Without You

Without You
43. Pernyataan


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Sebulan terakhir sebelum pernikahan Arya-Vidya berakhir.


Vidya sudah kembal lagi ke rumah sejak kemarin.


Sejak kepulangan Vidya jugalah Arya menjadi sangat khawatiran padanya, dan tentu saja menjadi sangat perhatian pada Vidya.


Pagi ini Vidya sedang menyiram tanaman di halaman belakang, kegiatan yang sudah biasa ia lakukan setiap pagi hari.


"Aduhh sakit." Ringis Vidya saat tangannya di tarik dengan begitu kasar oleh Siren.


Siren menatap tajam Vidya yang masih meringis karna tangannya terkena kuku-kuku Siren.


"Ada apa Siren? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Vidya sambil menatap Siren yang masih menatap dirinya tajam.


"Gk usah sok baik deh lo, penghianat dasar. Perebut pacar orang cih!" Vidya menghela nafasnya mendengar ucapan Siren barusan.


"Lo nikah sama Arya atas dasar apa? Gue gk yakin kalau atas dasar cinta, secara Arya kan cintanya cuma sama gue yang cantik nya lebih dari lo." Cibir Siren menatap rendah Vidya.


"Arya memang menikahiku tidak atas dasar cinta, tapi setidaknya hubungan kami jelas." Ucap Vidya, membuat Siren mengerutkan dahinya.


"Maksud lo apa?" Tanya Siren.


"Iya saya dan Arya punya hubungan yang jelas. Dia itu suami saya dan saya istir sah nya, sedangkan kamu? Hubungan kamu dan Arya hanya sebatas pacar, tidak ada ikrar ataupun janji suci dalam hubungan kamu dengan Arya."


Ucapan Vidya barusan membuat Siren kepanasan, ia menatap tajam Vidya yang memasang ekspresi masih dengan senyuman lembutnya.


"Kita lihat aja, seberapa penting diri lo di hidup Arya." Siren berujar sambil menunjukkan senyuman liciknya.


"Siren! Kamu mau kemana?" Tanya Vidya yang melihat Siren berjalan ke arah kolam renang.


Siren menatap kolam renang tersebut, ia sebenarnya punya trauma tersendiri dengan kolam renang karna saat kecil dulu ia pernah hampir tenggelam.


Namun Siren menghalau rasa sakitnya, ia menutup kedua matanya.


Byurrrrr


"Siren!" Vidya segera berlari lalu berdiri di tepi kolam renang, ia menatap penuh khawatir pada Siren yang tengelam.


Vidya bingung, dirinya sendiri juga tidak bisa berenang.


"Vidya? Ada apa?" Tanya Arya yang berjalan menghampiri Vidya yang terlihat panik.

__ADS_1


"Arya...hiks...Siren jatuh ke dalam kolam renang." Ujar Vidya sambil terisak.


Mendengar penuturan Vidya barusan, seketika membuat Arya sangat panik.


Tanpa di komando, pria itu langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam renang.


"Siren bangun! Siren buka mata kamu!" Teriak Arya sambil menepuk-nepuk kedua pipi Siren.


"Uhukk...uhuk." kemudian Siren terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya.


"Siren!" Teriak Arya lagi, sambil menepuk-nepuk pipi Siren.


"Arya..." panggil Siren lemah.


"Siren! Astaga, aku khawatir banget sama kamu." Ucap Arya yang membawa Siren ke dalam dekapannya.


Vidya hanya diam ia masih menangis, namun ia juga bersyukur Siren ternyata tidak apa-apa.


"Kenapa bisa sampai jatuh ke kolam renang sih? Kok bisa?" Tanya Arya sambil mengangkup wajah Siren.


"Vidya...hiks...Vidya yang dorong aku." Ucap Siren sambil terisak, Arya menatap ke arah Vidya yang mengelengkan kepalanya.


"Lo yang dorong Siren?" Tanya Arya raut wajahnya berubah menjadi terlihat menyeramkan.


"Nggak Arya, saya gk ngedorong Siren tapi tadi Siren yang jatuhin dirinya sendiri." Jawab Vidya jujur namun sepertinya Arya masih tak percaya.


"Lo bohong Vidya, jelas-jelas Siren ini paling takut sama yang namanya kolam renang. Mana mungkin dia jatuhin diri dia sendiri ke kolam? Kalau bukan lo yang jatuhun dia, karna tadi di sini cuma ada lo sama Siren doang kan? Cih." Arya menatap tajam dan tatapan kecewa pada Vidya.


