
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Okee deh Happy reading!
-
-
-
-
-
Semua orang yang hadir mencoba untuk tetap tenang, namun mereka tidak bisa menampik rasa penasaran yang sebenarnya begitu mendominasi.
Begitu juga dengan Vidya, gadis itu sama seperti yang lainnya.
Ia juga ikut merasa penasaran dan juga menginginkan kasus ini segera terbongkar dan tuntas.
Vidya sendiri tidak menyangka jika ternyata dugaan bahwa Siren adalah dalang dari balik masalah ini, ternyata berhasil di buktikan oleh Arya bahwa pelakunya bukanlah Siren.
"Saya sudah berhasil melacak nomor ponsel milik pelaku yang sesungguhnya dari kasus ini, dan kebetulan sekali orang itu juga sedang berada di antara kita saat ini."
Suasana hening pun seketika ramai setelah mendengar perkataan Arya barusan.
semua orang terlihat saling berbisik, dan bertanya-tanya siapa sebenarnya? Jika memang orang itu berada di antara orang-orang yang ada di sini, lalu siapa dia?
Begitu banyak pertanyaan dari orang-orang yang semakin gereget dan merasa penasaran siapa pelaku dari penculikan Vidya, yang saat ini belum menemukan titik terang.
"Tenang semuanya, hadirin di harapkan untuk tetap tenang."
Lalu suasana pun kembali tenang dan kondusif kembali.
Lalu Arya di minta untuk kembali melanjutkan ucapannya.
"Pelaku penculikan atau dalang di balik ini semua adalah..." Arya menggantungkan ucapannya sebentar, lalu menyungingkan senyuman miringnya.
"Dia." Ucap Arya sambil menunjuk ke satu arah.
__ADS_1
Semua orang pun menoleh ke arah yang Arya tunjuk, semuanya kembali di buat kaget dan suasana kembali menjadi ramai dengan desa desu orang yang banyak tak menyangka jika pelaku nya memang ada di tengah-tengah mereka.
"Nggak! Bukan gue! Lo salah Arya! Semua ini perbuatannya Siren!" Ucap orang tersebut yang merupakan orang yang sama dengan orang yang baru saja Arya tunjuk.
"Perlu bukti?" Tantang Arya sambil menaikkan satu alisnya dan tersenyum miring.
"Gue punya bukti kalau emang lo adalah dalang dari kasus ini." Ucap Arya lagi, dengan senyuman misterius miliknya.
Arya menggambil gawai miliknya, ia terlihat melakukan sesuatu terhadap gawai nya itu, lalu tak lama terdengar bunyi suara panggilan masuk.
Yang lebih mengejutkannya lagi, panggilan itu mengarah pada ponsel orang yang tadi Arya tunjuk sebagai dalang dari semua ini.
Orang itu membelalakkan matanya, melihat ponselnya menyalah.
"Gue baru aja nelpon ke nomor yang sama, dengan nomor yang gue dapet dari nomor yang memang sering di hubungi si penculik itu, dan ternyata itu adalah nomor lo dan itu artinya lo dalang dari kasus penculikkan ini." Ucap Arya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Sialan! Arya brengsek!" Ucap orang tersebut geram, namun Arya hanya terkekeh mendengar umpatan yang di berikan untuk dirinya.
Kemudian Arya meminta untuk pihak yang berwajib, kembali memeriksa semua bukti yang Arya miliki dan menyamakan dengan bukti yang sudah di dapatkan oleh para pihak kepolisian.
Dan terbukti, ternyata hasilnya memang akurat.
Semua bukti itu memang menyatakan bahwa orang yang Arya tunjuk itu di nyatakan bersalah dan Siren pun di bebaskan dari segala tuduhan.
"Kenapa kak Tiran lakuin ini? Kenapa kak?! Apa salah Siren sama kakak?" Tanya Siren menatap orang merupakan dalang di balik kasus ini, yang tak lain adalah Tiran.
"Lo tanya kenapa? Karna gue sebenernya benci sama lo." Ucap Tiran menatap tajam Siren.
"Kenapa kak? Kenapa kakak benci Siren?" Tanya Siren lagi, membuat Tiran tersenyum miring mendengarnya.
"Lo tanya kenapa? Semua ini salah lo! Lo itu terlalu beruntung, lo mendapatkan semuanya. Kasih sayang Momy dan Dady, gue berusaha terima semua itu tapi lo tau gue juga udah capek terus menerus di banding-bandingin sama lo." Ucap Tiran, matanya mulai berkaca-kaca dan raut wajahnya menyiratkan kebencian pada Siren.
