Without You

Without You
50. Setelah Badai Berlalu


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Hari-hari telah berlalu begitu cepat, tak terasa kini sudah terhitung empat bulan Vidya resmi berpisah dengan Arya.


Seperti keputusan gadis itu sebelumnya, ia memilih untuk tinggal di rumah dokter Anam selama empat bulan terakhir ini.


Vidya sangat bersyukur bisa tinggal di rumah ini, apalagi Vidya sangat di sambut dengan baik di rumah ini terlebih lagi oleh Astrid-istri dokter Anam yang sangat menyayangi dirinya.


"Vidya sayang, ini Bunda bawain susu buat kamu. Di minum ya sayang, biar dedek bayi dalam perut kamu itu sehat." Ucap Astrid seraya datang menghampiri Vidya yang sedang membaca buku di kamarnya.


Vidya tersenyum menatap kehadiran Astrid yang biasa ia panggil dengan sebutan 'Bunda' atas permintaan Astrid sendiri tentunya.


"Terimakasih banyak Bunda, maaf kalau Vidya ngerepotin Bunda." Ucap Vidya seraya menggambil gelas susu yang Astrid sodorkan ke arahnya.


Astrid tersenyum ia menggelengkan kepalanya, lalu duduk di pinggir kasur Vidya. Ia menatap wajah Vidya sambil tersenyum.


"Kamu gk pernah ngerepotin Bunda sama sekali nak, bagi Bunda kamu itu memang sudah seperti putri Bunda sendiri. Mungkin kalau Aira masih hidup, dia pasti sudah seusia kamu." Ucap Astrid dengan mata yang mulai berkaca-kaca kembali mengingat putrinya yang sudah tiada.


Vidya menatap Astrid prihatin, selama empat bulan berada di sini, Vidya sudah tau apa saja yang Astrid alami selama ini, dan jujur saja itu membuat Vidya ikut merasa sangat sedih.


Tangan Vidya terulur mengusap lembut punggung Astrid, Vidya menyungingkan senyumannya mencoba untuk menguatkan Astrid.


"Bunda jangan sedih ya, kita doakan saja semoga Aira selalu bahagia di sana dan di sini kan ada Vidya, Bunda bilang kalau Vidya ini sudah seperti anak Bunda kan? Kalau gitu Bunda jangan nangis lagi ya?" Astrid tersenyum mendengar ucapan Vidya barusan yang membuat hatinya tersentuh, ia mengelus pipi Vidya lembut.

__ADS_1


Astrid sangat bersyukur karna suaminya itu membawa Vidya datang ke rumah ini, ia bersyukur karna dengan kedatangan Vidya ke rumah ini, gadis itu bisa mengobati rasa rindunya pada sosok Aira.


Astrid juga bersyukur karna selain cantik, Vidya juga memiliki hati yang lembut dan ahlak yang baik, jadi Astrid tidak punya alasan untuk tidak langsung menyukai gadis itu.


"Kamu memang putri Bunda sayang, Bunda sayang sama kamu." Ucap Astrid yang langsung membawa Vidya ke dalam dekapannya.


Ia juga tau seperti apa kehidupan Vidya, ia sudah mendengar semua cerita tentang kehidupan Vidya dari suaminya.


Ketika mendengar suaminya bercerita dan ketika tau bahwa Vidya adalah orang yang dulu sempat menolong putrinya, seketika rasa iba dan sayangnya timbul pada gadis malang itu yang baru saja di ceraikan oleh suaminya dalam kondisi yang saat ini sedang mengandung.


Astrid begitu menyayangi Vidya, baginya Vidya sudah seperti anaknya sendiri, ia juga sangat menyayangi Vidya dan juga anak yang ada di dalam kandungan Vidya.


"Udah kamu minum dulu ya susu nya, Bunda mau lanjut masak."


"Biar Vidya bantu ya Bunda."


Astrid menggelengkan kepala ketika mendengar Vidya ingin membantunya memasak, ia tidak mau putrinya itu kelelahan.


"Jangan sayang, kamu di sini saja ya istirahat. Biar Bunda aja yang masak, kamu inget gk kata Ayah apa? Kamu harus banyak-banyak istirahat supaya kondisi kamu dan anak kamu juga sehat selalu." Astrid mulai menasihati Vidya, membuat Vidya tersenyum.


"Loh kok nangis? Kenapa sayang? Hmm? Bunda salah ngomong ya? Maafin Bunda ya nak." Vidya tersenyum dan mengelengkan kepalanya.


"Terimakasih Bunda, terimakasih sudah mau menerima Vidya di rumah ini. Ayah dan Bunda sudah sangat baik pada Vidya dan anak Vidya yang cuma bisa membebani Ayah sama Bunda." 


"Sttt udah kamu gk usah fikirin itu, kamu dan anak kamu ini bukan beban kami nak. Kami ikhlas menolong dan membantu kamu, karna bagi kami sekarang ini kamu adalah putri kami, dan anak kamu berarti cucu Bunda juga." Vidya tersenyum mendengar ucapan Astrid yang begitu baik padanya.


