
Keadaan sekitar seketika menjadi ramai, setelah bunyi dentuman besar itu terdengar.
Keira memeluk Hana dengan tubuh gemetar, ia sudah keluar dari mobil sedaritadi dan kini ia hanya bisa diam di pinggir jalan sambil memeluk erat putrinya.
Sementara Rayn? Pria itu sedang berbicara dengan seseorang dari kepolisian selaku korban dalam tabrakkan ini, Rayn ternyata tak bersalah dan tak menerobos lampu merah karna kebetulan pas Rayn maju lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, jadi ia dimintai keterangan sebagai korban karna ditabrakn oleh mobil berwarna merah dari arah yang berlawanan dengan Rayn, setelah dimintai keterangannya tak lama Rayn kembali menghampiri Keira yang wajahnya pucat pasi.
"Kamu baik-baik aja kan, Kai?" Tanya Rayn yang ikut berjongkok dihadapan Keira yang sedang menangis memeluk Hana.
Keira hanya mengangguk kemudian dengan tangan bergetar ia menyodorkan Hana pada Rayn.
"Hana ... Hana berdarah," ujar Keira dengan suara bergetar menahan tangis.
Rayn begitu terkejut ketika melihat kepala belakang Hana mengeluarkan Darah namun anak itu tidak menangis sama sekali hanya diam di pelukkan Keira.
"Kita harus bawa dia ke rumah sakit Rayn," pinta Keira yang begitu panik melihat darah terus mengalir dari kepala belakang Hana.
Tak mau menunggu lama, Rayn segera berlari kembali menghampiri polisi yang masih ada di tempat, Rayn meminta bantuan Polisi mengantar putrinya ke rumah sakit dan polisi pun menyanggupinya.
Diperjalanan menuju rumah sakit, Keira melihat Hana yang sudah semakin lemas. Tubuh putri kecilnya itu, terlihat semakin bersender pada tubuh Keira, sementara Keira yang melihat itu hanya bisa memberikan pelukkannya lalu membisikkan kata-kata pada Hana bahwa semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja.
Mobil pun sampai di rumah sakit, Keira segera turun mengendong Hana lalu segera mencari dokter, ia berlarian ke sana kemari meminta dokter untuk segera memeriksa putrinya, begitu juga dengan Rayn yang berusaha mencari bantuan dokter.
Setelah menemukkan dokternya, Hana segera ditangani oleh pihak rumah sakit sementara Ryan dan Keira menunggu dengan cemas di luar rumah sakit.
Keira menangis sambil bersandar di tembok rumah sakit, ia sangat cemas dan berdoa bahwa putrinya baik-baik saja.
__ADS_1
Rayn yang ada di sebelah Keira berusaha menenangkan istrinya itu, ia mengenggam jari jemari Keira memberikan kekuatan pada Keira bahwa semuanya akan baik-baik saja dan Hana pasti akan selamat.
Lumayan lama Keira dan Rayn menunggu, tak lama keluarlah dokter yang menanggani Hana dari dalam ruangan.
Keira segera berlari menghampiri lalu bertanya bagaimana kondisi putrinya saat ini.
"Kami sudah berusaha sekeras mungkin, namun pendarahannya tak mau berhenti, jadi dengan sangat terpaksa kami harus memberikan kabar buruk ini, bahwa putri kalian sudah tiada. Semoga Bapak dan Ibu diberikan ketabahan," ucap dokter tersebut.
"Bohong, dokter pasti berbohongkan? Anak saya, dia anak yang kuat Dok, dia ... dia gk mungkin meninggal! Beberapa jam lalu saya baru mengendong Hana, saya memeluknya bahkan mencium keningnya, jadi Hana gk mungkin meninggal! Itu mustahil! Bohong!" Teriak Keira lalu menangis hebat hingga tubuhnya jatuh terduduk, Rayn yang sama kagetnya dengan Keira namun tak bisa berbuat apa-apa jadi ia hanya bisa membawa Keira ke dalam dekapannya berusaha menenangkan istrinya itu yang begitu terpukul mendengar kabar duka tersebut.
