
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Okee deh Happy reading!
-
-
-
-
-
Dokter Adnan pun sudah menyiapkan kejutan untuk Vidya, yang sudah ia pastikan bahwa Vidya pasti tidak akan bersedih lagi.
"Tolong bantu kami ya, sedaritadi Vidya tidak mau keluar dari kamarnya." Ucap dokter Adnan pada seorang wanita paruh baya yang kini sedang berdiri di hadapannya.
Wanita paruh baya itu pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Tentu saya pasti akan membantu, saya juga sudah sangat merindukan Vidya selama ini." Ucap wanita paruh baya itu, matanya terlihat berkaca-kaca setelah sebelumnya ia sudah mendengar cerita tentang Vidya secara rinci dari dokter Adnan dan istrinya.
Astrid dan dokter Adnan tersenyum mendengarnya, lalu mereka berdua pun mengantarkan wanita paruh baya itu ke depan pintu kamar Vidya.
Setelah itu mereka meninggalkannya sendiri, begitupun dengan kedua pengawal yang berjaga di depan kamar Vidya di perintahkan untuk pergi dahulu.
Tok tok tok
"Hiks...nggak Bunda, Vidya gk laper. Vidya mau sendiri dulu." Teriak Vidya dari dalam kamar, membuat wanita paruh baya itu tersenyum dengan matanya yang sudah berkaca kaca.
Tok tok tok
"Bunda Vidya kan sudah-"
"Vidya."
Namun Vidya menghentikan ucapannya ketika ia mendengar sebuah suara di depan pintu kamarnya yang terdengar tidak asing bagi dirinya.
Vidya pun langsung bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah pintu kamar nya, lalu membuka pintu tersebut.
__ADS_1
Cklek
Vidya terpaku di tempat, tangisannya kembali luruh ketika melihat sosok di hadapannya, sosok yang begitu ia rindukan.
"Umi..." lirih Vidya di sela isak tangisnya, wanita paruh baya itu yang ternyata adalah Umi Vidya pun juga ikut terisak.
Tanpa aba-aba Vidya langsung berhambur ke dalam pelukkan Umi nya, pelukan wanita yang melahirkannya dan sangat ia rindukan.
"Hiks...Umi...hiks...maafkan Vidya...hiks...maaf Umi." Ujar Vidya yang menangis di dalam dekapan Umi.
Umi mengelus pungung Vidya lembut lalu melerai pelukkan mereka.
Umi menangkup wajah Vidya dengan kedua tangannya, di tatapnya lah wajah putri kecil nya itu, lalu jari-jemarinya bergerak menghapus air mata Vidya.
"Jangan nangis sayang, kamu kuat nak. Kamu putri Umi yang kuat, kamu gk boleh lemah sayang. Ada Allah yang senantiasa bersama kita." Ucap Umi lagi, membuat Vidya menganggukkan kepalanya.
"Umi sudah tau apa yang sudah terjadi pada dirimu, Bunda dan Ayah mu, mereka sudah memberitahu Umi semuanya."
"Maaf Umi...hiks...maaf kalau Vidya tidak memberitahu Umi tentang kondisi Vidya, Vidya hanya takut...hiks Vidya takut penyakit jantung Umi kambuh...Vidya juga gk mau merepotkan Umi dan Abi." Ucap Vidya sambil terisak.
Vidya tidak menyangka jika Bunda dan Ayah nya akan mendatangkan Umi nya ke rumah.
Vidya pun menceritakan semuanya termasuk tentang Umi, Abi, dan keluarganya yang lain.
Namun Vidya bilang dia meminta untuk tidak memberitahu apapun tentang dirinya pada Abi dan Umi, karna Vidya takut jika nanti dia hanya akan merepotkan mereka berdua saja, dan dokter Adnan dan Astrid pun setuju.
Namun kini Umi nya sudah tau segalanya, dan kini Umi yang begitu Vidya rindukan nyata adanya.
Tangisan Vidya mulai mereda, ia dan Umi kini sedang berada di dalam kamar Vidya.
Vidya juga mulai menceritakan semua yang telah terjadi pada hubungannya dengan Arya pada Umi.
Umi sampai meneteskan air matanya, ia tidak tau jika selama ini ternyata putrinya menyimpan luka sebesar ini seorang diri.