"Arya tunggu! Aku bisa jelasin, aku gk ngedorong Siren! Arya hiks...Arya!"


Namun sayangnya Arya tidak mengubris panggilan Vidya, ia terus berjalan samhil mengendong Siren.


Brukkk


"Aduh..." Vidya meringis kesakitan saat ia tiba-tiba saja terjatuh akibat tersandung selang yang ia gunakan untuk menyirami tanaman.


Namun Vidya bernafas lega ketika ia terjatuh, tidak mengenai perutnya.


"Hiks...maafin Ummah sayang." Lirih Vidya sambil kembali mengelus perutnya yang masih rata.


Vidya kembali menangis, rasanya sangat sakit jika orang yang kita cintai tidak percaya pada kebenaran yang kita ucapkan.


[]


Arya masih saja diam, ia tidak mengajak Vidya berbicara barang sepatah kata pun.


Vidya juga sama, gadis itu memilih untuk diam saja, karna ia tau bahwa Arya masih marah padanya.


Namun ada sesuatu di hati Arya yang terasa mengusik saat ia tidak berbicara pada Vidya.


"Vidya." Panggil Arya pada Vidya yang kini sedang duduk di depan televisi.


"Arya maaf." Ujar Vidya yang meminta maaf atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.


"Udah jangan di bahas lagi, Siren juga udah baik-baik aja. Sorry tadi gue sempet ngebentak lo." Ucap Arya yang tersenyum lembut pada Vidya.

__ADS_1


Vidya merasa senang bisa melihat senyuman Arya lagi.


"Gue mau berangkat kerja, lo gk mau nganterin gue ke depan?" Tawar Arya, Vidya pun bangkit dari duduknya lalu berjalan di belakang Arya.


"Gue berangkat dulu ya, tolong jagain Siren." Ucap Arya ketika Vidya sudah selesai menyalimi tangannya.


"Iya tentu." Jawab Vidya sambil menunjukkan senyumannya.


"Nanti malam siap-siap, gue mau ajak lo pergi ke suatu tempat. Yang gue jamin pasti lo bakalan suka." Vidya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Arya lalu berjalan masuk ke dalam mobil, dan menjalankan mobilnya pergi dari halaman rumahnya.


Vidya pun kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Gimana lo udah liat kan? Arya jelas-jelas lebih milih gue daripada lo, tentulah gue kan lebih segalanya dari lo." Ucap Siren sambil tersenyum sinis.


Vidya tidak membalas ucapan Siren, karna ia lebih memilih masuk ke dalam kamarnya.


Vidya membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ia sangat lelah dan ia ingin istirahat.


Vidya pun memejamkan matanya dan mulai tertidur.


[]


Hari sudah berganti malam, Arya pulang dari kantornya nya.


Ia berjalan masuk ke dalam rumah, mencari sosok Vidya.


"Arya, kamu sudah pulang? Mau makan apa untuk malam ini? Maaf ya aku gk sempet masak, kepalaku pusing daritadi." Arya tidak berkata apapun, tangannya tergerak meyentuh kening Vidya.


"Gk usah, kita makan di luar aja." Ucap Arya sambil tersenyum.


"Beneran? Kalau gitu aku panggilin Siren-"


"Jangan biarin aja, dia pasti udah tidur jam segini. Kita aja yang pergi makan di luar, lo lupa? Gue kan mau ngajak lo pergi malam ini." Vidya juga baru ingat kalau Arya memang mengajaknya pergi malam ini.


Vidya pun menganggukkan kepalanya.


"Aku siap-siap dulu." Ujar Vidya dan di balas anggukkan oleh Arya.


[]


Kini Vidya dan Arya sudah sampai di sebuah restauran.


Namun yang membuat Vidya berdecak kagum adalah, dari atas sini Vidya bisa melihat indahnya gemerlap lampu yang begitu terang dan membuat senyum Vidya mengembang.


"Masyaallah bagus banget!" Pekik Vidya sangat senang, membuat Arya terkekeh melihat Vidya yang sangat antusias.


Kemudian seorang pelayan datang sambil menghidangkan makanan di meja makan.


"Vidya." Arya memanggil Vidya yang sedaritadi tersenyum bahagia.


"Gue mau bilang sesuatu sama lo." Ucap Arya menatap lurus Vidya yang mengerenyit bingung sekaligus penasaran.


"Vidya entah sejak kapan, gue juga gk tau kenapa diri gue jadi berbeda gini. Tiap gue mau benci sama lo, gue selalu gk bisa."

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Vidya bingung.


"Karna gue rasa, gue udah jatuhcinta sama lo."


__ADS_2