
Seminggu sudah berlalu akhirnya Rayn diperbolehkan untuk pulang ke rumah hari ini, Rayn senang sekali rasanya setelah seminggu sudah beristirahat ia akhirnya bisa menghirup udara segar juga.
"Kenapa? Ada yang aneh sama saya?" Tanya Rayn yang bingung pada Keira yang sedaritadi terus menatap ke arahnya.
"Nggak gue kaget aja, ternyata lo bisa senyum juga ya walaupun senyumnya minimalis gitu," jawab Keira membuat Rayn membulatkan matanya mendengar perkataan Keira barusan.
Setelah itu tak ada lagi percakapan di dalam mobil ini antara Keira dan juga Rayn, keduanya tampak diam saja.
Keira yang sedaritadi melihat ke arah luar tiba-tiba saya merasa ngantuk melanda, akhirnya perlahan mata Keira terpejam dan Rayn belum menyadari hal itu.
Sampai pada saat mobil taksi yang mereka tumpangi itu melewati polisi tidur dan membuat mobil begejolak bahkan kepala Keira hampir terpantuk pada kaca jika saja Rayn tak langsung menangkap kepala wanita yang sudah jadi istrinya itu.
Rayn menghela nafasnya, lalu membawa kepala Keira pada pangkuannya dan meluruskan kaki gadis itu. Ajaibnya Keira tak juga terbangun, namun hal itu membuat Rayn tersenyum senang apalagi saat ini ia bisa memandangi wajah cantik Keira yang sedang terlelap.
Wajah Keira terlihat begitu letih, mungkin karna selama seminggu ini ia selalu bolak balik dan menginap di rumah sakit untuk menemani Rayn kadang juga pulang ke rumah untuk mengurus Hana padahal sebenarnya di rumah sudah ada Mbok Tarmi orang yang Keira mintai tolong menjaga Hana saat Keira tak sedang di rumah.
Tangan Rayn perlahan bergelak membelai lembut wajah Keira, gadis itu masih nyaman terlelap dalam alam mimpi. Rayn iseng mencubit hidung mancung Keira, tidak kencang hanya pelan namun gadis itu masih pula terlelap.
Rayn terkekeh ia jadi ingat perkataan Keanu, Kakak Keira dulu yang mengatakan bahwa Keira kalau sudah kecapean pasti akan tidur sangat pulas bahkan kadang Kakaknya itu sering menjuluki Keira dengan kebo karna kerjaannya tidur terus alarm bunyi mah lewat.
"Mana ada kebo cantik gini," kata Rayn pelan lalu tersenyum menatap wajah Keira dan tangannya bergerak untuk mengelus kepala Keira yang ada dalam pangkuannya.
"Tidurlah, terimakasih sudah mau merawat saya Keira," ucap Rayn pelan lalu menunduk mencium kening Keira singkat namun Rayn tak tahu dampak bagi detak jantung Keira saat ini seperti apa.
Sebenarnya saat Rayn bilang Kebo cantik, Keira sudah mulai terganggu dan saat ia hendak membuka matanya tiba-tiba saja Rayn mencium keningnya alhasil karna tidak mau ketahuan kalau ia sudah bangun Keira tetap memejamkan mata meskipun sulit tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap pura-pura tidur.
Ckittt
"Mas kita sudah sampai," ujar supir taksi yang sudah menghentikan mobilnya di depan rumah Rayn.
"Ah iya, ini pak uangnya. Terimakasih," kata Rayn sambil menyerahkan uang pada supir taksi.
"Ayo pak biar saya bantu ngeluarin barang dari bagasi," tutur supir taksi dan di balas anggukkan kepala oleh Rayn.
Rayn lalu menatap Keira yang masih tertidur, Rayn tak tega membangunkan Keira akhirnya ia pun memutuskan untuk bersiap mengendong gadis itu.
"Stop!"
"Aduh," pekik Rayn saat kepalanya terasa sakit karna terpentok atap mobil taksi, kaget karena tiba-tiba saja Keira menghentikan niatnya yang ingin mengendong gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Lo mau ngapain? Minggir! Gu ... gue bisa turun sendiri!" Setelah mengatakan hal itu Keira turun dari taksi sementara Rayn hanya mengelengkan kepala melihat tingkah Keira.
__ADS_1
"Terimakasih Pak," kata supir taksi yang sudah membantu dirinya mengeluarkan barang dari bagasi.
Setelah itu taksi itupun pergi kini hanya ada Keira dan Rayn yang masih sama-sama diam.
"Mau ngapain?" Tanya Rayn saat melihat Keira melintas di depannya sambil menenteng tas ransel.
"Mau nyuci baju, ya lo gk liat gue mau taro tas isi baju ini ke dalem? Hah?" Tanya Keira dengan suara agak judes khasnya bukannya tersinggung Rayn hanya tersenyum tipis, entah mengapa wajah judes dan wajah marah-warahnya Keira itu mengemaskan.
"Biar saya aja yang bawa-"
"Stt udah gue aja yang bawa, lo dengerin aja di sini baik-baik lagian jaitan luka di punggung lo juga belum terlalu sembuh," ucap Keira yang memotong perkataan Rayn.
Rayn akhirnya pasrah saja, karena Keira memaksa jadi apa boleh buat Rayn terima-terima saja.
"Assalamualaikum Mbok Tarmi, Keira pulang," ucap Keira yang mengucapkan salam pada Mbok Tarmi yang sedang mengendong Hana.
