Without You

Without You
Stuck With You (Gama story)


__ADS_3

Rayn berjalan mengekori seorang guru yang akan mengantarkan dirinya ke kelas yang akan ia tempati, dengan langkah tegap dan wajah datar Rayn mulai memasuki ruang kelas setelah guru tadi mempersilahkan dirinya masuk juga.


"Mohon tenang sebentar semuanya!" Teriak guru tersebut membuat anak-anak yang tadi di kelas sedang gaduh pun jadi terdiam dan sambil menatap penuh tanya pada sosok Rayn yang berdiri di depan kelas.


"Nah anak-anak, hari ini kita ke datangan teman baru. Silahkan perkenalkan dirimu nak," kata  guru tersebut dan di balas anggukkan kepala oleh Rayn.


Pandangan Rayn menyapu ke isi kelas terlebih dahulu, lalu manik matanya berhenti pada seorang gadis yang sedang menelungkupukan wajahnya di atas meja dengan ke dua tangan sebagai bantalannya membuat Rayn tersenyum samar penuh maksud terselubung.


"Nama saya Rayn Anggara, saya murid pindahan dari primar home schooling. Saya harap kita bisa saling membantu antar satu sama lain," kata Rayn memperkenalkan dirinya.


Lalu tiba-tiba kelas yang tadinya hening mendadak langsung ramai, hal itu lebih di dominasi oleh para murid perempuan yang sudah saling berbisik dengan teman-teman mereka sambil senyum-senyum pada Rayn yang hanya diam dan memasang wajah tenangnya.


"Ada yang ingin bertanya? Sebelum sesi perkenalannya selesai?" Tanya guru tersebut sambil menatap para anak muridnya.


Lalu tak di sangka, banyak anak-anak yang mengacungkan tangan mereka bahkan hampir seluruh anak di kelas itu mengacungkan tangan mereka, siapa lagi kalau bukan para murid perempuan yang begitu bersemangat melihat wajah bening nya yang di miliki oleh Rayn.


"Baik, karna banyak banget yang mau bertanya. Ibu hanya pilih satu saja, ayo silahkan Anggun."


Gadis bernama Anggun itu pun mengangguk antusias, ia lalu menyungingkan senyuman termanis yang ia miliki. Anggun ini memang memiliki wajah yang manis, dan juga cantik bahkan banyak pria yang menyukai dirinya namun selalu Anggun tolak dengan alasan tidak sesuai dengan kriteria cowok idamannya.


"Makasih Bu, aku mau tanya sama Rayn. Kira-kira kamu jomblo gk?" Tanya Anggun yang langsun mendapat sorakkan dari murid lainnya namun Anggun tidak memperdulikan hal itu.


"Perlu saya jawab Bu?" Tanya Rayn meminta pendapat Ibu guru yang ada di sampingnya.


"Terserah kamu saja," kata Ibu guru lagi.


Akhirnya Rayn pun menganggukkan kepalanya, ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Anggun yang masih menunggu jawaban Rayn atas pertanyaannya tadi.


"Saya tidak punya pacar," jawab Rayn singkat dan seketika kelas kembali heboh kembali dan murid-murid perempuan mulai berseru senang. Sementara para murid laki-laki hanya berdecak sebal melihat kelakuan anak perempuan di kelas mereka, alhasil para murid laki-laki sibuk dengan gadget mereka.


"Sudah-sudah jangan ribut, Rayn silahkan pilih tempat duduk yang kosong ya," kata Bu guru lagi dan di balas anggukkan kepala oleh Rayn.


Rayn mulai melangkahkan kakinya berniat untuk duduk di samping perempuan yang masih menelungkupkan kepalanya itu di atas meja, namun saat Rayn semakin dekat tiba-tiba saja seorang murid laki-laki yang duduk di belakangnya sudah lebih dulu duduk di samping perempuan itu hal itu tentu saja membuat Rayn mendengus kesal namun sebisa mungkin ia berusaha mengendalikan amarahnya.


