
Setelah Rayn kembali, kehidupan rumah tangga mereka semakin bahagia. Rayn dan Keira juga semakin dekat, keduanya sudah tak terlalu canggung seperti sebelumnya.
Rayn dan Keira menjalankan peran mereka sebagai sosok orangtua untuk Keira, putri mereka yang kini sudah semakin bertumbuh dan aktif.
Seperti saat ini, keduanya sedang makan bakso di luar bersama sekalian mengajak Keira main ke taman bermain tidak jauh dari rumah mereka.
"Jangan makan yang pedes-pedes, nanti perut kamu sakit," tegur Rayn saat Kayla hendak menyendok sambal ke dalam mangkuk baksonya.
"Sesendok doang kok gk banyak," kata Keira mulai ngeyel.
"Nggak, nanti perut kamu sakit lagi kaya kemarin malam," larang Rayn yang tak ingin Keira sakit nantinya.
"Ya udah setengah sendok deh, boleh ya? Hayuk atuh boleh kan?" Bujuk Keira sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Mata kamu kenapa? Cacingan? Apa kelilipan?"
Keira mencebik sebal karna gagal merayu suaminya itu, terpaksa Keira menurut untuk tidak memakan bakso dengan sambal padahal keduanya jika disatukan akan menjadi santapan yang begitu klop dan membayangkannya saja sudah membuat Keira ngiler.
Tatapan mata Keira menajam ke arah Rayn, ia merasa sebal pada Rayn yang melarangnya makan pedas hanya karna takut maghnya kambuh seperti kemarin malam.
Akhirnya dengan perasaan tidak sepenuhnya senang, Keira menyantap baksonya dengan cepat ingin cepat-cepat pulang entah kenapa ia kesal melihat wajah Rayn.
Setelah selesai menyantap bakso bersama, ketiganya pun kembali ke mobil mereka untuk segera pulang ke rumah.
Di dalam mobil Keira masih diam saja, dan setiap Rayn bicara padanya Keira tak menyahut dan hanya fokus mengajak bicara Hana saja.
Rayn sadar bahwa Keira ngambek gara-gara perihal sambel tadi, Rayn tak habis fikir kenapa para perempuan sikapnya selalu tak dapat ditebak contohnya adalah Keira ini, yany tiba-tiba marah padahal Rayn menasihatinya karna Rayn tidak mau Keira sakit lagi.
"Kei, kamu marah sama saya karna masalah sambal tadi ya?" Tanya Rayn memberanikan diri membuka obrolan.
"Menurut lo," sahut Keira jutek membuat Rayn mengatupkan bibirnya dan berfikir apakah ia harus bicara lagi? Atau diam saja dan cari aman? Tapi jika ia tidak bicara lagi pada Keira bisa-bisa masalah diantara mereka jadi makin rumit.
"Saya minta maaf ya Keira," ucap Rayn yang akhirnya memilih mengalah saja daripada Keira makin ngambek bisa repot nantinya.
Keira hanya berdehem singkat saja lalu kembali fokus pada Hana lagi, Rayn menghela nafas ia tak nyaman ada disituasi seperti ini.
__ADS_1
"Iya, gue udah maafin lo. Maaf ya gue terlalu kekanak-kanakkan gk tau kenapa hari ini gue lagi sensi banget," kata Keira lagi sambil menoleh dan tersenyum pada Rayn.
Rayn yang mendengar itu ikut menoleh ke Keira dan tersenyum juga, sebelah tangan Rayn refleks mengusap kepala Keira lembut membuat Keira membeku ditempatnya.
"Terimakasih ya," kata Rayn sambil tersenyum, senyuman yang membuat jantung Keira tak aman.
"A ... apaan sih, udah ayo pulang," sahut Keira sambil menepis tangan Rayn yang ada di atas kepalanya karna kalau terlalu lama Keira yakin tak akan aman untuk kesehatan jantungnya.
Rayn mengangguk, lalu mulai fokus menyetir mobil dan mereka bertiga pun pulang ke rumah.
Saat sampai di rumah Rayn mendapatkan telpon dari Mamahnya, Rayn berdecak lalu pamit pada Keira untuk mengangkat telpon di luar dan Keira mengangguk mengiyakan saja.
"Halo ada apa Mah?" Tanya Rayn membuka percakapan.
"Bagaimana? Apa Keira sudah hamil anak kamu?"
Rayn berdecak, lagi-lagi Mamahnya menanyakan hal itu. Rayn sangat benci sekali mendengarnya, apa dikira Mamahnya membuat bayi segampang membuat adonan kue, di campur terigu, telur, dan air akan langsung jadi? Rayn tentu saja butuh waktu lagipula dirinya dan Keira belum sedekat itu untuk melakukan hubungan lebih jauh.
"Belum Mah," jawab Rayn pada akhirnya setelah menimbang harus menjawab apa akhirnya ia memilih lebih baik jujur saja.
"Ck, tidak becus kamu! Saya cuma meminta kamu menghamilinya, jangan-jangan kamu belum pernah berhubungan dengan dia? Hah?!"
