Without You

Without You
[S2] Serpihan Kenangan


__ADS_3

Setelah mengunjungi makam, Arya mengajak Shafa untuk mampir ke sebuah angkringan terlebih dahulu untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan minta di isi asupan.


Arya dan Shafa duduk berhadapan, mereka berdua hanya diam sambil menunggu makanan pesanan mereka tiba.


"Arya, seberapa penting sosok Vidya dalam hidupmu?" Tanya Shafa yang memecah keheningan di antara dirinya dan Arya.


Arya menyungingkan senyuman tipis mendengar pertanyaan Shafa barusan.


"Vidya begitu berarti bagiku, dia yang telah berhasil merubah hidupku. Dia telah membawa cahaya pada hidupku yang gelap, apa kamu mau tau Shafa? Bagaimana pertama kali kami bertemu?" Tanya Arya dan tentu saja langsung di balas anggukkan oleh Shafa yang sebenarnya adalah Vidya.


"Pertama kali aku bertemu dengan Vidya, yaitu dalam sebuah tragedi yang memilukan bahkan untuk mengingatnya saja rasanya aku tidak sanggup."


Shafa yang adalah Vidya, saat ia mendengar ucapan Arya barusan, entah mengapa ia juga kembali teringat malam kelam itu. Saat ia menggalami pelecehan yang tak mungkin ia lupakan dalam hidupnya, bahkan sampai saat ini.


"Dari sana awalnya aku mulai merasa kasihan padanya, namun rasa kasihanku berganti menjadi benci yang teramat bahkan aku sampai berjanji akan membuat dirinya menderita. Lalu tanpa di sangka, aku bertemu lagi dengan Vidya untuk yang kedua kalinya," cerita Arya yang menerawang pada masa-masa dulu saat pertemuannya kembali dengan Vidya untuk kedua kalinya.


"Aku bertemu dengan dia dalam keadaan yang begitu menegangkan, saat itu Vidya telah berhasil menyelamatkan Oma ku yang hampir saja tertabrak truk. Vidya rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan orang lain, dia begitu baik sekali namun aku tidak pernah memperdulikan hal itu karna terlalu fokus pada kesalahan yang ia lakukan dari pada kebaikan yang sudah ia berikan."


Shafa masih diam dan terus mendengarkan kelanjutan dari cerita Arya, yang membuat dirinya ikut kembali pada masa-masa dulu saat mereka pertama kali bertemu.


"Setelah itu aku tidak pernah lagi bertemu dengan Vidya, tapi siapa sangka aku kembali di pertemukan dengan Vidya dengan penampilannya yang sudah berubah drastis. Wanita itu sudah menggunakan cadar, namun aku masih bisa mengenalinya. Aneh memang padahal saat itu aku sedang dalam keadaan mabuk," ujar Arya yang menyungingkan senyuman tipis saat mengingat kembali masa pertemuannya dengan Vidya untuk ketiga kalinya.


"Aku mengodanya dan dia sangat ketakutan, aku bahkan menghina pakaiannya juga dan membuat dirinya marah hingga menamparku."


Shafa alias Vidya hanya bisa menundukkan kepalanya berusaha menahan senyumannya saat ia kembali mengingat kejadian kala itu, saat pertama kali ia menampar pipi Arya.


"Kami menikah juga karna kesalah pahaman, juga karna ancamanku padanya. Selama kami menikah, aku tak pernah membahagiakannya. Dia selalu menderita dan itu karna diriku, namun entah bagaimana kelembutan serta kesabaran yang dia miliki membuat hatiku perlahan luluh dan menjadi terpesona padanya. Namun sayang aku terlambar menyadari bahwa aku telah jatuh cinta padanya," ujar Arya yang raut wajahnya berubah sendu.


"Aku tak pernah menyesal telah di takdirkan untuk bertemu dengan Vidya, bagiku ada ataupun tidak ada Vidya. Dia akan selalu bersamaku, tak perduli walau jarak kami jauh bahkan berbeda alam sekalipun. Vidya akan selalu ada di dekatku, bersama denganku. Dia akan selalu ada dan terparti di dalam hati dan danubariku, selamanya akan tetap begitu."


Shafa yang mendengar ungkapan terakhir Arya itu sukses menjatuhkan air matanya, ia benar-benar merasa tersentuh dengan perkataan Arya yang begitu tulus dari lubuk hatinya. Pria itu bahkan matanya sampai berkaca-kaca ketika dia harus kembali mengingat kenangan bersama dengan Vidya yang tak lain adalah perempuan yang kini ada di hadapannya.


"Permisi Mas, Mbak. Ini pesanannya, silahkan di nikmati."


Seorang pelayan datang mengantarkan makanan pesanan Arya dan Shafa, membuat keduanya kembali tersadar dari kenangan masalalu.


"Kita makan dulu lalu setelah itu kita pulang," ujar Arya dan di balas anggukkan kepala oleh Shafa.


Lalu keduanya pun menikmati makan siang mereka berdua, dengan khidmat dan sibuk dengan fikiran masing-masing.

__ADS_1


.............................................


"Kita mau kemana? Bukannya kamu bilang kita mau pulang?" Tanya Shafa saat Arya mengendarai mobilnya lawan arah dari jalan menuju ke rumah Shafa.


"Aku mau ngajak kamu mampir ke suatu tempat dulu," ujar Arya yang kemudian kembali fokus menyetir.