Akhirnya Rayn memilih duduk di bangku belakang, lebih tepatnya tempat murid laki-laki itu sebelumnya.


Pelajaran pun kembali di mulai, Rayn yang memang notabennya murid baru hanya diam sambil memperhatikan perempuan yang duduk di bangku tepat di depannya. Perempuan itu masih di posisi sebelumnya, ia sepertinya sedang tidur saat ini dan Rayn hanya menyungingkan senyuman tipisnya.


"Psttt, ra bangun woi," bisik murid laki-laki tadi berusaha membangunkan perempuan itu karna Bu guru mulai berjalan menghampiri meja mereka.


"Keira Agam Sky Subhi!" Suara teriakan itu membuat gadis berkerudung putih itu terperanjat kaget dan langsung menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Iya siap Bu!" Ucap Keira yang tidak sadar sudah meninggikan suaranya juga, sadar bahwa apa yang ia lakukan dapat memicu masalah baru. Keira pun menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia meringis menyadari kebodohannya.


"Kamu berani-beraninya tidur di pelajaran saya padahal nilai matematika kamu selalu saja lebih kecil daripada yang lain, dan kamu malah enak-enakkan tidur!" Bentak Bu guru sambil mengelengkan kepalanya tak habis fikir dengan muridnya yang satu ini.


"Maaf Bu ..." cicit Keira sambil menundukkan kepalanya.


"Sudah, cepat kamu keluar dari kelas dan jangan ikuti jam pelajaran saya hari ini."


Keira kembali mengangkat wajahnya, ia meringis kembali. Ia masih enggan beranjak, ini adalah mimpi buruk baginya. Berkali-kali gadis itu merutuki dirinya yang kenapa begitu ceroboh bisa-bisanya tertidur di kelas pada saat jam pelajaran akan di mulai.


Keira tidak tau kenapa hari ini dia sudah sangat mengantuk sejak tadi pagi, mungkin ini semua karna semalam ia tidur terlalu larut dari biasanya karna terlalu asyik nonton bola bersama dengan Kakak laki-lakinya. Alhasil kini Kaira harus menerima hukuman yang di berikan padanya dari Bu guru karna ketahuan tidur di kelas saat jam pelajaran di mulai.


"Kenapa masih diam?! Cepat sana ke luar dari kelas saya!" Ucap Bu guru yang memiliki nama lengkap Nunik Setiawati atau yang biasa di panggil Bu Nunik, beliau adalah guru pelajaran matematika dan terkenal dengan kesadisannya dalam menghukum murid-muridnya yang tak patuh pada aturan dan terasa salah di matanya.


"Tapi bu nanti Ayah saya-" baru saja ingin membuka mulut Bu Nunik sudah memotong ucapan Keira lebih dulu alhasil Keira kembali mengatupkan bibirnya.


"Tidak ada tapi-tapian, cepat keluar dari kelas ini!" Perintah Bu Nunik tak terbantahkan, alhasil Keira pun dengan langkah lemas dan hati yang merasa tak terima, harus melangkah ke luar dari kelas dan tidak mengikuti pelajaran matematika pagi ini.


Keira berjalan di koridor sambil menundukkan kepalanya, nasib nya pagi ini ternyata buruk. Keira mengigit bibirnya saat membayangkan bagaimana jika nanti Ayahnya tau kabar bahwa dirinya tidak ikut pelajaran matematika karna ketiduran, sudah pasti nanti Keira akan kena omel dan ceramah dengan durasi yang lumayan panjang.


Keira mendesah frustasi membayangkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi pada dirinya, karna kepalanya sudah terasa memanas Keira pun akhirnya memutuskan untuk berjalan ke arah kantin untuk membeli minuman dingin dan juga menenangkan dirinya.


"Mba Darmi, Keira pesan mie gorengnya satu ya sama minuman soda nya satu. Ini uangnya mba," kata Keira sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan, lalu setelahnya ia berjalan dan membuka kulkas, menggambil dua  soda kalengan untuk menyegarkan tengorokkannya yang terasa kering sehabis bangun tidur.


