Without You

Without You
52. Kenangan Masalalu


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV/ Zeze POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Astrid menatap wajah Vidya yang kini sedang tertidur pulas dengan tatapan sendu nya.


Ia membelai lembut pipi Vidya yang masih terlelap, tak terasa air mata Astrid menetes di pipinya.


"Kamu anak yang baik, kamu juga anak yang kuat Vidya. Di usia kamu yang masih muda ini, kamu harus menanggung beban yang begitu berat di usiamu yang masih muda." Astrid menteskan air matanya, ia begitu sedih setelah ia tau di balik wajah cantik dan senyuman Vidya yang selalu merekah, Vidya menyimpan luka yang begitu dalam.


Astrid mencondongkan tubuhnya untuk bisa mencium kening Vidya.


Lalu setelah itu ia bangkit, pergi keluar dari kamar Vidya meninggalkan Vidya masih masih tertidur pulas.


[]


Setelah empat bulan berlalu, hidup Arya kini berubah drastis.


Setelah dua perceraiannya dengan Vidya, pria itu kini sudah menikah dengan Siren dan memulai rumah tangganya dengan Siren.


Saat ini Arya sedang berada di kantornya, seperti biasa pria itu mencoba menjalani rutinitas seperti biasanya.


Semenjak bercerai dengan Vidya jujur saja, gadis itu masih menepati tempat khusus dalam hati seorang Arya Fernando Syauqi.


Jika kalian bertanya apakah Arya masih memikirkan Vidya? jawabannya adalah Iya, pria itu masih memikirkan kondisi Vidya walaupun ia sudah berusaha sekeras tenaga untuk melupakan Vidya.


Arya menghela nafasnya, memijat pangkal hidung mancungnya, karna kepalanya terasa begitu sakit.


"Pak Arya." Panggilan Ardan-sekertaris nya membuat Arya tersadar dari kenangan masalalu.


"Ada apa Ardan?" Tanya Arya sambil menatap Ardan yang datang membawa sejumlah berkas di tangannya.


"Perusahaan Patma group menerima ajakkan kerja sama perusahaan kita, namun pemimpin perusahaan itu bilang dia ingin bertemu dengan Pak Arya terlebih dahulu sebelum kesepakatan terjadi dan dia mengundang Pak Arya ke rumah nya malam ini." Ucap Ardan panjang lebar menjelaskan.


"Baik bilang pada pemimpinnya, nanti malam saya akan datang." Ucap Arya menyetujui pertemuan dengan pemimpin perusahaan Patma group.

__ADS_1


Bagi Arya jika ia bisa menjalin kerjasama dengan Patma group ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaannya.


Kini Arya sudah memegang perusahaannya, ia yang mengatur perusahaan salah satu cabang pusat milik keluarganya ini.


[]


Sore sudah berganti malam dengan cepat, kini Vidya sedang duduk di sofa tengah, sedang menyaksikan acara televisi.


Sesekali gadis itu tertawa melihat adegan di televisi tersebut.


"Ya ampun nonton apa sih anak Bunda? Hmm? Kok kayanya asyik banget." Ucap Astrid yang kini duduk di samping Vidya.


Vidya pun mengalihkan tatapannya dari televisi dan beralih pada Astrid.


"Ini Bunda, Vidya lagi nonton acara komedi gitu. Perut Vidya sampai sakit ketawa mulu." Ucap Vidya yang masih tertawa.


Astrid ikut tersenyum senang melihat Vidya tertawa bahagia seperti itu, hatinya terasa senang melihat Vidya bisa kembali tertawa seperti sebelumnya.


"Permisi Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu dengan Nyonya Astrid." Ucap seorang pelayan menunduk sopan di depan Astrid.


"Oke bilang padanya untuk masuk, dan tunggu sebentar. Saya akan segera kesana." Pelayan itu pun mengangguk patuh, lalu melengang pergi.


Astrid kembali menatap Vidya yang masih tertawa melihat acara komedi di televisi yang tadi ia bilang.


Dengan dua kali teguk susu di dalam gelas itu pun tandas di minum oleh Vidya.


"Anak pinter, kalau gitu nonton lagi gih Tv nya ya, Bunda ada urusan sebentar."


"Oke Bunda sayang." Ucap Vidya sambil mengacungkan ibu jarinya, Astrid terkekeh melihat tingkah Vidya. Lalu setelah itu ia pergi meninggalkan Vidya sendiri yang masih asyik menonton televisi.


"Duh kok aku jadi kepengen makan cilok ya?" Tanya Vidya sambil mengusap-usap perutnya.


"Aku pesen lewat internet aja deh hehe." Ucap Vidya yang menggambil gawai, berniat memesan cilok secara online.


