Without You

Without You
Stuck With You (Gama story)


__ADS_3

Bughhh


Bughh


Bughh


Suara hantaman dan pukulan terdengar saling bersahutan memecah keheningan malam, dan berakhir dengan suara tembakkan dan teriakkan serta erangan yang melengking kuat bersamaan dengan tubuh seseorang yang tumbang.


"Menyerahlah, atau kamu akan saya habiskan," ancam seorang pemuda yang sudah meletakkan kakinya di atas tubuh orang yang telah berhasil ia buat tumbang dan sedang dalam keadaan sekarat.


"Ti ... tidak akan," ucap orang itu dengan susah payah karna rasa sakit masih mendera tubuhnya.


"Baiklah, ini keputusan kamu," balas pemuda itu sambil menyeringai.


Dorr dorr


Pemuda itu berhasil melepaskan tembakkannya dan berhasil membuat orang yang ada di bawah pijakkannya tak bernyawa lagi.


Pemuda itu tanpa rasa bersalah menendang tubuh orang yang sudah berhasil ia habiskan, lalu melengang pergi kembali naik ke atas motornya dan melengang pergi begitu saja.


Cklek


Pemuda itu sudah sampai di sebuah rumah, ia membuka pintu rumah mewah tersebut lalu masuk ke dalamnya.


"Rayn, kemarilah."


Langkah pemuda bernama Rayn itu pun terhenti, ia membalikkan badannya menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa menatap ke arahnya.


"Ada apa Mah?" Tanya Rayn menatap wanita paruh baya itu.


"Bagaimana apakah pekerjaan mu lancar?"


"Iya Mah," jawab Rayn sambil menganggukkan kepalanya.


Wanita paruh baya yang di panggil Mamah oleh Rayn pun tersenyum puas mendengar jawaban yang di berikan oleh anaknya itu.


"Baguslah, karna Mamah punya tugas lagi untuk mu."


"Tugas apa?" Tanya Rayn, ia bahkan mengurungkan niatnya untuk beristirahat.


"Ada orang yang menyuruh kamu untuk mengawasi anak dari seorang pengusaha yaitu anak dari Langit Agam Saputra yang sudah terkenal, kamu hanya di suruh untuk mengawasinya saja untuk sementara waktu sampai dapat perintah berikutnya. Uang yang bisa kamu dapatkan sangat lumayan dan menguntungkan, jadi Mamah harap kamu bisa menggambil tugas ini."

__ADS_1


Rayn terdiam, sedikit menimbang namun apapun yang Mamahnya putuskan Rayn tak akan bisa mengelaknya karna ia akan menangguk konsekuensi yang berat nantinya jika ia berani menantang sang Mamah.


"Terserah Mamah, kalau Mamah setuju Rayn juga ikut setuju," kata Rayn lagi.


"Tentu kamu harus setuju, sekarang tidurlah, besok kamu harus bangun pagi dan berangkat ke sekolah."


Rayn mengerenyitkan dahinya bingung saat Mamahnya kembali berbicara.


"Sekolah? Bukankah Mamah pernah bilang kalau Rayn tidak boleh pergi ke sekolah?" Tanya Rayn heran, pasalnya sejak kecil ia selalu mendapatkan pendidikan dengan cara home schooling dan Mamahnya tidak pernah mengizinkan Rayn untuk keluar rumah. Masa kecilnya selalu ia habiskan di dalam rumah atau di sekitar perkarangan rumahnya, Rayn tumbuh menjadi anak yang anti sosial bahkan cenderung tertutup.


Sejak kecil pula Rayn selalu di latih berkelahi, menggunakan senjata dan mempelajari setiap gerak-gerik manusia. Hal itu lah yang membuat Rayn tumbuh menjadi anak yang dingin, tak beperasaan, bahkan di usianya yang baru menginjak 16 tahun ini Rayn sudah bekerja sebagai pembunuh bayaran dengan imbalan yang lumayan dan selalu membuat Mamahnya merasa senang.


"Itu dulu tapi kali ini tidak, Mamah akan mengizinkan kamu pergi ke sekolah. Berbaur bersama anak-anak lainnya, kamu harus bisa mendekati anak dari pengusaha kaya itu. Sebisa mungkin kamu harus mendekatinya dan terus mengawasinya," ucap Mamah Rayn seraya menoleh ke arah putranya itu.


Rayn menghela nafasnya, walaupun rasanya berat tapi Rayn tetap menganggukkan kepalanya, menurut. Setelah itu ia benar-benar pamit untuk naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.


...........


Srrhhh


Suara kucuran air yang berasal dari shower mulai terdengar, Rayn menutup kedua matanya. Menikmati sensasi guyuran air yang menimpa tubuhnya, Rayn meringis saat merasakan luka di punggunya yang terasa perih karna tersiram oleh air, namun sebisa mungkin Rayn berusaha menahannya.


Setelah selesai mandi, Rayn pun keluar dan menuju kamarnya. Ia segera memakai baju nya dan bergegas tidur, kebetulan ia juga sudah sangat lelah karna seharian ini menangani tugas yang begitu banyak dan dengan korban yang banyak juga tentunya.


Pagi hari pun tiba, Rayn menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menatap takjub pada seragam yang sudah melekat di tubuh atletisnya, ada rasa senang di hati Rayn karna akhirnya setelah bertahun-tahun lamannya Rayn bisa berbaur dan bersekolah di sekolah umum seperti anak-anak yang lainnya.


"Sudah siap?"


