Without You

Without You
[S2] Penyelidikan (2)


__ADS_3

Arya dan Shafa keduanya sedaritadi hanya saling diam, Shafa menatap Arya yang saat ini juga sedang menatap ke arahnya.


"Darimana kamu tau nama saya?" Tanya Arya yang memecah keheningan di antara mereka berdua.


Shafa menghela nafasnya lalu ia menyungingkan senyumannya, di tatapnya Arya dengan tatapan sendu.


"Entahlah nama kamu terlintas begitu saja di benakku," ujar Shafa yang mengelengkan kepalanya.


"Shafa kamu ini sebenarnya siapa? Kenapa wajah kamu sangat mirip dengan seseorang?" Tanya Arya yang tampak sudah bingung dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


"Aku juga gk tau ... hiks ... aku gk tau!" Teriak Shafa secara tiba-tiba, membuat Arya berjengit kaget.


"Shafa ... kamu kenapa?" Tanya Arya yang bingung karna tiba-tiba saja gadis itu menangis bahkan meraung-raung dan tak lama gadis itu tertawa membuat Arya merasa takut melihatnya.


"Shafa ada apa? Kamu kenapa?" Tanya Arya yang tidak sengaja mengenggam pergelangan tangan Shafa.


"Lepas! Jangan! Aku gk mau! Lepas jangan paksa aku melakukannya, itu dosa! Lepas ... hiks aku takut," ujar Shafa yang beringsut mundur terlihat sangat ketakutan.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu ketakutan begini?"


Arya berusaha mendekati Shafa namun Shafa malah mendorong tubuh Arya hingga pria itu terdorong ke belakang.


"Shafa jangan!" Pekik Arya saat melihat Shafa sedang memegang pisau gadis itu hendak mengarahkan pisau itu ke arah perutnya.


"Shafa! Kamu sudah gila? Lepaskan itu!" Pekik Arya yang segera melepaskan pisau dari genggaman tangan Shafa, lalu Arya pun membawa Shafa ke dalam dekapannya.


"Hiks ... lepas ... aku mau mati aja," ujar Shafa lirih sambil terus memukuli dada bidang Arya.


Walaupun Shafa terus memukuli Arya tapi Arya tidak melepaskannya. Ia tetap memeluk Shafa bahkan kali ini lebih erat. Ada perasaan aneh yang ia rasakan saat memeluk Shafa, rasanya seperti sesuatu yang hilang dari dirinya telah kembali.


"Shafa kamu baik-baik aja kan?" Tanya Arya sambil menunduk menatap Shafa yang saat ini ada dalam dekapannya.


"Bawa aku pergi dari sini, mereka selalu menyiksaku ... hiks ... mereka semua jahat," ucap Shafa yang kembali menangis.


Arya tidak tega melihat Shafa menangis, sepertinya Shafa terlihat sangat ketakutan bahkan terlihat begitu tertekan saat ini. Entah apa yang telah orang-orang itu lakukan padanya sehingga gadis itu terlihat sangat ketakutan.


"Kita pasti akan segera pergi dari sini, kamu tenang aja," ucap Arya yang kembali mengeratkan pelukkannya.


Shafa merasa ketakutannya sedikit berkurang karna ada Arya yang memeluknya dengan erat, perlahan Arya mengajak Shafa untuk keluar.


Arya berjalan bersama Shafa dengan sangat hati-hati karna mereka takut rencana melarikan diri Shafa gagal, setelah situasi terasa aman. Arya sedaritadi mengenggam tangan Shafa pun segera mengajaknya untuk berjalan maju.


"Berhenti kalian!"


Arya bedecak kesal rupanya ada seseorang yang melihat mereka, Arya pun akhirnya memutuskan untuk mengajak Shafa berlari.

__ADS_1


Mereka berdua berhasil keluar dan berlari menuju mobil dengan selamat.


"Jalan cepat!" Perintah Arya pada Arkana.


