Without You

Without You
69. Saran Dari Sahabat


__ADS_3

Part ini spesial memakai sudut pandang Siren/ Siren POV.


Oke deh Happy Reading!


-


-


-


-


-


Aku menatap wajah Arya yang saat ini sedang tertidur pulas, setelah sebelumnya ia puas mencurahkan seluruh isi hatinya.


Aku jadi tau apa yang Arya rasakan selama ini, ternyata suamiku itu sangat menderita.


Aku kira perceraian antara Arya dan Vidya akan membawa angin segar bagi kehidupanku namun nyatanya aku salah dan sangatlah salah.


Arya tidak bahagia, dia sangat menderita namun selama ini ia mencoba menyembunyikannya dariku mungkin dia tidak ingin membuat diriku sedih dan terluka.


Aku mengusap lembut rambut Arya dengan jari jemariku, jika ada yang bertanya sebesar apa aku mencintai Arya? Aku akan jawab tak terhitung besarnya.


Aku benar-benar mencintai dia, karna hanya Aryalah yang selalu bersedia menerimaku walaupun aku selalu membuat dirinya kecewa dan sakit hati.


Arya itu pria yang baik, walaupun menurut orang lain Arya adalah pria yang menyebalkan.


Tidak ada yang lebih mengenal diri Arya daripada aku, namun itu dulu sedangkan sekarang tentu berbeda.


Aku bahkan tidak bisa mengenal Arya yang sekarang, aku juga tidak tau jika ternyata pria itu sedang terluka saat ini.


Aku tidak pernah tau apa yang Arya rasakan, aku bahkan memikirkan diriku sendiri tapi tidak memikirkan Arya yang jelas-jelas sedang terluka.


"Maaf Arya," ucapku lirih dan menetesakan air mataku.


Aku terlalu sibuk memikirkan kehidupan Aksara dan diriku jika tidak ada Arya tanpa tau justru hal itu dapat menambah beban bagi Arya.


Pria ini yang saat ini sedang tertidur pulas, cintanya kini bukanlah milikku lagi.


Aku hanya memiliki raganya namun hatinya bukanlah milikku.


Menyakitkan? Tentu sangat menyakitkan.


Lalu aku kembali teringat sesuatu, seperti ini kah yang Vidya rasakan dulu? Saat Arya masih mencintai diriku.


Ternyata rasanya begitu menyakitkan, tapi kenapa gadis itu masih sabar bertahan walaupun dia harus menerima perlakuan kasar Arya dan bahkan menerima ucapan kasar Arya yang menyakiti hati.


Iya aku merasakannya malam ini, tadi Arya baru saja memaki diriku namun ia tidak sampai memukulku.


Aku tau Arya akan berubah menjadi menyeramkan saat di bawah pengaruh alkohol.


Aku tidak bisa membayangkan apa saja yang sudah Arya lakukan pada Vidya dulu.


Apakah gadis itu dulu merasakan yang lebih dari apa yang aku rasakan saat ini?


Jika iya, kenapa Vidya bisa begitu sabar dalam menghadapi Arya? Kenapa bisa ada perempuan sesabar dia?


Bahkan di saat aku merebut suaminya, Vidya masih tetap sabar dan dia tidak membalas perbuatanku barang sedikitpun.


Aku menteskan air mataku, aku baru sadar dan sekarang aku merasakan apa yang Vidya rasakan selama ini.


[]

__ADS_1


Pagi pun tiba, aku terbangun dari tidurku karna mendengar suara tangisan Aksara.


Terdengar sangat dekat, aku pun langsung membuka mataku lalu tatapanku mengarah pada Arya yang saat ini sedang mengendong Aksara di dekat jendela.


Aku tersenyum, mataku sudah mulai berkaca-kaca melihat senyuman Arya.


Baru kali ini aku melihat dia tersenyum lagi, namun senyumannya tetap saja berbeda. Senyuman Arya terlihat begitu sendu.


