
Seorang dokter keluar dari ruang UGD, Arya dan Reilla pun segera menghampiri dokter tersebut.
Arya menatap dokter itu, meminta penjelasan tentang bagaimana keadaan Vidya saat ini. Reilla masih terisak, ia masih di liputi kekhawatiran serta penyesalan yang sudah ia perbuat selama ini pads Ummahnya.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya dan juga bayi yang ada di kandungannya?" Tanya Arya meminta penjelasan.
Sang dokter hanya bisa menghela nafasnya pelan, tangannya tergerak menepuk bahu Arya berusaha untuk membuat Arya tenang.
"Jangan khawatir Pak, istri anda dan bayinya dalam keadaan baik-baik saja," jawab dokter tersebut sambil menyungingkan senyumannya.
Arya segera merapal hamdalah, begitu juga dengan Reilla. Ia juga sudah mengucapkan hamdalah mendengar kabar bahwa Ummah dan adiknya dalam keadaan baik-baik saja saat ini.
Arya mengucapkan terimakasih pada dokter tersebut sebelum akhirnya dokter itu pun pamit pergi untuk menangani pasien yang lainnya, Arya dan Reilla pun bergegas masuk ke dalam ruangan setelah sebelumnya sudah di beri izin oleh dokter untuk masuk ke dalam.
Arya menatap Vidya yang saat ini masih memejamkan matanya, tangan Arya terulur mengusap lembut kepala Vidya dengan penuh kasih sayang.
Lalu tak lama kedua mata Vidya pun perlahan terbuka, Arya menoleh ke arah Reilla yang saat ini sedang tersenyum bahagia melihat Vidya sudah mulai sadarkan diri.
"A ... aku di mana?" Tanya Vidya yang terlihat agak ling lung.
"Kamu ada di rumah sakit, tadi kamu menggalami kecelakaan dan Alhamdulillahnya kamu bisa selamat sayang."
Vidya mencoba mengingat lagi apa yang terjadi pada dirinya sebelum ini, ketika ia berhasil mengingatnya sontak saja kedua mata Vidya langsung membulat sempurna.
"Ba ... bayi ku? Ba ... bagaimana dengan bayi ku?!" Tanya Vidya yang mulai panik sambil meraba-raba perutnya.
Arya dengan sabar berusaha menenangkan Vidya yang sudah sangat panik, sepertinya Vidya merasa takut jika harus kehilangan anak yang ada di dalam kandungannya itu.
"Tenang Vidya, anak kita baik-baik aja. Dia aman, karna dia punya Ibu yang kuat kaya kamu," ucap Arya sambil membawa tangan Vidya ke dalam genggamannya.
"Alhamdulillah, aku takut banget kalau sampai terjadi sesuatu sama anak-anakku. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri," ucap Vidya yang kepanikannya sudah mulai mereda.
__ADS_1
Lalu tatapan Vidya beralih pada sosok Reilla yang sedaritadi memilih tuk berdiri di belakang Arya.
"Kamu gk apa-apa kan Rei? Gk ada yang terluka kan sayang?" Tanya Vidya sambil menarik tangan Reilla agar mendekat padanya.
Ia membelai wajah Reilla dengan lembut, menelusuri setiap wajah Reilla dan badannya. Vidya sangat mengkhawatirkan Reilla saat ini.
"Tangan kamu luka sayang," ucap Vidya saat melihat luka goresan di telapak tangan Reilla.
"Cuma luka kecil," ujar Reilla sambil menatap wajah Vidya yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan dirinya.
"Ummah."
Vidya yang tadi sedang menunduk memperhatikan luka di telapak tangan Reilla pun langsung mengangkat kepalanya saat ia mendengar ucapan Reilla.
"Kamu panggil saya apa?" Tanya Vidya memastikan apa yang ia dengar tadi tidaklah salah.
"Ummah," jawab Reilla lagi membuat senyuman di wajah Vidya terbit seketika.
"Ummah ... maafin Rei ... hiks ... seharusnya Rei gk marah dan kesal sama Ummah. Maaf karna Rei sudah egois dan tidak pernah memikirkan perasaan Ummah yang terluka karna sikap Rei, maafkan Reilla Ummah ... hiks ... maaf."
Vidya sudah meneteskan air mata harunya, ia membelai lembut kepala Reilla dengan penuh cinta. Di tatapnya wajah putrinya yang saat ini sedang terisak, tangan Vidya tergerak dan menghapus air mata yang mengalir deras dari sudut mata Reilla.
"Jangan nangis sayang, Ummah akan sangat terluka jika melihat putri kesayangan Ummah menangis seperti ini," ujar Vidya dengan lembutnya membuat Reilla semakin terisak.
Vidya segera membawa Reilla ke dalam dekapannya, tangisan Reilla pun semakin menjadi. Punggung Reilla bahkan sampai bergetar, Vidya mengusap punggung Reilla dengan lembut dan juga membisikkan kata-kata yang menenangkan untuk putrinya itu.