Mobil yang di kendarai Arkana pun melesat dengan cepat, di belakang mobil mereka ada dua mobil yang menguntit.


Arya tau itu pasti mobil suruhan Madam pemilik club malam itu, Arkana mempercepat laju mobilnya sementara Arya terlihat sedang menelpon seseorang untuk dimintai bantuan.


"Aku takut!" Pekik Shafa yang mencengkram erat tangan Arya.


Arya yang menyadari bahwa Shafa sangat ketakutan pun berusaha menenangkan gadis itu, Arya berkali-laki berusaha membuat Shafa tenang namun gadis itu malah meraung.


"Ada apa dengan gadis itu Tuan?" Tanya Arkana yang khawatir dengan keadaan Shafa.


"Saya juga gk tau, Shafa kamu tenang ya. Kita pasti akan baik-baik saja," ucap Arya yang mencoba menenangkan Shafa untuk kesekian kalinya.


Arkana melajukan mobilnya ke arah hutan, ia mempercepat mobil tersebut dan terus berusaha menghindar. Ketika menyadari kedua mobil penguntit itu sudah tertinggal lumayan jauh, Arkana pun menghentikan mobilnya.


"Jangan! Mereka akan memukul kita nanti," ujar Shafa sambil menahan tangan Arya yang hendak keluar dari dalam mobil.


"Kita harus turun, percayalah kita pasti aman," ucap Arya sambil menatap lekat Shafa.


Lewat tatapannya Arya berusaha meyakinkan Shafa bahwa semuanya akan baik-baik saja, Shafa akhirnya mengangguk pelan lalu ikut keluar dari dalam mobil bersama dengan Arya.


Arya dan Shafa masuk ke dalam mobil lain, mobil itu adalah mobil milik anak buah Arya yang sudah stand by menunggunya.


"Tentu Tuan, saya akan mengalihkan perhatian mereka sementara Tuan bisa pergi dengan aman."


Setelah mengucapkan terimakasih, mobil yang Arya dan Shafa naiki itu mulai melesat pergi berlawanan arah dengan mobil yang di kendarai oleh Arkana.


Mereka sengaja melakukan hal itu agar bisa mengelabui para suruhan Madam itu, akhirnya Arya bisa bernafas lega akhirnya ia bisa menyelamatkan Shafa dari tempat terkutuk itu.


"Tuan kita sudah sampai," ujar supir yang mengantar Arya.


Saat ini Arya dan Shafa berada di tengah lapangan terbuka, di sana sudah ada helikopter yang menunggu untuk menjemput mereka.


"Ayo kita pergi Shafa," ucap Arya yang mengulurkan tangannya pada Shafa, dan dengan ragu Shafa menerima uluran tangan Arya untuk ikut bersama pria itu.


Arya berlari ke arah helikopter, di atas sana sudah ada Bram yang menunggu mereka.


"Ayo cepat Shafa!" Ujar Arya yang meminta agar Shafa mempercepat langkahnya.


Dorr dorr dorr


Suara tembakan terdengar mengudara, membuat Shafa sontak menghentikan langkahnya. Gadis itu menutupĀ  telinga dengan kedua tangannya, ia nampak histeris mendengar suara tembakkan itu.

__ADS_1


"Shafa ada apa? Ayo kita lari! Mereka sudah datang dan mengejar kita!" Seru Arya yang berusaha menarik Shafa untuk kembali berlari.


"Tidak! Jangan! Pembunuh! Kalian pembunuh!" Ucap Shafa yang mulai kembali histeris.


"Shafa! Ada apa denganmu?!" Ucap Arya yang geram, karna situasi mereka saat ini sedang sangat genting.


"Tuan Arya! Cepat lari!" Teriak Bram dari atas helikopter yang saat ini sedang mendarat menunggu kedatangan Arya dan Shafa.


"Shafa! Ayo cepat lari!" Teriak Arya yang berusaha menarik tangan Shafa untuk kembali berlari bersamanya.


