Without You

Without You
33. Bahagia Berujung Luka


__ADS_3

Masih pake sudut pandang penulis/ Author POV.


Happy reading semuwa!


-


-


-


-


-


"Pak sudah sampai." Ujar supir taksi tersebut.


Supir taksi tersebut pun menolehkan kepalanya, ia menghela nafas melihat kedua penumpangnya yang sudah tertidur lelap.


"Pak ini sudah sampai." Ujar supir taksi tersebut membangunkan Arya.


Arya pun tersentak, lalu terbangun dari tidurnya.


"Sudah sampai pak." Ujar supir taksi tersebut memberitahu Arya bahwa sudah sampai di tempat tujuan.


"Ah iya." Jawab Arya yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.


Arya pun menoleh ke arah samping, di sana ia melihat Vidya sedang tertidur pulas sambil bersandar di bahunya.


"Vidya bangun." Panggil Arya namun Vidya masih tetap terlelap.


"Vidya bangun, udah sampe rumah." Ucap Arya kali ini di sertai dengan tepukan di pipi Vidya.


Vidya pun mengeliat, ia malah memeluk lengan Arya.


"Haduh kayanya si mba nya gk mau bangun tuh pak." Ujar sang supir taksi yang melihat Vidya masih tertidur sangat pulas.


"Maaf ya pak, saya coba bangunin dia lagi." Ujar Arya lalu berusaha membangunkan Vidya.


"Hngg." Vidya berguman tidak jelas, namun akhirnya matanya pun terbuka.


"Bangun, udah sampe." Ucap Arya memberi tau.


Vidya pun mengucek kedua matanya, namun Arya segera menggambil kedua tangan Vidya.


"Jangan di kucek gitu matanya."


"Mata saya perih." Ujar Vidya yang berusaha melepas tangannya dari genggaman Arya.


"Mana coba liat sini." Ujar Arya melepas tangan Vidya, Vidya hendak mengucek matanya lagi namun gerakannya di tahan Arya.


Arya mendekatkan wajahnya ke arah wajah Vidya, membuat Vidya menegang di tempat dengan pipi yang sudah bersemu merah.


Arya memegang dagu Vidya, ia dengan telaten meniupi mata Vidya, secara bergantian.


"Udah gk perih kan?" Tanya Arya, Vidya pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Udah gk perih sih, cuma ini jantung aku kenapa deg-deg an gk jelas gini?- batin Vidya yang memegangi dadanya.


"Nih pak uang nya, makasih banyak ya udah sabar nungguin saya bangun." Ujar Arya seraya menyerahkan uang, supir taksi tersebut pun mengangukkan kepalanya.


Arya keluar dari taksi lebih dulu dari Vidya, namun Arya masih menunggu gadis itu keluar.


Lalu setelah Vidya keluar, Arya pun menutup pintu taksi tersebut dan mengajak Vidya untuk masuk ke dalam rumah mereka, Vidya pun menurut ia mengikuti langkah kaki Arya di belakang, dengan rasa kantuk yang kembali menyerangnya.


Brukkk


"Aduh." Vidya mengusap keningnya yang baru saja menubruk pungung Arya.


"Lo jalan yang bener dong!" Ujar Arya yang ngegas tiba-tiba, lalu setelah itu ia mempercepat langkahnya dan menaiki tangga, berjalan menuju kamarnya.


"Ish apaan sih kaya bunglon banget sifatnya, tadi baik terus manis juga. Sekarang? Udah jutek lagi aja." Gumam Vidya sambil menatap Arya yang menaiki tangga.


"Hoamm, aku udah ngantuk banget." Ujar Vidya lalu melangkah gontai masuk ke dalam kamarnya, tak lupa sebelum tidur ia berwudhu telebih dahulu dan juga mengosok giginya, dua hal yang sering Vidya lakukan sebelum tidur.


Lalu setelah itu Vidya pun beranjak naik ke atas ranjangnya, tak lupa ia membaca doa terlebih dahulu sebelum tidur.


Namun saat mata Vidya mulai terpejam, malah kembali terbuka.


Gadis itu menatap langit-langit kamarnya, dengan senyuman yang tiba-tiba terukir di bibir ranumnya.


Fikiran Vidya kembali melayang pada kejadian malam ini, yang terkesan sangat manis.


Vidya sangat bahagia malam ini, karna Arya yang biasanya menyebalkan terlihat sangat manis saat jalan-jalan bersamanya tadi.


Vidya mengucap syukur pada Allah yang telah melunakkan hati Arya untuknya, Vidya berharap jika kebahagiaan ini bisa terus ia rasakan, dan Vidya juga berdoa semoga pernikahan mereka tidak hanya satu tahun saja namun juga dapat bertahan lebih dari itu.


"Sebentar." Teriak Vidya dari dalam kamar, buru-buru ia menyambar kerudungnya dan berjalan ke arah pintu.


"Loh Arya? Ada apa?" Tanya Vidya yang kaget karna tiba-tiba Arya sudah berada di depan pintu kamarnya.


"Gu...gue boleh tidur di kamar lo gk malam ini?" Tanya Arya, membuat Vidya mengerenyitkan dahi bingung.


