
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Happy Reading!
-
-
-
-
Suara dentuman keras terdengar memekakkan telinga, suasana pun terdengar riuh dengan teriakan orang-orang yang mulai terdengar nyaring.
Samar-samar Vidya mendengar suara teriakkan penuh histeris memasuki gendang telinganya, tangan Vidya bergetar dan meraba ke arah permukaan perutnya.
Tengorokkan Vidya terasa tercekat, badannya terasa sakit semua bahkan pandangannya juga berputar dan memburam.
Namun Vidya masih mengingat semuanya, mengingat bagaimana mobil itu menabrak tubuhnya hingga akhirnya dirinya terjatuh seperti ini. Vidya meneteskan air matanya, susah payah ia berusaha untuk mengeluarkan suara namun tak bisa sama sekali.
"Tolong! Vidya bertahanlah!"
Setengah sadar Vidya melihat keberadaan Arya yang saat ini sedang berada di dekatnya dan sedang mengenggam tangan Vidya dengan begitu erat.
Arya menangis melihat kondisi Vidya yang bersimbah darah, bahkan pelipis Vidya pun juga ikut berdarah.
Arya memangku kepala Vidya, meminta Vidya untuk tetap terjaga sampai mobil ambulance datang menolong. Nafas Vidya sudah tersendat-sendat, gadis itu menaruh telapak tangan Arya di atas perutnya.
"Lo mau bicara sesuatu?" Tanya Arya yang lebih mendekatkan dirinya ke arah Vidya.
"S ... selamatkan ba ... yi ku," ucap Vidya terbata-bata namun dapat di pahami oleh Arya.
Arya menganggukkan kepalanya, tangannya masih setia mengenggam tangan Vidya dengan erat. Mata Vidya perlahan hendak tertutup namun Arya terus berusaha membuat Vidya tetap terjaga.
Sampai suara sirine ambulance pun akhirnya terdengar, lalu kemudian datanglah para petugas ambulance itu yang mengangkat Vidya ke dalam mobil ambulance dengan menggunakan tandu.
Arya juga ikut masuk ke dalam, dan di dalam mobil ambulance petugas medis segera memasangkan selang oksigen untuk mempermudah Vidya dalam bernafas, Arya masih setia berada di sisi Vidya dengan jari jemari yang masih menganggam tangan Vidya dengan erat dan terus membisikkan kata-kata yang menyemangati Vidya untuk tetap bertahan sampai di rumah sakit nanti.
Namun sepertinya Vidya sudah mulai tidak kuat, matanya kadang tertutup dan kemudian terbuka lagi, terus-menerus secara berulang-ulang.
__ADS_1
Mobil ambulance pun akhirnya sampai di rumah sakit, para petugas segera memindahkan Vidya ke atas brankar dan segera membawanya.
Namun belum sampai di ruangan, Vidya sudah menutup matanya dan tak sadarkan diri.
Arya yang melihat mata Vidya sudah terpejam pun seketika kepanikan semakin melanda dirinya, Arya berulang kali memanggil nama Vidya dan memohon padanya untuk kembali membuka mata namun Vidya hanya diam dengan mata yang masih terpejam.
"Harap tunggu di sini saja, kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien."
Arya pun hanya bisa mengangguk lemah, pada akhirnya yang bisa Arya lakulan hanyalah menunggu penuh cemas di luar ruangan. Arya menangis dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, ia tidak bisa duduk dengan tenang, Fikirannya terasa sangat kalut saat ini.
Akhirnya Arya pun memutuskan untuk memberitahukan keadaan Vidya pada Siren.
Siren yang mendengar kabar bahwa Vidya menggalami kecelakaan pun langsung menangis dan tentu saja merasa sangat terkejut mendengarnya, lalu setelah itu Siren pun langsung menghubungi Astrid dan menyampaikan kabar yang Arya berikan padanya.
Astrid juga sama terkejutnya seperti Siren saat mendengar kabar tersebut, bahkan setelah mendengar kabar kalau Vidya menggalami kecelakaan dan saat ini sedang berada di rumah sakit. Astrid dan dokter Adnan pun segera bergegas ke rumah sakit tempat Vidya berada saat ini.
[]
Suasana pun semakin terasa menegangkan, Arya sudah tidak sendirian karna kini sudah ada Astrid dan suaminya, bahkan Siren pun ada di sana saat ini.
"Dimana Vidya? Dimana putriku?! Dimana dia?!"
"Anakku ..." lirih Abi Vidya, yang kini matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Kriett
Lalu tatapan semua orang pun beralih ke arah pintu ruangan yang saat ini sudah terbuka dan menampilkan sosok dokter yang menangani Vidya.
