Without You

Without You
[S3] Dendam


__ADS_3

Di ruangan berukuran kecil itu terlihat seorang bocah laki-laki sedang meringkuk tak berdaya, luka lebam menghiasi wajah tampannya dan juga beberapa bagian tubuhnya.


Bocah laki-laki itu membuka kedua matanya secara perlahan, saat ada sorot cahaya matahari masuk yang membuat matanya terbuka.


Setetes air mengalir dari pelupuk matanya, bibir nya bergetar menahan rasa sakit yang teramat di seluruh bagian tubuh dan wajahnya. Tengorokkannya juga terasa kering, ia sangat membutuhkan air saat ini agar bisa meredakan rasa haus yang ia derita.


Suara rintihan kesakitan mulai terdengar dari bibir mungil nya, berkali-kali ia mengumamkan kata 'tolong' namun tak ada yang mendengarkannya. Bocah laki-laki itu merasa tubuhnya sudah benar-benar di ambang kematian, ia bahkan merasa bahwa tak ada lagi harapannya untuk bisa hidup di dunia ini.


Tak lama kemudian, telinganya mendengar suara pintu terbuka. Ia tidak bisa menggerakkan badannya barang sedikit pun, jangan kan untuk menoleh untuk bergerak saja dia sudah kesusahan.


"Sudah bangun kamu rupanya."


Bocah itu hanya diam membisu, ia tidak bisa berbicara sepatah kata pun. Lidahnya terasa kelu, dan mati rasa.


"Ck ck, coba lihat betapa malang nya anak ini," ucap seorang wanita yang sudah berjongkok di hadapan bocah laki-laki itu.


Tangannya terulur, mencengkram erat kedua pipi bocah laki-laki itu. Ia tersenyum puas melihat wajah memperihatinkan dan wajah menyedihkan yang di tampilkan oleh bocah laki-laki itu.


"Jangan nangis," ucap wanita itu lagi sambil menghapus air mata yang menetes dari pelupuk mata bocah laki-laki itu dengan kasar.


Brakk


"Bos, perintah sudah berhasil di laksanakan. Mereka semua sudah percaya bahwa tahanan kita sudah tiada."


Wanita itu menyungingkan senyuman miringnya, ia merasa puas. Ia lalu bangkir dari posisi jongkoknya, ia menyuruh kedua anak buah nya untuk mendudukkan posisi bocah laki-laki itu.

__ADS_1


Bocah laki-laki itu pun sudah berubah posisi, menjadi duduk. Dengan badan yang lemas dan tak berdaya, serta sangat memperhatinkan. Namun wanita itu justru malah tersenyum puas melihat keadaan bocah itu.


"Selamat datang di neraka, gue akan ajarkan bagaimana kehidupan yang sebenarnya itu."


Bocah laki-laki itu masih diam, menundukkan kepalanya. Ia seperti patung yang tak berdaya, dengan kondisinya yang sudah memperihatinkan.


"Tenang, lo gk akan gue sakitin. Justru dengan keberadaan lo di sini dendam gue kepada kedua orang tua lo terbayarkan, Arya dan Vidya sudah mengira bahwa putra mereka sudah tiada. Nyatanya putra mereka masih hidup," ucap wanita itu lagi lalu tertawa puas.


Bocah laki-laki itu masih tetap diam, kepalanya terasa sangat sakit saat ini. Semalaman ia di pukuli, badannya bahkan di tendang oleh beberapa pria bertubuh kekar yang saat ini berdiri tak jauh dari ambang pintu.


Wanita itu kembali mencengkram wajah bocah itu lagi, membuat kepala bocah itu yang tadi menunduk jadi mendonggak. Mata sayu nya menatap ke arah wanita yang kini sedang mencengkram kuat wajah nya, ia kembali merintih kesakitan lagi. Lebam di wajahnya masih terlihat begitu ketara.


"A ... air," lirih bocah laki-laki itu lagi dengan wajah memelas.


"Haus? Hmm? Gato cepat ambilkan air!" Perintah wanita itu kepada salah satu anak buahnya, pria bertubuh kekar itu yang bernama Gato pun mengangguk patuh dan segera bergerak menggambil air.


