Without You

Without You
32. Jalan-Jalan Malam


__ADS_3

Part ini masih pake sudut pandang Penulis / Author POV/


Happy reading!


-


-


-


-


-


Arya dan Vidya sedang berjalan beriringan malam ini.


Vidya tak henti-hentinya tersenyum saat Arya terus mengenggam tangannya.


Ada perasaan senang yang menjalar di hati Vidya, ia juga tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat tautan tangan Arya dan dirinya.


"Lo haus gk?" Tanya Arya tiba-tiba, membuat Vidya yang sedaritadi senyam-senyum sendiri mendadak jadi linglung.


"Hah? Kenapa?" Tanya Vidya dengan raut wajah linglungnya.


Arya menghela nafasnya, sambil memandangi wajah Vidya.


"Gue tanya sama lo, lo haus gk?" Tanya Arya, Vidya menganggukkan kepalanya.


"Iya haus, tadi kan belum sempat minum, udah kamu tarik keluar aja sih." Ucap Vidya yang mengingat bahwa dirinya memang belum sempat minum setelah makan malam di acara kantor Arya tadi.


"Ya udah, ayo ikut gue." Ujar Arya, yang kembali menarik tangan Vidya dengan lembut, dan Vidya pun hanya mengikuti langkah Arya dari belakang.


"Kita minum es dawet dulu, kayanya enak." Ujar Arya yang mengajak Vidya ke tukang penjual es dawet.


"Bang es dawet dua ya." Ujar Arya, yang langsung di angguki oleh abang penjual dawet tersebut.


Sambil menunggu pesanan dawet mereka tiba, Arya dan Vidya sama-sama diam.


Mereka sibuk memperhatikan mobil dan motor yang berlalu lalang.


"Kok tumben rame banget." Gumam Arya namun masih dapat di dengar oleh Vidya, bahkan abang tukang es dawet tersebut.


"Ya jelas toh mas, ini kan malam minggu, jadi banyak para pemuda dan pemudi yang jalan-jalan keluar, para jomblo mah bisa apa mas malam-malam begini."


Vidya tersenyum mendengar ucapan abang penjual dawet tersebut, yang menyindir para jomblo.

__ADS_1


"Lah abang nya sendiri emang udah gk jomblo?" Tanya Arya asal nyeletuk saja.


"Mas gk liat? Muka saya? Muka memperihatinkan ini?" Ujar abang tukang dawet sambil menunjuk wajahnya dengan dramatis.


Bahkan dengan polosnya Arya malah mengelengkan kepala.


"Jelas lah mas, saya ini jomblo! Harusnya saya gk usah jualan aja malam minggu begini, mendingan tidur meluk guling di rumah."


Vidya terkekeh mendengar ucapan abang tukang dawet tersebut.


Jika di perhatikan lebih teliti, memang benar wajah abang tukang dawet itu masih terlihat muda dan bahkan mungkin masih seusia dirinya.


"Yeuh malah curhat si abang nya, udah jadi belum itu dawet pesanan saya?" Tanya Arya pada abang tukang dawet yang baru saja mencurahkan isi hatinya.


"Iya ini sebentar lagi jadi, lagi tak saya buatin kok. Btw mba dan mas nya ini kakak adek ya? Kok mukanya mirip?" Tanya si abang tukang dawet mulai kepo.


"Kita udah nikah." Jawab Arya enteng, namun Vidya yang mendengarnya merasakan jantung nya 'jedag jedug' tidak karuan.


"Yah saya kira kakak adek, tadinya mau saya gebet tuh si mbak, cantik banget soalnya. Beruntung banget mas dapetin perempuan secantik mbaknya itu." Ucap si abang tukang cendol yang memuji kecantikan Vidya.


"Tapi nih ya, tadi saya kira kalian berdua kakak adek, habisnya muka mba sama mas nya mirip. Eh tapi biasanya kalau muka mirip itu emang jodoh sih." Arya hanya diam mendengarkan ucapan si abang tukang dawet tersebut.


"Nih silahkan di minum ya mba, mas nya." Ujar si tukang dawet yang memberikan dua gelas dawet pesanan Arya.


"Nih buat lo." Ujar Arya yang menyodorkan satu gelas dawet tersebut pada Vidya.


Arya dan Vidya pun diam, menikmati dawet tersebut.


