Without You

Without You
Stuck With You (Gama Story)


__ADS_3

Rayn menghentikan laju mobilnya, rupanya kedatangannya sudah di sambut oleh dua orang yang merupakan partner kerjanya pagi ini.


Rayn memang berbohong pada Keira, bahkan kemejanya tadi sudah ia ganti dengan stelan serba hitam yang merupakan gaya khas Rayn saat ingin melaksanakan pekerjaannya.


"Apakah target sudah dekat?" tanya Rayn setelah turun dari mobil dan berjalan menghampiri dua orang rekan kerjanya.


"Sudah semakin mendekat bos," sahut partner Rayn yang berkepala pelontos itu.


"Bagus, awasi terus gerak gerim mereka," kata Rayn dan di angguki oleh kedua orang rekannya.


Pengintaian mereka pun berlanjut, hingga akhirnya terlihat seorang pria berjas hitam keluar dari sebuah rumah yang terbilang cukup mewah. Rayn tersenyum miring, ia yakin pria itu pasti habis bermalam di rumah istri simpanannya, karna begitulah yang Rayn dapatkan mengenai identitas pria itu yang merupakan targetnya pagi ini.


"Jangan biarkan burung itu lepas," ucap Rayn penuh penekanan. Lalu ia menggambil pistol yang telah ia sembunyikan di dalam saku jaketnya.


"Berpencar ke posisi masing-masing," suruh Rayn pada dua rekannya. Mereka pun menurut, lalu keduanya berpencar menjauh dari Rayn ke posisi mereka masing-masing.


Rayn melirik ke arah dua rekannya yang juga sama-sama sedang bersembunyi, ia memberikan aba-aba melalui tatapan dan gerakkan jari tangannya, lalu tak lama kemudian ....


Dor!


Dor!


Dor!


Lalu tak lama kemudian pria berjas tadi tumbang setelah di tembak dari tiga arah berbeda sekaligus, ketiga peluru itu satu yang berhasil mengenai kepala belakangnya, satu lagi mengenai dadanya, dan yang terakhir berhasil mengenai kepala bagian dahinya dan berhasil melubangi kepala pria itu.


Rayn pun menatap puas ketika melihat darah segar yang mengucur dari tubuh pria berjas itu, dan ia juga puas karna hasil tembakkannya yang tepat sasaran dan tak pernah melesat sedikitpun.


"Misi selesai," ucap Rayn sambil tersenyum miring.


Lalu Rayn memerintahkan kedua rekannya untuk segera pergi dari tempat tersebut, dan saat Rayn menjalankan mobilnya serta sudah berada tidak terlalu jauh dari tempat kejadian tadi berlangsung ia masih bisa mendengar teriakkan histeris, yang Rayn duga berasal dari istri simpanan pria yang menjadi targetnya itu.


Rayn tak perduli ia kembali melajukan mobilnya begitupun dengan kedua rekannya yang sudah menyusul di belakang Rayn dengan menggunakan motor.


Target pertamanya sudah berhasil ia habisi, kini ia hendak menuju ke targetnya yang kedua yaitu seorang bandar narkoba yang merupakan musuh dari kliennya.


"Melesat bagai angin," gumam Rayn lalu menaikkan kecepatan kendaraannya saat ia sudah memasuki jalan raya yang lumayan lengang, Rayn kembali memasang wajah datarnya, ia siap untuk kembali menghabisi nyawa target keduanya pagi ini.


......


"Alhamdulillah Kei baik-baik saja Bunda," kata Keira pada Bundanya yang saat ini sedang berbincang dengan dirinya melalui telpon.

__ADS_1


Tok tok tok


"Bunda, sudah dulu ya nanti Keira telpon lagi ya. Iya Bunda, Wa'alaikumussalam Bun," ucap Keira yang kemudian mengakhiri panggilannya.


Keira berjalan ke arah pintu kamar yang tadi baru saja di ketuk oleh seseorang dari luar.


Cklek


"Mamah ... ayo silahkan masuk Mah," ucap Keira sopan saat ia mendapat bahwa Mamah mertuanyalah yang tadi mengetuk pintu kamarnya.


"Tidak perlu, Mamah hanya ingin bertanya. Apakah suami kamu sudah berangkat?" tanya Mamahnya Rayn.


"Iya Mah, Rayn sudah berangkat sedaritadi," jawab Keira sambil menyungingkan senyuman ramahnya berbanding terbalik dengan ekspresi wajah Mamah mertuanya yang terlihat datar dan jauh dari kesan ramah.


"Oh, oke." setelah itu tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi, Mamah Rayn pun langsung melengang pergi meninggalkan Keira yang tercengang dengan sikap mertuanya itu.


"Astagfiruallah, kayanya gue emang harus ekstra sabar deh mulai sekarang," gumam Keira sambil mengelus dadanya.


Setelah itu ia kembali menutup pintu kamar, lalu kembali melanjutkan merapihkan barang-barangnya yang tinggal sedikit lagi setelah itu selesai sudah pekerjaan Keira menyusun barang-barang yang ia bawa.


"Alhamdulillah selesai juga," ujar Keira sambil tersenyum lega.


Kruyuk...


