
Waktu istirahat pun tiba, semua anak-anak berhamburan keluar kelas begitupun dengan Shafa alias Vidya yang juga sudah melengang keluar dari kelas.
"Bu Shafa, tunggu!"
Shafa pun menghentikan langkahnya ia membalikkan badan, raut wajahnya terkejut namun kembali memasang senyuman di balik cadarnya hingga membuat matanya terlihat menyipit.
"Ada apa Rei?" Tanya Shafa saat Reilla sudah berada di hadapannya.
"Bu Rei boleh tanya sesuatu sama Ibu?" Tanya Reilla lagi.
"Boleh, mau nanya apa?" Tanya Vidya yang bingung dengan apa yang akan putrinya itu tanyakan.
"Tentang materi yang Ibu sampaikan tadi, kata Ibu perempuan yang sudah baligh itu harus menutup auratnya kan?" Tanya Reilla seraya mengaruk tenguknya.
"Iya betul sekali, perempuan yang sudah baligh memang harus menutup auratnya. Itu kewajiban kita sebagai perempuan," jelas Shafa dengan lembut.
"Ibu Shafa, Rei mau menutup aurat juga kaya Bu Shafa," ujar Reilla membuat Shafa kaget dengan ucapannya tersebut.
Vidya menyungingkan senyumannya mendengar ucapan Reilla, ia ikut senang karna putrinya itu mau belajar menutup auratnya.
"Masyaallah, Alhamdulillah. Bagus kalau gitu Rei," ujar Shafa alias Vidya menyampaikan kegembirannya.
"Tapi Ibu Shafa, Rei gk tau harus mulai darimana."
"Tenang Rei, Ibu pasti akan membantumu," ujar Shafa yang matanya sampai menyipit karna tersenyum.
"Terimakasih Ibu!" Seru Reilla seraya memeluk Shafa.
Shafa yang di peluk secara tiba-tiba oleh Reilla pun seketika terkejut, Reilla memeluknya hal itu membuat tangan Shafa sampai bergetar untuk membalas pelukkan dari putrinya itu.
"Jadi seperti ini rasanya memeluk putriku sendiri?"-batin Vidya sendu.
Vidya bahkan sampai meneteskan air matanya tatkala memeluk Reilla seperti sekarang ini.
"Terimakasih Ibu, kalau begitu Rei mau ke kantin dulu ya. Pulang sekolah nanti Rei akan menemui Ibu lagi," ujar Reilla yang pamit lalu pergi bersama teman-temannya, meninggalkan Shafa yang menatap kepergian Reilla dengan penuh haru.
[]
Shafa belum pulang, padahal bel pulang sekolah dan jam mengajarnya telah usai. Alasan Shafa belum pulang ke rumah adalah Reilla yang katanya ingin menemui dirinya.
Namun sedaritadi Shafa tidak melihat keberadaan Reilla, padahal Shafa sudah menunggunya tidak terlalu jauh dari gerbang agar bisa terlihat oleh Reilla.
__ADS_1
"Mamah!"
Suara itu? Itu adalah suara Reilla, Shafa pun segera membalikkan badannya dengan senyuman bahagia namun senyumannya luntur tatkala Reilla berlari dan hanya melewatinya begitu saja.
Shafa menatap Reilla yang saat ini sedang bercengkrama begitu riang bersama Arya dan juga seorang perempuan yang Shafa sendiri tidak tau siapa itu.
"Mamah Syabil sama Ayah jemput Rei ya? Wah Rei seneng banget!" Seru Reilla yang memang wajahnya menyiratkan kebahagiaan.
"Syabil? Bukankah Syabil adalah nama calon tunangannya Arya?"- batin Shafa bertanya-tanya.
Shafa yakin Syabil adalah nama wanita yang akan menjadi calon tunangannya Arya tapi kenapa bisa Reilla sudah seakrab itu dengan Syabil? Bahkan Reilla memanggil Syabil dengan sebutan Mamah.
Shafa mencengkram gamisnya, rasa sesak itu kembali muncul. Seharusnya dia yang ada di antara Reilla dan Arya saat ini dan bukan Syabil. Namun takdir sudah berkata lain, mungkin dirinya memang tak pernah di takdirkan bahagia.
Shafa mengucapkan istigfar saat menyadari bahwa dirinya sudah mengeluh pada takdir Allah, seharusnya ia tidak boleh mengeluh seperti ini. Shafa kembali menyungingkan senyumannya, ia yakin Allah pasti punya cara lain untuk membuatnya bahagia.
Shafa menghela nafasnya, tatkala ia bisa melihat dengan jelas wajah Syabil yang merupakan calon tunangan Arya. Mereka bertiga terlihat seperti keluarga yang harmonis, bahkan jika di lihat-lihat paras yang Syabil miliki juga cantik dan sepertinya usia Syabil terlihat lebih muda dari dirinya.
Tak ingin merasakan sakit hati dan terus mengeluh, Shafa pun memutuskan untuk menghubungi Bram agar datang menjemputnya. Ia ingin segera pulang, agar ia bisa menenangkan fikiran dan perasaannya yang berkecamuk tidak karuan karna melihat pemandangan kebersamaan Arya, calon tunangannya, dan juga putrinya yang tampak seperti keluarga harmonis.
[]
"Akhirnya kamu datang juga Bram," ujar Shafa yang merasa lega karna Bram sudah datang menjemputnya.
