Without You

Without You
37. Keanehan Vidya


__ADS_3

Masih pake sudut pandang penulis/ Author POV.


Happy Reading!


-


-


-


-


-


"Arya." Vidya memanggil Arya yang sedang duduk, dan  tengah menatap layar gawainya.


"Kenapa?" Tanya Arya menolehkan kepalanya pada Vidya.


"Saya harus panggil kamu apa?" Arya mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan aneh Vidya.


"Kenapa lo nanya gitu? Aneh banget." Vidya menghela nafasnya.


Arya memang tak pernah berubah, ia masih sama dengan mulut judes bin nyebelinnya.


"Kata Umi kalau manggil suami dengan sebutan nama itu gk sopan, jadi saya harus panggil kamu apa?" Tanya Vidya mengulangi pertanyaannya lagi.


"Terserah lo aja." Ucap Arya yang tak mau ambil pusing, ia justru kembali memainkan gawainya.


Vidya terdiam, ia memikirkan nama apa yang pas untuk panggilan dirinya pada Arya.


"Mas." Vidya mencoba memanggil Arya, namun Arya masih tidak menoleh.


"Massss." kali ini Vidya mempertinggi nada panggilannya namun Arya masih diam.


"Mas Arya!" Akhirnya Vidya semakin meninggikan nada panggilannya, membuat Arya langsung menolehkan kepalanya seketika.


"Lo manggil siapa? Gue?" Tanya Arya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya atuh, emang kamu kira aku manggil siapa dari tadi?"


"Lo manggil gue mas?" Tanya Arya, yang berhasil membuat wajah Vidya memerah karna malu, ia juga baru sadar tadi dia baru saja memanggil nama Arya dengan embel-embel 'Mas'.


"Eh? Ng...nggak!"


"Yeh nggak nya biasa aja, gk usah ngegas." Ujar Arya membuat Vidya menghela nafasnya.


Akhirnya Vidya diam tidak bersuara lagi, sementara Arya? Dia diam-diam melirik Vidya yang sudah tidak mengoceh lagi.


"Mau kemana?" Tanya Vidya saat melihat Arya bangkit dari duduknya.


"Mau ke kamar." Jawab Arya, Vidya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Vidya." Vidya pun menoleh ketika Arya memanggil namanya.

__ADS_1


"Gue suka lo manggil gue mas." Setelah mengatakan itu Arya benar-benar pergi ke kamarnya, meninggalkan Vidya yang diam mematung dan muka yang memerah.


"Aduhhh Vidyaa malu banget Ya Allah." Ujar Vidya yang langsung menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya yang ia gunakan untuk menutupi muka nya.


[]


Sore ini Arya mengajak Vidya pergi ke supermarket untuk belanja bulanan, membeli bahan makanan atau keperluan di rumah mereka yang kebetulan sudah habis.


Arya mendorong troli, sementara Vidya berjalan di samping Arya.


"Eh? Mau ngapain?" Tanya Vidya kaget karna tiba-tiba Arya menggambil tangannya dan menautkan jari di sela-sela jari Vidya.


"Biar lo gk ilang, kalau ilang nanti gue yang repot nyarinya." Ujar Arya, dan Vidya hanya menurut saja.


"Lo mau beli itu gk?" Tanya Arya saat dirinya dan Vidya sudah berada di deretan rak yang berisikan pembalut untuk wanita.


Wajah Vidya langsung memerah seketika.


"Lo mau beli pembalut gk?" Tanya Arya lagi karna Vidya tak kunjung menjawab.


"Eh mau ngapain?" Tanya Vidya, namun Arya hanya diam sambil bergerak menggambilkan dua bungkus pembalut dan menyodorkannya ke arah Vidya.


"Mau yang ada sayapnya biar bisa terbang atau yang nggak?" Tanya Arya dengan wajah jahilnya, membuat Vidya semakin malu.


"Aku ambil yang ini!" Ujar Vidya yang menggambil pembalut yang ada sayapnya.


"Oke, biar lo bisa terbang ya? Hahaha." Ledek Arya lagi sambil tertawa puas melihat wajah Vidya yang memerah karna malu.


Setelah itu mereka berdua kembali berjalan ke deretan rak sayuran dan buah-buahan.


"Aku maunya kurma." Ujar Vidya yang sibuk mencari-cari buah kurma.


"Ih kok gk ada buah kurma ya?" Tanya Vidya pada dirinya sendiri yang masih mencari-cari buah kurma.


"Ya gk ada lah, ini kan bukan bulan puasa. Lagian aneh-aneh aja lo mah mintanya buah kurma." Vidya tidak memperdulikan ucapan Arya ia masih mencari buah kurma tersebut.


"Ya udah ayo lanjut." Ucap Vidya yang wajahnya nampak lesu karna ia tidak menemukan buah kurma yang ia mau.


"Lo gk ambil buah yang lain aja?" Tanya Arya, namun Vidya mengelengkan kepalanya pertanda tidak mau, karna ia sudab terlanjur menginginkan buah kurma.