"Sabar ya nak, ini semua ujian dari Allah. Kita sebagai hambanya harus senantiasa bertawakal dan senantiasa berprasangka baik pada Allah, di balik setiap musibah yang menimpa pasti akan ada hikmah yang bisa kita ambil di dalamnya, kamu yang sabar ya sayang." Nasihat Umi, Vidya menganggukkan kepalanya.
Vidya tersenyum, ia sudah lama dan rindu juga rasanya mendengarkan nasihat dari Umi yang dulu selalu Umi berikan padanya.
"Terimakasih Umi, dan maaf kalau Vidya belum bisa jadi anak yang berbakti. Maaf juga kalau Vidya masih suka berbohong pada Abi, dan Umi." Ucap Vidya, Umi mengelengkan kepalanya ia mengenggam kedua tangan Vidya dengan tangannya.
__ADS_1
"Umi akan selalu memaafkan kamu nak, walau bagaimana pun kamu. Kamu tetap anak Abi dan Umi, kami tetap akan selau saya sama Vidya."
Vidya menganggukka kepalanya ia merasa terharu mendengar ucapan Umi barusan.
"Umi gk nyangka aja ternyata kamu lagi mengandung, lama tidak bertemu, putri Umi ternyata sudah besar rupanya." Ucap Umi yang mengelus perut Vidya lembut, sementara itu Vidya hanya terkekeh.
Dughhh
"Eh dia nendang! Wah kayanya anak kamu sadar deh kalau ada Oma nya di sini." Vidya terkekeh mendengar ucapan Uminya dan juga raut wajah Umi nya yang begitu antusias ketika merasakan tendangan dari dalam perut Vidya.
"Mulai sekarang kamu gk boleh terlalu banyak fikiran, karna itu bisa mempengaruhi keadaan janin kamu. Kamu juga gk boleh bertindak sembarangan, kamu juga harus mulai memikirkan keadaan dan keselamatan anak yang berada di dalam kandungan kamu ini." Ucap Umi, dan di balas anggukkan kepala oleh Vidya.
Vidya merasa senang dengan kedatangan Umi ke rumah, hal itu membuat suasana hatinya jadi lebih baik, sejenak ia bisa melupakan masalah yang sedang ia hadapi.
[]
Sementara itu, Arya terlihat sedang meggumpulkan beberapa karyawan kepercayaannya.
Ia sedang membagi tugas pada karyawannya itu untuk membantu dirinya, mengumpulkan bukti untuk membuktikan pada Vidya bahwa Siren, istrinya tidak mungkin bersalah.
Seluruh kemampuan dan uang Arya keluarkan demi untuk membebaskan Siren dan membuktikan kalau Siren tidak terlibat dalam kasus ini.
Arya berharap ia bisa secepatnya mengumpulkan bukti-bukti tersebut.
"Kalian harus mencari bukti-bukti tersebut secepat mungkin, karna waktu kita juga tidak banyak. Kalian juga harus pintar dalam menganalisis kasus ini, selidiki juga siapa saja orang yang memiliki kemungkinan terlibat dalam kasus ini."
"Siap Tuan." Balas kelima bawahan Arya yang ia tugaskan untuk menggumpulkan bukti-bukti.
"Selidiki juga siapa saja orang-orang yang tidak suka dengan Vidya, selidiki mereka semua. Cari tau, dan kabarkan pada saya apabila kalian sudah menemukan sesuatu yang dapat membantu penyelidikan ini." Ucap Arya lagi, ia menatap satu persatu anak buahnya.
"Saya yakin kalian pasti bisa melakukan semua ini dengan sangat baik, saya percaya pada kalian. Saya beri kalian waktu seminggu, untuk bisa segera menggumpulkan bukti-bukti tersebut, mengerti kalian?"
"Siap mengerti!" Jawan anak buah Arya itu dengan serentak, membuat Arya menganggukkan kepalanya, puas mendengar jawaban dari bawahannya yang begitu bersemangat.
"Baiklah kalau begitu cepat laksanakan tugas kalian."
"Baik Tuan." Lalu setelah itu kelima bawahan Arya itu pun pamit pergi, mereka akan berusaha menjalankan tugas yang Arya berikan.
Arya menghela nafasnya kasar, ia berharap dalam hati supaya ia bisa segera menemukan siapa dalang sebenarnya dari balik kasus penculikan Vidya.
__ADS_1
Dan ia juga berharap agar segera bisa membuktikan bahwa Siren tidak bersalah dalam kasus itu.