Without You

Without You
34. Hanya Manusiawi Katanya


__ADS_3

Masih pake sudut pandang penulis/ Author POV.


Happy Reading!


-


-


-


-


"Kamu yakin mau pindah?" Tanya Vidya yang menatap suaminya dengan lekat.


Arya yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya pun langsung menggambil segelas air lalu meneguknya sebelum menjawab pertanyaan Vidya.


"Iya gue udah yakin, bakalan pindah dari perusahaan pak Hermawan." Jawab Arya yang memang sudah matang memikirkan keputusannya itu.


"Terus nanti kamu mau kerja dimana?" Tanya Vidya meminta jawaban yang memuaskan dari Arya.


"Kerja di perusahaan milik keluarga gue." Jawab Arya yang kembali menyantap makanannya.


Vidya menganggukkan kepalanya, ia setuju-setuju saja dengan keputusan suaminya itu.


"Arya."


"Hmm." Arya hanya beredehem menjawab panggilan dari Vidya.


"Nanti siang aku boleh ke rumah Umi gk? Aku kangen banget sama Umi." Ujar Vidya meminta izin pada suaminya itu.


Arya tidak langsung menjawab ia menyelesaikan makanannya terlebih dahulu, lalu setelah itu baru menjawab pertanyaan Vidya.


"Nanti siang?"


"Iya nanti siang, boleh kan?" Tanya Vidya penuh harap, ia menatap cemas pada Arya yang masih terdiam.


"Boleh, nanti gue temenin." Vidya tersenyum menatap Arya dengan berbinar.


"Tapi emangnya kamu udah pulang siang nanti?"


"Gue ke kantor cuma beres-beres barang doang sama pamitan, abis itu gue pulang." Ujar Arya, membuat Vidya semakin senang.


"Gue berangkat dulu." Ujar Arya yang menggambil tongkatnya agar ia bisa bangkit dari duduknya.


"Aku temenin kamu nunggu taksi online nya ya." Ucap Vidya namun Arya tidak menenatangnya ia membiarkan Vidya ikut dengannya.


Vidya dengan sabar menemani Arya menunggu taksi online yang Arya pesan datang.


"Taksinya udah datang, gue berangkat dulu." Ucap Arya sambil menyodorkan tangannya ke arah Vidya, dan dengan senang hati Vidya menggambil dan mencium pungung tangan Arya.


"Hati-hati ya." Ujar Vidya pada Arya, dan di balas anggukkan oleh pria itu.


Arya pun masuk ke dalam taksi tersebut, meninggalkan Vidya yang menatap kepergian taksi yang Arya tumpangi.


Setelah itu Vidya hendak masuk ke rumahnya, namun ia urungkan saat manik matanya melihat sosok yang ia kenal.


"Vidya." Panggil orang tersebut yang juga menyadari kehadiran Vidya.


Vidya segera bergegas masuk dan menutup pagar bahkan mengunci pagar rumah nya itu.


"Vidya!" Panggil orang tersebut, namun Vidya tidak mengubris panggilan itu.


"Vidya!" Orang tersebut sudah berdiri di pagar rumah Vidya.

__ADS_1


"Ka...kakak ngapain?!" Tanya Vidya dengan suara yang bergetar karna ketakutan.


"Kamu udah inget kakak? Ingetan kamu udah kembali?" Tanya orang tersebut dengan raut wajah antusias.


Sementara Vidya hanya diam di tempat, dengan raut wajah penuh ketakutan.


"Vidya sini, kamu gk kangen sama kakak?" Tanya orang itu lagi, Vidya memundurkan langkahnya.


"Vidya, maafin kakak ya. Maaf kakak udah ninggalin kamu di hari pernikahan kita."


Vidya yang mendengar itu terasa sakit, dan terbayang kejadian di masa lalu nya.


"Vidya." Vidya tersentak kaget saat tangan orang itu tiba-tiba saja terjulur dan mengenggam tangannya.


"Lepas!" Ujar Vidya yang meronta-ronta minta di lepaskan.


"Nggak Vidya, kakak gk akan lepasin kamu lagi." Ujar orang tersebut, Vidya meringis tangannya terasa sakit terkena besi di pagarnya membuat lengannya tergores dan berdarah.


Namun sepertinya orang itu masih enggan melepaskan tangan Vidya.


"Lepas! Hiks...lepasin sakit." Ringis Vidya yang kesakitan, tangannya bahkan telah berdarah darah, tapi orang di hadapan Vidya tidak perduli dengan luka Vidya.


Bughh


Cengkraman tangan orang tersebut terlepas, membuat Vidya bisa menarik kedua tangannya kembali, dengan bebas.


"Brengsek lo!"


Bugh


"Arya!" Pekik Vidya saat melihat Arya yang jatuh tersungkur.


Entah mengapa tiba-tiba bisa ada Arya, bukannya pria itu sudah berangkat ke kantornya?


Vidya membuka gerbang dan langsung berlari menghampiri Arya.


"Kamu gk apa-apa?" Tanya Vidya menatap Arya khawatir, apalagi sudut bibir Arya mengeluarkan darah.


Namun Arya tidak mengubris pertanyaan Vidya, ia mengepalkan tangannya menatap tajam orang itu, yang bahkan tidak di kenal sama sekali oleh Arya.


Bugh


"Bang**t lo!" Umpat Arya yang membalas memukul orang tersebut hingga orang itu tersungkur ke tanah.


