
Saat ini Shafa alias Vidya dan Arya hanya saling diam, sebelumnya Shafa memang sempat menghubungi Arya untuk datang karna ia berencana akan memberitahukan tentangnya pada Arya hari ini juga.
"Shafa."
"Arya."
Arya dan Shafa terkekeh menyadari kebodohan mereka yang saling memanggil satu sama lain secara bersamaan.
"Kamu duluan," ujar Arya yang menyuruh Shafa untuk berbicara lebih dulu.
"Nggak kamu dulu aja," ucap Shafa yang malah menyuruh Arya untuk berbicara terlebih dahulu.
"Seriusan nih gk apa-apa aku ngomong duluan?" Tanya Arya sambil menaikkan satu alisnya.
"Iya, silahkan," ujar Shafa mempersilahkan Arya untuk berbicara lebih dulu.
"Shafa aku mau memberitahu sesuatu sama kamu," ujar Arya menatap lekat Shafa yang duduk di hadapannya.
"Tentang apa?" Tanya Shafa yang mulai memasang raut wajah seriusnya.
"Shafa minggu depan aku ...." Arya menggantung ucapannya membuat Shafa alias Vidya menjadi sangat penasaran.
"Minggu depan kamu kenapa?" Tanya Shafa lagi.
"Minggu depan aku akan bertunangan."
Tubuh Shafa melemas tatkala mendengar ucapan Arya barusan, matanya bahkan sudah terasa memanas, hatinya juga terasa begitu sesak mendengar ucapan Arya barusan.
"Se ... selamat ya," ucap Shafa dengan susah payah.
"Makasih Shafa, aku harap kamu bisa hadir ke pertunangan aku nanti."
Shafa diam masih dengan senyuman yang ia paksakan, kedua tangan Shafa bahkan sudah mencengkram kuat gamis yang ia pakai. Berusaha untuk tetap tegar di depan Arya yang sudah berhasil membuatnya terkejut bahkan membuat hatinya terasa nyeri.
"Ah iya, tadi kamu mau ngomong apa?" Tanya Arya yang kembali ingat bahwa sebelumnya Shafa juga ingin mengatakan sesuatu padanya.
Shafa alias Vidya pun terdiam, sebelumnya dia memang ingin mengatakan sesuatu pada Arya. Ia ingin memberitahu Arya bahwa dia adalah Vidya dan dia belum meninggal namun mendengar pertunangan Arya yang akan di adakan minggu depan mendadak Shafa menjadi tidak mood lagi mengatakan kebenaran tentang dirinya.
Shafa berfikir untuk apa ia mengatakan kebenaran tentang dirinya kalau Arya saja sudah mulai membuka hatinya untuk wanita lain? Bahkan dengan berita pertunangannya itu Shafa jadi tau bahwa Arya perlahan ingin melupakan dirinya.
"Shafa?" Panggil Arya yang menyadari keterdiaman Shafa.
"Ng ... nggak jadi, aku lupa mau ngomong apa tadi," ujar Shafa yang memilih untuk berbohong.
"Siapa namanya?"
"Hah?" Tanya Arya bingung mendengar pertanyaan Shafa barusan.
"Nama calon tunangan kamu," ujar Shafa membuat Arya akhirnya paham.
"Namanya Syabil."
Shafa kembali memaksakan senyumannya, mendengar nama calon tunangan Arya.
__ADS_1
"Namanya bagus," ujar Shafa membuat Arya tersenyum samar.
"Kamu sakit ya?" Tanya Arya yang melihat wajah Shafa pucat tak seperti biasanya.
"Eh? Nggak kok, aku baik-baik aja," elak Shafa sambil kembali memaksakan senyumannya.
"Shafa aku harus cepat pulang, aku tadi izin ke sini hanya sebentar karna aku masih ada urusan lain," ujar Arya dan di balas anggukkan kepala oleh Shafa.
"Hati-hati di jalan," ucap Shafa setelah Arya berpamitan padanya.
Shafa berdiri di ambang pintu mengantar Arya pulang, mobil yang Arya kendarai sudah melesat pergi membuat Shafa menghela nafasnya.
