Without You

Without You
35. Berkunjung


__ADS_3

Masih pake sudut pandang penulis/ Author POV.


Happy Reading!


-


-


-


-


-


Vidya sangat senang karna Arya mau menepati janjinya.


Hari ini Vidya dan Arya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Umi Vidya.


Raut wajah bahagia tidak bisa Vidya hilangkan dari wajah cantiknya itu.


Arya bahkan sedaritadi terus menatap wajah Vidya yang tampak berseri-seri, membuat Arya tersenyum samar melihatnya.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan, Vidya dan Arya pun sudah sampai di rumah Vidya.


Vidya turun dari taksi, menatap rumahnya yang tak ada perubahan sama sekali, sementara Arya, pria itu sedang membayar ongkos taksi mereka.


"Ayo kita masuk." Ujar Arya, Vidya pun menganggukkan kepalanya.


"Biar keliatan kaya pasangan beneran." Ucap Arya yang sudah mengandeng tangan Vidya, Vidya tidak perotes namun pipinya terlihat merona.


"Assalamu'alaikum." Ucap Vidya di depan pintu rumahnya yang masih tertutup.


Lalu tak lama pintu itu pun terbuka, menampilkan sosok yang sangat Vidya kenal.


"Masyaallah, teh Vidya? Ya Allah teh Vidya, udah lama banget bibi gk ngeliat teteh. Gimana kabar teh Vidya?" Ujar mbak Iyem yang sangat antusias dengan kedatangan Vidya.


"Alhamdulillah saya sehat mbak, mbak sendiri gimana kabarnya?" Tanya Vidya pada mbak Iyem yang masih nampak sumringah.


"Alhamdulillah atuh teh mba Iyem juga sehat, ya udah duduk dulu ya teh. Biar mbak panggilin Umi sama Tuan dulu." Ujar mbak Iyem menyuruh Vidya dan Arya untuk duduk terlebih dahulu.


Sambil menunggu kedatangan Umi dan Abi nya, Vidya mengamati ruang tamu di rumahnya ini, yang tidak ada perubahan sama sekali.


Mata Vidya sudah berkaca-kaca, ia sangat rindu sekali dengan rumah ini.


Arya memperhatikan istrinya yang nampak tersenyum sendu itu.


"Udah, gk usah sedih, lo jelek kalau lagi sedih gitu." Celetuk Arya, membuat Vidya mendengus kesal dan menghapus air di sudut matanya.


"Vidya?" Sebuah suara membuat Vidya dan Arya langsung menolehkan kepala mereka ke sumber suara tersebut.


"Umi!" Pekik Vidya senang saat melihat sosok malaikat tak bersayapnya, tanpa di perintah atau di komando, Vidya langsung bangkit dan berlari ke arah Umi dan langsung memeluknya.


"Hiks...Umi...Vidya sangat rindu sama Umi."


Vidya mulai terisak di dalam pelukkan Umi nya, sementara Arya ia hanya diam memandangi pemandangan yang mengharukan di hadapannya.


"Sayang...udah jangan nangis, gk malu itu di liatin suami kamu? Hmm?" Vidya menggelengkan kepalanya, masih memeluk Umi nya erat.


Ia tidak perduli jika Arya mau mengejeknya cengeng sekali pun, yang terpenting sekarang Vidya bisa melepas rindunya dengan Umi.


"Umi senang kalian datang ke sini, Umi juga sangat rindu sama Vidya."


Cup

__ADS_1


Umi mencium kepala putrinya dengan sayang, ia juga meneteskan air matanya sama seperti Vidya.


"Kamu cuma rindu sama Umi nih? Sama Abi nggak?" Tanya seseorang yang berdiri di ambang pintu.


Vidya pun melerai pelukannya, lalu terkekeh melihat sosok pahlawannya sejak kecil.


"Abi!" Panggil Vidya yang langsung berlari ke arah Abinya, Vidya mencium tangan Abi nya sambil terisak.


