Without You

Without You
Stuck With You (Gama Story)


__ADS_3

Mata Keira perlahan terbuka saat mendengar sayup-sayup suara adzan subuh berkumandang, perasaan hangat dan tertram menjalan memasuki relung hati Keira saat ia mendengar suara adzan subuh yang begitu merdu pagi ini.


Keira pun merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk, ia menoleh ke arah samping dan tidak mendapati keberadaan Rayn. Setengah panik, Keira berusaha mencari keberadaan Rayn, lalu manik matanya menangkap siluet sosok seseorang yang sedang tertidur di sofa.


Walaupun di bawah sinar lampu yang temaram, namun Keira dapat memastikan bahwa sosok yang tertidur di sofa saat ini adalah Rayn, pria yang kemarin baru saja sah menjadi suaminya.


Mengingat pernikahan itu, Keira kembali di tarik ke kenyataan. Ia tak menyangka ternyata statusnya kini sudah berbeda.


Tak mau terlalu larut dalam pemikirannya, Keira pun bangkit dari duduknya sambil merapihkan kerudungnya yang agak miring. Setelahnya Keira masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan menggambil wudhu karna ia akan melaksanakan sholat subuh pagi ini.


Setelah membersihkan diri, Keira berjalan ke arah Rayn dan berusaha membangunkan pria itu untuk sholat subuh bersamanya pagi ini.


"Rayn bangun," panggil Keira namun yang dipanggil hanya diam dan masih terlelap.


"Rayn ih bangun," kata Keira dan kali ini di sertai guncangan tangannya di badan Rayn.


"Enhh," gumam Rayn tidak jelas dan kembali tertidur.


Keira menghela nafasnya, berusaha tetap bersabar dalam menghadapi tingkah Rayn yang tak juga bangun dari tidurnya.


"Sabar Kei lo harus sabar ... ini ujian," kata Keira berusaha menyemangati dirinya sendiri yang sudah mulai kesal membangunkan Rayn yang tak juga bangun dari tidurnya.


"Rayn sayang bangun yuk kita sholat subuh," bisik Keira lembut di telinga Rayn. Lalu ajaibnya perlahan mata Rayn pun terbuka, melihat Rayn yang sepertinya sudah bangun dari tidurnya itu membuat Keira merasa lega.


"Giliran di teriakin gk bangun giliran di bisikin baru bangun, cih," cibir Keira yang tak habis fikir dengan kelakuan Rayn.


"Kenapa?" tanya Rayn yang masih setengah sadar dan sedang mengucek kedua matanya.


"Bangun, kita sholat subuh bareng," ajak Keira.


"Sholat subuh?" tanya Rayn yang kesadarannya perlahan kembali.


"Iya, ayo sholat subuh bareng." mendengar perkataan Keira barusan membuat Rayn terdiam, bingung harus bereaksi seperti apa saat ini.


"Kenapa? Kok diem? ayo kita sholat subuh bareng, nanti waktunya keburu habis," kata Keira lagi sambil menunjuk ke arah jam digital yang terpajang di dinding kamar.


"Kamu sendiri saja, nanti saya menyusul." akhirnya itulah jawaban yang Rayn berikan kepada Keira, mendengar perkataan Rayn barusan Keira tentu saja agak sedikit kecewa karna impiannya dahulu ingin bisa merasakan sholat subuh bersama dengan suaminya pupus sudah.


Namun Keira berusaha menyemangati dirinya sendiri agar tidak bersedih, Keira pun akhirnya menyungingkan senyumannya. Mungkin kali ini ia tidak bisa mewujudkan impiannya untuk bisa sholat subuh berjamaah bersama dengan Rayn, suaminya.


"Oke deh, kalau gitu gue mau sholat subuh dulu dan lo ...." Keira menjeda ucapannya sambil menatap Rayn lekat.


"Kenapa dengan saya?" tanya Rayn sambil menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Dan lo jangan tidur lagi! Capek gua bangunin lo yang tidur pules banget," gerutu Keira lalu bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi untuk menggambil wudhu.


Rayn hanya menaikkan sebelah alisnya lalu mengedikkan bahu, tak paham dengan tingkah Keira barusan. Ternyata selain keras kepala gadis itu aneh juga.


........


Setelah selesai sholat subuh dan mengaji, Keira turun ke bawah sementara Rayn saat ini sedang membersihkan dirinya.


Rencananya pagi ini Keira ingin membuat sarapan untuknya dan juga Rayn, serta mamah mertuanya juga tentunya.


"Nona muda mau ngapain?" tanya seorang wanita paruh baya yang sepertinya bekerja untuk Rayn dan keluarganya.


"Saya mau masak Bu," kata Keira dengan senyuman ramahnya.


"Eh jangan, Nona muda sebaiknya kembali ke kamar saja.  Biar kami yang masak karna itu sudah menjadi tugas kami," kata wanita paruh baya itu yang melarang Keira untuk memasak di dapur.


"Loh kenapa? Kok saya gk boleh bantuin masak?"


"Karna kamu adalah Nona di rumah ini." Keira pun membalikkan badannya, dan mendapati sosok Mamah Rayn yang kini merupakan Mamah mertuanya.


"Kembali ke kamarmu, biar Bi Ijah yang masak." suruh Mamah Rayn pada Keira, Keira ingin membantah namun sebisa mungkin ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk menuruti saja permintaan Mamah mertuanya itu.