"Rayn, Hana gk mungkin pergi ... hiks ... Hana itu putriku Rayn, Hana ... hiks Hana, dia gk mungkin ninggalin aku," ucap Keira yang mengadu pada Rayn, dan Rayn semakin mengeratkan pelukkannya pada Keira.
"Aku, aku mau lihat Hana! Aku mau ketemu Hana, aku mau mastiin bahwa dokter itu salah Rayn, Hana pasti hanya tidur aja di dalam," kata Keira yang lalu bangkit dan masuk ke dalam ruangan.
Kaki Keira berhenti melangkah, jantungnya seolah berhenti berdegup tatkala melihat ke arah brankar rumah sakit, di sana terlihat seseorang yang ditutupi oleh kain putih.
"Sayang bangun nak! Hiks ... Hana," panggil Keira namun sekeras apapun ia berusaha memanggil Hana, Hana tak akan bisa kembali hidup.
Jadi Keira hanya bisa menangis sambil memeluk tubuh dingin Hana, Keira hanya bisa memohon agar Hana membuka matanya dan berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi.
Namun rasa sakit yang ia rasakan saat ini terlalu nyata untuk disebut sebagai sebuah mimpi.
"Kei, Hana udah pergi, kamu harus ikhlasin dia pergi," kata Rayn yang ikut merasa terluka juga saat melihat Keira terluka.
Bahkan Rayn merasa ini semua terlalu mendadak, ia bahkan tak bisa berfikir bahwa hari ini akan terjadi seperti ini. Segala hal dikehidupan kita memang sering kali dihadapkan dengan kejadian yang mengejutkan seperti ini, bahkan Rayn dan Keira yang tak menyangka bahwa hari ini mereka akan kehilangan putri kecil mereka.
__ADS_1
Rayn menatap Hana yang masih dipeluk oleh Keira, putri kecilnya itu kini sudah pergi, bertemu dengan kedua orangtua yang sebenarnya, namun sebagai seorang pembunuh bayaran yang sudah biasa melihat sebuah kematian.
Kini rasanya berbeda bagi Rayn, ketika menyaksikan sendiri kematian Hana yang sudah ia anggap sebagai putrinya.
Terlebih lagi Keira yang sudah begitu dekat dengan Hana, ia pasti begitu terpukul dengan kabar duka ini. Dibandingkan Rayn, Keira sepertinya lebih terpukul melihat kepergian Hana.
....
"Makan dulu Kei nanti sakit," ucap Rayn pada Keira yang hanya duduk diam di ruang tamu setelah acara pemakaman Hana tadi.
Keira terlihat hanya diam tak mengatakan apapun, ekspresi wajahnya hanya memancarkan kesenduan saja saat ini.
Sama dengan Keira, Rayn juga merasa terpukul dan merasa sedih juga namun Rayn menyimpannya seorang diri. Meski hari ini Rayn telah kehilangan Hana, ia juga tidak mau kehilangan Keira juga, maka dari itu sedaritadi Rayn berusaha membujuk Keira untuk makan agar gadis itu tidak jatuh sakit nantinya.
"Bagaimana gue bisa makan, di saat seperti ini?" Tanya Keira dengan suara begetar menahan tangis.
Setelah mengatakan itu Keira berjalan pergi masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Rayn sendiri di ruang tamu.
"Rayn, kamu harus makan biar sehat ya," ucap Nayya yang tiba-tiba datang membawa piring berisi makanan untuk Rayn.
"Loh? Kamu lagi makan ternyata," ucap Nayya tatkala melihat Rayn memegang piring berisi nasi dan lauk pauk.
"Sini aku suapin," kata Nayya mau menggambil alih piring dari genggaman Rayn.
"Gk usah, aku gk laper kamu aja yang makan," kata Rayn lalu pergi meninggalkan Nayya sendirian.
__ADS_1
Nayya hanya bisa menghela nafas seraya menatap punggung Rayn yang berjalan menjauh.
Nayya mengelengkan kepala tak habis fikir dengan Rayn, pria itu sok kuat sekali padahal Nayya juga tau bahwa Rayn juga sama dengan Keira, sama-sama merasakan kehilangan