
Setelah selesai mendengarkan curahan hati Syabil, Arya pun memilih untuk pergi ke kamar Reilla setelah sebelumnya Syabil yang menyuruhnya untuk pergi meninggalkannya sendiri.
Saat ini Arya sudah berdiri di depan pintu kamar putrinya, berkali-kali ia mengetuk pintu kamar Reilla namun tak kunjung di tanggapi oleh Reilla dan bahkan gadis itu tidak membukakan pintu kamarnya untuk Arya.
Arya menghela nafasnya, ia yakin bahwa Reilla juga saat ini sedang marah dan kesal padanya makannya gadis itu tidak membukakan pintu kamarnya.
"Rei Ayah minta maaf," ujar Arya yang masih mencoba membujuk Reilla untuk keluar dari kamar.
Cklekk
Pintu kamar Reilla pun akhirnya terbuka, Arya masuk ke dalam kamar Reilla. Ia melihat putrinya yang saat ini sedang tiduran di kasur dan membelakangi Arya.
"Rei kamu mau maafin Ayah kan?" Tanya Arya yang sudah mendudukan tubuhnya di pinggir kasur Reilla.
Tak ada sautan dari Reilla, gadis itu masih tetap diam dengan posisinya membuat Arya menghela nafasnya gusar.
"Rei Ayah minta maaf," ucap Arya lagi yang merasa menyesal sudah membuat putrinya itu sedih.
Reilla pun akhirnya membalikkan tubuhnya, lalu mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap Arya dengan tatapan datar namun Arya tau putrinya itu pasti sedang marah padanya.
"Maafin Ayah Rei ..." lirih Arya sambil menunjukkan raut wajah bersalahnya.
"Ayah kenapa sih gk mau terima Kak Syabil?" Tanya Reilla yang akhirnya mau berbicara dengan Arya.
"Ayah cuma cinta sama Ummah kamu aja Rei, Ayah gk mau kalau Ayah terima Kak Syabil nanti malah bikin Kak Syabil tambah sakit hati," ucap Arya menyampaikan alasannya kenapa selama ini selalu bersikap acuh pada Syabil.
"Tapi Yah mau sampai kapan? Bukannya Ayah sendiri yang bilang ke Rei bahwa kita harus mengikhlaskan kepergian Ummah? Lalu sekarang? Kenapa Ayah masih selalu mengharapkan Ummah? Kenapa Ayah gk mau buka hati Ayah untuk Kak Syabil? Apa Ayah belum ikhlas dengan kepergian Ummah?" Tanya Reilla yang menyuarakan isi hatinya pada Arya.
Arya menghela nafasnya mendengar pertanyaan Reilla yang sangat banyak itu.
"Ayah harus ikhlasin Ummah Yah, nanti Ummah di sana gk tenang. Ayah juga berhak bahagia," ujar Reilla yang menurunkan nada suaranya tidak terbawa emosi lagi.
"Ayah bukannya gk mengikhlaskan Ummah kamu, tapi Ayah masih terlalu berat menerima orang lain untuk menggantikan posisi Ummah kamu," ujar Arya lagi mencoba menjelaskan kepada putrinya tentang apa yang ia rasakan.
"Kenapa Ayah gk mencobanya? Coba buka hati Ayah untuk Kak Syabil, kasihan Kak Syabil selama ini Rei tau kok kalau dia cinta sama Ayah. Ayah lupa Kak Syabil sudah terlalu banyak berjasa untuk Rei dan Ayah," ujar Syabil sukses membuat Arya terdiam.
__ADS_1
"Kamu gk akan ngerti nak, Ayah gk bisa sayang," ujar Arya lirih mencoba memberikan penjelasan bahwa Syabil tak akan pernah bisa menggantikan posisi Vidya di hatinya.
"Kenapa yah? Kak Syabil sudah Rei anggap seperti Ibu Rei sendiri, Ayah lupa ya? Sejak ada Kak Syabil, Rei selalu merasa mempunyai keluarga yang lengkap. Rei jadi merasa gk jadi anak yang berbeda lagi dengan anak lainnya."
Arya terdiam mendenganya, ia akui Syabil selama ini memang sudah sangat dekat dengan putrinya. Jujur saja sejak ada Syabil, Arya merasa menjadi tenang karna bisa kembali melihat senyuman dan keceriaan putrinya yang dulu sempat hilang.
Syabil seolah-olah mampu menggantikan posisi Vidya yang tak pernah bisa memberikan kasih sayangnya pada Reilla, sejak putrinya kecil dulu hingga saat ini dan Arya sungguh sangat berterimakasih pada Syabil akan hal itu.