Setelah selesai menikmati dawet dan tak lupa membayarnya.


Arya mengajak Vidya untuk jalan-jalan ke tempat lain, Vidya pun menurut.


"Kita makan sate yuk, enak tuh kaya nya." Ajak Arya ketika melihat warung sate di pinggir jalan.


Vidya pun menganggukkan kepalanya, lalu ia berjalan beriringan bersama Arya menuju ke warung sate tersebut.


Arya menyuruh Vidya untuk duduk terlebih dahulu, kebetulan konsep dari warung sate itu lesehan, yang membuat Vidya lebih leluasa memilih tempat duduk.


Sementara Arya, pria itu memilih untuk ikut mengantri bersama pelanggan lainnya yang juga hendak memesan sate.


Vidya mengamati Arya yang sedang sabar mengantri.


Tanpa sadar Vidya sudah menyungingkan senyumannya, ia merasa matanya memanas, merasa terharu sekaligus bahagia bisa jalan-jalan berdua seperti ini bersama Arya.


Lumayan lama Arya mengantri, karna kebetulan banyak juga pelanggan yang memesan sate tersebut, membuat Vidya mengantuk akhirnya ia pun tidak sadar sudah tertidur dengan kepala yang menelungkup.

__ADS_1


Sudah hampir setengah jam Arya berdiri dan mengantri, akhirnya ia berhasil mendapatkan dua porsi sate, untuk dirinya dan Vidya.


Arya segera berjalan ke arah Vidya yang pasti sudah menunggu dirinya.


Arya meletakkan dua piring sate tersebut di atas meja, lalu tatapannya beralih pada Vidya yang menelungkupkan wajahnya di atas meja.


"Vidya." Panggil Arya namun tak ada sahutan.


Lalu tangan Arya tergerak menyentuh punggung Vidya dan menepuknya beberapa kali dengan pelan.


"Lah dia tidur?" Tanya Arya pada dirinya sendiri.


Arya menatap ke sekelilingnya yang tampak ramai, lalu Arya mengelengkan kepalanya, tidak habis fikir dengan Vidya yang bisa tertidur begitu nyaman padahal suasana nya sedang ramai begini.


"Vidya bangun." Ujar Arya yang lagi-lagi mencoba membangunkan Vidya, dan kali ini berhasil.


Vidya membuka mata dan mengangkat kepalanya, tatapannya langsung beradu dengan manik mata Arya.


"Ini sate nya udah gua pesenin."


Vidya pun menoleh ke arah dua piring sate yang sudah ada di atas meja, terlihat sangat mengiurkan.


"Makan dulu, abis ini kita pulang." Ujar Arya yang menyodorkan piring sate tersebut ke hadapan Vidya.


Vidya pun mengangguk menuruti ucapan Arya.


Arya dan Vidya, menyantap sate tersebut dalam diam.


Arya juga sangat menikmati sate tersebut, ia bahkan merasa tak sia-sia berdiri lama untuk mengantri, agar dapat mencoba sate seenak ini.


Setelah selesai menyantap sate tersebut tak lupa juga membayarnya, Arya dan Vidya pun memutuskan untuk pulang karna hari sudah mau larut.


Arya segera memesan taksi online dari ponsel nya.


Tak perlu waktu lama untuk menunggu taksi online pesanan mereka tiba.


Sama seperti sebelumnya, Arya juga membukakan pintu taksi untuk Vidya, dan menyuruh gadis itu untuk masuk ke dalam taksi terlebih dahulu.


Di sepanjang perjalanan pulang, berulang kali Vidya menguap, menahan rasa kantuknya.


Arya yang melihat Vidya terkantuk-kantuk menahan rasa kantuknya pun, segera mengarahkan kepala Vidya untuk bersandar di bahunya.


Vidya yang kaget dengan perlakuan Arya tersebut pun hendak menjauhkan kepalanya, namun Arya menahannya.


"Udah lo tidur aja, kalau udah sampe rumah, biar gue yang bangunin." Ucap Arya pada Vidya, Vidya pun mengangguk dan tetap bersender di bahu Arya dan perlahan memejamkan matanya.

__ADS_1


Namun sepertinya Arya juga merasa ngantuk, akhirnya Arya memilih untuk ikut menyenderkan kepalanya di kepala Vidya, dan mulai terlelap menyusul Vidya ke alam mimpi.


__ADS_2