
Matahari pagi bersinar dengan cerah, secerah wajah Reilla saat ini. Gadis kecil itu sangat senang karna hari ini Ayahnya libur bekerja dan itu artinya siang nanti ia akan di jemput oleh Ayahnya.
Saat ini Arya sedang mengantar putrinya berangkat ke sekolah, di sepanjang perjalanan dengan ceria Reilla terus bercerita mengenai apa saja yang telah ia pelajari kemarin di sekolah.
"Ayah kita berhenti di minimarket dulu ya, Rei ingin beli camilan dan susu kotak." Pinta Reilla dan tentu saja Arya pasti akan dengan senang hati menuruti permintaan putrinya itu.
Arya menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket, setelah itu ia mengajak Reilla untuk turun dari mobil.
Kini keduanya sudah berjalan masuk ke dalam minimarket, Arya mengandeng tangan Reilla agar putrinya itu tidak hilang nantinya.
"Loh Arya?"
Arya pun menghentikan langkahnya ketika seorang wanita berdiri di hadapannya, wanita itu baru saja menyebutkan namanya.
"Aunty Siren!" Seru Reilla yang mengenali siapa perempuan yang kini berdiri di hadapan dirinya dan juga Ayahnya itu.
"Hai sayang, gimana kabarnya Rei?" Tanya Siren sambil tersenyum ramah pada Reilla.
"Alhamdulillah sangat luar biasa baik hehe," jawab Reilla dengan semangat, membuat Siren tertawa melihat tingkah mengemaskan Reilla.
"Kamu gimana kabarnya? Udah lama banget ya kita gk ketemu," ucap Siren yang menatap ke arah Arya, Arya menyungingkan senyumnya kemudian menatap balik Siren.
"Kabarku baik Alhamdulillah, kamu sendiri gimana kabarnya?" Tanya Arya kepada Siren.
"Seperti yang kamu lihat aku sangat baik, Alhamdulillah."
Lalu kemudian keduanya hanya saling diam, sampai sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.
"Bunda!"
Siren tersenyum melihat seseorang kini sedang berlari ke arahnya.
"Jangan lari Aksa nanti kamu jatuh," ucap Siren memperingati Aksara yang kini sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat tampan dengan wajah bule nya persis seperti Siren.
Aksara menatap ke arah Reilla, begitupun dengan Reilla ia juga saat ini sedang menatap ke arah Aksara. Kedua anak itu memang belum saling mengenal, karna Siren juga belum memperkenalkan putranya itu pada Reilla begitupun sebaliknya.
Melihat kedua anak itu saling bertatapan bingung, akhirnya Siren pun berinisiatif memperkenalkan keduanya.
"Aksa sayang, ini Reilla putrinya uncle Arya." Ucap Siren memperkenalkan Reilla pada Aksara.
__ADS_1
Aksara memang sudah kenal dengan Arya sejak lama tapi ia tidak tau kalau uncle Aryanya ternyata memiliki seorang putri.
"Dan Reilla, ini Aksara putra aunty, kamu bisa panggil Kak Aksa kalau kamu mau."
Reilla tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia juga memberikan senyumannya pada Aksara namun bocah laki-laki itu malah membuang pandangannya ke arah lain, hal itu tentu saja membuat Reilla sedih. Reilla menyangka bahwa Aksara tidak menyukai dirinya.
"Uncle Arya, kapan kita main game bareng lagi?" Tanya Aksara pada Arya.
Arya pun tersenyum lalu ia berjongkok menyetarakan tinggi badannya dengan Aksara.
"Kalau kamu liburan sekolah datang aja ke rumah uncle, nanti kita bisa main game sama-sama." Ujar Arya membuat Aksara berteriak girang.
"Ayah nanti Rei juga boleh ikut main gamenya kan?" Tanya Reilla pada Arya.
"Gk boleh, anak perempuan gk bisa main game itu."
Kali ini bukan Arya yang menjawab melainkan Aksara yang menjawab pertanyaan Reilla, gadis itu pun menoleh pada Aksara. Mendengar bahwa dirinya tidak boleh ikut main game bersama nanti membuat Reilla menundukkan wajahnya ia merasa sedih mendengar hal itu.
Arya yang melihat raut wajah kesedihan putrinya pun menjadi tidak tega, Arya pun memilih untuk mengusap pungung Reilla dengan lembut membuat gadis kecil itu menolehkan kepalanya pada Arya.
"Rei nanti buat makanan khas Jepang aja sama aunty Siren, gimana?" Tanya Siren membuat Reilla tersenyum senang, ia memang sudah lama ingin belajar memasak makanan khas Jepang seperti video masak yang sering ia tonton di TV tapi berhubung Ayahnya tidak bisa memasak, Bi Imah juga tidak bisa membuat masakkan khas Jepang alhasil Reilla tidak bisa memenuhi keinginannya itu. Tapi saat mendengar bahwa Aunty Siren mau mengajarinya masak makanan Jepang hal itu tentu membuat Reilla sangat gembira.