Tangan Shafa terulur memegang dadanya yang terasa sesak, air mata yang sedaritadi ia tahan pun kini sudah tak bisa ia bendung lagi. Kaki Shafa mendadak lemas, membuat gadis itu jatuh terduduk.
"Hiks ... Ya Allah apa yang Engkau rencanakan untukku? Kenapa rasanya begitu menyakitkan," ujar Shafa lirih sambil terus terisak.
Kenyataan yang ia hadapi ini begitu terasa menyakitkan, Arya akan menikah dengan perempuan lain. Lalu bagaimana dengannya? Harapan Shafa kembali pupus sudah menghadapi kenyataan ini, ia bisa saja bilang ke Arya tadi bahwa dia adalah Vidya namun Shafa memilih tidak mengatakannya. Ia takut jika nanti ia hanya menjadi perusak kebahagiaan orang lain, Shafa pun memilih untuk memendam semuanya sendiri.
"Nona Vidya? Ada apa? Kenapa Nona nangis?" Tanya Bram yang datang dan langsung menghampiri Shafa.
"Bram ... minggu depan Arya akan bertunangan," ujar Shafa memberitahu Bram.
"Bertunangan? Kok bisa? Lalu Nona Vidya bagaimana?" Tanya Bram yang menatap tak tega pada Vidya, Bram tau pasti saat ini hati Vidya sedang hancur.
Shafa menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Bram, ia juga tidak tau harus bagaimana lagi. Harapannya pupus sudah.
"Lalu harapan Non Vidya untuk bisa bertemu putri Nona gimana?" Tanya Bram kembali mengingatkan Shafa akan harapannya yang menginginkan untuk bisa bertemu putrinya secara langsung tanpa harus sembunyi lagi.
"Nona tenang aja, Nona masih bisa ketemu sama Reilla kok."
Shafa mengangkat kepalanya mendengar ucapan Bram barusan.
"Gimana caranya Bram?" Tanya Shafa bingung.
"Nona ingat cerita Non Vidya kemarin? Nona bilang ke saya kalau Nona baru saja mengunjungi sekolahnya Reilla," ujar Bram membuat Shafa kembali teringat dengan ceritanya kemarin pada Bram.
"Saya sudah daftarin Non Vidya sebagai guru di sana."
Shafa membulatkan matanya mendengar perkataan Bram barusan.
"Jadi guru?" Tanya Vidya bingung sendiri.
"Iya jadi guru, Non Vidya akan jadi guru Agama Islam di sekolahnya Reilla. Nona Vidya bisa leluasa bertemu dengan Reilla nantinya."
"Tapi Bram, Reilla pasti gk akan mau. Dia tau wajah ku, dia pasti akan menjauh," ujar Shafa yang kembali mengingat raut wajah keterkejutan Reilla saat pertama kali bertemu dengannya waktu itu.
"Tenang, Nona kan bisa menyamar."
"Menyamar? Gimana bisa Bram?" Tanya Shafa semakin tak mengerti dengan jalan fikiran Bram.
"Nona Vidya tenang saja, semuanya pasti akan baik-baik saja. Serahkan urusan ini pada saya," ujar Bram sambil tersenyum penuh arti.
Shafa menghapus air matanya, melihat senyuman Bram ia berharap bahwa apa yang Bram katakan benar. Setidaknya walaupun ia tidak bersatu dengan Arya, dia masih bisa melihat dan berbicara dengan putrinya tanpa harus bersembunyi lagi.
__ADS_1
[]
Pagi hari pun tiba, Shafa menatap tampilan dirinya di cermin. Hijab panjang telah terpasang di wajahnya, pakaian ala guru pun juga sudah ia kenakan.
"Pakai ini dulu Non supaya tidak di kenali oleh Reilla," ujar Bram yang memberikan cadar pada Shafa.
Shafa menerimanya, dan mulai memakainya. Ia tersenyum di balik cadarnya, dengan begini Reilla tak akan bisa mengenali dirinya.
"Ayo kita berangkat Non," ujar Bram dan di balas anggukkan oleh Shafa.
Tak butuh waktu lama Shafa alias Vidya pun sudah sampai di sekolah Reilla.
"Hati-hati ya Non," ujar Bram sebelum Shafa turun dari mobil.
Shafa menganggukkan kepala sebagai jawaban, setelah pamit pada Bram ia pun memutuskan untuk pergi terlebih dahulu ke kantor kepala sekolah.