"Be ... belum, Saya hanya ... takut saja," jawab Rayn kelewat jujur.
"Ck, stupid! Cuma untuk urusan itu kamu takut? Giliran disuruh membunuh saja kamu tidak takut.
Saya tidak mau tau kamu harus segera menghamili Keira, jika tidak perempuan jalangmu itu akan habis oleh suruhan saya."
Mendengar ancaman tersebut Rayn membulatkan matanya, ia lupa dengan hal itu. Mamahnya adalah orang yang licik, dan Rayn tahu jika ia tidak menghamili Keira konsekuensinya adalah ia harus kehilangan Nayya, perempuan yang selalu menjadi sumber kebahagiaannya sejak dulu.
"Jangan! Oke ... saya akan melakukannya malam ini! Saya akan usahakan Keira bisa segera hamil, tapi saya mohon jangan sakiti Nayya lagi, dia sudah cukup menderita."
"Baik, jalangmu itu tidak akan selamat dan akan habis ditangan saya! Camkan itu jika kamu berani-beraninya mengulur waktu dengan saya!"
Lalu sambungan telpon pun berakhir, Rayn menghela nafas pelan. Telalu sibuk dengan dunianya saat ini ia sampai melupakan Nayya, perempuan itu pasti merasa sangat ketakutan di sana. Nayya sudah cukup menderita, Rayn akan menepati janjinya untuk memberikan Nayya kebahagiaan karna sejak kecil hidup Nayya tak pernah bahagia.
__ADS_1
"Rayn?!" Panggilan dari Keira membuat Rayn tersentak dari lamunannya.
"Lo kenapa bengong diluar? Gue kira lo habis kena hipnotis online."
"Tidak, saya tidak apa-apa," sahut Rayn sambil menatap Keira yang berdiri di sebelahnya.
"Ya udah ayo masuk, dicariin Hana tuh," ucap Keira dan dibalas anggukkan oleh Rayn.
Lalu keduanya masuk ke dalam rumah, Keira masuk lebih dulu dan berlari menghampiri Hana yang sedang duduk di karpet dengan mainannya.
Rayn tak langsung menghampiri keduanya, ia berdiri agak jauh sambil menatap Keira dan Hana yang sedang bermain bersama.
"Maafkan saya Keira, tapi saya harus lakukan ini," ujar Rayn bermonolog disertai rasa bersalah di dadanya padahal ia belum melakukan apa yang ada difikirannya namun Rayn tau setelah ia melakukan itu Keira pasti akan membenci dirinya.
....
"Hana sudah tidur?" Tanya Rayn yang baru saja datang menghampiri Keira yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Iya udah kok, baru aja," jawab Keira sambil tersenyum dan dibalas anggukkan oleh Rayn. Rayn kemudian menyerahkan segelas sirup yang telah ia bawa pada Keira.
"Ini buat kamu, tadi saya buatkan," ucap Rayn pada Keira yang menatap bingung uluran sirup darinya.
"Oke, makasih ya tau aja gue lagi haus hehe," sahut Keira lalu meminum sirup tersebut sampai kandas membuat Rayn terkejut. Ia kira Keira tidak akan meminumnya sampai habis hanya dalam sekali tegakkan saja.
"Keira, kamu minum semuanya sekaligus?" Tanya Rayn kaget dan dibalas anggukkan kepala oleh Keira.
"Iya gue haus soalnya, eh btw kok kepala gue pusing ya? Aduh kok lo ada dua sih? Lo pake jurusa bayangannya naruto ya? Haduh ini kok sakit sih ... arggggg."
Lalu akhirnya Keira benar-benar hilang kesadaran, Rayn menghela nafas lega karna rencananya berhasil. Sebelumnya Keira tidak tahu jika sirup yang Keira minum tadi sudah Rayn beri obat tidur.
Rayn kemudian menengguk gelas minumannya, yang sebenarnya bukan sirup melainkan minuman berakohol dan sedikit obat perangsang yang sengaja sudah ia siapkan untuk dirinya sendiri. Ia tak mungkin melakukan itu pada Keira dengan kondisi sepenuhnya sadar karna ia yakin pasti dirinya tak akan tega.
Sebelum minuman yang ia minum bereaksi, Rayn segera mengendong Keira ke kamarnya lalu menaruh tubuh Keira di atas ranjang.
Rayn menghela nafasnya, ia merasa sudah mulai pusing sepertinya obatnya sudah mulai bekerja. Rayn kemudian dengan cekatan membuka semua kancing bajunya dan berakhir hanya menyisakan celana panjangnya saja yang masih melekat di tubuh.
__ADS_1
Kemudian udara disekitar Rayn mendadak panas, Rayn rasa sepertinya obat perangsang sudah mulai bekerja.
Sehingga setelahnya akal sehat Rayn kalah dengan nafsunya, Rayn mulai menciumi Keira dengan penuh ***** dan tujuan yang Rayn rencanakan akan ia tuntaskan malam ini, setelah ini Rayn tidak tahu jika ia akan menerima penyesalan yang teramat dalam atas apa yang akan ia lakukan malam ini terhadap Keira.