaran sebenarnya apa yang sudah pacarnya Syabil perbuat pada gadis itu? Kenapa Syabil masih tetap bertahan walaupun gadis itu selalu di sakiti oleh kekasihnya? Entahlah namun tanpa Arya sadari rasa perdulinya pada Syabil mulai tubuh secara perlahan.


__ADS_2