Setelahnya gadis itu benar-benar bangkit dari duduknya, ia berjalan ke luar dari kamar, ia akan ke lantai bawah untuk menyantap sarapan karna perutnya sudah terasa lapar.


Saat Keira sudah berada di lantai bawah, ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Rumah ini terasa sangat sepi dan hanya ada beberapa pelayan di rumah ini yang memang sedang melakukan pekerjaan mereka masing-masing.


"Ibu," panggil Keira pada Bi Ijah yang kebetulan lewat di depannya.


"Aduh Nona muda, jangan panggil saya Ibu. Panggil saja Bi Ijah," kata Bi Ijah yang merasa tak enak jika Keira memanggil dirinya dengan sebutan Ibu.


"Ya udah deh Bi Ijah," ujar Keira meralat panggilannya pada Bi Ijah.


"Iya ada apa ya Nona muda memanggil Bi Ijah?"


"Keira mau tanya Bi, yang lainnya pada ke mana ya Bi?" tanya Keira yang memang merasa rumah ini begitu sepi.


"Oh, ini sih udah biasa Non. Kalau tuan muda memang sering pergi setiap hari minggu pagi, sedangkan Nyonya juga pergi untuk bekerja," jelas Bi Ijah menjawab kebingungan Keira.


"Oh, oke makasih banyak ya Bi," kata Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Bi Ijah, lalu Bi Ijah pun pamit ingin kembali ke dapur dan sebelum itu ia juga menyuruh Keira untuk segera ke meja makan saja karna sarapan untuknya sudah di siapkan di sana.

__ADS_1


Keira pun akhirnya berjalan ke arah meja makan yang lumayan panjang, yang Keira yakinin muat untuk 5-8 orang, namun sepertinya untuk seorang diri terasa sangat sepi sekali.


Keira menghela nafasnya perlahan, ia sebenarnya tidak terbiasa sarapan seorang diri seperti ini. Karna biasanya saat ia di rumahnya dulu, Keira selalu sarapan bersama keluarganya setiap hari minggu pagi.


Namun Keira harus terbiasa mandiri di sini, semuanya sudah tak lagi sama. Ia harus membiasakan dirinya di tempat baru ini.


Keira menyendokkan nasi goreng ke piring, lalu menggambil beberapa lauk untuk pelengkap nasi gorengnya pagi ini. Setelah itu Keira menyantapnya dalam hening, namun tak terasa air matanya kembali menetes di pipi.


"Keira kangen kalian ...." lirih Keira yang kembali teringat akan Abi, Bundanya, dan juga kakak-kakaknya.


Dengan sesegukkan Keira kembali menyuapkan nasi ke mulutnya, sambil terus berusaha menyemangati dirinya dan berusaha untuk menghibur dirinya, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


......


Waktu berlalu begitu cepat, fajar sudah berganti senja, dan senja sudah berganti malam.


Rayn baru saja selesai melaksanakan tugas terakhirnya hari ini, ia meregangkan kedua tangannya yang terasa pegal. Tugas terakhirnya lumayan berat, karna tadi ia harus bermain kejar-kejaran dengan targetnya yang ternyata sudah tau perihal ke datangannya, namun bukan Rayn namanya kalau tak bisa menyelesaikannya dengan tuntas dan berhasil dengan kemenangan oleh pihaknya.


"Saya pulang, kalian juga beristirahatlah tugas kita besok akan lebih berat," kata Rayn pada kedua rekannya.


"Siap bos, kalau begitu hati-hati bos," kata salah satu rekan Rayn yang memiliki kumis tebal itu.


Rayn tak menjawab, ia masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya. Ia sangat lelah hari ini dan sangat butuh beristirahat.


Namun tiba-tiba saja di tengah perjalanan ponsel Rayn berbunyi, ia pun segera menggambilnya dan ternyata ada panggilan masuk.


Panggilan dari Naya, tentu saja Rayn langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, ada apa Naya?" tanya Rayn mengawali pembicaraan.


Belum ada sahutan dari sebrang sana, namun suara deru nafas Naya yang terengah-engah dapat terdengar oleh Rayn.


"Apa yang terjadi Naya? Katakan sesuatu!" desak Rayn yang khawatir pada gadis yang menelponnya saat ini.


"Rayn ... hoshh ... tolong aku ...." lirih Naya dengan suara nya yang terbata-bata dan juga nafasnya yang tersendat-sendat.


"Naya kamu dimana? Aku akan segera ke sana! Tunggu aku Naya," kata Rayn yang mempercepat laju mobilnya.


"Rayn aku ... aku sudah kirimkan lokasiku padamu ... mereka ... hiks ... mereka mau menyakitiku Rayn ... selamatkan aku, aku sangat takut ...." lirih Naya dan tentu saja mendengar bahwa gadis itu hendak di sakiti, Rayn kembali menambah laju kecepatan mobilnya.


Tutttt

__ADS_1


"Naya? Halo? Naya?! Arggg sial!" umpat Rayn lalu membanting ponselnya dashboard mobil, Rayn kembali fokus menyetir, ia harus segera sampai menemui Naya. Gadis itu membutuhkan pertolongannya saat ini.


"Tunggu aku Naya...."


__ADS_2