Without You

Without You
Stuck With You (Gama Story)


__ADS_3

Sudah genap seminggu Keira berada di rumah sakit, akhirnya hari ini ia di perbolehkan untuk pulang membuat Keira merasa senang sekali terlebih lagi ada Bundanya yang saat ini menemani dirinya.


"Suami kamu kemana dek? Kok belum datang ngejemput?" tanya Binar, Bunda Keira.


Keira mengelengkan kepalanya, ia sendiri pun tak tau di mana Rayn berada. Padahal katanya ia ingin menjemput Keira pulang dari rumah sakit siang ini, namun sedaritadi Keira menunggu Rayn tak datang jua.


"Bunda aja yang anter ke rumah kamu ya?" tawar Binar menatap putrinya yang masih merebahkan kepala di pangkuannya.


"Nggak usah Bun, nanti juga Rayn datang kok. Mungkin lagi kejebak macet," jawab Keira yang kembali memejamkan matanya menikmati kebersamaan dirinya dengan sang Bunda yang kelak akan sangat sulit ia dapatkan lagi.


"Gimana hubungan kamu sama Rayn?" tanya Binar tiba-tiba membuat Keira kembali membuka kedua matanya.


"Hubungan kaya gimana maksud Bunda?" tanya Keira menautkan alisnya bingung.


"Hubungan kalian sebagai suami istri, kamu gk bersikap bar-bar kan sama suami kamu?" tanya Binar seraya memicingkan matanya menatap putri bungsunya yang memang kadang suka membuat onar itu.


Di tanya dan di tatap seperti itu oleh sang Bunda membuat Keira hanya mampu menunjukkan cengirannya.


"Nggak kok hehe," jawab Keira sambil terkekeh pelan kemudian ia teringat akan sikap-sikapnya pada Rayn yang jika di ingat lagi memang tak ada manis-manisnya dan selalu jutek.


"Syukurlah, Bunda harap kamu bisa berubah ya. Kamu ini sudah bukan hanya lagi seorang anak tapi juga seorang istri, kamu harus patuh sama suami kamu. Gk boleh durhaka," ujar Binar memberikan wejangan pada Keira.


"Iya Bunda sayang." Binar tersenyum menatap wajah putri bungsunya yang juga selama ini ia rindukan.


Tok tok tok


Suara ketukkan di pintu membuat perhatian Keira dan juga Binar teralihkan, kemudian pintu terbuka dan menampilkan sosok Rayn yang baru saja tiba.


"Maaf saya terlambat menjemput," ujar Rayn yang masih berdiri di ambang pintu.


"Gk apa-apa kok nak Rayn, sini nak masuk."


Rayn menurut, ia lalu masuk ke dalam ruangan. Sementara Keira masih di posisi semula enggan beranjak ataupun berpindah.

__ADS_1


"Kei bangun dong, itu suami kamu udah dateng ngejemput," bisik Binar seraya menyuruh putrinya itu bangun dari pangkuannya.


Dengan wajah agak kesal, Keira bangun dari posisi rebahannya. Lalu menatap Rayn yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Nah karna nak Rayn sudah sampai, Bunda pulang dulu ya nak. Kamu baik-baik sama Rayn," ujar Binar pada Keira.


"Nak Rayn, terimakasih sudah menjaga Keira dengan baik selama ini," kata Binar sebelum pergi ia menyempatkan diri berbincang sebentar dengan Rayn setelah itu barulah Binar pamit pulang.


"Ayo pulang," ajak Keira dengan wajah jutek khasnya.


"Tunggu Kei, ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Rayn secara tiba-tiba membuat alis Keira berkerut bingung.


"Tentang apa?"


Rayn diam sejenak, ia berdehem singkat lalu memberanikan diri untuk kembali menatap wajah Keira.


"Nanti saya jelasin, sekarang kita pulang dulu aja ya," ajak Rayn tiba-tiba membuat Keira menjadi bingung namun tetap menurut saja.


........


"Ke rumah kita," kata Rayn membuat Keira kebingungan.


"Maksud lo rumah kita?" tanya Keira bingung.


"Kita bakalan pisah rumah sama Mamah," jawab Rayn membuat Keira akhirnya paham.


"Tapi ... emang Mamah ngizinin?" tanya Keira namun Rayn hanya diam tak menanggapi.


"Lo gk diizinin Mamahkan? Wah parah durhaka lo, gue gk mau. Kita pulang ke rumah Mamah aja," ujar Keira yang bersikeras tak ingin pindah ke rumah baru yang baru saja Rayn bicarakan.


