
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Okee deh Happy reading!
-
-
-
-
-
Malam sepertinya sudah mau berlalu.
Hujan juga sudah reda sejak sedaritadi, namun suasana malam di hutan masih terasa mencekam terlebih ada ancaman yang mengingai.
Vidya dan Arya masih berjuang untuk bisa keluar dari hutan.
Keduanya kini masih terus berlari, mereka tidak mau sampai tertangkap oleh penculik.
Sesekali Vidya dan Arya juga berhenti saat mereka merasa sudah agak jauh dari si penculik, hanya untuk sekedar beristirahat.
Setelah mendengar suara pistol yang di tembakkan oleh pecuri itu, Vidya dan Arya akan kembali berlari menjauh.
Namun hingga kini mereka belum juga menemukan jalan keluar dari hutan.
Di saat mereka hampir hilang harapan, namun sayup-sayup Vidya mendengar suara adzan subuh yang mengema.
Secerca harapan kembali muncul, jika ia mendengar suara adzan, itu artinya tidak jauh dari sini terdapat sebuah mushola dan sudah pasti tidak jauh lagi dari rumah penduduk.
"Sabar ya, sedikit lagi kita pasti bisa keluar dari sini." Ujar Arya dan di balas anggukkan oleh Vidya.
Keduanya kembali melangkah, peluh sudah membasahi keduanya.
"Hei! Berhenti!"
Vidya dan Arya menoleh kebelakang, di sana ia melihat sosok penculik itu berada tidak jauh di belakang mereka.
"Ayo Vidya kita lari yang kencang!" Teriak Arya yang makin mempererat genggaman tangannya begitupu dengan Vidya yang makin mengenggam erat tangan Arya.
Keduanya mempercepat lari mereka, Vidya tak menghiraukan rasa letih dan rasa sakit di seluruh tubuhnya begitupun dengan Arya ia bahkan rela harus menahan rasa sakit di lengannya yang terkena sebelumnya terkena luka tembak.
"Sialan, kalian gk akan bisa lari lagi!"
__ADS_1
Dorrrr
Suara tembakkan kali ini terdengar begitu nyaring, langkah Arya dan Vidya seketika terhenti.
Arya menolehkan kepalanya ke belakang, ia menatap Vidya yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
Vidya meremas tangan Arya dengan kencang, lalu tubuh Vidya oleng dan untung saja Arya segera menangkapnya.
Arya terbelalak, rupanya Vidya baru saja terkena tembakkan dari peluru si penculik itu.
Vidya meringis ke sakitan, wajahnya terlihat semakin pucat.
"Vidya!" Pekik Arya panik, tubuhnya luruh ke tanah, ia meletakkan kepala Vidya di pangkuannya.
"Haha akhirnya perempuan itu mati juga, tugas gua terselesaikan." Ucap si penculik itu yang sedang tertawa begitu senang karna sudah berhasil menembak Vidya.
Arya menepuk nepuk pipi Vidya, menyuruh gadis itu agar tidak menutup matanya.
Arya tidak perduli lagi pada penculik itu, kini yang ia cemaskan adalah keadaan Vidya yang memperhatinkan.
"Vidya! Bangun!" Arya berteriak memanggil Vidya, tak sadar air matanya bahkan sudah mengalir di pipinya.
"Tolong...hiks...tolong!" Arya berteriak kencang meminta tolong, wajahnya terlihat sangat panik.
"Ada apa mas?" Tanya dua orang bapak-bapak yang datang di waktu yang tepat.
Lalu mereka pun membawa Vidya dan Arya ke desa mereka.
Di sana Vidya mendapatkan perawatan namun di desa hanya ada puskesmas saja sementara luka Vidya bukan luka biasa, melainkan luka tembak dan harus di larikan ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan yang lebih lanjut.
Lalu dokter di puskesmas itu menelpon salah satu rumah sakit di kota, untuk mengirimkan ambulance ke desa.
Setelah mobil ambulance datang, Vidya segera di naikkan ke dalam ambulance dan Arya juga ikut masuk ke dalamnya.