"Selamat datang Bu Shafa di sekolah kami."
Shafa menganggukkan kepalanya tatkala Kepala sekolah dari SMP Gemilang menyambut kedatangannya dengan begitu ramah.
"Saya sudah periksa berkas-berkas Ibu, jadi kemungkinan hari ini Ibu sudah bisa mengajar," ujar Pak Kepala sekolah dengan sangat ramahnya.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak ya Pak," ujar Shafa yang mengucapkan terimakasih pada Pak Kepala Sekolah yang sudah begitu baik mau menerimanya mengajar di sekolahnya.
"Kalau gitu Ibu bisa langsung ke kelas 98 ya, Ibu sudah bisa mengajar di sana kebetulan guru Agama kelas 9 sedang cuti lahiran," ujar Pak Kepala sekolah lagi dan di balas anggukkan kepala oleh Shafa.
Setelah berbincang-bincang panjang lebar, Shafa pun keluar dari ruang Kepala sekolah karna kebetulan bel masuk juga sudah berbunyi jadi Shafa alias Vidya harus cepat ke kelas 98 untuk mulai mengajar di sana.
Sebenarnya Shafa agak gugup sih, ini pertama kalinya dia kembali mengajar. Dulu Shafa pernah mengajar juga tapi mengajar anak-anak PAUD bukan anak SMP jadi pasti akan berbeda sekali nanti.
"Assalamu'alaikum," ucap Shafa yang masuk ke dalam kelas yang di luarnya bertuliskan kelas 98.
"Wa'alaikumussalam," jawab anak-anak kelas serempak.
Shafa berjalan ke arah meja dan kursi yang memang di sediakan untuk guru yang mengajar, Shafa meletakkan tasnya terlebih dahulu baru setelah itu ia mengedarkan pandangannya menatap murid-muridnya yang memasang wajah penasaran itu.
Namun tatapan Shafa berhenti pada satu titik, ia menatap lurus ke arah deretan bangku depan. Di sana ada Reilla yang duduk dan sedang memperhatikan dirinya, dalam hati Vidya menjerit senang akhirnya ia tidak salah masuk kelas karna di kelas ini adalah kelasnya Reilla, padahal sebelumnya Shafa tidak tau kalau Reilla di tempatkan di kelas 98.
"Pagi semuanya, perkenalkan saya guru Agama baru kalian pengganti Bu Kulsum yang cuti karna sebentar lagi akan melahirkan. Nama saya Shafa, kalian bisa panggil saya Ibu Shafa," ujar Shafa yang memperkenalkan dirinya dengan ramah.
"Salam kenal ya, Ibu harap kalian bisa bekerja sama dengan Ibu selama proses belajar dan mengajar ini berlangsung."
"Iya Bu," jawab anak-anak kelas dengan serempak lagi.
Kemudian Shafa pun mulai membuka pelajarannya pagi ini dengan membaca doa terlebih dahulu dengan di pimpin oleh ketua kelas di sana, semuanya pun mulai membaca doa.
Setelah selesai membaca doa, Shafa pun mengajak anak-anak kelas 98 untuk memperkenalkan diri mereka terlebih dahulu karna Shafa belum mengenal mereka semua.
Satu persatu anak maju ke depan, memperkenalkan diri mereka masing-masing. Lalu tibalah giliran Reilla yang maju ke depan dan berdiri tepat di samping Shafa.
Gadis itu mulai memperkenalkan dirinya, mata Shafa terasa berkaca-kaca saat ini. Ia senang sekali bisa melihat Reilla dari jarak yang dekat dan tidak perlu lagi bersembunyi hanya untuk melihat putrinya itu.
Suara tepuk tangan menyadarkan Shafa dari keharuannya, ia memasang senyuman kembali di balik cadarnya. Ia mengucapkan terimakasih lalu menyuruh Reilla tuk duduk kembali dan acara perkenalan pun kembali berlanjut dan setelah itu di lanjutkan materi Agama Islam yang lumayan ringan dari Shafa alias Vidya yang mulai hari ini akan menjadi seorang guru, agar bisa dekat dengan putrinya yang sangat ia rindukan selama 15 tahun ini.
__ADS_1