Without You

Without You
45. Kekecewaan Arya


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Vidya begitu ketakutan, saat Siren mulai berjalan mendekat ke arahnya.


Vidya berusaha keras mendorong Siren yang hendak mencekik lehernya, sedaritadi Siren terus berteriak, membuat Vidya semakin ketakutan.


Bukkk


Vidya berhasil mendorong Siren, hingga gadis itu terjerembab ke tembok dan mengaduh kesakitan.


Saat Siren sedang mengaduh kesakitan karna punggung nya baru saja menabrak tembok, Vidya segera memanfaatkan kejadian itu untuk bisa lari dan keluar dari kamar itu.


"Jangan lari lo Vidya!" Teriak Siren yang dengan susah payah berusaha bangkit dan mengejar Vidya yang sudah lebih dulu berlari keluar dari kamar.


Vidya terus berlari ia tidak perduli dengan teriakkan Siren yang terus menyuruh dirinya untuk berhenti.


Dalam hati, Vidya tak henti-hentinya berdoa pada Allah agar ia dan bayinya selalu dalam lindungan Allah.


Vidya berlari ketakutan, ia menatap anak tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai dasar.


Vidya bergegas turun namun karna terlalu terburu-buru ia sampai tersandung namun untungnya ia tidak apa-apa, hanya saja kakinya terasa tergilir dan sulit untuk dirinya bisa berdiri lagi.


"Hiks...Ya Allah sakit banget...hiks." Vidya menangis menahan sakit di kakinya.


Berulang kali ia mencoba berdiri, ketika mendengar suara Siren yang sudah mulai mendekat namun Vidya kesulitan untuk berdiri karna kakinya terasa begitu nyeri.


"Hiks...maafin Ummah ya sayang, maaf..." lirih Vidya meminta maaf pada anak yang ada di dalam kandungannya itu.


"Mau kemana lo? Hah? Lo fikir lo bisa lari dari gue? Gk akan semudah itu." Ucap Siren yang kini sudah berjalan ke arah Vidya.


Vidya mengelengkan kepalanya, ia memohon pada Siren agar tidak menyakiti dirinya.


Namun Siren tidak mengubris, ia langsung menarik bahu Vidya untuk berdiri.


Vidya meringis saat merasakan nyeri yang begitu hebat di kakinya ketika Siren memaksa dirinya untuk berdiri.


Siren tertawa melihat Vidya kesakita, kilatan amarah di mata Siren begitu terlihat dan sangat menakutkan membuat Vidya semakin takut.


Siren kembali mengarahkan tangannya untuk mencekik leher Vidya.


"Uhuk...uhuk..le...lepasin." ucap Vidya dengan susah payah karna Siren sedang mencekik lehernya.


Kedua tangan Vidya berusaha melepaskan cengkraman tangan Siren di lehernya, dengan susah payah dan dengan sekuat tenaganya.


Di saat Vidya sedang berusaha melepaskan cengkraman tangan Siren di lehernya, sesuatu yang tidak pernah Vidya duga pun terjadi.


"Aaaaaa." Pekik Siren saat ia terpeleset di salah satu anak tangga dan akhirnya Siren pun jatuh mengelinding hingga ke bawah.

__ADS_1


Vidya membulatkan matanya ketika ia melihat Siren sudah tergeletak di bawah dan darah juga mulai mengalir di sekitar Siren.


"Siren!" Pekik Vidya tubuhnya terasa sangat lemas ketika melihat darah tersebut.


Vidya mengelengkan kepalanya, ia begitu takut sesuatu yang buruk akan menimpa Siren.


"Vidya gue pul- Siren!"


Vidya begitu terkejut saat ia melihat kehadiran Arya yang secara tiba-tiba itu.


Arya langsung menghampiri Siren yang tergeletak di bawah tak sadarkan diri.


"Siren! Siren bangun! Siren!" Arya menepuk nepuk pipi Siren namun gadis itu enggam membuka matanya.


"Da...darah." Arya berucap lemas ketika ia melihat darah mengalir dari kaki Siren.


Vidya yang sedaritadi mengamati mengeleng tak percaya melihat darah tersebut mengalir di kaki Siren.


"Kenapa bisa begini?!" Tanya Arya sambil menatap Vidya yang masih diam di tempat.


Seluruh persendian Vidya mendadak lemas, ia hanya bisa menangis dan tidak bisa menjawab pertanyaan yang Arya ajukan.


Semua ini terlalu tiba-tiba bagi Vidya, bahkan Vidya juga tidak tau apa yang harus ia lakukan.


"Gue harus bawa Siren ke rumah sakit, dan untuk lo..." Arya mengantung ucapannya lalu menatap Vidya tajam, tatapan yang selama ini baru Vidya lihat lagi dari mata Arya.


"Lo harus bayar apa yang udah lo perbuat." Ucap Arya dingin, lalu ia mengendong Siren keluar dari rumah.


Sementara Vidya hanya bisa terisak, ia mengelengkan kepalanya.


Ia tidak pernah menyangka bahwa semua ini akan terjadi dan menimpa dirinya, ia tidak mendorong Siren, Siren terpeleset dan jatuh dengan sendirinya.


"Hiks...Ya Allah kuatkan hamba." Doa Vidya, ia kembali menangis, ia tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Biarlah, apapun yang terjadi nanti Vidya hanya berharap, ia bisa menerima semuanya dengan ikhlas.


[]


Sudah empat hari Arya tak pernah pulang ke rumah, kaki Vidya juga sudah tidak terasa sakit lagi namun luka di pelipisnya masih terasa nyeri.