Akhirnya sesi belanja bulanan pun sudah selesai, kini Vidya dan Arya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terlebih dahulu, karna Arya ingin memeriksa kondisi kakinya yang sudah mulai tidak terasa sakit lagi.


Sesampainya di rumah sakit, Vidya dan Arya langsung menemui dokter Syahdan- yang merupakan dokter yang menangani Arya selama ini.


"Alhamdulillah Arya, kaki kamu sudah sepenuhnya sembuh tapi kamu masih harus berhati-hati ya, jaga kesehatan kamu." Ujar dokter Syahdan menyampaikan hasil pemeriksaannya.


"Jadi saya gk perlu pakai tongkat lagi dok?" Tanya Arya dan di balas anggukkan oleh dokter Syahdan.


"Alhamdulillah." Ujar Vidya yang turut senang sama seperti Arya yang senang tidak harus jalan pakai bantuan tongkat lagi dan itu artinya dia juga sudah bisa membawa mobil miliknya sendiri seperti sebelumnya.


"Terimakasih banyak dokter." Ucap Vidya dan Arya.


Lalu setelah itu mereka pun mesan taksi untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Di perjalanan menuju rumah, Vidya dan Arya terjebak macet.


"Arya." Vidya memanggil Arya yang sedang memainkan gawainya.


"Kenapa?" Tanya Arya yang masih fokus pada layar gawainya.


"Aku mau beli buah belimbing." Ucap Vidya membuat Arya mengalihkan tatapannya dari layar gawainya.


"Belimbing? Kok tiba-tiba gini sih?" Tanya Arya yang tak mengerti dengan permintaan tiba-tiba Vidya.


"Aku juga gk tau, tapi kepengen banget belimbing." Rengek Vidya, sementara Arya sudah menghela nafasnya gusar.


"Bang tau tempat yang jual buah belimbing gk bang?" Tanya Arya pada supir taksi yang mereka tumpangi.


"Buah belimbing? Buat siapa mas kalau boleh tau?" Tanya si abang supir taksi tersebut.


"Ini istri saya mau buah belimbing." Ujar Arya memberitahu.


"Tau dong mas, kebetulan dulu istri saya juga sama kaya istri mas ini, ngidamnya belimbing." Ujar si supir taksi tersebut.


Arya terdiam, lalu menoleh pada Vidya yang juga sedang menatap Arya.


"Nggak bang, istri saya gk lagi ngidam." Ucap Arya, sang supir taksi tersebut pun mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


Berbeda dengan Arya yang terlihat biasa, sementara itu Vidya jadi terdiam mendengar perkataan supir taksi tersebut.


Apa benar ia mau makan belimbing karna ngidam? Masa iya sih? Kan Vidya lagi gk hamil?  Tapi aneh juga, kenapa tiba-tiba ia sangat menginginkan buah belimbing? Ah mungkin ini cuma keinginan biasa, ia mungkin begitu. Hibur Vidya untuk menenangkan hatinya.


"Nah itu tukang yang jual buah belimbingnya mas, ayo saya antar." Ucap supir taksi tersebut yang turun dari dalam mobil, begitupun dengan Arya dan Vidya.


"Lo mau yang mana?" Tanya Arya pada Vidya yang terlihat sedang menelisik buah belimbing tersebut.


"Ada buah belimbing yang muda gk pak?" Tanya Vidya pada penjual belimbing tersebut.


Arya sontak langsung menolehkan kepalanya menatap ke arah Vidya dengan tatapan terkejut.


"Belimbing muda? Ada nih mba." Ujar sang penjual buah belimbing, alhasil membuat wajah Vidya sumringah senang.


Setelah selesai membeli buah belimbing. Vidya, Arya, serta supir taksi tersebut pun segera kembali masuk ke dalam taksi.


"Udah seneng lo?" Tanya Arya pada Vidya yang mengangguk dengan wajah bahagia.


[]


"Ini pak, makasih banyak ya udah mau nganterin saya ke tempat yang jual belimbing." Ujar Arya sambil menyerahkan uang pada supir taksi tersebut.


"Mas saya mau bilang sesuatu." Ucap supir taksi tersebut.


"Mau bilang apa pak?" Tanya Arya penasaran.


"Kayanya istri bapak lagi hamil deh, soalnya tingkahnya sama persis kaya istri saya pas dia lagi ngidam dulu." Ucap supir taksi tersebut membuat Arya terdiam dan berfikir.


Apa iya Vidya sedang hamil? Ah masa iya? Padahal Arya tidak pernah menyentuh Vidya lebih? Ini aneh bukan? Pasti yang di ucapkan supir taksi tersebut tidaklah benar, begitulah fikir Arya.

__ADS_1


"Arya." Panggil Vidya membuat Arya tersadar dari fikirannya.


"Ayo masuk, kenapa malah diam di situ?" Tanya Vidya, Arya pun menganggukkan kepalanya lalu ikut menyusul Vidya yang sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah mereka.


__ADS_2