
Siang ini karna merasa suntuk di rumah Vidya memilih untuk melangkahkan kakinya ke luar sekedar untuk mencari udara segar karna tidak ingin terus menerus teringat akan Arya.
Vidya memilih untuk pergi ke kafe yang letaknya tak jauh dari rumah Uminya, di sana tempatnya lumayan nyaman dan cocok juga bagi Vidya yang ingin menenangkan fikirannya yang ruwet.
"Coklat hangat nya satu ya," ucap Vidya memasang minuman yang memang menjadi kesukaannya sejak lama.
Sambil menunggu pesanannya tiba, Vidya mengeluarkan buku novel dari dalam tasnya, ia mulai larut dalam novel yang saat ini sedang ia baca.
"Ini Kak pesanannya," ujar seorang pelayan kafe yang baru saja mengantarkan pesanan Vidya.
"Terimakasih," ucap Vidya ramah dan setelahnya pelayan itu pun undur diri.
Sepeninggalan pelayan kafe itu, Vidya kembali melanjutkan membaca novelnya yang tadi sempat tertunda.
"Vidya?"
Vidya mengangkat kepala saat namanya di panggil oleh seseorang, mata Vidya membulat saat tau siapa orang yang kini berdiri di dekat mejanya.
"Benar Vidya kan?" Tanya orang itu lagi membuat Vidya gelagapan.
"I ... iya, siapa ya?" Tanya Vidya pura-pura tidak tau.
"Kamu lupa sama saya? Saya Barga," ucap orang tersebut yang tak lain adalah Barga.
Vidya sebenarnya memang tau orang yang berdiri tak jauh dari mejanya ini adalah Barga, namun Vidya hanya takut salah sebut saja tadi.
"Maaf ya, saya agak lupa," ucap Vidya sambil meringis tak enak pada Barga.
Barga menarik sudut bibirnya, tersenyum pada Vidya.
"Gk apa-apa kok, wajar kan udah lama gk ketemu," ucap Barga yang memaklumi jika Vidya lupa padanya.
"Saya boleh ikut duduk di sini gk?" Tanya Barga sambil menunjuk bangku kosong di hadapan Vidya.
"Iya silahkan aja," jawab Vidya mempersilahkan.
Barga mengucapkan terimakasih setelah itu ia mulai mendudukan dirinya, berhadapan dengan Vidya.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Barga yang kembali memulia obrolan.
"Alhamdulillah baik," jawab Vidya sambil menyungingkan senyuman tipisnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku tadi agak pangling sama kamu. Udah lama gk ketemu kamu agak beda," ucap Barga lagi.
"Karna gk pake cadar lagi kan?" Tebak Vidya dan di balas anggukkan kepala oleh Barga.
"Kamu ke sini sendiri?" Tanya Barga lagi.
Vidya tak langsung menjawab ia lebih memilih menyesap coklat hangatnya terlebih dahulu.
"Iya, memang selalu sendiri," jawab Vidya sambil tersenyum tipis.
"Gimana kabar keluarga kamu? Abi? Umi? Gimana kabar nya?"
"Alhamdulillah, Abi dan Umi juga sehat," ucap Vidya yang menimpali setiap pertanyaan yang Barga ajukan.
"Kamu sendiri gimana kabarnya?" Tanya Vidya yang berinisiatif bertanya karna ia juga merasa tak enak jika Barga terus yang bertanya sedaritadi.
"Alhamdulillah baik kok," jawab Barga di iringi senyuman simpul.
"Gimana? Masih jomblo atau udah nikah?" Tanya Vidya yang niatnya ingin mengajak bercanda Barga.
"Masih sendiri sampai sekarang setelah kamu nolak lamaran saya waktu itu."
Senyuman di wajah Vidya luntur seketika, Vidya kembali teringat lagi kejadian di masa lalunya. Kejadian di mana ia menolak Barga hanya untuk Arya yang padahal sudah jelas akan selalu menorehkan luka di hatinya.
Vidya tak menjawab ia memilih untuk menundukkan kepalanya seraya tersenyum sendu.
"Lagi ada masalah?" Tanya Barga yang pandai membaca raut wajah Vidya.
"Setiap orang pasti punya masalah," ucap Vidya lagi dengan senyuman sendu yang masih terlukis di bibir ranumnya.
"Kalau kamu ada masalah, aku siap jadi pendengar yang baik kok," ucap Barga lagi membuat Vidya mengangkat kepala dan menatap Barga yang sedang tersenyum meyakinkan padanya.
"Terimakasih tapi aku bisa mengatasi ini sendiri," ucap Vidya lagi lalu kembali menyesap coklat hangatnya.
"Masalah itu jangan di pendam sendiri, justru semakin membuat kamu sesak," ucap Barga lagi membuat Vidya menganggukkan kepala.
"Terimakasih atas sarannya," ujar Vidya lagi.
