Without You

Without You
29. Perjanjian


__ADS_3

Part ini spesial Vidya POV/ Sudut pandang Vidya.


Happy reading gais!


-


-


-


-


-


-


Sudah hampir dua minggu Arya di rawat di rumah sakit dan hari ini akhirnya ia sadar juga dari komanya, kata dokter Abram kondisi Arya juga sudah mulai membaik namun masih harus terus di pantau.


Saat ini aku sedang berada di rumah sakit, lebih tepannya sudah seminggu yang lalu aku berkunjung ke sini untuk menjenguk Arya.


Setelah aku mendengar kabar bahwa Arya sudah sadarkan diri, percayalah aku sangat senang mendengar kabar tersebut aku bahkan terus mengucap syukur  karna Arya sudah sadarkan diri.


Tapi ada yang aneh dengan Arya sejak ia telah kembali sadar, dan sejak pertama kali aku menjenguknya dia berubah menjadi lebih pendiam dan terlihat sering melamun.


Aku tau apa yang sedang menganggu fikirannya itu, Arya pasti merasa sangat sedih, karna keadaannya sekarang ini.


Arya selalu memperhatikan Arya dari luar jendela ruang perawatannya, dia terlihat lebih kurus dari sebelumnya.


Kadang aku juga melihat ia menetes kan air matanya sambil menatap salah satu kakinya yang kini tidak bisa lagi ia gunakan.


Meskipun kelumpuhan Arya ini hanya sementara, tapi tetap saja hal itu membuat dia merasa terguncang.


Aku tidak tega melihat keadaan Arya yang begitu memperihatinkan itu.


Tidak ada yang bisa membuat ia tersenyum, bahkan Siren yang notabennya kekasihnya pun tidak mampu mengembalikan binar bahagia di mata Arya.


"Vidya." Aku terkejut saat ada seseorang yang memanggil namaku, aku pun menolehkan kepalaku. Ternyata Siren lah yang barusan memanggil namaku.


"Arya, mau ketemu sama kamu ." Setelah mengatakan itu Siren pergi, aku bisa memastikan dari raut wajah Siren bahwa wanita itu habis menangis.


Aku tertegun dan kembali menatap pria itu dari luar, aku menghela nafasku mencoba untuk menguatkan diriku sendiri lalu aku pun masuk ke dalam, untuk menemui Arya.


"Ada apa? Kamu butuh sesuatu?" Tanyaku ketika sudah berada di dekat Arya.


Arya lalu menolehkan kepalanya menatap wajahku.


"Gue mau perceraian kita di percepat."


Hatiku merasa sakit ketika mendengar ucapan Arya barusan, apa katanya? Ingin mempercepat perceraian kami? Ya Allah, kenapa harus di saat seperti ini dia bicara seperti itu.


"1 tahun, itu waktu buat pernikahan ini, setelah itu lo bisa bebas dari ikatan ini."


Aku mencoba menahan tangisku, mataku sudah terasa panas ingin menangis namun aku malah memasang senyumanku, berpura-pura tegar di hadapannya.


"Baiklah, tinggal satu tahun lagi pernikahan kita." Aku dengan susah payah mengatakan hal itu di depan Arya walaupun hatiku terasa sakit.

__ADS_1


"Kalau begitu jika sudah tidak ada lagi yang di bicarakan, biar aku panggil Siren untuk segera menemuimu lagi."


"Gk usah, dia harus pergi ke Amerika." Aku terdiam mendengar ucapan Arya, pria itu terlihat menyungingkan senyuman sinisnya.


"Dia mau di jodohin sama orang tuanya, kemungkinan dia gk akan balik lagi."


Aku kaget mendengar kabar bahwa Siren akan dijodohkan oleh orang tuanya.


Aku harusnya merasa senang mendengar hal itu namun melihat wajah Arya yang begitu terpukul, membuatku ikut terpukul juga.


"Arya...maaf."


"Buat apa lo minta maaf? Oh gue tau, lo udah mulai sadar kalau kehadiran lo di antara gue dan Siren itu sebuah kesalahan kan? Bagus deh kalau sadar diri, tapi sayangnya lo udah terlambat." 


Arya berujar sambil memberikan tatapan sinisnya padaku, aku hanya diam saja melihat tatapan yang sudah biasa ia tunjukkan kepada ku.


Aku menghela nafasku, lalu melihat ke arah Arya lagi yang kini sudah menolehkan kepalanya ke arah lain.


"Aku keluar dulu ya." Pamitku pada Arya, karna aku memang ingin pergi ke luar dari ruangan itu.


"Tunggu."


Aku menghentikan langkahku ketika suara barithon milik Arya terdengar.


"Ayo kita coba."


Aku mengerenyitkan dahiku mendengar ucapan Arya yang terdengar "ambigu".


"Coba apa? Kamu laper ya?" Tanyaku sambil menatap Arya yang sedang menghembuskan nafasnya kasar.


Aku kembali berfikir, lantas apa yang ingin Arya coba?


Melihatku yang seperti sedang berfikir keras ini Arya mengayunkan tangannya ke arah muka ku, Nah lo dia mau ngapain?


takk


"Gk usah kebanyakan mikir, kalau tetep gk tau."


Aku meringis sambil mengusap-usap dahiku yang baru saja terkena sentilan dari Arya.


"Maaf, abisnya kamu kalau ngomong yang jelas." Ujarku yang masih mengusap dahi.