"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Arya yang langsung maju menghampiri dokter tersebut.
Wajah dokter itu terlihat tertunduk lesu, membuat kekhawatiran semua orang yang ada di sana semakin menjadi.
"Kondisinya memburuk."
Perkataan dokter tersebut membuat semua orang yang ada di sana langsung tertunduk sedih.
"Kami harus segera menggambil tindakkan, kecelakaan ini membuat kami harus terpaksa mengeluarkan bayi yang ada di dalam perutnya karna jika tidak Ibu dan bayinya bisa dalam keadaan bahaya," jelas dokter tersebut.
Arya mengusap wajahnya kasar, matanya sudah memerah dan sembab karna menangis. Jujur ia sangat tak berdaya saat ini.
__ADS_1
"Kami akan melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi dari dalam perut pasien," ucap dokter tersebut yang melanjutkan perkataannya.
"Lakukanlah jika itu baik untuk anak dan cucu saya Dokter, tolong selamatkan keduanya." Ujar Abi Vidya yang sudah menangis sedaritadi.
Doker tersebut terlihat menghela nafasnya lagi, raut wajahnya menyiratkan keraguan. Dokter Anam yang memang merupakan seorang dokter pun dapat menangkap raut wajah kekhawatiran dari wajah dokter itu.
"Apa ada masalah?" Tanya dokter Anam membuat dokter yang menangani Vidya itu mengangkat kepalanya.
"Operasi bisa di lakukan tetapi saya tidak yakin bisa menyelamatkan keduanya, karna mengingat kondisi pasien yang mengalami pendarahan sangat banyak membuat kondisinya saat ini sangat kritis."
Arya menenegang di tempatnya, ketika mendengar bahwa kondisi Vidya saat ini sedang menggalami krisis. Arya terdiam dengan pandangan kosong namun tak bisa menampik bahwa pria itu sangat amat terluka saat ini.
"Selamatkan mereka! Selamatkan keduanya!" Ucap Arya yang tiba-tiba saja bangkit dari duduknya dan mencengkram jas dokter tersebut dengan kencang.
"Arya, tenangkan dirimu!" Ujar dokter Anam yang berusaha melepaskan tangan Arya yang mencengkram kuat jas dokter itu.
"Bagaimana bisa tenang?! Di dalam sana orang yang saya cintai dan anak saya sedang dalam bahaya! Bagaimana saya bisa tenang saat ini?!" Teriak Arya dengan penuh emosional.
Dokter Anam mengaanggukkan kepalanya, ia sangat paham apa yang di rasakan oleh Arya saat ini dan pasti sangat berat bagi pria itu.
Tubuh Arya langsung luruh ke lantai, tangisannya kembali terdengar. Saat ini Arya berada dalam titik terapuhnya, Arya hanya bisa pasrah dan tidak tau harus melakukan apa untuk bisa membantu Vidya yang saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Lakukanlah operasi dokter, selamatkan keduanya." Ucap dokter Anam lagi, lalu di balas anggukkan kepala oleh dokter tersebut.
"Kenapa? Kenapa ini semua terjadi pada Vidya?" Tanya Arya di sela-sela isak tangisnya.
"Karna Vidya orang yang kuat, yakinlah dia pasti bisa melewati ini semua. Kamu tidak perlu merasa bersalah, apa yang terjadi sama Vidya hari ini adalah murni kecelakaan," jelas dokter Anam yang berusaha menenangkan Arya yang nampak kalut.
Arya menghela nafasnya kasar, tangannya bergerak mengacak-acak rambutnya dan alhasil rambut nya pun menjadi berantakkan.
Siren menatap penampilan Arya yang nampak memperihatinkan, sedaritadi yang bisa Siren lakukan hanyalah berdoa untuk keselamatan Vidya dan juga bayinya.
Siren tidak akan siap jika harus melihat Arya hancur lagi, pria itu memang selalu berpura-pura tegar padahal pria itu sangatlah rapuh jika menyangkut perihal orang yang di cintainya.
Siren berjalan ke arah Arya lalu mengelus rambut Arya dengan lembut.
Arya pun menolehkan wajahnya ke arah Siren.
"Vidya dan anakku pasti selamatkan? Mereka pasti akan selamatkan?" Tanya Arya lirih penuh harap, Siren hanya menganggukkan kepalanya karna tak sanggup untuk berbicara jadi yang ia lakukan hanyalah ikut larut dalam kesedihan Arya.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana terlihat begitu khawatir, mereka sangat ketakutan. Yang bisa mereka lakukan adalah berdoa pada Allah agar Vidya dan bayinya bisa selamat.