Without You

Without You
16. Tinggal Bersama (2)


__ADS_3

Happy reading gais!


-


-


-


-


-


Sudah hampir sebulan Siren tinggal di rumah ini bersama aku dan Arya.


Selama sebulan itu juga hubungan Arya dan Siren semakin dekat, bahkan Siren juga semakin manja pada Arya begitupun sebaliknya.


Sementara diriku? Alhamdulillah aku baik-baik saja, selama ada Siren di rumah ini Arya tidak pernah lagi menyakitiku namun ia sering mengancamku atau memperingatiku untuk tidak menjadi penganggu ketika ia sedang bersama Siren.


Selama sebulan ini juga hubunganku dengan Arya semakin jauh, kami tak pernah bertegur sapa atau pun mengobrol jika di belakang Siren.


Ah iya aku lupa, saat ini aku sudah tidak perlu lagi berpura-pura sakit untuk tidak ikut makan malam bersama mereka.


Setiap malam atau pagi, aku selalu makan bersama dengan Arya dan Siren.


Dan hanya saat-saat itulah aku bisa mengobrol- bukan lebih tepatnya berinteraksi dengan Arya meskipun tidak intens karna yang lebih banyak berbicara adalah Siren, ia lebih sering mengajak ku mengobrol jika sedang berkumpul bersama seperti saat ini.


Saat ini aku sedang sarapan bersama Siren dan Arya.


"Sayang, kamu tuh pake dasi gimana sih? Gk rapih gitu, sini aku yang rapihin." Jari jemari lentik Siren bergerak membenarkan dasi yang melingkar di leher Arya.


Sementara itu aku bisa melihat senyuman di wajah Arya dan tatapannya yang intens dan lembut sedang menatap Siren yang sedang serius membenarkan dasi di leher Arya.


Aku tidak pernah melihat Arya tersenyum seperti itu, coba saja jika dia sering-sering senyum begitu dia jadi tidak terlihat menakutkan untukku.


Cup


"Arya! Ih malu tau ada Vidya di sini." Ujar Siren yang mengerutu sebal karna Arya tiba-tiba mencium pipinya.


"Aku sudah selesai makan, aku ke taman belakang dulu untuk menyiram tanaman." Pamitku dan Siren pun tersenyum padaku, senyuman canggung yang mungkin dia merasa malu karna Arya mencium pipinya tepat di hadapanku.


Aku tidak bisa untuk pura-pura perduli akan hal itu, jujur aku sebagai istri sah nya Arya, tetap saja aku merasa sangat tidak rela suamiku mencium pipi wanita yang bukan mahramnya di hadapanku.


Aku mencoba menarik nafasku dan menghembuskannya secara perlahan, lalu aku mencoba menyungingkan senyumanku menutupi rasa sesak di dadaku.

__ADS_1


Aku pun berencana akan menyirami tanaman bunga di belakang rumah ini, bunga-bunga ini semuanya punyaku.


Aku yang merawat semua ini, sejak kecil aku memang sangat menyukai tanaman terutama dengan bunga, bahkan aku berharap bisa mempunyai toko bunga milikku sendiri. Itu pasti akan terasa menyenangkan, setidaknya itu mampu mengibur diriku jika aku sedang merasa sedih.


Aku menyirami bunga-bunga itu dengan serius sesekali aku sambil menyenandungkan sholawat.


"Vidya lo-"


Byurrrrr


"Astaga Vidya!"


Aku terkejut ketika ada yang menepuk pundakku, alhasil aku tidak sengaja mengarahkan selang yang aku pegang ke arah orang itu yang tidak lain adalah suami ku sendiri.


Arya menatapku tajam, ia memperhatikan pakaian kantornya yang basah akibat ulahku.


"Lo tuh ya-hachimm." Arya tidak lagi meneruskan ucapannya, ia terus bersin-bersin sedaritadi.


"Arya kamu baik-baik saja?" Tanyaku khawatir melihat dia yang terus menerus bersin-bersin.


"Nafas...gu...gue se..sak." lirih Arya yang memeganggi lehernya, ia mengerak gerakkan tangannya ke arahku sementara posisinya saat ini sudah terduduk di lantai bersender di pintu pengubung antara dapur dan taman belakang.


Aku panik melihat wajah Arya yang memerah, ia kelihatan sangat kesulitan bernafas.


Aku segera berlari masuk ke dalam rumah, dan segera menghubungi dokter Abram-dokter kepercayaan keluarga Arya.