"Abi rindu sama Vidya." Ujar Abi sambil menatap wajah putrinya.


Vidya yang masih menangis pun langsung memeluk Abinya dengan erat, menumpahkan semua tangisnya.


Abi Vidya mengelus puncak kepala putrinya dengan sayang, ia juga sama seperti istrinya, sangat rindu dengan putri kecil mereka ini.


"Nakal kamu ya, baru kali ini kamu berkunjung ke sini." Ujar Abi yang menarik hidung mancung Vidya dengan gemas.


Vidya hanya tersenyum mendengarnya.


"Maafin Vidya Abi." Ujar Vidya, namun Abi tidak marah ia justru mencium kening Vidya lembut.


"Abi gk akan bisa marah sama putri kecil Abi."


"Abi! Ih! Vidya udah besar gk kecil lagi." Ucap Vidya membuat orang yang ada di ruangan itu tertawa termasuk Arya.


"Sini sayang, ya ampun putri Abi cantik sekali ya, Masyaallah." Ucap Abi mencoba menghibur Vidya.


Setelah acara mengharu biru itu, kini Vidya memilih untuk membantu Umi memasak makan siang di dapur.


Sementara Arya, pria itu sedang gugup karna berhadapan dengam Abi mertuanya.


"Bagaimana kabar kamu?" Tanya Abi pada Arya, memulai perbincangan mereka.


"Alhamdulillah baik bi." Jawab Arya dengan sopan.


"Vidya masih tetap istri saya, mau bagaimanapun dia, dia masih menjadi tanggung jawab saya bi." Ucapan Arya membuat Abi menyungingkan senyum.


"Ah iya sebentar lagi waktu Zuhur, ayo kita siap-siap ke masjid, kebetulan hari ini kan hari Jum'at kita sekalian sholat Jum'at juga." Ajak Abi, sementara itu Arya hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Vidya." Abi memanggil Vidya dan tak lama gadis itu pun muncul.


"Iya bi, ada apa?" Tanya Vidya ketika sudah sampai di hadapan Abi nya.


"Ajak suami kamu ke kamar mu, suruh dia bersiap-siap. Abi mau ajak dia sholat Jum'at di masjid." Perintah Abi, Vidya pun menurut.


Vidya menatap ke arah Arya, dan Arya pun bangkit dari duduk nya lalu mengikuti langkah Vidya di belakang.


"Kamu jalan di depan saya." Ujar Vidya mempersilahkan Arya jalan di depannya.


Arya pun menurut, ia menaiki tangga satu persatu sesuai intruksi Vidya, karna kamar gadis itu ada di lantai dua.


"Kamu siap-siap aja ya, ini baju koko, sajadah sama sarung buat kamu." Ujar Vidya sambil menyerahkannya ke pada Arya.


Arya malah diam, memandangi alat sholat tersebut.


"Ada apa?" Tanya Vidya ketika suaminya itu tidak kunjung menggambil nya.


"Gue gk mau, dan gk bisa, kepala gue mendadak pusing." Ujar Arya yang sudah memegangi kepalanya.


"Ya sudah kamu istirahat saja di kamar ku, aku akan bilang ke Abi kalau kamu tidak ikut sholat Jum'at dulu kali ini." Ujar Vidya dan diangguki oleh Arya.


Vidya pun pergi, meninggalkan Arya yang masih berdiri di depan pintu kamar Vidya.


Arya membuka pintu kamar Vidya, dan wangi bunga sakura menyeruak memasuki indra penciumannya.

__ADS_1


Ini wangi Vidya- Batin Arya yang hafal betul dengan wangi bunga sakura yang memang merupakan parfum yang sering Vidya pakai.


Arya menutup pintu kamar Vidya, di amatinya ruangan kamar Vidya yang tertata begitu rapih.