"Ini Keira, mie nya," ucap mba Darmi yang datang membawa mie goreng pesanan Keira.


Keira mengucapkan terimakasih pada mba Darmi, setelahnya ia mulai mengaduk-aduk mie nya lebih dulu sebelum ia makan.


"Widih enak nih."


"Eh ... itu kan mie gue!" Ujar Keira sambil berdecak sebal saat mie nya sudah di ambil alih oleh seorang pria yang tiba-tiba saja datang dan saat ini sedang menyantap mie Keira dengan lahap membuat Keira melayangkan tatapan kesal padanya.


"Enak banget," seru pria tersebut lagi membuat Keira memandanginya dengan tajam.


Pria itu tidak terintimidasi dengan tatapan yang Keira berikan padanya, ia justru malah tertawa senang melihat raut wajah kesal Keira.


"Rese lo Kak, sini balikkin mie gue," kata Keira yang berusaha menggambil mangkuk mie nya yang saat ini masih ada di dalam tangan pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Nih, kasian gue ngeliat muka lo kaya orang yang gk pernah makan lima bulan tau gk," kata pria itu lagi sambil tertawa mengejek sementara Keira hanya mendengus sebal dan merebut kasar mangkuk mie miliknya dari tangan pria menyebalkan di hadapannya ini.


"Tumben lo bolos," kata pria itu sambil memperhatikan Keira yang saat ini sedang menikmati mie nya dengan lahap.

__ADS_1


"Ketauwan tiduw di kewash," ucap Keira dengan mulut yang masih penuh dengan mie. Pria itu menyungingkan senyuman geli nya melihat mulut Keira yang penuh dengan mie membuat pipi gadis itu mengembung, dan terlihat begitu mengemaskan.


"Telen dulu yang bener mie nya, baru ngomong," kata pria itu lagi sambil mengelengkan kepala tak habis fikir dengan tingkah laku Keira yang selalu saja terlihat mengemaskan.


"Gue gk bolos kaya lo ya Kak, gue di suruh ke luar karna kecyduk tidur di kelas," kata Keira lalu ia meneguk minuman soda nya hingga kandas.


"Pelajaran siapa emangnya?" Tanya pria itu lagi, terlihat penasaran.


"Biasa, siapa lagi kalau bukan bu Nunik yang super unik dan julid itu." Keira memang selalu merasa kesal pada guru matematikannya itu yang suka sekali mengadu pada Ayahnya, entah itu perihal kelakuan Keira di kelas ataupun nilai-nilai matematika Keira yang selalu jelek dan paling kecil di kelas. Alhasil setelah pulang sekolah, Keira pasti langsung di marahi dan di berikan ceramah panjang oleh kedua orang tua nya.


"Hahaha, gue kira lo lagi bolos ke kantin." Keira merotasi bola matanya dan kembali sibuk menghabiskan mie gorengnya yang saat ini tinggal sedikit lagi di mangkuk.


"Alhamdulillah habis juga," ujar Keira yang sudah merasa kenyang saat ini.


"Lo badan kecil makannya banyak juga ya, tapi kok gk gemuk-gemuk? Bahkan gk tinggi-tinggi juga lagi." Keira yang mendengar itu langsung memelototi orang yang ada di hadapannya saat ini.


"Berisik banget ish, Kak Andre ngapain sih di kantin? Gangguin pagi gue aja lo kak."


Pria yang bernama Andre itu hanya tertawa melihat raut wajah Keira yang ada di depannya, ia tau bahwa Keira merasa terganggu dengan kehadirannya saat ini tapi itulah tujuannya memang. Menjahili dan menganggu adik kelasnya ini adalah hobi yang menyenangkan bagi seorang Andre Pradipta.


"Gue heran sama lo Kei."  Keira mengerenyitkan dahinya saat mendengar perkataan Andre.