Namun bukan dokter Abram yang menganggkatnya melainkan istrinya, yang mengatakan bahwa dokter Abram tidak sengaja meninggalkan ponselnya di rumah dan istrinya memintaku untuk langsung ke rumah sakit saja jika ingin bertemu atau ada urusan pentint dengannya.


Setelah mengucapkan salam, aku segera berlari ke taman belakang lagi untuk menghampiri Arya.


Arya masih terlihat kesulitan bernafas, aku sangat bingung saat ini, tidak ada yang bisa membantuku karna ternyata Siren sudah pergi bekerja.


Air mataku mengalir begitu saja, aku tidak tega melihat suamiku kesakitan seperti ini.


"Ayo Arya, aku akan membawa mu kerumah sakit." Aku memampah tubuh Arya, ia pun menurut.


Aku dan Arya kini sedang menunggu taksi online yang aku pesan lewati aplikasi di gawaiku.


"Bertahan ya, kamu pasti akan baik-baik saja." Aku mencoba meyakinkan Arya yang telihat semakin melemah.


Tak lama taksi online yang ku pesan pun tiba, aku langsung menyebutkan alamat rumah sakit yang ku tuju.


Aku segera turun dari mobil, lalu kemudian beberapa petugas rumah sakit langsung membantuku dan mereka meletakkan Arya di brankar.

__ADS_1


Mereka mendorong brankar Arya masuk ke dalam rumah sakit, sementara aku berjalan di samping bankar Arya menatapnya dengan tatapan khawatir bahkan air mataku terus menetes.


"Dokter Abram! Dokter tolong suami saya dokter." Ujarku yang melihat dokter Abram, dokter Abram langsung memerintahkan untuk segera membawa dokter Abram ke ruangan ICU.


Selama menuju ke ruangan ICU, aku terus berada di samping Arya berdoa untuk kesembuhannya.


Aku terkejut saat tangan Arya mengengam tanganku, matanya yang kian mulai melemah menatapku dan aku dapat melihat ia meneteskan air mata.


Arya terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun sepertinya sangat sulit.


Hingga akhirnya genggaman tangan Arya terlepas seiring brankarnya di dorong masuk ke dalam ruangan ICU dan setelah itu ruangan itu langsung tertutup.


Aku menatap tangan kananku yang tadi di genggam Arya, aku meneteskan air mataku lagi.


Aku mengelengkan kepalaku tidak percaya bahwa suami ku baru saja mengenggam tanganku, percayalah meskipun genggaman itu hanya sebentar namun membekas di hatiku membuatku merasa terharu dan bahagia namun tak dapat di pungkiri aku juga sedih dan cemas memikirkan keadaannya sekarang.


Aku menangis dan terduduk di depan pintu ruang ICU, aku terisak dan terus berdoa untuk Arya agar dia baik-baik saja.


Aku menggambil gawaiku memutuskan untuk menghubungi orang tua Arya untuk memberitahu keadaan Arya sekarang.


Namun sayangnya baterai gawai hp ku habis, yang hanya bisa aku lakukan hanya menangis menunggu kabar Arya dengan cemas.


Lumayan lama aku menunggu, akhirnya dokter Abram keluar dari ruangan ICU, aku segera menghampirinya.


"Dokter bagaimana keadaan Arya? Apakah dia baik-baik saja?" Aku langsung memberondongi dokter Abram dengan pertanyaan.


"Alergi Arya kambuh lagi, bagaimana alergi nya bisa sampai kambuh?" Aku menautkan alisku kebingungan dengan ucapan dokter Abram.


"Alergi? Alergi apa dokter?"


"Anda tidak tau? Arya mempunyai alergi terhadap kacang, dan sepertinya Arya memakan kacang itu alhasi tengorokannya membengkak dan membuat dirinya kesulitan bernafas." Aku terkejut mendengar penjelasan dokter Abram barusan, aku tidak pernah tau jika suami ku memiliki alergi terhadap kacang.


"Sekarang suami mu itu sedang beristirahat, kau ingin masuk menemuinya?"


"Apa boleh dokter?" Dokter Abram malah tertawa mendengar pertanyaan yang aku ajukan.


"Tentu saja, dia kan suami mu." Aku tersenyum mendengar ucapan dokter Abram.


Setelah mengucapkan terimakasih, aku pun segera berjalan masuk ke dalam ruang ICU.


Di sana aku melihat Arya yang terbaring dengan selang pernafasan di hidungnya.


Aku mendekati ranjangnya, aku menatap wajah Arya yang aku akui lumayan tampan.

__ADS_1


"Cepat sadar, aku tidak ingin apapun sekarang. Aku hanya ingin melihatmu sadar."


__ADS_2