"Iya, sama-sama," balas Barga dengan senyuman yang selalu ada di wajahnya.
Lalu keduanya saling diam, sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Vidya dan Barga tidak tau sebenarnya ada sepasang mata yang sedaritadi menatap mereka dengan tatapan tak percaya dari tempatnya duduk saat ini.
"Ummah? Di ... dia beneran Ummah?" Tanya si pemilik sepasang mata yang sedaritadi memperhatikan sosok Vidya dan Barga dari kejauhan.
Pemilik sepasang mata yang memperhatikan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Reilla, gadis itu sedaritadi menatap nanar kedekatan Barga dan Vidya. Sebenarnya yang menjadi pertanyaan dalam benak gadis muda itu adalah apakah benar perempuan yang ia lihat saat ini adalah Ummahnya? Walaupun Reilla menyangkalnya namun ia semakin di buat penasaran akan sosok perempuan yang begitu mirip dengan sosok Ummahnya yang selalu ia lihat hanya dari fotonya saja.
"Rei? Udah selesai?"
Reilla tersentak saat mendengae suara rendah yang berasal dari sosok Ayahnya, Reilla gelagapan lalu mencoba memasang senyumannya.
"Iya sudah, Rei duluan ke mobil ya Yah," pamit Reilla dan Arya hanya menganggukkan kepalanya.
Ia harus membayar tagihan biaya makanannya dan Reilla dulu baru setelah itu ia akan menyusul Reilla nanti.
Namun saat Arya hendak bangkit dari duduknya, manik matanya tidak sengaja menatap seseorang yang kenali sedang duduk di pojok kafe.
Arya menyipitkan matanya berusaha melihat lebih jelas sosok itu, mata Arya melebar saat ia mengenali sosok yang duduk di pojok kafe itu, sosok itu tak lain adalah Vidya, orang yang selalu saja mengantui dirinya selama 15 tahun ini.
Namun ada yang aneh sepertinya, lalu tatapan Arya beralih pada sosok seorang pria yang kini duduk berhadapan dengan Vidya. Keduanya tampak akrab sekali, dan sedang asyik berbincang antar satu sama lain membuat sesuatu di sudut hati Arya terasa memanas tatkala melihat pemandangan di hadapannya ini.
Apalagi saat ia melihat Vidya tersenyum dan tertawa bersama dengan pria di hadapannya, demi apapun Arya sangat ingin mencakar wajah pria yang kini duduk di hadapan Vidya. Bisa-bisanya Vidya tertawa dengan pria lain padahal hati Arya selalu ambyar karnanya.
Arya melihat pria itu dan juga Vidya bangkit dari duduk mereka, keduanya terlihat mampir ke kasir terlebih dahulu baru setelah itu keduanya ke luar dari dalam kafe secara beriringan.
"Siapa tuh cowok?" Tanya Arya pada dirinya sendiri.
Arya berdecak kesal, mendadak dia jadi emosi begini melihat Vidya dekat dengan cowok selain dirinya.
Karna tak mau kehilangan jejak, Arya pun segera menbayar tagihan makannya di kasir setelah itu Arya segera berjalan ke luar ia masuk ke dalam mobil yang di dalamnya sudah ada Reilla yang sedang duduk manis.
Vidya terlihat masuk ke dalam mobil cowok itu sambil tersenyum karna cowok itu membukakan pintu mobilnya untuk Vidya, setelah Vidya masuk barulah cowok itu ikut masuk juga.
Mobil yang di masuki oleh Vidya dan cowok tak Arya kenali itu mulai melaju, Arya tak mau hilang jejak akhirnya ia pun memilih untuk membuntuti mereka.
"Kita mau kemana sih Yah? Kan arah rumah kita ke sana," tanya Reilla yang bingung kenapa Ayahnya malah belok ke kiri padahal arah pulang menuju ke rumah mereka seharusnya belok ke arah kanan.
"Ayah ada urusan penting," jawab Arya yang masih fokus mengemudi mobil.
Reilla hanya diam dan menurut saja lalu ia kembali fokus memainkan gadgetnya.
Arya mempercepat laju mobilnya karna sudah lumayan tertinggal jauh dari mobil yang sedang ia buntuti.
__ADS_1
Arya berdecak saat melihat lampu lalu lintas berwarna merah saat ia hendak mengejar mobil di depannya yang sudah lebih dulu melaju sebelum lampu merah menyalah, Arya mendengus sebal ia kehilangan mobil yang ia buntuti itu artinya Arya juga kehilangan sosok Vidya yang pergi bersama dengan seorang laki-laki yang tidak Arya kenal hal itu tentu saja membuat Arya jadi uring-uringan seperti sekarang ini. Sementara Reilla hanya menatap bingung pada sang Ayah yang memasang muka seperti baru saja memergoki kekasihnya selingkuh dengan pria lain.