"Maaf ya aku udah ngebangunin kamu," ucap Arya sambil menoleh ke arahku.


Aku mengelengkan kepalaku dan langsung berlari ke arah Arya.


Aku berdiri di belakang, dan melingkarkan tanganku di pingangnya. Memeluk Arya dari belakang.


Aku menghirup wangi mint yang menguar begitu kuat dari tubuh suamiku ini, rasanya memang membuat candu.


"Tadi Aksara nangis terus jadi aku bawa dia ke kamar kita," ucap Arya yang masih menimang Aksara.


Aku hanya diam sambil terus memeluk Arya erat, aku kembali teringat ucapannya semalam.


Aku masih bimbang, perihal apa yang harus aku lakukan.


Di lain sisi aku memang merasa kasihan pada Vidya namun disisi lain aku masih belum bisa melepaskan Arya.


Aku pasti akan sangat merindukan suamiku ini, apalagi aroma tubuh Arya yang selalu membuat diriku candu. Aku juga tidak mau Aksara kehilangan sosok Ayahnya, lalu aku harus bagaimana sekarang?


"Lepas dulu dong pelukkannya, aku mau naruh Aksara di kamarnya," ucap Arya yang masih membelakangi diriku.


Aku menghela nafasku, lalu perlahan ku lepaskan dekapan ku pada tubuh Arya.


Lalu aku menatap tubuh Arya yang berjalan ke luar dari kamar ini bersama Aksara yang ada di dalam gendongannya.


Sejauh ini Arya masih bersikap baik padaku bahkan sudah sangat baik, apa iya aku harus tega menghancurkan hatinya lebih dalam lagi? Aku merasa kasihan dengan Arya, aku tau di balik senyumannya ada luka yang coba ia sembunyikan.


Aida pun mengangkat panggilanku, dan dia juga setuju bertemu denganku di kafe kemarin. Kalau begitu lebih baik aku bersiap-siap untuk pergi menemuinya.


[]


Saat ini aku sudah duduk di depan Aida yang sedang mengaduk aduk minuman pesanannya.


"Lo mau ngomongin apa lagi?" Tanya Aida yang kini menatapku serius.


Aku pun mengutarakan apa yang aku rasakan selama seminggu ini, dan aku bilang padanya kalau aku tidak tega melihat Arya yang terus menerus menyembunyikan luka di hatinya dan juga tentang Vidya yang selama ini bersabar menghadapi tingkah Arya.


Aida menganggukkan kepalanya, ia menyodorkan tisu padaku yang dia suruh untuk menghapus air mataku yang menetes dan aku pun menerima tisu tersebut.


"Gini deh ya, gue kasih tau lagi sama lo. Lo tuh emang udah salah jalan dan syukurlah kalau lo perlahan mulai sadar walaupun udah hampir terlambat," ucap Aida.


Aku hanya diam dan masih terisak di tempat, aku mencurahkan semua isi hatiku dan segala yang mengganjal di fikiran ku ini pada Aida.


"Jadi gue harus gimana?" Tanyaku pada Aida.


Aida terlihat sedang berfikir, memikirkan sesuatu yang bisa membantu diriku.


"Tapi gue gk yakin lo bakalan mau ngelakuin ini sih," ucap Aida lagi namun agak terlihat ragu.


"Lakuin apa maksud lo?" Tanyaku penasaran.


"Lo harus tinggalin Arya," ucap Aida lagi yang membuatku terkejut.


"Apa?! Tinggalin Arya? Gk ada cara lain gitu?"


Aida menghela nafasnya terlebih dahulu lalu meletakkan  telunjuknya di dagu terlihat berfikir lagi.

__ADS_1


"Gue gk ada cara lain. Tapi gue harap saran gue yang tadi bakalan membantu," ucap Aida dengan entengnya.


Aku menyeruput minumanku dan mencoba menetralisir tengorokkanku yang rasanya kering ini.


"Gue nyaranin lo kaya gitu bukan tanpa alasan. Lo bilang tadi gk tega ngeliat Arya yang sakit hati dan terluka, jadi ya itu saran gue tinggalin Arya."


