Without You

Without You
75. Sembilan Bulan


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Happy Reading!


-


-


-


-


Seminggu kemudian ...


Tak terasa waktu yang Vidya selama ini tunggu-tunggu akan segera tiba juga.


Hari ini adalah awal bulan baru, dan itu artinya bulan ini adalah bulan yang sangat Vidya nantikan karna ia akan segera bertemu anaknya.


Vidya mengelus perutnya, saat ini ia sedang duduk di ruang tamu di sampingnya sudah ada Astrid yang sedang mengaduk susu yang akan ia berikan pada Vidya.


"Ini minum dulu susu nya," ucap Astrid seraya menyerahkan gelas berisi susu itu pada Vidya dan dengan senang hati Vidya segera meraih lalu meminum susu itu hingga kandas.


"Kok Vidya jadi makin deg-deg an ya Bun."


Astrid pun tersenyum mendengar ucapan Vidya yang memang pernah ia ucapkan saat dulu menjelang masa persalinan.


"Banyak-banyakin berdoa aja, minta perlindungan Allah. Insyaallah pasti rasa takut kamu akan hilang," nasihat Astrid sambil mengelus pungung Vidya dengan lembut.


Vidya menganggukkan kepalanya, dalam hati ia memang selalu berdoa pada Allah agar persalinannya di lancarkan dan anaknya bisa lahir ke dunia ini dengan selamat.


Walaupun rasanya gk karuan, ada perasaan takut juga tapi Vidya tak bisa menampik bahwa dirinya juga merasa senang dan tidak sabar menunggu anaknya segera lahir, bahkan Vidya sudah membayangkan betapa serunya saat anaknya sudah lahir nanti.


Ting tong


Suara bel terdengar, Vidya dan Astrid pun segera beratatapan. Kemudian Astrid menyuruh salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya untuk membukakan pintu tersebut.


"Siapa Mbak?" Tanya Astrid pada asisten rumah tangga yang tadi ia suruh untuk membukakan pintu.


Belum sempat asisten rumah tangganya itu menjawab, tiba-tiba saja dari arah belakang muncullah sosok seseorang yang sedaritadi Vidya tunggu kehadirannya.


"Abi!" Seru Vidya yang hendak berdiri namun kembali terduduk karna ia tidak kuat untuk berdiri.


Seseorang tersebut yang tak lain adalah Abi Vidya, pun langsung menghampiri putrinya itu.


Abi Vidya sudah tau semuanya, karna Umi Vidya juga sudah menceritakan semua yang telah terjadi pada putri mereka. Awalnya Abi Vidya sangat murka pada Arya namun karna Vidya sudah menenangkan dan menjelaskan semuanya, Abi Vidya pun paham namun masih merasa kesal setiap kali mengingat Arya yang telah menyakiti putrinya.


"Ini Abi bawain buah anggur pesanan kamu," ucap Abi sambil menyerahkan kantung yang berisikan buah anggur segar.

__ADS_1


"Masyaallah terimakasih banyak Abi! Abi memang paling keren deh hehe."


Abi tersenyum mendengar ucapan Vidya yang baru saja memujinya.


"Coba kamu cobain anggurnya, enak gk?"


Vidya pun menganggukkan kepalanya, setelah membaca Basmallah terlebih dahulu Vidya pun langsung mencicipi anggur yang Abi nya bawakan khusus untuk dirinya.


"Enak banget! Masyaallah!" Pekik Vidya, yang matanya sudah berbinar senang.


Abi dan Astrid terkekeh melihat tingkah Vidya yang begitu bahagia hanya karna memakan buah anggur saja, itu lah Vidya yang selalu merasa bahagia walau pun dengan hal-hal kecil seperti buah anggur itu misalnya.


"Kalau enak, kamu habiskan semuanya," ucap Abi dan di balas anggukkan oleh Vidya.


"Kamu jadi ketemu sama Arya?" Tanya Abi yang membuat Vidya langsung menghentikan pergerakkannya yang sedang menikmati buah anggur.


"Abi tau darimana kalau hari ini Vidya mau ketemu Arya?" Tanya Vidya bingung, padahal dirinya tidak memberitahu Abi bahwa dirinya akan menemui Arya hari ini.


"Bunda yang memberitahu Abi kamu."


Vidya pun menoleh pada Bundanya yang duduk berhadapan dengan dirinya, Vidya menghela nafasnya. Pantas saja Abi bisa tau kalau dirinya hari ini akan bertemu dengan Arya.


"Kenapa kamu masih mau bertemu sama si berandal itu lagi? Kamu lupa kalau dia udah nyakitin kamu?" Tanya Abi dengan emosi tertahan.


Vidya menghela nafasnya lalu tersenyum menatap wajah Abi.


Balasan dari Vidya membuat Abi terdiam seketika.


"Mau bagaimanapun dia, Vidya tetap tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa dia adalah Ayah dari anak yang sedang Vidya kandung ini," kata Vidya lagi dengan suara yang lembut.


Abi tidak bisa berkata apa-apa lagi, di tatapnya lah putrinya itu yang masih memasang senyuman di wajahnya.


