
Keesokkan harinya Keira sudah bersiap mengemasi pakaiannya yang hendak ia bawa selama menginap di rumah orang tuanya bersama dengan Hana, Keira sudah tak perduli perihal Rayn bahkan sejak Keira bangun dia tak melihat keberadaan Rayn setelah semalam.
Semalam setelah Keira mengeluarkan kekesalannya pada Rayn, pria itu pergi begitu saja setelah mengatakan kata maaf tanpa penjelasan seperti yang Keira ingin dengar dari Rayn.
Namun sikap Rayn semalam membuat Keira semakin kecewa dengannya, akhirnya Keira memutuskan untuk pergi dari rumah sementara waktu.
"Ayo sayang kita ke rumah Oma," ucap Keira seraya mengendong Hana.
Pagi ini Keira sudah merasa lebih baik dari kemarin, setelah semuanya siap Keira memesan taksi online lalu ia dan Hana benar-benar pergi meninggalkan rumah untuk sementara waktu.
....
Ting tong ting tong
Keira telah sampai di depan rumah orangtuanya, ia menunggu dengan sabar agar pintu rumahnya terbuka.
Benar saja tak lama, pintu rumah Keira terbuka menampilkan sosok Bundanya yang kaget melihat kedatangan Keira, karna memang sebelumnya Keira tak memberi kabar terlebih dahulu kalau dia ingin datang ke rumah.
"Masyaa Allah Kei, kok kamu gk bilang Bunda kalau mau ke sini?" Tanya Binar, Bunda Keira yang langsung menyuruh putrinya dan juga cucunya untuk masuk.
Keira hanya tersenyum lalu masuk bersama Bundanya.
"Bun, yang lain pada kemana? Kok rumah kelihatan sepi?" Tanya Keira tatkala melihat suasana rumah yang sepi tak seperti biasanya.
"Kakak-kakak kamu lagi pada keluar Kei, jadi di rumah cuma Bunda sama Mbok Mina," kata Binar menjelaskan.
"Wah cucu Oma sudah besar, sudah bisa merangkak ya nak?" Tanya Binar lalu menggambil Hana dari gendongan Keira.
"Iya Bun, Hana sudah bisa merangkak," jawab Keira membuat Binar senang mendengarnya.
"Kamu tumben ke sini, terus kemana suami kamu? Kok gk ikut mampir?"
"Dia lagi sibuk Bun," jawab Keira malas, dan Binar mengerenyitkan dahi melihat ekspresi Keira yang terasa enggan menjelaskan kenapa suaminya tidak ikut datang ke rumahnya.
"Kamu lagi ada masalah ya sama suamimu?"
Keira agak kaget ketika Bundanya tiba-tiba bertanya seperti itu padanya.
"Loh, kok Bunda bisa tahu?!"
__ADS_1
Binar tertawa melihat reaksi terkejut Keira, lalu setelah sadar apa yang dikatakan oleh dirinya, Keira akhirnya menepuk mulutnya yang bisa-bisanya keceplosan.
"Kenapa hmm? Mau cerita sama Bunda? Bunda siap dengerin kok nak," kata Binar sambil mengenggam tangan Keira dengan penuh kasih sayang.
Keira terlihat bingung, namun akhirnya menceritakan semuanya yang terjadi pada dirinya.
"Aku ngerasa kalau dia bohongin aku Bund, aku gk masalah kalau dia mau minta hak nya sebagai suami tapi ... tapi gk gitu caranya Bun," ucap Keira yang masih terlihat raut wajah kesalnya saat bercerita.
Binar menganggukkan kepala lalu tersenyum, dan mengusap kepala Keira sayang.
"Sayang, kamu udah tanya apa alasan dia ngelakuin itu ke kamu? Mungkin aja emang suamimu suka gaya berhubungan yang kaya gitu, kaya di film-film gitu supaya menantang. Jadi gk seharusnya kamu kabur gini terus marah sama suami kamu dan gk mau maafin dia, bagaimanapun dia suami kamu. Bunda yakin kok pasti ada alasan kenapa suami kamu ngelakuin hal itu ke kamu."
Keira menghela nafasnya pelan, ia bisa mencerna semua yang dikatakan Bundanya namun untuk balik ke rumah ia belum bisa apalagi harus bertemu dengan Rayn, ia belum siap karna masih suka kesal takutnya Keira khilaf dan malah KDRT ke suaminya itu.
"Oke deh kamu boleh tinggal di sini, tapi jangan lama-lama loh, kasian suamimu gk ada yang urus."
"Dia bisa ngurus dirinya sendiri kok Bun, kan udah gede," sahut Keira membuat Binar mengeleng tak habis fikir. Putrinya memang kalau sudah kesal seperti ini, bukan berarti belum memaafkan hanya saja Keira kadang merasa perlu waktu sendiri untuk meredakan amarahnya.
"Kamu sudah makan?" Tanya Binar lagi dan di balas gelenggan kepala oleh Keira.