Kamar Vidya begitu rapih, dan juga banyak buku-buku yang tertata rapih juga di rak.


Arya berjalan lalu melihat ke arah meja belajar Vidya.


Arya menarik sudut bibirnya saat ia tidak sengaja membuka album foto milik Vidya.


Di sana ia bisa melihat wajah Vidya kecil yang begitu imut dan mengemaskan, ia juga bisa melihat betapa cantiknya Vidya ketika gadis itu saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


Lalu setelah puas tertawa dan tersenyum geli melihat foto istrinya, kini tatapan Arya beralih pada deretan piala yang terpajang di lemari kaca yang tidak jauh dari meja belajar.


Arya mengamati piala tersebut, ia tersenyum dan merasa bangga, ternyata istrinya itu sangatlah pintar.


Terbukti dari koleksi piala dan mendali yang sangat banyak dan itu semua milik Vidya.


Lalu tatapan Arya beralih pada foto Vidya yang berdiri di depan sebuah bangunan yang sangat tinggi, di bawah nya tertulis sederet kalimat.


Alhamdulillah! Kampus impian Vidya❤


Arya dapat melihat wajah Vidya yang begitu bahagia bisa masuk ke dalam kampus tersebut, yang memang untuk masuk ke kampus itu sangatlah sulit.


Hanya orang-orang cerdas saja yang biasanya bisa masuk ke dalam kampus itu, dan Vidya adalah salah satu orang cerdas yang bisa masuk ke dalam kampus tersebut.


Tok...tok...tok


Suara ketukan pintu di kamar Vidya membuat perhatian Arya teralihkan.


"Sebentar." Ujar Arya lalu berjalan ke arah pintu.


Di depaj pintu sudah ada Vidya yang mengendong seorang bayi yang kira-kira baru berusia satu tahun.


"Arya, aku titip Syila sama Rafa ya, aku masih harus masak bantu Umi di dapur." Ujar Vidya, Arya menatap kedua bocah kecil tersebut.


"Mereka siapa?"


"Ah iya lupa ngenalin, mereka ini keponakan ku. Kebetulan sekali kita datang hari ini, karna ternyata kakak juga baru datang dari Mesir." Ujar Vidya sambil tersenyum.


"Kamu mau kan jagain mereka sebentar?" Tanya Vidya, dan di balas anggukkan oleh Arya.


"Terimakasih, cuma sebentar kok ya, kamu tenang aja." Ujar Vidya yang memberikan bayi tersebut pada Arya, dan juga  gadis kecil itu yang sedaritadi terus memandangi wajah Arya.


"Nah Syila sama Rafa sama Om dulu ya, onty mau ke dapur lagi, Syila jangan lupa adiknya di jagain ya." Gadis kecil itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Arya pun menutup pintu kamar Vidya kembali.


Ia mengedong bayi kecil yang ia baru tau bernama Rafa, sementara gadis kecil yang bernama Syila itu sudah duduk di kasur Vidya lebih dulu daripada Arya.


"Om namanya siapa? Terus om ini siapanya onty? Kok kayanya Syila pernah liat Om ya?" Tanya Syila sambil terus menatap wajah Arya.


"Nama gue Arya, jangan panggil gue Om. Gue belum setua itu, panggil aja Kakak." Ujar Arya lalu di balas anggukkan oleh Syila.


Syila membuka buku gambar yang ia bawa, lalu mulai melukis di buku gambarnya.


Sementara Arya sedang bermain dengan Rafa, sesekali Arya terkekeh saat Rafa membalas ucapannya.


Saat sedang asyik bermain dengan Rafa dan juga Syila, Arya pun merasa lelah.


Arya menguap, ia menatap Syila yang juga sudah terlelap, lalu tatapannya beralih pada bayi gembul nan tampan itu yang ternyata juga sudah terlelap.


"Gue juga tidur aja deh, ngantuk banget." Ucap Arya yang menguap lalu kemudian mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2