"Ya ini mau gue jelasin, maksud gue tuh ayo kita coba jalanin pernikahan satu tahun ini secara real." 


"Maksud kamu?"


Entahlah aku masih tidak paham dengan yang baru saja Arya bicarakan, dia mau apa? Menjalani pernikahan secara real? Lah kan kita berdua emang sudah menikah, aish ada-ada saja Arya ini.


"Maksud gue tuh kita coba jadi pasangan normal sebagaimana orang-orang yang sudah menikah." 


Ah ternyata itu maksud Arya, ya ampun dari tadi kenapa aku sulit memahami ya?


"Lo akan gantiin posisi Siren di samping gue, tapi inget cuma ngegantiin posisi Siren di samping gue bukan di hati gue, karna dia gk akan pernah tergantikan, paham kan lo?"


Aku menganggukkan kepalaku, sangat paham dengan apa yang ia ucapkan barusan, dan entah kenapa baru kali ini aku merasa senang mendengar ucapan Arya.

__ADS_1


"Kita sepakat, coba semuanya dari awal untuk mengakhiri satu tahun pernikahan ini?" Arya terlihat menyodorkan tangannya padaku.


Aku menatap tangannya yang mengantung di udara, mengajak untuk bersalaman.


Satu tahun ya? Hanya untuk satu tahun? Kenapa tidak bisa selamanya? Padahal bagiku pernikahan aku dan Arya lebih dari satu tahun ini, terlebih selama satu tahun ini aku hanya menjadi penganti Siren di samping Arya.


Ah iya hanya sebagai penganti Siren di sisinya haha, kenapa aku harus berharap lebih? Berharap bisa mengantikan Siren di hatinya, andai Arya tau meski apapun yang dia lakukan padaku.


Entah itu perkataan dan perbuatan kasarnya, aku tak pernah berniat mengakhiri hubungan pernikahan ini, bahkan jika boleh bilang, aku ingin pernikahan ini tidak hanya bertahan satu tahun tapi selamanya.


Aku ingin terus di samping Arya, menghabiskan waktu bersamanya, mungkin kami bisa menua bersama. Tapi rasanya itu semua sangat sulit, karna di sini yang ingin mempertahankan hanya aku, sementara Arya? Dia ingin melepaskanku dan tak perduli apakah aku terluka atau tidak.


"Vidya?" Aku tersentak saat Arya memanggil namaku.


"Lo setuju kan?" Tanya Arya lagi, aku pun menatap tangan Arya yang masih terulur ke arahku lalu kemudian beralih menatap nya.


"Se...setuju." jawabku lalu membalas uluran tangan Arya, aku sekuat tenaga menahan suaraku agar tidak terdengar bergetar karna menahan tangisku.


"Bagus, inget kita cuma jalanin ini selama setahun."


"Iya, aku ingat." Jawabku sambil tersenyum, seolah-olah aku baik-baik saja.


"Aku pergi dulu." Ujarku, yang langsung membalikkan badan dan pergi dari ruangan rawat Arya, kali ini Arya pun tidak menghentikanku lagi.


Sesampainya di luar, aku berlari di lorong rumah sakit.


Akhirnya aku sampai ke tempat tujuanku, yaitu rooftop rumah sakit.


aku kemudian tak bisa lagi menahan tangisku.


Aku tidak tau akan di bawa kemanakah pernikahan ku ini, aku juga tau saat ini Arya terluka dengan kepergian Siren.


Pria itu sudah banyak berkorban untukku, lagi pula kenapa aku harus mencintai nya? Kenapa harus ada cinta yang aku rasakan walaupun aku tau cintaku hanyalah sepihak.


Rasanya sangat sesak, tapi aku tidak bisa menyalahkan siapapun atas semua ini.


Dari awal pernikahan ini memanglah keputusanku, aku yang mau menikah dengan Arya.


Mencoba bersikap normal seperti layaknya pasangan dan mengantikam posisi Siren di samping Arya, tanpa Arya mintapun itu memang sudsh kewajibanku bukan? Kewajibanku sebagai seorang istri yang harus selalu mendampingi suaminya baik itu saat keadaan duka mapun senang.


Berbagi semua keluh kesah, tawa bahkan tangis.


Jadi tak apa aku akan menjalani satu tahun ini dan memberikan kesan indah untuknya, agar nanti Arya mengingatku sebagai serpihan kisah masalalunya, dan menciptakan kenangan yang manis dalam kisahnya, ah lebih tepatnya kisah pernikahan kami.


Aku menatap awan yang mulai menghitam, sepertinya hujan akan segera turun.


Tak lama aku merasakan setetes air hujan mengenai kulitku, lalu tak lama tetesan air itu semakin banyak.


Tapi aku tetap tidak beranjak dari posisiku, aku menikmati setiap tetes air hujan yang menimpah diriku.


Meredam tangisku bersama air hujan, biarlah hanya sekejap, agar sesak di dadaku hilang.


Agar aku kuat menghadapi semua ini, biarkan aku menumpahkan tangisku di bawah derasnya rinai hujan sore ini.


"Rasanya sesak Ya Allah..." lirihku yang semakin terisak, tapi aku tau Allah tak akan pernah memberi ujian di luar batas kemampuan hambanya.

__ADS_1


Aku pasti kuat melalui semua ini, namun aku masih berharap, agar  pernikahan ini tidak hanya sementara.


__ADS_2