"Heran kenapa?" Tanya Keira setelah selesai membuka kaleng soda nya yang ke dua.


"Gue heran, padahal nyokap sama Kakak-Kakak perempuan lo tuh muslimah banget. Udah gitu lembut dan kalem gitu cara bicara terus tingkah lakunya juga, sedangkan lo gk ada kalem-kalemnya banget jadi cewek. Bar-bar banget lo mah Kei, gue jadi curiga nih." Andre sengaja mengantung ucapannya agar Keira semakin merasa penasaran.


"Curiga kenapa?" Tanya Keira yang sesuai dengan dugaan Andre.


"Gue curiga, jangan-jangan lo bukan anak nyokap sama bokap lo lagi. Karna lo kan tingkahnya kaga kalem, yang ada bar-bar banget." Keira mendengus mendengar perkataan Andre, ia lalu menghela nafas nya dan menatap Kakak kelas nya itu.


"Bar-bar? Karna gue berkerudung panjang gini maksud lo Kak? Gini ya Kak, karakter seseorang itu gk bisa di nilai dari pakaiannya. Karna gue pakai kerudung panjang gini belum tentu gue seorang muslimah yang baik, tapi gue lagi berusaha jadi seorang muslimah yang lebih baik lagi. Jangan salahkan kerudungnya Kak, karna kerudung dan menutup aurat itu sesuai dengan syariat Islam. Gue di didik dari kecil sama nyokap dan bokap gue buat berpakaian sesuai dengan syariat Islam, dan gue sadar kok itu juga demi kebaikkan gue. Tapi gue gk bisa berubah secara menyeluruh dalam sehari aja gitu, gue juga butuh proses Kak. Gue juga lagi berusaha jadi muslimah yang baik dan gk bar-bar lagi yang bahkan gk kontras dengan penampilan gue saat ini. Jadi kalau gue atau orang yang kaya gue berbuat kesalahan jangan di salahkan dari kerudung ataupun pakaiannya yang serba tertutup. Kerudung itu untuk menutup aurat dan memang sudah menjadi kewajiban, sedangkan manusia memang wajar kalau melakukan kesalahan termasuk gue. Jadi doain aja Kak, semoga gue bisa jadi seorang muslimah yang lebih baik lagi."


Andre tersenyum mendengar ucapan Keira yang begitu panjang, ia tidak menyangka ternyata adik kelasnya yang terkenal agak bar-bar dan padahal sangat kontras sekali dengan pakaiannya ternyata cukup bijak juga, membuat Andre sampai berdecak kagum.


"Keren! Lo kesambet apaan? Kok bisa bijak banget kaya Mario Teguh gitu," kata Andre, membuat Keira terkekeh.


"Gk kesambet apa-apa gue Kak," kata Keira lagi.


Lalu keduanya pun kembali berbincang bahkan sesekali tertawa saat ada percakapan yang lucu di antara mereka.


Dan tanpa mereka berdua sadari bahwa sedaritadi ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Rayn, tadinya Rayn izin pada Bu Nunik untuk buang air kecil yang padahal ia ingin mencaritahu keberadaan Keira.

__ADS_1


Namun saat ia sudah tau keberadaan Keira, Rayn justru melihat Keira sedang bercengkrama dengan seorang pria yang Rayn sendiri tidak kenal siapa dia. Rayn mengepalkan tangannya, sepertinya hambatan ia untuk bisa mendekati Keira sesuai rencananya bertambah satu setelah sebelumnya ada Rafly yang juga dekat dengan Keira.


Jika begini Rayn harus menggambil tindakkan, ia tidak boleh lengah dan kalah. Ia harus menyusun rencana lagi untuk bisa selangkah lebih depan dari pria yang tidak Rayn kenal itu dan juga Rafly tentunya yang selalu saja menempel di dekat Keira macam prangko, dan itu sangat menganggu serta terlihat begitu menyebalkan di mata Rayn.


__ADS_2