Aku terdiam, kenapa rasanya saran dari Aida sangat di terima oleh akalku ya? Aku masih belum rela jika harus melepaskan Arya.


"Lo fikirin baik-baik deh ya. Gue pamit dulu ada urusan mendadak," ucap Aida yang pamit pergi karna ada urusan mendadak.


Aku menganggukkan kepalaku mengiyakan, lalu di sinilah aku seorang diri.


Karna bosan sendirian di kafe, akhirnya aku pun bangkit dari dudukku. Setelah membayar terlebih dahulu tentunya.


Seperti biasa aku menyetir mobilku sendiri.


Namun saat di pertengahan jalan aku malah terjebak kemacetan, padahal jalanan yang selalu aku lewati ini jarang sekali ada kemacetan lalu sekarang? Kenapa jadi macet begini?


Lalu saat aku sedang menunggu mobil di depanku bergerak maju, tiba-tiba saja ada suara sirinw ambulance yang terdengar begitu kencang.


Karna penasaran aku pun membuka kaca mobilku dan bertanya pada bapak pengendara motor yang kebetulan ada di samping mobilku.


"Ada apa ya pak? Tumben macet begini," ucapku mengawali pembicaraan.


"Oh itu mbak, katanya ada kecelakaan di depan sana."


Aku menganggukan kepalaku setelah mengucapkan terimakasih aku pun kembali menutup kaca mobilku.


Namun tiba-tiba saja gawaiku berbunyi nyaring, saat aku melihat ke layar gawaiku ternyata itu adalah panggilan masuk dari Aida dan tanpa menunggu lama aku langsung mengangkatnya.


"Siren! Lo dimana? Masih di kafe apa udah pulang?"


"Gue lagi di jalan kejebak macet nih, katanya ada kecelakaan. Kenapa emangnya?" Tanyaku ketika suara cempreng Aida masuk ke dalam gendang telingaku.


"Untung lo udah di jalan, kalau gitu cepetan lo keluar dari mobil terus jalan ke depan."


Aku mengerenyitkan dahi bingung, keluar dari mobil? Ngapain? Begitulah yang aku tanyakan pada Aida.


"Lo keluar cepetan! Yang jadi korban kecelakaan itu suami lo."


Deg


Suamiku? Berarti yang kecelakaan itu adalah Arya? Kenapa bisa?


Tanpa menunggu apapun lagi, aku segera keluar dari mobil. Aku juga tak bisa lagi membendung tangisku.


Aku berlari melewati banyak kendaraan dengan susah payah, dan sampailah aku di tempat kejadian kecelakaan itu.


Di sana aku melihat ada Aida, dan tatapanku pun beralih pada seseorang yang kini sudah berlumuran darah dan sedang di tangani oleh para petugas medis.


"Arya!" Pekiku, seraya menutup mulut tak percaya kalau yang aku lihat ini adalah suamiku.


Aku langsung menghampiri Arya yang berlumuran darah tersebut, aku tidak memperdulikan ucapan para tenaga medis tersebut yang menyuruhki tuk tetap tenang.


Bagaimana aku bisa tenang kalau suami ku saja berada dalam kondisi seperti ini?


"Aida gue mau ikut Arya ke rumah sakit dan ini kunci mobil gue tolong di bawa ya," ucapku seraya menyerahkan kunci mobil milikku pada Aida.


Tanpa menunggu jawaban Aida, aku pun langsung naik ke dalam ambulance yang akan membawa Arya ke rumah sakit.


Di sepanjang perjalanan aku menangis menatap Arya yang berlumuran darah dan terlihat mengenaskan.


Aku tidak tau harus melakukan apa, tapi untuk pertama kalinya aku berdoa agar Arya segera sadar.

__ADS_1


Apapun akan aku lakukan untuk Arya, aku rasa sudah cukup Arya menanggung semua ini, dia sudah cukup terluka.


__ADS_2