Without You

Without You
Stuck With You (Gama Story)


__ADS_3

Rayn menghela nafasnya seraya mengacak pelan rambutnya, pandangannya lurus menatap bayi yang kini tidur di atas kasur berukuran king size.


Pada akhirnya karna sudah kepalang panik, Rayn memutuskan membawa anak dari targetnya itu ke rumah Bruno dan Brana. Rayn seharusnya menghabisi bayi ini juga, tapi untuk sekarang biarlah bayi ini menghirup nafas terlebih dahulu anggap saja sebagai rasa kasihan Rayn pada bayi tersebut.


Drtt drttt


Rayn mengalihkan pandangan pada ponselnya yang bergetar tak jauh dari tempatnya duduk memperhatikan bayi mungil itu yang masih tertidur pulas, entah mengapa bayi itu tidak berisik sama sekali dan sangat membantu bagi Rayn.


"Halo, ada apa Nay? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Rayn memulai percakapan lewat telpon dengan Nayya yang baru saja menghubunginya.


"Aku baik-baik aja Rayn, kamu di mana sekarang?"


"Aku di rumah Bruno, kamu gk di apa-apain sama Mamah kan?" tanya Rayn khawatir dengan keadaan gadis itu.


"Iya aku baik-baik aja, kamu gk usah khawatir," balas Nayya dari sebrang sana membuat Rayn merasa lega.


"Kamu kapan pulang? Aku kangen," ucap Nayya lagi.


"Entahlah, mungkin .... besok lusa," balas Rayn lagi lalu hening tak ada suara dari Nayya.


"Nay? Are you okay?" tanya Rayn saat tak mendengar lagi suara Nayya.


"Iya, cepat pulang ya Rayn. Aku butuh kamu," ucap Nayya lalu mengakhiri panggilannya secara sepihak.


Namun Rayn merasa ada yang aneh dengan suara Nayya, suara gadis itu tidak seceria biasanya. Entahlah Rayn tidak tau apa yang terjadi pada gadis itu, namun Rayn harap dia benar-benar baik-baik saja saat ini.


"Bayi ini kapan mau di bunuh?" tanya Bruno seraya melemparkan minuman kaleng pada Rayn.


"Entahlah," jawab Rayn yang memang tak tau pasti kapan ia akan membunuh bayi mungil itu.


Rayn menatap wajah bayi tersebut, bayi itu memiliki wajah yang cantik dengan bulu mata yang lentik dan bibir serta hidung yang mungil. Tangan Rayn terulur menyentuh pipi bayi mungil itu membuat bayi itu mengeliat sebentar lalu tertidur lagi membuat Rayn tersenyum melihatnya.


"Lucu," ujar Rayn yang berhasil membuat Brana tersedak minumannya.


"Lo ngomong apa barusan ke bayi itu? Lucu?" tanya Brana sambil membulatkan matanya kaget.


"Gk," jawab Rayn singkat lalu membuka kaleng minumannya lalu meminumnya dalam sekali tegukkan dan langsung habis.

__ADS_1


"Mana mungkin saya ngomong lucu ke bayi itu," sahut Rayn lagi seraya melirik sinis ke arah bayi itu.


"Iya deh percaya," sahut Brana yang duduk tak jauh dari Bruno.


"Saya pergi dulu, kalian jaga bayi ini sampai saya kembali," ujar Rayn seraya menggambil jaket kulitnya yang sudah bersih dari noda darah.


"Mau kemana lo?" tanya Bruno.


"Ke rumah sakit jenguk Keira," jawab Rayn seraya keluar dari kamar dan menggambil kunci mobilnya untuk ke rumah sakit menemui Keira.


........


Keira menatap jengah pada televisi yang pagi ini sedang ia tonton, jadilah Keira memilih mengonta ganti channel televisi mencari siaran yang seru menurutnya.


Tok tok tok


Pusat perhatian Keira teralihkan, ia menoleh ke arah pintu ruangan rawatnya yang di ketuk dari luar.


"Masuk aja," ujar Keira lalu perhatiannya kembali berfokus pada televisi.


Ckelek


Keira pun menolehkan kepalanya lalu dengan ekspresi terkejut namun tak lama kemudian sudah tersenyum senang.


"Rafly!" seru Keira yang hampir saja ingin lompat dari brankarnya namun untung saja Rafly segera menghentikannya.


"Jangan bandel, lo lagi sakit," ucap Rafly memperingati membuat Keira menunjukkan cengirannya.