"Kita mau langsung pulang kan?" Tanya Bram sebelum melajukan mobilnya.
"Nggak, aku mau kita mampir ke rumah Umiku dulu," ucap Shafa dan di balas anggukkan oleh Bram.
Bram memang sudah tau jika Shafa sudah bertemu dengan Uminya bahkan juga dengan Siren, dua orang yang ada di masalalunya itu bahkan sudah tau kalau Shafa alias Vidya masih hidup dan yang meninggal adalah kembarannya.
Sepanjang perjalanan, Shafa alias Vidya hanya menatap ke luar jendela. Ia ingin bertemu Uminya, ia ingin memeluk Uminya saat ini. Shafa merasa memerlukan sandaran, dulu biasanya saat Shafa alias Vidya sedang rapuh. Ada Uminya yang selalu menghibur dirinya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja asalkan kita selalu percaya dan yakin pada Allah maka tak akan ada yang mustahil di dunia ini.
Maka dari itu Shafa selalu yakin bahwa Allah memberikan seorang hamba ujian tidak mungkin di luar batas kemampuan hamba-Nya, Allah memberikan ujian ini pada Shafa karna Allah tau bahwa Shafa sanggup menjalani semua ujian kehidupan ini.
"Kita sudah sampai Nona," ujar Bram yang sudah menghentikan laju mobilnya.
"Kamu mau ikut masuk atau tetap di mobil saja?" Tanya Shafa sebelum keluar dari mobil.
"Saya lebih baik di mobil saja Nona," ujar Bram sopan.
Shafa pun mengangguk, ia lalu turun dari mobil lalu berjalan ke arah rumah Uminya itu.
__ADS_1
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum," ucap Shafa mengucapkan salam seraya mengetuk pintu rumah Uminya.
"Shafa?"
Pergerakkan tangan Shafa alias Vidya yang baru saja ingin kembali mengetuk pintu rumah pun terhenti tatkala ia mendengar suara rendah pria dari arah belakang memanggil namanya.
Perlahan Shafa hendak berbalik namun pintu tidak jadi karna pintu rumah yang ia ketuk sudah terbuka, menampilkan sosok Uminya yang tersenyum melihat Shafa namun ia belum menyadari keberadaan sosok yang kini berdiri tak jauh dari belakang Shafa.
"Loh? Vidya? Kamu datang?" Tanya Umi dengan wajah sumringah, namun kemudian tatapannya tak sengaja menatap ke arah belakang Shafa alias Vidya. Raut wajah cerianya seketika berubah pucat pasi tatkala melihat sosok seorang pria yang tak jauh dari tempat Arya berdiri.
"Arya?" Tanya Umi Shafa alias Vidya dengan terbata-bata lalu perlahan melirik ke arah Shafa yang juga ikut terkejut tatkala Uminya menyebutkan nama Arya.
Seketika tubuh Shafa alias Vidya pun menegang, jantungnya berdebar tak karuan. Perlahan ia membalikkan badannya yang terasa gemetar.
"A ... Arya?" Panggil Shafa alias Vidya dengan terbata-bata.
Arya membulatkan matanya, saat ia melihat sosok bercadar yang berdiri tak jauh dari tempat ia berdiri.
Bahkan barang bawaan Arya saja sampai terjatuh ke tanah karna saking kagetnya, Arya memundurkan langkahnya sambil mengelengkan kepalanya melihat sosok di hadapannya itu.
"Shafa?" Tanya Arya saat baru menyadari bahwa sosok di depannya ini adalah Shafa.
"Tapi kenapa kamu kenal dengan Uminya Vidya? Lalu Umi, kenapa Umi memanggil Shafa dengan sebutan Vidya? Kenapa kalian bisa saling kenal?" Tanya Arya secara bertubi-tubi membuat Shafa alias Vidya serta Umi menjadi gelagapan.
Arya pun seakan mulai paham apa yang sudah terjadi, namun rasanya ia masih agak kebingungan dengan semua hal yang ia hadapi saat ini.
Arya pun melangkah maju, lalu berdiri dan berhadapan langsung dengan Shafa alias Vidya.
Perlahan tangan Arya membuka cadar Shafa, membuat Shafa tersentak kaget. Nafas Arya memburu, di amatinya seluk beluk wajah Shafa dengan begitu lekat.
"Shafa katakan padaku, apa yang baru saja aku dengar dan lihat ini bohong kan?" Tanya Arya menatap dalam manik mata Shafa, membuat lidah Shafa terasa kelu.
Shafa tidak tau harus menjawab apa, bahkan untuk bicara sepatah kata pun ia tidak bisa. Shafa sebelumnya memang sudah yakin cepat atau lambat Arya pasti akan segera tau bahwa dirinya bukanlah Shafa dan ingatannya juga sudah pulih sejak lama.
"Jawab aku Shafa!" Gertak Arya dengan meninggikan suaranya membuat Shafa alias Vidya berjengit kaget.
"Nak Arya jangan seperti ini, Umi bisa jelaskan semu-"
Perkataan Umi Vidya terhenti saat Arya mengacungkan telapak tangannya, meminta Umi Vidya untuk diam.
__ADS_1
"Biar Shafa yang menjelaskan semuanya," ujar Arya yang menatap Shafa semakin tajam.
Shafa menelan salivanya, ini gawat. Shafa sudah tertangkap basah oleh Arya dan tak mungkin bisa mengelak lagi dari pria itu.