Wanita itu pun menggambil air yang di sodorkan oleh Gato padanya, ia segera memberikan air itu pada bocah laki-laki yang sudah tampak sekarat ini. Saat gelas itu di letakkan di bibir bocah laki-laki itu, ia segera menyesapnya hingga kandas.


Wajah bocah laki-laki itu tampak lega, dahaganya sudah terobati. Ia merasa sudah tampak lebih baik daripada sebelumnya. Lalu tak lama tubuh bocah laki-laki itu pun tumbang dan tak sadarkan diri.


Wanita itu langsung mengendong tubuh bocah laki-laki itu, ia membawa tubuh bocah itu masuk ke dalam sebuah mobil dan mobil itu pun segera melesat pergi.


[]


Mobil yang di kendarai oleh wanita itu pun berhenti di depan sebuah rumah yang megah dan jauh dari pemukiman penduduk lainnya, ia menurunkan bocah laki-laki itu yang masih tak sadarkan diri dari dalam mobil. Ia masuk ke dalam rumah megah itu, dan meletakkan bocah itu di salah satu kamar yang berada di dalam rumah mewah tersebut.

__ADS_1


Lumayan lama bocah itu tak sadarkan diri, hingga hampir sore tiba ia baru membuka lagi kedua matanya. Ia mengerang saat merasakan kepalanya terasa begitu sakit seperti di hantam sebuah batu besar.


"Sudah sadar rupanya," ucap wanita itu lalu dengan santainya berjalan menghampiri sang bocah yang baru sadarkan diri itu.


"A ... air," ucap bocah itu lagi dan wanita itu pun memberi kode pada  anak buah nya untuk memberikan bocah itu air minum.


"Di ... di mana ini?" Tanya bocah itu yang wajahnya tampak bingung. Bocah itu tak lain adalah Gama, putra bungsu dari Vidya dan Arya yang di nyatakan sudah meninggal namun pada kenyataannya kematiannya itu hanyalah sebuah kematian yang sengaja di palsukan oleh orang yang telah tega menculiknya.


"Ka ... kalian siapa? Aku siapa?" Tanya Gama yang wajah nya menyiratkan kebingungan hebat.


Wanita itu pun tampak terkejut saat mendapati bahwa Gama terlihat begitu kebingungan.


"Kamu tidak mengenal diri mu sendiri?" Tanya wanita itu berusaha memastikan bahwa dugaannya benar.


Dan rupanya Gama pun menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan wanita itu, sontak saja wanita itu langsung tersenyum sumringah. Ia merasa sangat senang mengetahui fakta bahwa sepertinya Gama hilang ingatan karna itu bisa mempermudah rencananya.


"Nama kamu adalah Rayn, dan kamu adalah anak saya. Saya ini Ibu kamu," ucap wanita itu yang sudah berhasil memputar balikkan fakta bahkan dia juga mengganti nama Gama dengan nama baru nya yaitu Rayn.


"I ... Ibu?" Tanya Gama yang berganti nama menjadi Rayn, dengan raut wajah bingungnya.


"Iya aku ini Ibu kandung kamu Rayn," ucap wanita itu sambil tersenyum lembut. Berusaha membuat Gama yakin bahwa ia adalah Ibu kandung nya.


"Ibu sangat mengkhatirkan kamu, kamu percaya pada Ibu kan?" Tanya wanita itu lagi dengan air mata palsunya, Gama yang masih bingung dengan apa yang terjadi pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Ibu," panggil Gama lagi dan wanita itu pun tersenyum senang dan langsung membawa Gama ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Raut sedih yang tadi wanita itu tampilkan di depan Gama menguar entah kemana, berganti dengan senyuman miring karna sebentar lagi rencananya akan terealisasikan. Balas dendam nya atas semua penghinaan yang telah Arya dan Vidya akan terbayarkan, ia akan menjadikan Gama sebagai senjata untuk membalaskan dendamnya yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun lamanya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, kemenangan sudah menanti dirinya dan tentu saja semua ini harus di rayakan.


__ADS_2