Bugh


"Itu pukulan buat orang yang udah ngeremehin orang cacat!" Ucap Arya sambil tersenyum sinis setelah ia memukul kepala orang tersebut dengan tongkatnya.


"Vidya...aku bakalan balik lagi, dan rebut kamu dari dia." Ujar orang tersebut penuh penekanan di setiap katanya, ia lalu bangkit dan pergi.


"Arya...hiks kamu gk apa-apa kan?" Tanya Vidya begitu khawatir pada Arya.


Arya menghela nafasnya, ia bahkan sedang mencoba mengendalikan emosinya.


Vidya menatap Arya sambil terisak, ia bahkan panik melihat Arya yang masih diam.


"Arya...hiks...bibir kamu berdarah." Vidya semakin terisak melihat sudut bibir Arya yang berdarah.


"Gue gk apa-apa." Jawab Arya yang menatap Vidya masih menangis.


"Udah jangan nangis." Bukannya berhenti menangis justru Vidya semakin terisak.


Arya menghela nafasnya, ada apa dengan Vidya kenapa dia jadi tambah menangis, padahalkan yang luka Arya? Kenapa malah Vidya yang nangis?

__ADS_1


"Udah jangan nangis." Arya mengulurkan tangannya menghapus air mata Vidya yang mengalir di pipi gadis itu.


Vidya akhirnya terdiam, pipinya bersemu merah mendapat perlakuan yang manis secara tiba-tiba dari Arya.


"Tangan lo luka?" Tanya Arya yang melihat tangan Vidya berdarah.


"Ah ini...nggak, gk sakit juga kok Arya." Ucap Vidya yang menunjukkan senyumannya.


"Gk sakit gimana, itu berdarah banyak banget, ayo masuk biar gue yang obatin luka lo. Lagi pula lo masih hutang penjelasan sama gue." Vidya hanya bisa menganggukkan kepalanya lalu berjalan di belakang Arya, dan masuk ke dalam rumah mereka.


[]


"Pelan-pelan Arya." Ringis Vidya saat Arya sedang mengobati lukanya.


"Udah selesai kok." Jawab Arya enteng, lalu ia mengobati lukanya sendiri.


Vidya menawarkan bantuannya namun Arya bilang ia bisa mengobati lukanya seorang diri, dan akhirnya Vidya pun hanya mengamati raut wajah Arya.


sesekali pria itu meringis menahan sakit, dan membuat Vidya ikut-ikutan meringis.


"Siapa cowok tadi?" Tanya Arya yang sedang memasukkan obat-obatan ke kotak P3K.


Vidya diam sejenak, Arya pun menatap Vidya yang bungkam.


"Vidya, gue lagi nanya sama lo. Kalau orang nanya tuh di jawab." Ucap Arya, Vidya menatap wajah Arya.


Vidya menghela nafasnya, ada raut ketakutan yang terpancar di raut wajah cantik Vidya.


"Dia kak Dimas." Ujar Vidya, membuat Arya mengerenyit bingung.


"Dimas? Siapa lo? Setau gua lo cuma punya kakak satu kan?" Tanya Arya lagi, Vidya menganggukkan kepalanya.


"Kak Dimas itu dulu calon suami saya, tapi dia malah ninggalin saya saat dia tau kalau saya..." Vidya mengantung ucapannya, ia meremas gamisnya, peluh mulai membasahi dahinya.


"Kalau saya..." Vidya masih belum bisa melanjutkan ucapannya, ia menundukkan kepalanya, nafasnya mulai tidak teratur.


"Vidya? Lo baik-baik aja?" Tanya Arya yang melihat Vidya susah bernafas.


"Udah gk usah di lanjutin, kalau lo belum siap cerita." Ujar Arya, Vidya mengelengkan kepalanya.


Ia tidak ingin ada yang di sembunyikan dari suaminya itu.


"Kalau saya...sudah jadi korban pemerkosaan, akhirnya dia ninggalin saya tepat, di hari pernikahan kami." Vidya menghela nafasnya yang semakin terasa sesak.


Arya menatap Vidya lekat, entah kenapa melihat gadis itu terluka membuat sesuatu di sudut hatinya ikut terasa nyeri.


"Sini." Panggil Arya, Vidya mengerenyitkan dahi bingung, namun ia tetap menuruti perintah Arya untuk duduk di sampingnya.


"Jangan nangis, gue gk mau lo nangisin cowok brengsek kaya dia." Ujar Arya yang langsung membawa Vidya ke dalam dekapannya.


Vidya tersentak namun hanya sebentar, dan kini Vidya sudah menumpahkan tangisnya dalam pelukkan Arya.


Arya hanya diam membiarkan Vidya menangis di pelukannya.


Arya sadar jika apa yang ia lakukan ini adalah bertolak belakang dengan hati dan fikirannya, serta ego nya.


Ia tidak mau memeluk Vidya namun hatinya berkata ia harus merengkuh gadis ini ke dalam pelukannya.


Arya hanya berfikir ini mungkin adalah perasaan manusiawi, yang merasa iba melihat seorang perempuan yang menangis.


Iya mungkin hanya itu, tidak mungkin lebih, dan tidak akan pernah bisa lebih.


Karna Arya tau hingga kini hatinya masih milik Siren, hanya ada gadis itu yang masih terparti di hati dan fikirannya.

__ADS_1


__ADS_2