
Part ini memakai sudut pandang Vidya/ Vidya POV.
Okee deh Happy reading!
-
-
-
-
-
Akhirnya aku dapat menghirup udara luar dengan bebas.
Aku tersenyum melihat dua orang anak yang sedang berlarian bersama.
Saat ini aku berada di taman rumah sakit, tadi aku ke sini di antar oleh suster menggunakan kursi roda.
Tentu saja karna untuk saat ini aku masih belum bisa berjalan sendiri, perutku masih suka terasa sakit kadang.
Aku menghirup udara pagi lagi, perlahan aku meraba perutku sambil tersenyum membayangkan betapa bahagiannya aku ketika anakku ini sudah lahir nanti.
Aku yakin dia pasti akan sangat mengemaskan seperti kedua anak itu.
Membayangkannya saja membuatku tidak sabar ingin cepat-cepat menimang bayiku, ah rasanya pasti begitu menyenangkan.
"Hari ini kita pulang ke rumah, kata dokter keadaan kamu sudah baik-baik saja."
Senyumku hilang ketika telingaku mendengar suara seseorang yang sangat aku kenali.
Aku pun mengitarkan pandanganku, dan aku menemukan sosok yang sangat aku kenali berada di sudut taman sedang bersama seseorang yang juga aku kenal.
Mereka terlihat begitu mesra, perlakuan pria itu pada gadis itu terlihat sangat mesra.
Aku menghela nafasku, mendadak aku merasa sangat kesal sekali melihat wajah pria itu.
Ya benar, pria itu adalah Arya dan gadis itu adalah Siren. Mereka berdua terlihat sangat serasi, sedang tertawa bersama.
Melihat Arya tersenyum membuat hatiku terasa nyeri, aku mengingat momen kebersamaan ku dengannya dulu, yang mungkin akan menjadi kenangan untuk selamanya.
"Ish kenapa aku nangis sih? Aku gk boleh nangis gini ih." Ucapku seraya menghapus air mata yang menetes di pipi.
Namun rasanya air mataku ingin terus menetes, ahh mungkin ini juga karna efek hamil, kadang moodku dapat berubah-ubah dengan cepat.
Aku masih diam memperhatikan sepasang kekasih itu dalam diam, untungnya mereka tidak menyadari kehadiranku.
Mendadak aku merasa mual, aku merasa aku harus segera pergi sebelum salah satu dari mereka menyadari kehadiranku.
Aku memanggil salah satu suster yang lewat, meminta tolong untuk di antarkan kembali ke ruangan, dan untungnya suster itu pun mau.
"Mau langsung di anterin balik ke ruangan atau bagaimana mbak?" Tanya suster tersebut, aku sedikit berfikir sebentar.
"Nggak suster, sebaiknya kita ke kantin rumah sakit dulu. Saya mau beli sesuatu di sana." Suster tersebut pun menurut, ia menggantarkan aku ke kantin rumah sakit.
__ADS_1
"Susi!" Suster itu berhenti, sepertinya nama suster ini Susi.
Terlihat rekan sejawatnya menghampiri suster bernama Susi itu, mereka terlihat berbincang.
"Mbak maaf, saya tinggal di sini gk apa-apa mbak? Nanti saya kasih tau salah satu suster buat jemput mbak kembali ke kamar rawat, saya ada tugas mendadak mbak."
Aku menganggukkan kepalaku, lagipula aku tidak keberatan di tinggal sendirian di sini.
Lalu setelah suster Susi pergi, aku menatap area kantin ini yang terlihat sangat bersih dan rapih.
Tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang duduk, sepertinya keluarga pasien yang sedang menunggu dan menyempatkan untuk sarapan di sini.
Aku menatap ke arah papan menu yang menampilkan deretan makanan yang di jual di kantin ini.
Aku tersenyum senang saat aku melihat makanan yang sangat ingin aku makan sedaritadi, yaitu roti bakar selai srikaya.
Walaupun aku tau itu kesukaan Arya tapi aku tidak tau kenapa aku sangat menginginkannya, mungkin ini bawaan adek bayi dalam perutku ini.
Ternyata bayi dalam perutku ini memiliki selera yang sama dengan Arya, padahal aku tidak menyukai roti bakar dengan selai srikaya namun kali ini kondisi nya berbeda.
Aku pun memesan roti bakar selai srikaya tersebut, dan segera di buatkan, namun sementara waktu aku harus menunggu terlebih dahulu.
Aku menunggu dengan sabar walaupun tidak bisa di tampik aku sangat menginginkan roti itu sekarang.
Aku melihat juru masak di kantin itu sedang membakar roti srikaya yang sudah hampir matang.
"Mas, itu buat saya kan?" Tanyaku pada juru masak yang sedang memanggang roti bakar yang sama seperti pesananku.
"Maaf mbak bukan, ini buat mas-mas yang udah pesan duluan sebelum mbak." Aku menghela nafasku, kembali mengelus permukaan perutku.
"Mas itu buat saya bisa gk? Saya udah kepengen banget makan itu." Ucapku memelas, berharap roti itu bisa menjadi milikku.
"Tapi mbak-"
"Udah gk apa-apa, kasih aja buat mbak nya mas." Aku tersenyum senang saat juru masak itu menganggukkan kepalanya.
"Terima-" aku menghentikan ucapan terimakasih yang ingin aku ucapkan pada orang yang sudah merelakan roti bakar pesanan nya untukku.
Namun aku sangat terkejut melihat siapa orang yang kini sedang berdiri di sampingku, bahkan dia pun sepertinya sama terkejutnya seperti diriku.