"Ayah Rei mau sendiri dulu," ujar Reilla.
Arya yang paham bahwa putrinya sedang mengusirnya dengan cara yang halus pun akhirnya bangkit lalu keluar dari kamar Reilla, tak lupa ia juga menutup pintu kamar Reilla setelah benar-benar keluar dari sana.
Drttt drtttt
Arya kaget ketika merasakan getaran dari gawainya yang ada di saku bajunya, Arya pun segera menggambil gawainya dan ternyata ada panggilan masuk yang tertera di layar gawainya dan tanpa menunggu lama Arya pun langsung mengangkat panggilan itu.
"Assalam'alaikum, ada apa Bram?" Tanya Arya pada Bram yang merupakan orang yang menghubunginya.
"Wa'alaikumussalam Tuan, Tuan jadi datang tidak?"
"Iya saya akan segera ke sana, kamu tunggu saja."
Arya menghela nafasnya, karna terlalu kalut memikirkan Reilla dan Syabil yang marah padanya Arya sampai lupa jika ia ingin mengunjungi Shafa sore ini.
Akhirnya Arya pun menuruni anak tangga dan memilih pergi untuk menemui Shafa di rumahnya.
.......................................
"Dimana Shafa?" Tanya Arya saat melihat Bram yang menyambutnya.
"Nona ada di dalam Tuan," ujar Bram dan di balas anggukkan oleh Arya.
Lalu setelah itu Arya pun berjalan masuk ke dalam rumah untuk menemui Shafa.
"Arya kamu sudah datang? Ayo silahkan duduk kita menonton acara komedi dulu," ajak Shafa yang saat ini memang sedang duduk di depan televisi sambil memangku pop corn.
__ADS_1
Arya menurut ia duduk di samping Shafa namun tidak terlalu dekat karna Arya memberi jarak sedikit di antara mereka.
"Kamu tadi kemana?" Tanya Arya membuat perhatian Shafa dari televisi teralihkan.
"Di rumah aja kok, emangnya kenapa?" Ujar Shafa yang malah balik bertanya.
"Kamu tadi sempat pergi ke luar kan?" Tanya Arya lagi membuat Shafa menghentikan kunyahannya.
"Iya," jawab Shafa yang perhatiannya sudah beralih sepenuhnya pada Arya.
Arya terlihat menghela nafasnya gusar, ia menatap Shafa lekat.
"Kenapa kamu keluar dari rumah ini? Aku kan udah bilang jangan pergi kemana-mana," ucap Arya lagi.
Kini gantian Shafa yang menghela nafasnya pelan, sebelum menyahuti ucapan Arya ia meletakkan pop corn yang ada di pangkuannya ke atas meja terlebih dahulu.
"Kenapa memangnya? Aku tadi cuma jalan-jalan aja cari udara segar, lagipula aku gk sendirian. Ada Bram yang menemaniku," jelas Shafa memberikan alasannya kenapa ia keluar rumah.
"Shafa kamu itu belum pulih, aku takut kamu kenapa-napa."
"Aku ini cuma hilang ingatan Arya! Kalau aku terus ada di dalam rumah ini, bagaimana aku bisa mengembalikkan ingatanku lagi?" Tanya Shafa membuat Arya bungkam.
"Shafa, apa benar ingatanmu belum kembali?" Tanya Arya yang kini sukses membuat Shafa alias Vidya itu terdiam.
"Aku belum bisa mengingat semuanya," ujar Shafa yang mengalihkan tatapannya ke arah televisi.
"Aku mau mengajak kamu ke suatu tempat," ujar Arya membuat Shafa menoleh lagi ke arahnya.
"Mau kemana dan kapan?"
"Besok, aku mau mengajak kamu ke suatu tempat yang sangat berarti bagiku."
Shafa terdiam, ia terlihat sedang berfikir namun akhirnya gadis itu menganggukkan kepalanya juga sebagai jawaban.
"Besok pagi aku akan datang menjemputmu."
__ADS_1
"Iya, aku tunggu," ujar Shafa sambil menyungingkan senyumannya.
Dalam hati Shafa mulai menerka-nerka kemanakah Arya akan mengajaknya besok? Apakah pria itu akan mengajaknya bertemu dengan Reilla? Jika iya, Shafa tidak mau. Shafa tidak siap untuk bertemu dengan Reilla, anak yang sudah ia tinggalkan selama 15 tahun ini dan Shafa takut jika nanti Reilla akan membenci dirinya. Tapi sepertinya Arya juga tidak akan mengajaknya ke sana, lalu kemana Arya akan mengajaknya besok? Hal itu masih menjadi misteri dan membuat Shafa alias Vidya menjadi sangat penasaran saat ini.