"Maaf juga sudah membuat mu menderita selama ini sayang," bisik Vidya lirih dan di balas anggukkan kepala oleh Reilla.
Reilla semakin memeluk Vidya erat, menumpahkan tangisnya dan menumpahkan semua rasa rindu yang selama ini ia pendam untuk Ummahnya ini.
Arya menatap haru pada Ibu dan anak yang sedang berpelukkan di hadapannya, mata Arya bahkan sampai berkaca-kaca melihat momen mengharukan antara Vidya dan Reilla. Arya tersenyum melihatnya, ia memang sudah yakin pasti Reilla akan memaafkan Vidya. Karna ia mengenal Reilla, walaupun ia marah dan merasa kesal tapi hati Reilla sangat lembut, gadis itu pasti akan mudah luluh dengan kasih sayang dan cinta dari Vidya yang notabennya adalah Ibu kandung putrinya itu.
__ADS_1
"Gk ada yang mau meluk Ayah nih?" Tanya Arya sambil memajukkan bibirnya, seolah-olah ia sedang merajuk.
Vidya dan Reilla melerai pelukkan mereka, lalu tertawa melihat tingkah Arya yang merajuk minta di peluk juga.
"Sana kayanya Ayah kamu rindu di peluk sama kamu," ucap Vidya pada Reilla.
Reilla tersenyum dengan mata sembabnya, ia mengangguk lalu berjalan dan langsung beralih pada dekapan Arya. Arya memeluk putrinya dengan erat, mengusap kepala Reilla dengan sayang dan mendaratkan kecupan di kepala Reilla.
"Ayah sangat merindukan kamu Rei," bisik Arya di telinga Reilla membuat Reilla semakin mengencangkan pelukannya.
"Rei juga sangat merindukan Ayah ... hiks ... Rei rindu Ayah ... Rei gk bisa hidup tanpa Ayah," ucap Reilla lirih di sela tangisnya.
Arya tersenyum haru mendengar ucapan putrinya, ia kembali mengusap lembut punggung Reilla hingga Reilla pun tenang berada di dalam dekapannya.
Vidya bersyukur di dalam hati, akhirnya kesabaran serta penantiannya berbuah manis. Keluarga harmonis yang sejak dulu ia dambakan akhirnya bisa terwujud.
Putrinya sudah mau memaafkan Vidya dan mau menerima Vidya apa adanya, tentu saja Vidya merasa bahagia terlebih lagi nanti akan ada anggota keluarga baru yang hadir di dalam keluarga kecilnya. Vidya menatap ke arah perutnya yang masih rata, ia mengusap lembut perutnya sambil menyungingkan senyumannya.
"Ummah," ucap Reilla yang melerai pelukkannya dengan Arya lalu kembali beralih pada Vidya.
Vidya tersenyum dan kembali memeluk Reilla dengan erat, ia mencium kening Reilla dengan sayang.
"Jangan tinggalin Rei lagi ya Ummah," ujar Reilla lirih dan di balas anggukkan kepala oleh Vidya.
"Tentu sayang, Ummah gk akan pernah tinggalin kamu sendiri lagi. Ummah akan selalu ada untuk mu nak karna Ummah sangat menyayangi dirimu," ujar Vidya lagi yang kembali memeluk Reilla dengan erat.
Semua penderitaan yang ia alami rasanya seperti terbayar lunas, penderitaan dan perjuangan Vidya untuk mendapatkan cinta Arya dan juga untuk mendapatkan hati putrinya akhirnya berhasil ia dapatkan dan berakhir dengan bahagia.
Vidya percaya bahwa di balik kesulitan yang ia hadapi pasti akan ada kemudahan yang menyertai, Vidya yakin pada takdir yang telah Allah tetapkan untuk dirinya. Termasuk takdir cintanya, yang berlabuh pada Arya. Pria yang dulu membencinya dan justru kini malah mencintainya dengan teramat.
Allah Yang Maha membolak-balikkan hati manusia, ternyata itu benar adanya. Allah telah berhasil meluluhkan sikap dingin dan kasar Arya, sehingga pria itu kini menjadi pribadi yang lebih baik dari yang dulu Vidya pertama kali kenal.
__ADS_1
Kadang mengingat semua itu membuat Vidya tersenyum sendiri, kisah cinta dan Arya yang panjang dan penuh rintangan juga penuh air mata kini sudah berhasil ia lalui. Namun Vidya tidak tau bagaimana takdir kedepannya nanti yang akan ia hadapi, tapi satu hal yang Vidya yakini bahwa Allah akan selalu ada bersamanya, Allah akan selalu menolong hamba-Nya yang selalu percaya pada Kekuasaan dan Kebesaran-Nya. Karna dengan mengingat Allah hati menjadi terasa tenang, dan ini lah akhir dari perjalanan kisah cinta Vidya lebih tepatnya akhir dari takdir cinta Vidya yang membawa dirinya kepada sosok Arya yang kini ia cintai dengan sepenuh hati.