"Waalaikumsalam Non, Alhamdulillah Non sudah pulang. Kebetulan Mbok mau izin pulang cepat karena suami Bibi ngajakkin Bibi pergi ada acara keluarga Non," ucap Mbok Tarmi, Keira mengangguk dan mengizinkan Mbok Tarmi untuk pulang ke rumah tak lupa ia juga mengucapkan terimakasih pada Mbok Tarmi karna sudah mau merawat Hana dengan baik selama dia berada di rumah sakit.
"Lo mau naik ke lantai atas?" Tanya Keira pada Rayn yang sedang mendudukkan diri di sofa ruang tamu.
"Iya saya mau di sini dulu," jawab Rayn.
"Oke deh." Setelah mengatakan itu Keira berjalan menuju kamarnya untuk mengecek Hana.
"Masyaa Allah sayang, putri Umi yang cantik dan sholehah sudah bangun ternyata," kata Keira sambil menimang nimang Hana sesekali menciumi wajah mungil Hana karna gemas sekali.
Setelah itu Keira membawa Hana ke ruang tamu, ia duduk di sebrang Rayn yang rupanya masih duduk di sana.
"Loh udah bangun?" Tanya Rayn sambil melihat ke arah Hana yang ada di dalam dekapan Keira.
"Iya dia baru aja bangun," jawab Keira sambil tersenyum manis pada Hana yang ada di gendongannya.
"Boleh saya gendong?"
"Gk boleh, luka lo masih belum sembuh. Hana biar gue aja yang gendong," jawab Keira membuat Rayn menganggukkan kepalanya. Lalu Keira duduk mendekat ke arah Rayn bersama dengan Hana yang masih dalam gendongannya.
"Nah Hana sayang, silahkan say Assalamualailkum sama Appa," kata Keira sambil mengerakkan tangan mungil Hana.
"Assalamualaikum Appa," kata Keira lagi sambil menirukan suara anak-anak seolah olah yang sedang bicara adalah Hana.
Rayn tersenyum mendengar dan melihat tingkah Keira yang mengemaskan itu.
__ADS_1
"Loh kok gk di jawab salamnya?" Tanya Keira membuat senyuman Rayn perlahan pudar.
"Saya mau istirahat ke kamar dulu," kata Rayn pamit pada Keira dan Keira hanya menganggukkan kepalanya saja lalu kembali bermain bersama Hana.
Drttttt
Suara getaran handphone di saku baju Rayn membuat pergerakkan Rayn yang baru saja ingin masuk ke dalam kamar ia urungkan, Rayn mengerenyit melihat telpon dari nomor tak dikenal.
Rayn menimbang-nimbang sejenak namun akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.
"Halo, ini siapa?" Tanya Rayn memulai pembicaraan.
"Halo? Halo? Rayn! Tolong aku Rayn ... hiks."
Rayn membelalakkan matanya mendengar suara yang memang sangat familiar di telinganya, itu adalah suara Naya yang sedang menangis meminta pertolongan.
"Naya? Kamu dimana sekarang? Aku akan segera ke sana Nay," kata Rayn panik.
"Hiks ... aku ada di tempat biasa kita ketemu, aku harap kamu bisa segera datang karena mereka akan-"
Tut tut tut
Sambungan telpon dari Naya pun terputus membuat Rayn semakin dilanda kekhawatiran.
"Sial! Apa lagi yang mereka lakukan sama Naya?" Gerutu Rayn, tak ingin ambil pusing Rayn segera masuk ke dalam kamar menggambil jaketnya lalu turun kembali ke lantai bawah.
"Loh? Rayn mau kemana?" Tanya Keira yang memang masih ada di ruang tamu.
"Saya harus pergi," jawab Rayn yang berlari cepat menuju ke garasi untuk menggambil mobil.
"Pergi? Kemana? Lo gk boleh pergi dulu, Luka lo masih belum sembuh dan lo masih harus istirahat," kata Keira yang berusaha menghalangi kepergian Rayn.
"Menyingkirlah dari sana Keira," perintah Rayn pada Keira yang berdiri di depan pintu mobil berusaha menghadang Rayn untuk pergi.
"Nggak, lo gk boleh pergi. Kata dokter luka lo-"
"Saya bilang minggir!" Bentak Rayn yang seketika dapat membuat bibir Keira terkatup rapat.
"Jangan pernah perdulikan saya, karna saya tidak butuh keperdulianmu itu. Menyingkirlah," titah Rayn lagi membuat Keira yang masih terkejut mendapatkan bentakkan seperti itu dari Rayn pun menuruti perkataan Rayn untuk menyingkir.
Setelah Keira menyingkir dari depan pintu mobil, Rayn segera masuk dan menjalankan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah.
__ADS_1
Keira hanya bisa diam terpaku menatap kepergian Rayn, entah kenapa di bentak seperti tadi oleh Rayn membuat sesuatu di sudut hati Keira terasa terusik.
Entahlah Keira pun tak tau namun rasanya ... seperti ia ingin menangis, Keira berdecak pelan ketika air matanya turun. Ia tidak tau kenapa perasaannya jadi lembek macam yupi begini hanya karna dibentak oleh Rayn apakah itu karna dirinya sedang datang bulan hari ini yang menyebabkan moodnya naik turun seperti ini, entahlah Keira tak tahu.