"Gue berusaha tetap sabar, gue berusaha jadi kakak yang baik buat lo, tapi saat lo ngerebut cowok yang gue suka. Kesabaran gue habis, gue gk mau selalu mengalah lagi demi lo."
Siren mengerenyitkan dahinya, ia bingung dengan ucapan Tiran barusan yang bilang bahwa dirinya telah merebut cowok yang Tiran suka, sebenarnya siapa cowok yang disukai oleh kakaknya itu?
"Cowok yang kakak suka? Siapa kak? Aku gk ngerti kakak bilang apa."
"Gue suka sama Rayn, cowok yang udah Momy jodohin sama lo! Gue udah suka dia dari dulu, tapi Momy justru jodohin dia sama lo! Dari sana gue bertekad buat ngehancurin hidup lo, dan gue berhasil ngehasut Rayn buat pergi ninggalin lo di saat lo lagi hamil anaknya Rayn dan ya gue sangat senang melihat lo menderita." Ucap Tiran sambil menyungingkan senyumannya, terlihat kepuasan yang terpancar dari wajahnya, ia sama sekali tidak menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan.
__ADS_1
"Tapi lo malah mendapatkan kebahagian, lo balik ke sini dan nikah sama Arya. Gue yang tau pernikahan lo itu ngerasa semakin benci sama lo, dan semakin tertantang membuat lo semakin menderita. Akhirnya gue merencanakan ini semua." Tiran menghentikan ucapannya lalu menatap Siren tajam.
"Gue menculik Vidya, dan melimpahkan semua bukti nya ke lo. Tapi si ******** Arya ini, malah memperburuk semua nya."
Siren mengelengkan kepalanya, ia sudah menangis mendengar setiap kebenaran dari mulut Tiran.
Ia tidak menyangka jika kakak yang begitu dia sayangi, tega melakukan ini semua padanya.
"Tapi kenapa kak? Hiks...kenapa kakak tega padahal kita kan saudara." Ucap Siren lagi, Tiren menaikkan satu alisnya lalu terkekeh.
"Saudara? Lo lupa? Kalau kita ini bukan saudara kandung, ayah kita memang sama tapi beda Ibu jadi lo itu cuma saudara tiri gue, gk usah sok deh." Ucap Tiran, lalu akhirnya Tiran pun di bawa paksa oleh pihak yang berwajib untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.
"Udah jangan nangis lagi ya? Hmm? Kamu kan udah terbukti gk bersalah." Bujuk Arya berusaha menenangkan Siren yang menangis, ia juga membawa Siren ke dalam dekapannya.
"Arya...hiks makasih kamu udah mau ngebuktiin kalau aku gk bersalah." Ucap Siren, Arya hanya diam.
Walaupun kini ia sedang memeluk Siren namun tatapannya tak bisa lepas dari seorang gadis di ujung sana yang sedang berbicara dengan seseorang.
Gadis itu adalah Vidya yang saat ini sedang berbincang dengan Astrid.
"Kamu langsung ke mobil aja ya, istirahat. Aku masih ada yang perlu di urus." Suruh Arya dan di balas anggukkan oleh Siren.
Setelah Siren benar-benar pergi, Arya pun memberanikan diri melangkah menghampiri Vidya yang kebetulan sedang sendirian.
Vidya yang sedang memainkan gawainya tidak sadar dengan kedatangan Arya yang menghampiri dirinya.
Bahkan hingga Arya berdiri di hadapannya, Vidya masih tidak sadar.
"Hmm." Arya sengaja berdehem untuk menarik perhatian Vidya.
Tapi sayangnya Vidya masih terlihat asyik dengan gawainya.
Arya berkacak pingang sambil berdecak dan mengelengkan kepala melihat tingkah Vidya yang tidak memperdulikannya.
"Woi." Panggil Arya, akhirnya Vidya pun mengangkat kepalanya.
Vidya membulatkan matanya melihat kedatangan Arya.
"Ka...kamu? Ngapain?" Vidya bertanya pada Arya yang memasang wajah datarnya.
__ADS_1
"Gue perlu bicara sama lo, berdua aja karna ini penting." Ucap Arya yang menatap Vidya lekat.
Vidya hanya diam belum menjawab apapun, entah mengapa hatinya merasa kan hal yang janggal melihat Arya yang mendatanginya.