"Mamah udah ngizinin," sahut Rayn membuat Keira terdiam dan larut dalam fikirannya.


Keira senang mendengar kabar bahwa dirinya dan juga Rayn akan pindah ke rumah baru, itu artinya Keira bisa merasa bebas namun ada satu hal yang sampai saat ini masih Keira fikirkan yaitu ucapan Mamah mertuanya, yang menyuruh Keira untuk bersekolah di rumah atau homeschooling.

__ADS_1


Keira tidak mau homeschooling, itu tidak menyenangkan bagi Keira. Keira yang selama ini hidup dengan orang tuanya selalu di berikan kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri termasuk bersekolah di sekolah biasa dan bukan di pesantren seperti kakak-kakaknya yang lain.


Keira menghela nafasnya sejenak, lalu menatap ke arah luar. Menikmati pepohonan hijau yang saat ini basah diguyur rintik hujan.


Rasanya sesak saat tau bahwa kehidupannya sudah mulai berbeda tak sama seperti dulu lagi, ada banyak aturan yang harus Keira patuhi mengingat kini ia sudah menjadi seorang istri. Terkadang Keira ingin menangis, ia merasa tak sanggup menjadi seorang istri di usianya yang masih muda ini.


Namun apa daya, demi baktinya untuk kedua orangtuanya Keira rela menerima perjodohan ini dan ia tentu saja harus ikhlas menerima semua ini termasuk menerima Rayn, orang asing yang kini sudah berstatus sebagai suami dan sebagai imamnya.


"Kenapa?"


Keira tersentak saat mendengar suara berat Rayn yang tiba-tiba saja membuat lamunan Keira buyar seketika.


"Hmm? Kenapa apanya?" tanya Keira yang sudah mempusatkan perhatiannya pada Rayn yang masih fokus menyetir mobil.


"Kepala kamu pusing lagi? Wajah kamu agak pucet."  Mendengar pertanyaan Rayn, Keira pun mengeleng singkat lalu mulai angkat sura.


"Nggak kok gu-eh saya-eh maksudnya aku baik-baik aja," jawab Keira yang kemudian merutuki ucapannya sendiri yang tiba-tiba bingung harus berucap apa karna setelah Keira fikir-fikir menyebut dengan gue-lo terdengar tidak sopan dan jangan sampai nanti ia dikira istri yang durhaka seperti yang Bunda katakan di rumah sakit tadi.


"Kalau kamu gk nyaman bicara mengunakan aku-kamu, tidak apa-apa. Jangan di paksakan," ujar Rayn namun fokus Keira bukan ke ucapan Rayn namun ke ekspresi wajah pria itu yang berbeda.


"Lo? Lo barusan senyum?!" seru Keira dengan hebohnya membuat Rayn bahkan sampai menghentikan laju mobilnya.


"Lo beneran senyum tadi! Wah parah sih baru tau ternyata lo bisa senyum juga! Kirain muka lo datar aja kaya jalan tol," kata Keira yang kemudian terkekeh.


Rayn yang tercyduk sempat senyum sedikit tadi tiba-tiba berdehem sejenak lalu kembali memasang raut wajah datarnya dan kembali melajukan mobilnya.


"Gk," kata Rayn tiba-tiba yang maksudnya ia mengatakan bahwa dirinya tidak sedang tersenyum namun Keira yang memang iseng kembali menjahili Rayn.


"Ah bohong lo! Tadi gue liat kok lu senyum ya walaupun cuma sedetik doang sih, tapi gk apa-apa kok. Itu artinya lo masih manusia." Rayn mengerenyitkan dahi bingung mendengar akhir dari perkataan Keira.


"Saya emang manusia," timpal Rayn.


"Oh masih manusia, gue kira lo robot. Abisnya lo kaku banget sih, jadi orang tuh jangan kaku-kaku banget harus ada ekspresinya gitu. Kalau mau senyum gk masalah kok, kan senyum itu ibadah gk akan bikin lo cepet tua juga kok hehe," kata Keira yang geli dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


Rayn hanya diam dan kembali fokus menyetir, sementara Keira masih sibuk berbicara dan menasihati Rayn agar lebih sering tersenyum dan berekspresi bahkan Keira bilang jika Rayn sulit untuk senyum Keira akan dengan senang hati membuatkannya tutorial senyum.


Untuk pertama kalinya Rayn merasa tak terganggu ataupun kesal mendengarkan ucapan panjang lebar dari seseorang, justru malah terdengar menyenangkan bahkan membuat Rayn tanpa sadar kembali tersenyum lagi walaupun hanya seperkian detik saja.


__ADS_2