Shafa alias Vidya hanya bisa menghela nafasnya saja, ia hanya diam dan menuruti perkataan Arya.


"Kita sudah sampai," ucap Arya yang menghentikan mobilnya.


Arya keluar lebih dulu, lalu setelah itu Arya membukakan pintu mobil untuk Shafa turun.


"Terimakasih," ujar Shafa dan di balas anggukkan kepala oleh Arya.


"Kita harus jalan kaki ke sananya, gk lama kok cuma sebentar."


Shafa hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Arya.


"Arya?"


Shafa tersentak saat Arya mengenggam tangannya, Shafa menoleh pada Arya yang saat ini sedang serius menoleh ke kanan dan ke kiri. Arya mengajak Shafa menyebrangi jalan, namun yang membuat jantung Shafa berdegup tak karuan adalah genggaman tangan Arya di pergelangan tangannya yang membuat pipinya terasa memanas.


"Iya gk apa-apa, makasih ya."


"Iya, ayo kita lanjut jalan," ajak Arya dan di sanggupi oleh Shafa.


Keduanya berjalan beriringan, di bawah matahari siang yang lumayan terik namun tidak membuat Shafa kepanasan melainkan membuat hati Shafa bahagia dan menghangat karna dia bisa melihat Arya lebih lama.


"Assalamu'alaikum Bang," ujar Arya memberikan salam.


"Wa'alaikumussalam, loh? Mas ganteng? Udah lama banget gk ketemu," ujar orang tersebut yang merupakan seorang pedagang es dawet.


Shafa terdiam, ia melihat grobak es dawet tersebut. Seketika Shafa kembali ingat, dulu dia dan Arya pernah datang ke tempat ini waktu malam hari. Mereka menghabiskan malam minggu dengan menikmati dawet saat itu, membuat sudut mata Shafa memanas ketika mengingatnya lagi.


"Ya ampun si mba nya juga makin ayu aja," ucap abang penjual es dawet itu setelah ia melihat keberadaan Shafa alias Vidya.


"Alhamdulillah langeng ya mba sama mas nya, Btw udah punya anak berapa mas?" Tanya abang penjual es dawet itu sambil membuatkan dua porsi es dawet untuk Shafa dan Arya.


Arya melirik ke arah Shafa yang hanya diam saja sedaritadi, Arya berfikir mungkin Shafa bingung dengan apa yang Abang penjual es dawet itu tanyakan. Karna dulu Arya datang ke tempat ini bersama dengan Vidya bukan dengan Shafa, mengingat hal itu membuat Arya kembali terkenang akan sosok Vidya.

__ADS_1


"Dia bukan istri saya Bang," ujar Arya membuat Abang es dawet itu menghentikan pergerakkannya.


"Loh? Gimana toh mas maksudnya? Saya gk paham iki loh maksud  masnya," ujar Abang es dawet itu yang dahinya sudah berkerut kebingungan.


"Dia bukan istri saya yang dulu saya ajak ke sini. Istri saya udah gk ada Bang," ujar Arya dengan kalimat terakhir yang melirih.


"Inalillahi wainailaihi rojiun, turut berduka cita Mas. Lah terus Mas, iki mba nya siapanya Mas? Kok bisa mirip banget sama istri Mas?" Tanya si Abang penjual dawet itu lagi.


"Saya Shafa, temannya Arya," ucap Shafa alias Vidya yang memperkenalkan dirinya sebagai teman Arya. Meskipun Shafa tidak bisa menampik ada perasaan nyeri saat ia memperkenalkan dirinya sebagai teman Arya.


"Oalah temennya, kok bisa mirip ya? Mba nya kembar ya sama mendiang istrinya si Mas ini?"


"Istri saya gk punya kembaran Bang," ujar Arya memberitahu.


"Berarti bener Mas yang saya lihat di instagarem waktu itu, katanya di dunia ini sebenarnya  kita tuh punya kembaran. Saya juga punya kembaran loh Mas," ujar Abang cendol itu lagi.


"Abang punya kembaran?" Tanya Arya yang antusias mengetahui kebenaran bahwa Abang penjual es cendol itu punya kembaran.


"Mas tau Aliando gk? Dia tuh mirip sama saya Mas, ya 11 12 lah sama saya Mas."


Arya yang mendengar itu berdecak sebal, ia sudah serius mendengarkannya ternyata si Abang tukang es cendol itu hanya bergurau.


Shafa yang mendengar ucapan Abang tukang es cendol tadi hanya bisa tertawa saja, apalagi saat ia melihat raut wajah Arya yang awalnya antusias namun setelah mendengar ucapan Abang es cendol selanjutnya, raut wajah Arya jadi berubah kesal. Itu sangat menghibur bagi Shafa.


"Ini dia es cendol spesialnya udah jadi."


"Terimakasih Bang," ujar Arya dan di balas anggukkan oleh Abang tukang es cendol.


"Gimana enak gk?" Tanya Arya pada Shafa yang baru saja menikmati es cendolnya.


"Enak kok, kamu udah sering ke sini?"


"Gk sering tapi pernah ke sini," ujar Arya sambil tersenyum tipis.


"Sama Vidya?" Tanya Shafa yang sengaja bertanya.


"Iya. Sama Vidya," ujar Arya lagi yang kembali menyuapkan es cendol ke dalam mulutnya.


Lalu tak ada lagi percakapan antara Shafa dan Arya, keduanya sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Keduanya larut akan kenangan yang pernah mereka ukir.

__ADS_1


__ADS_2