"Lo ngapain?" tanya Rafly bingung melihat tangan Keira yang sudah terulur ke arahnya.


"Ish, mana buahnya. Masa lo jenguk orang sakit gk bawa buah atau apa kek gitu," jawab Keira seraya mencebikkan bibirnya membuat Rafly tertawa.


"Ya elah nih anak ya, tenang aja gue bawa kok. Nih buat lo, semoga cepet sembuh Kei," ujar Rafly lalu menyerahkan buket bunga dan parsel buah.


"Wihh, mantep banget! Lo yang terbaik emang!" seru Keira seraya mengacungkan ibu jarinya pada Rafly.


"Cepet sembuh, supaya bisa sekolah lagi. Sepi banget hari-hari gue gk pernah denger celotehan lo."

__ADS_1


"Bilang aja kangen elah, susah banget," celetuk Keira membuat Rafly lagi-lagi tertawa.


"Gengsi atuh Kei hahaha," sahut Rafly yang membuat Keira ikut mendengus geli mendengarnya.


"Lo udah mendingan fy?" tanya Keira mengingat kalau Rafly memang belum benar-benar pulih sepenuhnya masih harus check up ke dokter seminggu sekali.


"Ya Alhamdulillah Kei, tadi untungnya pas lo chat gue. Gue lagi mau ke RS buat check up jadi sekalian mampir."


"Iyaa makasih sahabatku ululu," balas Keira membuat Rafly bergidik ngeri melihat Keira yang bersikap sok manis tak seperti biasanya.


"Kupasin apelnya dong," pinta Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Rafly.


"Kapan lo boleh pulang dari rumah sakit Kei?" tanya Rafly yang sedang mengusap apel untuk Keira.


"Besok gua udah boleh pulang kok, lagian gua juga gk betah lama-lama di sini bosen," jawab Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Rafly.


"Nih apelnya Kei," kata Rafly seraya menyerahkan apel yang sudah ia kupas pada Keira.


"Lah? Kok? Ngeselin lo!" teriak Keira kesal seraya memukul Rafly dengan bantal karna Rafly sudah memakan apel yang padahal seharusnya ia kupas untuk di berikan pada Keira tapi malah ia makan sendiri membuat Keira kesal namun membuat Rafly senang.


Lalu keduanya saling bercerita dan bercanda kembali tanpa menyadari bahwa ada Rayn yang mengurungkan niatnya masuk menemui Keira dan memilih untuk pergi memberikan ruang pada Keira dan Rafly, ia tak ingin menganggu keduanya yang terlihat sangat bahagia itu.


Rayn memutuskan untuk berjalan ke arah kafetaria, namun belum sampai ia ke kafetaria ponselnya sudah berdering membuat Rayn menghentikan langkahnya dan memilih untuk mengangkat


Panggilan yang masuk ke dalam ponselnya terlebih dahulu.


"Halo? Ini siapa?" tanya Rayn mengangkat panggilan dengan nomor asing yang masuk ke ponselnya.


"Rayn! Rayn! Tolong!"


Tubuh Rayn menegang seketika saat ia mendenga suara dari sebrang sana yang tak lain adalah suara Nayya yang meminta pertolongan.


"Nayya? Nay! Kamu kenapa Nay?!" tanya Rayn panik.


"Siapkan uang tebusan dua puluh lima juta untuk perempuan ini, jika tidak semua yang ada di dalam dirinya akan hancur. Bawa uangnya lusa ke alamat yang akan aku kirim kalau tidak kau akan tau akibatnya," ancam suara pria dari sebrang sana membuat Rayn mengertakkan giginya kesal.


"Halo? Halo?! Sialan!" maki Rayn saat panggilan di matikan secara sepihak. Ia tidak tau lagi kenapa sekarang Nayya bisa dalam bahaya dan darimana dirinya bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dua hari?

__ADS_1


"Dia ingin main-main sepertinya, baiklah kita akan bersenang-senang. Kau salau jika mencari gara-gara dengan pembunuh bayaran sepertiku," ujar Rayn bermonolog lalu tersenyum sinis dan mengerikan. Rayn sudah punya rencana, sepertinya pria yang menculik Nayya tidak tau bahwa dia akan segera berhadapan dengan malaikat mautnya, yaitu Rayn yang akan menghabisi nyawa mereka yang berani menyentuh Nayya ataupun menyakiti Nayya walau sedikitpun karna Nayya adalah kesayangannya Rayn, dulu hingga kini.


__ADS_2