Vidya menghela nafasnya, jujur saja setelah kejadian itu Vidya sangat mengkhawatirkan kondisi Siren.


Terlebih lagi Siren saat ini sedang mengandung, Vidya sangat takut jika terjadi apa-apa dengan kandungannya.


Vidya tak pernah lelah mendoakan Siren dan bayi yang ada di dalam kandungannya, agar sehat dan selamat.


Vidya juga mencemaskan Arya, pria itu tidak juga kunjung pulang.


Terakhir kali ia melihat Arya saat sebelum Arya mengedong Siren keluar dari rumah dan membawa gadis itu ke rumah sakit.


Vidya tidak ke rumah sakit karna ia tidak mau kehadirannya hanya akan memperburuk suasana di sana, jadi Vidya memilih untuk tetap di rumah saja, mendoakan kesembuhan Siren dari jauh.


"Arya! Kamu udah pulang? Gimana keadaan Siren?" Tanya Vidya ketika Arya baru saja sampai di rumah.


Vidya menatap Arya lekat namun Arya tidak menatap Vidya barang sedikitpun.


Pria itu hanya berjalan dan naik ke atas tangga, menuju ke kamarnya.


Vidya menghela nafasnya, lalu kembali tersenyum, ia harus bersabar mungkin Arya sedang lelah saja jadi pria itu mengacuhkan dirinya.


Vidya menunggu Arya turun dengan sabar, dan tak lama Vidya kembali melihat pria itu menuruni anak tangga satu persatu.

__ADS_1


"Arya! Gimana keadaan Siren? Siren dan bayinya baik-baik aja kan?" Tanya Vidya lagi ia terus mengikuti Arya yang melangkah melewatinya.


"Arya gimana-"


"Diem! Lo bisa diem gk?!"


Vidya mengatupkan mulutnya, ketika Arya membentak dirinya dan menatap tajam ke arahnya.


"Gue jijik liat muka lo ini, lo gk malu? Udah hampir membunuh orang tapi masih nunjukkin muka lo di depan gue?! Lo tuh harusnya malu, karna lo udah hampir membunuh Siren!"


Mata Vidya mulai berkaca-kaca, ia menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Arya barusan.


"Nggak! Aku gk pernah ada niatan barang sedikitpun untuk menyakiti atau melukai, bahkan untuk membunuh Siren. Aku gk sejahat yang kamu bilang tadi, percaya sama Aku Arya, aku gk pernah mau menyakiti atau melukai Siren dan bayinya."


Vidya sampai berlutut di hadapan Arya, ia sudah menangis, ia berharap Arya percaya pada apa yang ia ucapkan barusan.


"Hiks...bukan aku yang mau menyakiti Siren, tapi Siren yang bahkan sebelumnya mau menyakiti aku...hiks...dia hampir membunuh ku Arya, percayalah padaku....hiks." 


Vidya sudah memegang kedua kaki Arya, ia memohon Agar kali ini Arya mau mempercayainya.


Prok prok prok


"Wah hebat juga lo ya! Setelah berusaha mau membunuh adik gue, lo malah nyalahin adik gue yang bahkan saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit. Lo tuh emang wanita munafik!"


Vidya mengelengakan kepalanya, ketika mendengar ucapan Tiran yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Arya...hiks...kamu percaya sama aku kan?" Tanya Vidya, kepalanya mendongak menatap wajah Arya yang bahkan terlihat enggan menatapnya.


"Arya..." panggil Vidya lagi dengan suara bergetar.


"Minggir!" Arya menendang Vidya, hingga gadis itu terdorong ke belakang, membuatnya meringis kesakitan saat perut nya mengenai kaki meja yang ada di ruang tengah.


"Gue gk percaya sama apa yang lo bilang barusan." Ucap Arya seraya menatap Vidya tajam dan begitu menghujam.


"Gue ternyata salah,gue kira lo udah berubah gk kaya dulu lagi. Tapi ternyata lo tetap Vidya yang sama, yang gk tau di untung." Arya menghentikan ucapannya ia menatap wajah Vidya.


Vidya bisa melihat dengan jelas, di mata Arya terlihat sekali kalau pria itu sangat kecewa padanya.


"Gue nyesel, karna sudah jatuh cinta sama perempuan kaya lo."


Jleb


Vidya mengelengkan kepalanya, dadanya terasa sangat sesak ketika Arya berbicara seperti itu padanya.


Pria itu terlihat sangat kecewa bahkan dia bilang dia sangat menyesal telah jatuh cinta pada Vidya.


"Mulai besok gue mau lo pergi dari sini, setelah Siren keluar dari rumah sakit. Gue bakalan urus perceraian kita." Ucap Arya setelah itu ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah, tidak perduli pada teriakan Vidya yang terus memohon agar Arya percaya pada dirinya.


Sementara Tiran, dia mengulas senyuman kemenangannya pada Vidya, lalu setelah itu ia ikut melangkah keluar menyusul Arya.


Vidya menangis tergugu, ia merasa perutnya begitu nyeri namun ada yang lebih menyakitkan dari itu.


Yaitu perasannya yang sudah hancur berkeping-keping.


Hari ini suaminya telah kehilangan kepercayaan pada dirinya, dan terlebih lagi pria itu bahkan mengugat cerai dirinya.


Vidya menangis, tangisannya terdengar memilukan. Ia merasa sakit namun ia tidak tau harus bagaimana, saat ini yang ia tau adalah pernikahannya dan Arya akan benar-benar berakhir.


Mimpi buruk yang tidak pernah ia ingin kan, kini benar-benar akan menjadi kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2