"Terimakasih banyak Bunda."


"Sama-sama sayang, udah ya kamu istirahat. Gk usah nangis lagi ya, Bunda mau masak dulu nanti kalau sudah mateng masakkannya kita makan sama-sama ya?"


"Siap Bunda ratu hehe." Astrid mencubit hidung Vidya gemas, lalu terkekeh mendengar ucapan Vidya.


Setelah itu Astrid benar-benar keluar dari kamar Vidya, meninggalkan Vidya seorang diri di kamar.


Kemudian Vidya menatap perutnya yang kini sudah terlihat membesar, ia mengelus lembut perutnya itu.

__ADS_1


Vidya merasa sangat bersyukur masih ada orang-orang baik yang mau menerima dirinya, walaupun pada kenyataannya suaminya sendirilah yang mencampakkan Vidya.


Senyuman Vidya berubah sendu, ia sangat tau bagaimana keadaan Arya saat ini.


Ia tau itu dari dokter Anam yang sekarang ia panggil dengan julukkan 'Ayah', atas perintah beliau dan Vidya pun menurutinya karna memang dokter Anam sudah ia anggap seperti Ayahnya sendiri.


Dokter Anam bilang dua bulan yang lalu, Arya sudah melangsungkan pernikahan dengan Siren.


Kandungan Siren juga sudah terlihat membesar, Siren dan Arya juga sering datang ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan, sungguh keluarga yang harmonis bukan?


"Ya ampun kenapa aku menangis lagi? Ish." Vidya berdecak kesal sambil menghapus air matanya.


Ia tidak bisa menampik jika ia tidak merasa sakit hati ketika mendengar kabar tersebut, awalnya dokter Anam juga enggan memberitahu namun Vidya mendesaknya dan ia sangat tau jadi dokter Anam pun menurut saja, akhirnya ia memberitahu Vidya kabar perihal Arya.


Dan benar saja setelah itu Vidya sangat ingat ketika mulutnya bilang tidak apa-apa tapi tangisnya malah terdengar semakin kencang membuat dokter Anam dan Astrid kebingungan dan cemas pada Vidya.


Vidya tersenyum ketika mengingat hal itu.


Vidya pun menatap segelas susu di tangannya yang baru saja di berikan oleh Astrid untuk dirinya, Vidya pun segera meminum susu tersebut hingga kandas tak tersisa.


Ternyata hidup tanpa sosok Arya tidak sesulit yang Vidya bayangkan, buktinya hingga kini ia masih dalam keadaan baik-baik saja walaupun Vidya tidak bisa menyangkal kalau hatinya tidak baik-baik saja setelah perceraian yang terjadi di antara dirinya dan Arya.


"Astagfiruallah, gk baik Vidya mikirin suami orang lain ck ck." Vidya berdecak dan mengelengkan kepalanya mencoba melupakan Arya dari benaknya dan kembali fokus membaca novel yang baru saja ia beli kemarin dan sekarang sudah mau habis saja.


Vidya mulai membaca novel saat usia kandungannya menginjak tiga bulan, dokter Anam dan Astrid menyuruh dia untuk tidak bekerja karna katanya nanti Vidya bisa kecapean.


Bahkan untuk sekedar menyapu pun di larang, alhasil Vidya hanya menyirami bunga di depan rumah saja setiap pagi, itu pun atas permohonan Vidya padahal sebelumnya ia juga di larang untuk menyiram bunga.


Selain menyiram bunga, kegiatan Vidya adalah berjalan-jalan di taman komplek di temani Astrid setiap pagi, kata Astrid udara pagi itu bagus untuk Ibu hamil dan bayinya, jadi Vidya menurut saja toh ia juga senang jalan-jalan di taman komplek setiap pagi.


Dan ya tentu saja kegiatan Vidya yang lain adalah membaca buku, entah itu novel ataupun buku tentang pelajaran serta buku tentang kedokteran pun Vidya baca, dan kadang membuat Vidya bernostlagia pada zaman ia masih duduk di bangku kuliah dulu.


Ia merindukan masa-masa ketika ia masih menjadi mahasiswa dulu, Vidya sangat ingin kembali kuliah namun melihat kondisinya yang saat ini sangat tidak memungkinkan jadi Vidya mengubur harapannya itu, untuk sementara waktu ia akan fokus pada kandungannya dulu.


Dokter Anam dan istrinya memang sangat baik pada Vidya, mereka tidak pernah berkata kasar ataupun menyindir Vidya. Mereka berdua menerima Vidya dengan tangan terbuka dan sangat-sangat menerima kehadiran Vidya dan anaknya di rumah ini.

__ADS_1


Vidya sangat bersyukur pada Allah di pertemukan dengan orang-orang baik seperti mereka, dan Vidya juga berdoa agar Allah senantiasa memberikan kesabaran padanya.


__ADS_2