Rayn menganggukkan kepalanya saat sang Mamah bertanya pada dirinya, Mamah Rayn pun mengangguk lalu memberikan tas pada Rayn.


"Ingat, tujuan kamu bersekolah adalah untuk mengawasi target kita," ucap Mamah Rayn kembali mengingatkan. Rayn pun menganggukkan kepalanya, mengerti.


"Ayo kita turun ke bawah," ajak Mamah Rayn, dan tentu saja Rayn menurutinya lagi.


Sesampainya di bawah, Rayn lalu masuk ke dalam mobil, Mamahnya sudah masuk lebih dulu daripada Rayn.


Setelahnya, mobil pun mulai melaju menuju sekolah baru Rayn, yaitu SMA Ramawangsa yang menjadi tujuan Rayn agar bisa mengawasi target barunya.


Setelah lumayan lama di perjalanan, akhirnya mobil yang di naiki oleh Rayn pun tiba di SMA Ramawangsa. Rayn segera turun tak lupa ia berpamitan pada Mamahnya.


"Sekali lagi kamu harus ingat Rayn, kamu harus fokus pada tujuan kamu. Awasi target kita dan cari tau semua tentangnya kalau bisa kamu harus mendekatinya," pesan Mamah Rayn, sebelum Rayn benar-benar masuk ke dalam sekolah.

__ADS_1


"Tentu Mah, Rayn akan fokus dengan target dan tujuan kita. Rayn berangkat dulu Mah," ujar Rayn lagi dan di balas anggukkan kepala oleh Mamahnya.


Setelah mobil Mamahnya pergi, Rayn pun mulai berjalan dan memasuki gerbang SMA Ramawangsa yang akan jadi tempat barunya. Semua mata tertuju pada Rayn, karna wajah Rayn terlihat begitu asing di mata mereka.


Suara bisikkan dan bisikkan mulai terdengar di telinga Rayn, rata-rata itu berasal dari para anak perempuan yang menatap kagum pada paras tampan yang Rayn miliki. Tak mau ambil pusing Rayn terus melangkahkan kakinya, menyusuri koridor sekolah.


Lalu tanpa di sengaja manik mata Rayn menangkap sebuah sosok seseorang yang merupakan target dari tugas yang sedang Rayn jalankan, Rayn menyungingkan senyuman miringnya. Ia merasa senang karna sudah bisa bertemu dengan target utama dalam tugasnya kali ini.


"Permisi, boleh numpang tanya sebentar tidak?" Tanya Rayn yang sudah menghampiri targetnya.


Namun si target hanya diam sambil mengoyangkan kepalanya dan bersenandung kecil, ia seperti tak memperdulikan keberadaan Rayn di dekatnya.


Rayn berdecak sebal, akhirnya ia pun menepuk bahu targetnya itu, dan barulah si target itu membalikkan badannya menghadap ke arah Rayn.


"Kenapa sih? Lo manggil gue?" Tanya si target sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, saya manggil kamu dari tadi. Saya mau tanya di mana ruangan Kepala Sekolah."


"Oh ruangan Kepsek, lo lurus aja terus nanti belok lewatin koridor, terus lurus lagi, belok kanan, dan belok ke kiri lagi, nah di sana ruangan Kepsek nya," jawab si target dengan entengnya sementara Rayn hanya diam berusaha mencerna ucapan targetnya itu.


"Saya gk ngerti, kamu bisa antar saya ke sana?" Tanya Rayn lagi mulai menjalankan rencananya agar bisa dekat dengan si target.


"Keira!"


Sebuah suara mengalihkan perhatian si target dan juga Rayn, keduanya menoleh ke arah seorang pria yang sedang melambaikan tangannya ke arah si targetnya Rayn.


"Tumben lo datang pagi, biasanya telat terus," ucap si pria itu saat sudah berada di dekat si target.


"Gk apa-apa lah, lumayan kan biar ada kemajuan," balas si target yang memiliki nama lengkap Keira Agam Sky Subhi atau yang biasa akrab di panggil dengan sebutan Keira dan Rayn juga sudah mengetahui beberapa nformasi tentang Keira yang menjadi targetnya.


"Btw, Rafly lo bisa antar dia ke ruangan Kepsek gk?" Tanya Keira pada pria yang bernama Rafly itu.


Rafly menoleh ke arah Rayn yang daritadi hanya diam dengan wajah datarnya.


"Siapa emangnya dia?" Tanya Rafly pada Keira.


"Gk tau, tapi kasian banget mukanya kaya anak ilang. Lo anterin dia gih sana," suruh Keira lagi sambil berbisik ke pada Rafly namun masih dapat di dengar oleh Rayn.


"Ya udah, gue bakalan anterin dia. Tapi syaratnya lo harus ke kantin bareng gue nanti siang, gimana?" Tawar Rafly lagi.


"Oke deal," jawab Keira lagi.

__ADS_1


"Sorry gue gk bisa nganter lo ke ruangan Kepsek karna ada urusan, sebagai gantinya lo bakalan di anterin sama Rafly ke ruangan Kepsek," jelas Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Rayn.


Rayn menghela nafasnya, sebenarnya ia agak sedikit kesal dan kecewa karna tidak bisa di antar oleh Keira yang menjadi target utamanya ke ruangan Kepsek, rencana awalnya untuk mendekati Keira sebagai target gagal namun Rayn tak menyerah dan putus asa karna ia pasti bisa mendekati targetnya itu.


__ADS_2