"Ya udah, ayo makan dulu. Bunda tadi masak banyak," ajak Binar dan dituruti oleh Keira yang kemudian langsung mengendong Hana dan ikut Bundanya ke ruang makan untuk sarapan kebetulan dia belum sarapan.
....
Rayn berjongkok di depan Nayya, Mamahnya memang tak sampai membunuh Nayya namun Mamahnya ternyata tetap saja menyiksa Nayya. Rayn bahkan sampai berkaca-kaca melihat Nayya yang penampilannya sungguh berantakkan.
Perempuan seharusnya wangi, tubuhnya bersih dan terawat namun Nayya tidak. Gadis itu justru tersiksa, rambut panjangnya tergerai dan kusut, wajah dan tubuh serta pakaiannya kotor dan jangan lupakan luka-luka membiru yang menghiasi badan Nayya.
"Nay ..." panggil Rayn lirih sambil memegang lembut tangan Nayya.
Nayya akhirnya terbangun dari tidurnya, ia membuka mata lalu tersenyum lebar saat melihat kedatangan Rayn.
"Rayn!" Seru Nayya yang langsung merubah posisi menjadi duduk dan langsung memeluk Rayn erat sambil menangis.
"Akhirnya Rayn datang ...." lirih Naya di sela-sela tangisnya yang memilukan untuk Rayn dengar.
Rayn tidak mengatakan apapun, ia ikut meneteskan air mata dan memeluk Nayya erat.
"Ikut aku ya," ucap Rayn sambil menangkup lembut wajah Nayya dan menatap manik mata gadis itu.
__ADS_1
"Ikut kemana Rayn?" Tanya Nayya bingung saat Rayn hendak mengajaknya pergi.
"Ke tempat dimana gk akan ada lagi orang yang nyakitin kamu," jawab Rayn seraya menatap manik mata Nayya dalam, memberikan kenyamanan sekaligus perlindungan bagi Nayya membuat gadis itu mengangguk menyetujui bahwa dirinya mau ikut bersama Rayn.
Rayn mengajak Nayya pergi sebelum bawahan suruhan Mamahnya datang lagi, karna kata Nayya mereka lagi pergi ke luar.
Sebelum Rayn mengajak Nayya pergi, Rayn terlebih dahulu melepaskan rantai yang mengikat tangan dan kaki Nayya.
Saat melepaskan rantainya, Rayn menahan gejolak perasaannya yang tak karuan. Marah, sedih, kesal semuanya bercampur jadi satu saat ini.
Apalagi saat melihat luka di kedua kaki Nayya, juga di kedua tangan gadis itu.
"Ini telapak tangan kamu kenapa?" Tanya Rayn melihat telapak tangan Nayya yang seperti luka bakar.
"Mereka ngelukain aku pakai besi panas Rayn," jawab Nayya membuat Rayn semakin sedih dan marah.
Rayn tak berkata apa-apa lagi, ia langsung mengendong Nayya untuk pergi dari tempat itu karna kedua kaki Nayya digunakan untuk berjalan akibat luka yang ada di kakinya.
....
Rayn membawa Nayya ke rumahnya, ralat lebih tepatnya rumah dia bersama Keira namun gadis itu sudah pergi tadi pagi ke rumah orangtuanya dan Rayn hendak menahannya namun ia tak bisa menahan Keira pergi karna rasa bersalahnya.
"Kamu duduk sini, aku mau telpon dokter buat periksa luka kamu," ucap Rayn yang sudah mendudukkan Nayya di sofa ruang tamu.
Nayya mengangguk, kemudian Rayn segera menelpon dokter untuk datang ke rumah memeriksa kondisi Nayya.
Selama menunggu, Rayn menggambil kain yang sudah ia basahi sebelumnya lalu dengan telaten dan sabar ia membersihkan noda debu yang menempel di wajah cantik Nayya lalu membersihkan tangan dan kaki Nayya juga.
Lalu dokterpun datang dan langsung memeriksa dan mengobati Nayya , setelahnya dokterpun pamit pulang.
Nayya memperhatikan Rayn dengan lekat yang saat ini sedang membalut luka di kaki Nayya.
Tangan kiri Nayya yang tidak begitu parah lukanya bergerak mengusap lembut kepala Rayn membuat Rayn mendongak balas menatapnya.
"Terimakasih Rayn, terimakasih sudah membawa Nayya pergi dari tempat menakutkan itu," ucap Nayya sambil tersenyum dan mata berkaca-kaca.
Rayn tersenyum lalu megenggam erat jari jemari Nayya.
"Kamu dulu udah selalu ada buat aku, sekarang aku yang akan selalu ada buat kamu Nay. Jangan takut, ada aku," kata Rayn yang ucapannya membawa ketenangan bagi Nayya namun bukan hanya itu tapi juga membawa harapan bagi Nayya untuk bisa bersama dengan Rayn selamanya, dan entah sejak kapan Nayya mulai menjadi egois, dan merasa bahwa Rayn adalah miliknya dan Rayn hanya untuk dirinya.
__ADS_1