"Kalau begitu aku dan Aksa pamit pulang dulu ya, Assalamu'alaikum." Ujar Siren yang pamit pulang.
"Udah kamu mau beli itu aja?" Tanya Arya saat putrinya hanya menggambil dua bungkus camillan dan satu kotak susu ukuran sedang.
"Iya udah kok Yah," jawab Reilla.
Arya pun menganggukkan kepalanya, lalu kembali mengandeng putrinya dan berjalan menuju kasir untuk membayar.
"Ganteng banget masnya, tapi sayang udah punya anak."
Arya hanya diam ketika mendengar bisikkan dua gadis muda di sebelahnya yang saat ini sedang membicarakan dirinya dan Arya pura-pura tidak tau saja.
"Duda berarti ya? Gk apa-apa deh kalau duda ganteng kaya gitu, gue rela."
Arya hanya bisa menghela nafasnya, sementara Reilla yang cukup peka kalau kedua perempuan itu sedang membicarakan Ayahnya. Reilla pun langsung mempererat genggaman tangannya pada tangan Arya.
"Kenapa?" Tanya Arya ketika merasakan genggaman Reilla semakin erat.
__ADS_1
"Gk apa-apa hehe," jawab Reilla sambil menunjukkan cengirannya.
"Ayo kita berangkat," ucap Arya yang sudah selesai membayar.
Kini keduanya sudah keluar dari minimarket tersebut dan langsung masuk ke mobil setelah itu pergi menuju Tk nya Reilla.
"Tadi Rei denger dua Kakak di minimarket itu lagi ngomongin Ayah tau," ucap Reilla memberitahu Ayahnya.
"Ayah tau kok," jawab Arya membuat Reilla mengerenyitkan dahinya.
"Kok Ayah bisa tau? Ayah denger juga ya? Rei gk suka liat mereka berdua, genit banget." Ucap Reilla yang memasang wajah ketidaksukaannya.
"Reilla gk mau punya Ibu kaya mereka," ucap Reilla membuat Arya tertawa.
"Kok Ayah malah ketawa sih?"
"Abisnya kamu lucu, emang siapa yang bilang kalau Ayah mau menjadikan salah satu di antara mereka sebagai Ibu kamu? Bagi Ayah gk ada yang bisa gantiin sosok Ummah kamu di hati Ayah," ujar Arya yang kembali fokus menyetir.
Reilla tersenyum mendengar perkataan Ayahnya barusan, tapi gadis kecil itu tau kalau Ayahnya sebenarnya juga merasa sedih karna kepergian sosok Ummahnya sama seperti Reilla yang sedih karna tidak bisa bertemu dengan Ummahnya sejak ia kecil hingga sekarang usianya sudah menginjak usia 5 tahun.
"Sudah sampai. Rei harus belajar yang rajin ya? Jadi anak yang pintar terus harus nurut sama Ibu gurunya, okey?"
"Okey siap bos!" Ujar Reilla sambil memberikan hormat pada Arya, membuat Arya terkekeh melihat kelakuan lucu putrinya.
Arya membukakan pintu mobil untuk Reilla, setelah anak itu turun barulah Arya pergi kembali ke rumah karna hari ini ia sedang mendapatkan libur bekerja.
Senyuman Reilla hilang saat ia melihat Ulil- teman TK nya yang saat ini sedang bersama dengan Ibunya.
Ibu Ulil sedang mencium kening Ulil dengan lembut, Ibu Ulil juga terlihat menasihati Ulil dan sebelum pergi Ibu Ulil juga memeluk Ulil terlebih dahulu.
Semua yang dilakukan oleh Ulil dan Ibunya tak luput dari pandangan Reilla, gadis itu hanya bisa diam menyaksikan interaksi antar Ibu dan anak itu.
Reilla menghela nafasnya, pemadangan di depannya saat ini terasa menyakitkan untuk dilihat oleh anak seusianya yang saat ini sudah tidak memiliki seorang Ibu.
Sekuat tenaga Reilla berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh, rasanya untuk melangkahkan kaki ke depan terasa berat bagi Reilla.
"Rei gk masuk ke dalam?"
Reilla pun mengangkat kepalanya, di depannya sudah ada Bu Guru yang tersenyum menenangkan. Reilla pun membalas senyuman Bu Guru dengan senyuman sendu.
__ADS_1
"Ayo masuk ke kelasnya bareng sama Bu Guru," ucap Bu Guru lagi, dan di balas anggukkan oleh si kecil Reilla.
Akhirnya meskipun berat tapi Reilla tetap melangkahkan kakinya masuk, ia kembali memasang wajah ceria dan berusaha menutupi rasa sedihnya dengan senyuman, karna Reilla tidak mau kalau teman-temannya sampai tau bahwa dirinya sedang bersedih. Reilla memang sepintar itu dalam menyembunyikan rasa sedihnya.