Namun Shafa hanya diam sambil terisak, Arya dapat merasakan tubuh Shafa mulai bergetar hebat.


"Ayo Shafa kita-"


Dorr dorrr


Belum sempat Arya melanjutkan ucapannya suara tembakkan itu kembali terdengar, Arya perlahan membalikkan badannya ia sudah tidak lagi mendengar suara tangisan dari Shafa.


Mata Arya membulat sempurna, saat melihat Shafa sudah terdiam dengan mulut terbuka dan mata terbelalak. Shafa meringis dan setetes air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya.


Brukkkk


Tubuh Shafa pun tumbang, ia terjatuh dengan luka tembak di punggungnya. Nafas Arya terasa tercekat, kejadian ini mengingatkannya akan peristiwa yang ia alami bersama Vidya dulu saat mereka hilang di hutan.


Lagi-lagi Arya harus melihat pemandangan mengerikan ini dengan mata kepalanya sendiri, darah dengan deras mengalir dari punggung Shafa mengotori baju putih yang ia kenakan malam ini.


Perlahan tubuh Arya terjatuh, tangannya bergetar terulur menyentuh tangan Shafa yang saat ini terlihat begitu lemas.


"Vidya ..." lirih Arya, alih-alih menyebutkan nama Shafa, Arya justru malah mengumamkan nama Vidya.


Entah mengapa Arya selalu merasa bahwa Shafa adalah Vidyanya walaupun itu terasa mustahil karna Arya sendirilah yang sudah menguburkan Vidya saat itu, dan Arya masih ingat jelas bagaimana hancurnya perasaan Arya saat di tinggal pergi oleh Vidya.


"Vidya!" Teriak Arya yang matanya sudah menteskan air mata, rasa takut mulai menghantuinya kembali. Bayangan Vidya ketika di rumah sakit sebelum gadis itu pergi kembali tengiang di fikirannya.


Bram pun segera memerintahkan sebagian anak buah lainnya untuk mengejar si penembak itu.


Tubuh Shafa yang sudah berlumuran darah pun di gendong oleh Arya, Bram kemudian datang lalu ia menyiapkan tandu untuk Shafa.


Shafa pun segera di naikkan ke atas helikopter, Arya dengan begitu setia masih berada di sisi Shafa sambil mengenggam erat tangan gadis itu. Arya tidak tau apakah dia Vidya atau hanya gadis yang mirip dengan Vidya saja, walaupun begitu setidaknya wajah gadis itu mampu mengobati rasa rindu Arya pada Vidya yang telah pergi meninggalkannya.


"Bertahanlah ...." lirih Arya yang mencoba memberikan semangat pada Shafa yang masih memejamkan matanya, bahkan nafas gadis itu terlihat tersenggal-senggal.


"Jangan ... jangan bunuh aku ..." gumam Shafa yang sedang setengah sadar itu.


Arya tidak mengerti kenapa Shafa bisa bergumam seperti itu, tapi Arya dapat menduga bahwa Shafa sepertinya sudah menggalami suatu siksaan sehingga membuat gadis itu bertindak aneh.

__ADS_1


"Tolong ... tolong aku ... Arya."


Mata Arya kembali terbelalak, entah sudah berapa kali ia di buat kaget oleh gadis itu dan lagi-lagi Shafa membuat dirinya kaget. Shafa baru saja mengucapkan namanya, tapi kenapa? Kenapa bisa dia memanggil nama Arya saat gadis itu tidak sadarkan diri seperti ini? Siapa sebenarnya Shafa? Entah sampai kapan Arya harus bersabar lagi untuk bisa mengungkap siapa sebenarnya gadis bernama Shafa ini yang memiliki wajah sama seperti mendiang Vidya, semuanya masih menjadi teka-teki dan masih menjadi pertanyaan yang belum menemukan jawaban.


__ADS_2