"Cilok sama cimol nih kayanya enak, terus apa lagi ya? Ah iya aku mau beli jus alpukat juga." Ucap Vidya, jarinya lihai bergerak di atas layar gawainya.


Setelah selesai memesan Vidya kembali menonton televisi, sambil memakan salad buah yang memang di sediakan Astrid untuk cemilan Vidya.


Lumayan lama Vidya menunggu akhirnya ia mendapat notifikasi kalau makananya sudah sampai.


Vidya langsung bangkit dari duduknya, ia begitu antusias membayangkan di mulut betapa kenyal dan nikmatnya dua makanan yang terbuat dari olahan sagu itu.


"Mau kemana nak?" Tanya Astrid saat melihat sosok Vidya.


Vidya menghentikan langkahnya, ia tidak tau jika Astrid sedang kedatangan tamu, untung saja kedua tamu Astrid tidak menoleh padanya.

__ADS_1


"Aku mau ambil pesanan makanan di depan Bunda." Ucap Vidya pada Astrid di balas ulasan senyum oleh Astrid.


"Hati-hati jangan lari-lari nak, inget kamu lagi hamil loh." Ucap Astrid memperingati membuat Vidya menunjukkan cengirannya dan mengucapkan kata maaf.


Lalu Vidya pun melangkahkan kakinya hendak menuju pintu depan dan untuk menuju pintu depan ia harus melewati ruang tamu.


Vidya pun berhasil melewati ruang tamu, kini ia sedang melakukan transaksi pembayaran dengan kurir pengantar makanan itu.


Vidya sangat senang menatap cilok, cimol, serta jus alpukat yang kini sudah berada di dalam genggamannya.


Vidya segera bergegas masuk, ia sangat tidak sabar untuk memakan semuanya.


Namun saat Vidya sudah menginjakkan kakinya di ruang tamu, tubuh Vidya menegang di tempat ketika melihat sosok pria yang kini sedang berbicara dengan Astrid.


Vidya memundurkan langkahnya, ia mengeleng tak percaya bahkan air mata sudah menetes di pipinya.


"Iya anak saya itu memang sedang hamil, sama seperti istri kamu itu." Ucap Astrid sambil menatap perempuan yang ada di samping pria itu.


Brakk


Astrid menolehkan kepalanya saat mendengar suara seperti benda atau sesuatu yang terjatuh.


"Vidya!" Pekik Astrid yang langsung berdiri, lalu segera berlari menghampiri Vidya yang sudah tak sadarkan diri.


"Sayang bangun nak, Vidya! Anto cepat bantu saya bawa Vidya ke kamarnya!" Panggil Astrid, lalu tak lama seorang berbadan besar datang menghampiri Astrid dan melaksanakan perintah Astrid.


Astrid begitu cemas, ia menatap ke arah kedua tamunya itu.


"Maafkan saya nak Arya, saya rasa untuk kesepakatan perusahaan kita bisa di laksanakan lain waktu. Saya tidak bisa fokus, saya harus menolong anak saya dulu. Sekali lagi saya minta maaf, Permisi dan selamat malam." Ucap Astrid lalu melengang pergi meninggalkan tamunya yang masih terdiam mencerna semuanya.


Tamu Astrid itu tidak lain dan tidak bukan adalah Arya.


Arya hanya bisa diam, ia mencoba memahami semuanya. Ingatannya kembali teringat pada wajah pucat Vidya yang tadi tergeletak di lantai, Arya yakin gadis itu pasti pingsan karna melihat kehadirannya.


"Arya! Kamu gk apa-apa?" Tanya perempuan di samping Arya membuat Arya kembali tersadar.


"I...itu tadi Vidya?" Tanya Arya pada Siren yang juga sedang berusaha mencerna semuanya.


"Kayanya begitu, tapi ngapain perempuan itu ada di rumah ini?" Tanya Siren pada Arya, ia juga tidak menyangka kenapa Vidya bisa berada di dalam rumah pemilik Patma group.


Seketika rasa takut mulai menyeruak dalam hatinya, ia menatap Arya yang masih terdiam.


Siren mengelengkan kepalanya, ia tidak siap jika harus kehilangan Arya apalagi Arya baru saja tau jika Vidya sedang hamil, membuat Siren semakin dilanda kekhawatiran yang teramat sangat. Ia begitu takut kehilangan Arya.


Nggak! Arya gk boleh pergi, Arya gk boleh tau kalau anak yang di kandung Vidya itu adalah anaknya. Kalau sampai Arya tau dia gk akan segan-segan pergi meninggalkan gue, dan gue belum siap kehilangan Arya. Gue harus lakukan sesuatu.-Batin Siren penuh dendam.

__ADS_1


__ADS_2