"Loh emangnya di kamar kamu kenapa?" Tanya Vidya lagi.


"Itu...hmm di kamar gue ada kecoa! Nah iya ada kecoa." Ujar Arya, Vidya menatap Arya tak yakin.


"Beneran? Ya udah ayo kita ke kamar kamu, biar saya yang usir kecoa nya." Ucap Vidya yang hendak menutup pintu kamarnya, namun Arya langsung mencegahnya.


"Eh? Kenapa?" Tanya Vidya bingung dengan tingkah Arya.


"Udah jangan, kecoa nya kasian mau punya rumah juga. Udah ah biarin aja, gue ngantuk mau tidur." Kata Arya lagi, tanpa di beri izin oleh Vidya, Arya langsung masuk ke dalam kamar Vidya.


Vidya menghela nafas, lalu mengelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib Arya.


Vidya pun memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, tak lupa ia juga menutup pintu kamarnya terlebih dahulu.


Vidya membalikkan badanya, ia tersenyum ketika melihat Arya yang sudah berbaring di atas kasurnya.


"Kamu beneran mau tidur di kamar saya? Kasur saya gk selebar kasur kamu loh, nanti badan kamu yang ada bisa sakit." Ujar Vidya yang sudah berdiri di pinggir ranjang.


Arya menghela nafasnya lalu membalikkan tubuhnya yang sebelumnya membelakangi Vidya, dan menatap Vidya.

__ADS_1


"Udah sini tidur."


"Tapi-Arya!" Pekik Vidya kaget karna Arya langsung menariknya hingga Vidya menubruk dada bidang Arya.


"Sttt udah tidur aja elah, susah banget sih lo, gue udah ngantuk nih." Ujar Arya yang langsung memejamkan matanya, sementara Vidya masih mengerutu kesal dengan perlakuan Arya yang secara dadakan menarik dirinya, hingga dia pun harus terjatuh di atas dada bidang Arya seperti sekarang ini.


Vidya menatap wajah Arya yang sudah memejamkan matanya, Vidya mendengus melihatnya.


Arya sudah terlelap tapi Vidya? Dia bahkan tidak bisa tidur, jantungnya terasa seperti marathon sedaritadi, bahkan setelah Vidya mengubah posisinya, yang sudah berbaring di samping Arya.


Vidya menatap wajah Arya yang terlihat damai, tanpa Vidya sadari membuat Vidya menyungingkan senyumannya.


"Tidur, gk usah ngeliatin muka ganteng gue terus."


Vidya mendengus kesal mendengar ucapan narsis Arya lagi, di tambah ternyata suaminya itu belum benar-benar terlelap.


"Geer banget huh." Ujar Vidya yang langsung menarik selimut dan memejamkan matanya.


Kini malah Arya yang membuka mata dan mengamati wajah Vidya yang terlelap.


"Vidya." Panggil Arya namun tidak ada sahutan dari gadis itu, dan Arya dapat menyimpulkan kalau Vidya memang sudah benar-benar terlelap.


"Hanya setahun..." lirih Arya sambil tersenyum samar, senyuman yang mengandung arti di dalamnya.


Setelah puas menatap wajah Vidya, Arya pun memilih untuk menatap langit-langit kamar, lalu Arya menghela nafasnya gusar.


Setahun, waktu yang ia berikan untuk hubungannya dengan Vidya.


Setahun, setelah itu dirinya dan Vidya benar-benar tidak akan memiliki hubungan apapun lagi.


Tapi bagi Arya tidak apa jika Vidya lepas dari dirinya, toh itu jalan yang terbaik untuk dirinya dan Vidya, agar ia tidak terus melukai gadis itu kan?


Kemudian fikiran Arya kembali melayang pada Siren.


Gadis itu bagaimana kabarnya di sana? Apakah dia merindukan Arya, sama seperti Arya yang setiap detik selalu merindukannya?


Arya tersenyum sendu, mengingat bahwa Siren akan segera di jodohkan dengan seseorang yang entah Arya tidak tau siapa, membuat Arya patah hati sejak pertama kali ia mendengar hal itu bahkan langsung dari bibir mungil kekasih hatinya itu.


"Siren..." lirih Arya, lalu memejamkan matanya, ia memilih berbalik memungungi Vidya.


Vidya ternyata belum benar-benar terlelap, ia membuka matanya lalu menolehkan kepala menatap pungung Arya.


Lalu tak lama Vidya melihat pungung Arya bergetar dan terdengar suara isak tangis, bahkan Vidya mendengar Arya memanggil nama Siren dengan lirih.


Vidya memejamkan matanya, mencoba untuk baik-baik saja.


Namun Vidya tidak bisa menampik rasa sakit di hatinya, jujur ia juga ikut terluka melihat Arya yang juga terluka seperti itu.


Ternyata kepergian Siren, tidak benar-benar bisa membuat Arya langsung berpaling padanya.


Nyatanya pria itu masih terus memikirkan satu nama di hati dan fikirannya.


Hanya satu nama, dan itu bukan dirinya.


Melainkan Siren, kekasih hatinya yang pergi meninggalkan Arya.

__ADS_1


__ADS_2