"Ini mbak roti bakar selai srikayanya."
Aku hanya diam, bahkan aku tidak mengubris ucapan si juru masak kantin itu, tatapanku lurus menatap ke arah Arya yang juga sedang menatapku.
"Mbak." Aku tersentak lalu segera menggalihkan pandanganku, aku menggambil uluran roti bakar tersebut dari tangan juru masak kantin.
Tanpa sadar aku menyungingkan senyumanku, melihat roti bakar selai srikaya ini yang begitu mengugah selera bahkan aku sampai melupakan keberadaan Arya yang masih berdiri di sampingku.
"Sejak kapan lo suka roti bakar selai srikaya?"
Aku yang baru saja ingin menyantap roti bakar tersebut, aku urungkan ketika mendengar pertanyaan Arya.
"Bukan urusan kamu." Jawabku dengan kesal, karna dia sudah menganggu diriku yang mau menyantap roti bakar selai srikaya ini.
Aku pun menikmati roti bakar tersebut, rasanya benar-benar terasa nikmat padahal dulu aku sangat tidak menyukainya.
__ADS_1
Namun anehnya sejak hamil ini mendadak makanan yang tidak pernah aku suka dan selalu Arya sukai, menjadi makanan kesukaan ku juga.
Aku juga heran kenapa anakku ini seleranya sangat sama dengan Arya? Kenapa tidak sama denganku? Jika terus begini bagaimana bisa aku melupakan Arya?
"Uhuk...uhuk." aku terbatuk, karna aku makan terlalu begitu bersemangat.
"Nih minum." Ucap Arya menyodorkan air mineral padaku, namun aku mengelengkan kepalaku, lalu tatapanku beralih pada kopi yang ada di sebelah tangan Arya yang lainnya.
"Kopi? Ini kopi hitam tanpa gula, lo kan gk doyan kopi hitam tanpa gula kaya gini ." Ucap Arya yang enggan menyerahkan kopi hitam miliknya untukku.
Aku mendengus dan memberengut kesal mendengar penolakan darinya.
"Mas saya pesen kopi hitam tanpa gula yang kaya dia." Ucapku sambil menunjuk kopi milik Arya, juru masak itu pun menganggukkan kepalanya.
Sementara Arya? Dia mah no komen, namun sepertinya dia sekarang sedang bingung melihat diriku yang mendadak jadi aneh gini.
"Nih mbak kopi hitam tanpa gulanya." Ucap juru masak kantin tersebut, dengan antusias aku menggambil kopi hitam tanpa gula itu.
Aku menghirup kopi itu, aromanya begitu sangat aku sukai, entah mengapa padahal aku dulu tidak begitu menyukai bau kopi apalagi mencicipinya.
Senyumanku terbit, lalu aku bergegas ingin menyeruput kopi tersebut. Namun kopi itu malah di ambil oleh seseorang.
"Lo gk boleh minum kopi ini, lo gk suka kopi ini." Ucap Arya yang seenak jidatnya malah menggambil kopi milikku.
"Gk usah sok perduli." Jawabku yang sudah terlanjur kesal padanya.
Akhirnya setelah aku mencubit pinggang Arya, Arya pun menyerahkan kopi yang ia ambil tadi padaku.
Aku pun kembali tersenyum senang, lalu menyeruput kopi tersebut dengan begitu nikmat.
Padahal dulu aku selalu memarahi Arya ketika ia sedang menyeruput kopinya seperti yang aku lakukan, karna aku yang mendengarnya merasa risih, tapi barusan aku malah melakukannya.
Aku tersenyum penuh kenikmatan, ternyata rasa kopi tidak seburuk yang ku kira.
Tanpa memperdulikan Arya, aku kembali menyantap rotiku dan meminum kopi itu sampai keduanya tak tersisa.
Aku merasa sangat kenyang dan merasa sangat senang juga.
"Mba Vidya ternyata ada di sini." Aku tersenyum ketika melihat kedatangan suster Mika, suster yang selama ini merawatku dengan sangat baik.
"Ayo kita kembali ke ruang perawatan, mbak harus istirahat." Aku menganggukkan kepalaku, suster Mika hendak mendorong kursi rodaku namun di hentikan oleh Arya.
"Lo sakit?" Tanya Arya padaku, aku sudah terlanjur kesal padanya, bahkan aku enggan menatap wajah pria itu.
"Minggir, saya mau pergi. Untuk kamu, jangan pernah sok perduli begitu." Ucapku menatap tajam Arya.
Arya bukannya meminta maaf karna kesalahannya padaku dia malah menatapku tajam sambil tersenyum sinis.
"Lo kepedean, siapa juga yang perduli sama cewek munafik kaya lo. Gue gk perduli mau lo sakit, atau mati sekalipun." Ucap Arya lalu ia melenggang pergi begitu saja tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
Aku terdiam, lalu tersenyum sendu. Sekarang aku tau bahwa aku memang tidak ada artinya lagi di hidup Arya, keputusanku untuk pergi menjauh dari kehidupannya ternyata sudah sangat benar.
"Ayo suster, kita kembali ke ruangan." Ucapku mencoba untuk tetap tegar namun sepanjang jalan aku terus memikirkan ucapan Arya, yang kembali menyakiti hatiku.
Lihat bukan, setelah apa yang ia lalukan padaku, ia bahkan tidak merasa menyesal sama sekali.
__ADS_1
Aku menghela nafasku, aku harus kuat, aku tidak boleh lemah aku harus bertahan demi anakku yang masih sangat membutuhkan diriku ini.