Abi tersenyum sendu, tangannya tergerak mengusap kepala Vidya dengan penuh kasih sayang. Abi sangat tersentuh dengan semua yang telah putri nya itu alami, walaupun sudah sering tersakiti tapi Vidya masih bisa tersenyum seperti ini dan bahkan putrinya itu mau memaafkan pria yang sudah menorehkan luka di hatinya, sungguh Abi hanya tidak ingin melihat Vidya terluka untuk kesekian kalinya karna pria itu.


"Abi tidak usah khawatir, ada Allah yang selalu melindungi Vidya," ujar Vidya lagi dan di balas anggukkan kepala oleh Arya.


"Sini peluk Abi dulu," ucap Abi membuat Vidya terkekeh dan berhambur ke dalam pelukkan Abinya itu.


"Abi harap kamu selalu bahagia nak, Abi gk mau ngeliat kamu terluka lagi. Melihat kamu terluka sungguh sanggat menyiksa."


Vidya hanya menganggukkan, kepalanya mendengar ucapan Abi.


"Saat kamu kecil dulu, Abi selalu berharap bisa jadi selalu melindungi kamu. Bisa selalu ada di saat kamu rapuh dan terluka, tapi nyatanya Abi yang malah sudah melukai kamu. Abi tidak ada di saat kamu terluka dan membutuhkan sandaran, Abi tidak datang di saat kamu rapuh ... maafkan Abi nak ... sungguh Abi sangat minta maaf."


Vidya melerai pelukkannya, ia menatap Abi yang sudah meneteskan air mata, dengan lembut Vidya menghapus air mata Abi dengan telapak tangannya.


"Abi gk salah, Abi sudah menjadi sosok pahlawan yang sangat berharga dalam hidup Vidya. Harusnya Vidya yang minta maaf pada Abi, karna Vidya sudah sering berbohong pada Abi ... Vidya minta maaf bi."

__ADS_1


Abi kembali membawa Vidya ke dalam dekapannya, Astrid yang sedaritadi memperhatikan interaksi antara Abi dan putrinya itu pun sampai ikut meneteskan air mata haru.


"Kamu mau pergi menemui Arya kan? Biar Abi yang akan antarkan kamu ke sana."


Vidya diam tidak mengiayakan ucapan Abi barusan, ia takut kalau Abi yang akan mengantarnya menemui Arya. Ia takut kalau nanti Abi akan bertengkar lagi dengan Arya seperti sebelumnya.


"Kamu gk usah takut, Abi gk akan bertengkar lagi dengan pria itu," ujar Abi yang seolah bisa membaca raut kekhawatiran dari wajah Vidya.


"Ayo sana bersiap dulu, Abi tunggu di sini."


Vidya menganggukkan kepalanya, ia pun hendak mempersiapkan dirinya karna hari ini ia akan bertemu dengan Arya.


[]


Kini Vidya dan Abinya sedang berada di dalam mobil menuju kafe, tempat Arya mengajak Vidya bertemu.


Vidya menikmati suasana di hari senin pagi ini yang tampak lengang karna hari ini adalah tanggal merah, jadi banyak orang yang libur.


Abi melirik Vidya sekilas, Vidya terlihat bahagia pagi ini dan semoga saja Vidya akan selalu bahagia seperti ini.


"Abi berhenti! Itu Arya!" Ucap Vidya menyuruh Abi untuk menghentikan laju mobilnya.


Abi pun menurut, ia lalu menepikan mobilnya. Ia menatap ke arah sebrang dan di sana ada Arya yang sudah berdiri dan terlihat sedang memainkan gawainya.


"Vidya turun di sini saja," ucap Vidya.


"Jangan, biar Abi antar kamu ke sana," ucap Abi yang melarang Vidya untuk turun.


"Vidya mau turun di sini saja, lagi pula kalau putar balik pasti akan merepotkan Abi. Bukannya kata Abi tadi, Abi ada urusan di Kafe?" Tanya Vidya lagi, akhirnya Abi pun hanya bisa menghela nafasnya saja. Tidak bisa menghalangi Vidya yang memang terkadang keras kepala.


Akhirnya setelah berpamitan pada Abi, Vidya pun turun dari dalam mobil dan bersiap untuk menyebrang jalan.


Di sebrang jalan, Arya sudah tersenyum dan melambaikan tangannya pada Vidya.


Vidya pun ikut tersenyum, ia menunggu lampu jalan berwarna merah dulu untuk bisa menyebrang jalan.


Saat lampu sudah berwarna merah dan Vidya sudah bersiap untuk menyebrang jalan.


Tanpa di duga dan di sangka oleh Vidya, ada sebuah mobil yang berlawanan arah sedang melaju kencang menuju ke arahnya.


"Vidya! Awas!!"


Assalamu'alaikum semuanya, halo Zeze update lagi ... gimana part ini? Komen dong di bawah hehe. Jangan lupa kasih vote nya juga ya hehe, see you next part๐Ÿ˜Š


[FV/V]


๐Ÿ’™

__ADS_1


__ADS_2