Di sepanjang perjalanan, Arya terus meneteskan air mata, ia begitu mengkhawatirkan keadaan Vidya yang masih tidak sadarkan diri.
Perjalanan dari desa menuju rumah sakit di Kota bisa di bilang cukup memakan waktu yang lumayan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mobil ambulance yang membawa Vidya dan Arya pun tiba di rumah sakit tersebut.
Dengan sigap para petugas medis segera menurunkan Vidya dari dalam ambulance lalu memindahkannya ke atas berankar.
Brankar itu di dorong, dan Arya masih selalu setia mendampingi Vidya.
Hingga Vidya masuk ke dalam ruang ICU, Arya dengan sabar menunggu di luar sambil memohon kesembuhan untuk Vidya.
__ADS_1
Arya berjalan ke sana kemari, waktu kian berlalu, lalu tak lama keluarlah seorang dokter dari dalam ruangan dimana Vidya berada.
"Kita harus mengoperasinya, peluru itu berhasil menembus kulit dan harus segera di ambil." Ucap dokter tersebut, Arya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah dokter, ah iya dok. Saya juga terkena luka tembak sama sperti pasien di dalam." Ucap Arya yang baru ingat jika ia juga tertembak.
"Kamu ikut dengannya, dan suster tolong antar dia ke ruangan dokter Mehmed untuk segera menggambil peluru yang berada di dalam tubuhnya." Suster itu pun mengangguk lalu mengajak Arya ke ruangan lain untuk mencabut peluru yang berada di dalam kulitnya.
[]
Arya tidak harus di operasi, peluru itu hanya perlu di cabut saja dari tangannya karna letak pelurunya juga tidak terlalu dalam.
Berbeda dengan peluru yang menembus pungung Vidya, yang di perkirakan jika tidak di lakukan tindakan operasi akan sangat berbahaya bagi janin yang ada di dalam kandungannya.
Arya kini sudah kembali menunggu Vidya, ia berdiri di depan ruangan bertuliskan 'Ruang Operasi.' Seraya berharap-harap cemas.
Arya menghela nafasnya gusar, keringat dingin mulai membasahi wajahnya yang kini terlihat begitu dekil karna bekas tanah yang mengering dan menempel di wajahnya.
Sudah hampir satu jam Arya menunggu, akhirnya ruang operasi pun terbuka.
Dokter keluar dari ruang operasi dan memberitahukan kalau operasi sudah selesai dan berjalan dengan lancar.
"Lalu bagaimana keadaan bayi dalam kandungannya?" Tanya Arya dengan harap-harap cemas.
"Alhamdulillah bayi di dalam kandungannya baik-baik saja." Jawaban dokter itu membuat Arya merasa bersyukur mendengarnya, hatinya juga terasa lega.
Setelah itu Vidya di pindahkan dari ruang operasi ke ruang rawat VIP atas permintaan Arya, agar Vidya bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik.
Setelah berada di ruang perawatan, Arya dengan sabar kembali menunggu Vidya bangun.
Ia duduk di samping Vidya yang masih terbaring di atas brankar rumah sakit.
Jari jemari tangan Arya mengelus lembut kepala Vidya, dan menatap lekat wajah Vidya yang selama ini begitu ia rindukan.
Arya lalu mengalihkan tatapannya ke arah perut Vidya yang membesar.
Tangannya terulur dan mengelus perut Vidya dengan lembut.
Satu hal yang masih terus menganjal di fikiran dan masih menjadi pertanyaan di benaknya.
Ia tidak tau anak siapa yang sedang Vidya kandung saat ini.
Arya mengira jika Vidya sudah menikah lagi tapi jika Vidya menikah lagi dan kemudian mengandung, bisa di pastikan kandungannya belum akan sebesar seperti sekarang ini.
Arya kembali berfikir, memikirkan kemungkinan, kemungkinan yang bisa saja terjadi.
__ADS_1
"Gue gk tau anak siapa yang lagi lo kandung saat ini, tapi satu yang gue tau gue ternyata rindu sama lo Vidya."