Cklek


Keira membuka pintu kamarnya dan melihat sosok Rayn yang sepertinya baru saja selesai membersihkan diri, dan kini pria itu sudah rapih dengan stelan kemeja dan celana jeansnya.


"Tutup dulu pintunya Keira," titah Rayn dan Keira pun menurut.


Setelah menutup pintu Keira masih berdiri di ambang pintu menatap Rayn dari atas hingga bawah.


"Kenapa kamu malah diam dan memandangi saya di depan pintu begitu?" tanya Rayn yang baru saja selesai merapihkan rambutnya.


"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi, mau ke mana lo pagi-pagi dengan pakaian rapih begitu?" tanya Keira lagi.


Rayn tak menjawab dan memilih kembali menata rambutnya yang padahal sudah terlihat rapih bahkan sangat rapih saat ini.


"Ck, gue malah di kacangin," decak Keira yang pertanyaannya tak kunjung di jawab oleh Rayn.


"Saya ada urusan pagi ini," kata Rayn setelah berhasil membuat Keira kesal.


"Oh," jawab Keira singkat lalu berjalan melewati Rayn begitu saja.


"Kalau mau sarapan, sarapan saya lebih dulu, jangan menunggu saya pulang."

__ADS_1


"Cih, lagian siapa juga yang mau nungguin lo sampe pulang," sahut Keira sambil merotasi bola matanya.


Rayn menghela nafasnya pelan, lalu berjalan dan berdiri tepat di hadapan Keira yang saat ini sedang duduk di sofa, dengan wajah yang terlihat bete.


"Saya ada salah sama kamu? Kalau memang iya, saya minta maaf," ujar Rayn namun Keira masih bungkam dan bahkan enggan menatap Rayn yang berdiri tepat di hadapannya.


"Keira," panggil Rayn namun tak ada sahutan dari Keira.


"Keira," panggilan kedua juga tak ada sahutan.


"Maafkan saya ya?" Keira mengerjap-ngerjapkan matanya saat Rayn berlutut tepat di depannya dan menatap lurus ke arah manik matanya.


"Ng ... ngapain sih lo!" ketus Keira yang entah mengapa merasa kikuk dengan tingkah Rayn barusan.


"Maafkan saya sudah membuat kamu merasa kesal pagi ini," ucap Rayn dengan suara lembutnya. Bahkan Keira juga tak mengira jika pria pendiam seperti Rayn dapat bertingkah lembut seperti ini.


"Hmm," dehem Keira singkat.


"Kamu memaafkan saya, iya atau tidak?" tanya Rayn masih dengan posisi berlutut di hadapan Keira.


"Ck, iya! Udah gue maafin ... puas lo?!" ujar Keira ketus lalu bangkit berjalan ke arah koper miliknya, ia berniat untuk menyusun baju-baju miliknya yang kemarin belum sempat ia rapihkan ke dalam lemari.


"Saya sudah hampir terlambat, kalau begitu saya pamit pergi dulu ya. Kamu jangan lupa makan dan istirahat," ucap Rayn pada Keira yang masih serius merapihkan bajunya.


"Iya," balas Keira singkat namun saat telinganya mendengar suara pintu kamar terbuka, ia langsung bangkit dan berlari ke arah pintu, menghampiri Rayn.


"Rayn tunggu!" panggil Keira dan berhasil membuat langkah Rayn terhenti.


"Ada apa Keira?" tanya Rayn sambil menaikkan sebelah alisnya.


Rayn tak menduga apa yang di lakukan oleh Keira saat ini, gadis itu menyalimi pungung tangannya dengan khitmad membuat sesuatu di sudut hati Rayn ada yang terasa berbeda.


"Hati-hati ya," kata Keira setelah selesai menyalimi tangan Rayn.


Rayn terpaku saat melihat senyuman yang Keira tampilkan padanya, Rayn tak mengira jika mood gadis yang sekarang sudah menjadi istirnya ini cepat sekali berubah-ubah, padahal sebelumnya dia kesal pada Rayn dan sekarang dia sudah memasang senyuman kembali di wajah cantiknya.


"Maaf ya kalau tadi gue ngambek gk jelas dan bertingkah kekanak-kanakan sama lo," kata Keira yang merasa tak enak dengan sikapnya pada Rayn beberapa menit yang lalu.


"Tidak masalah, ada lagi yang kamu butuhkan?" tanya Rayn dan Keira pun mengelengkan kepalanya.


"Gk ada," kata Keira sambil kembali menyungingkan senyumannya.


"Kalau begitu saya pergi dulu ya," pamit Rayn dan Keira menganggukkan kepalanya serta melambaikan tangannya pada Rayn.

__ADS_1


Rayn tersenyum lalu berjalan menjauh dari ambang pintu kamarnya, namun sebelum benar-benar pergi ia kembali menoleh untuk melihat Keira apakah masih ada di depan pintu kamar atau tidak, dan ternyata gadis itu masih ada di sana. Rayn pun kembali melanjutkan langkahnya.


"Mengemaskan," gumam Rayn sembari menuruni anak tangga dan senyumannya pun mengembang walaupun tidak lebar namun sangat langka sekali, bahkan Rayn tak ingat sejak kapan ia bisa tersenyum karna orang lain seperti ini selain Naya tentunya.


__ADS_2