Without You

Without You
Stuck With You (Gama Story)


__ADS_3

Hari ke dua Keira berada di rumah Rayn, tak ada yang berbeda dari kemarin hanya saja kehadiran gadis asing itu yang membuat berbeda dari kemarin.


Pagi ini Keira tidak sengaja melihat Rayn dan gadis asing itu sedang duduk di taman belakang, keduanya terlihat sangat mesra bahkan mungkin jika orang lain yang melihat akan menyangka bahwa Rayn dan gadis asing itu adalah sepasang kekasih.


Tak ingin ikut campur, Keira pun berlalu begitu saja. Ia harus sarapan dan berangkat ke sekolah pagi ini, Keira tak tau apakah Rayn juga akan masuk sekolah lagi atau tidak.


Saat ini Keira sudah duduk di meja makan, bersiap untuk menyantap sarapan paginya namun kedatangan seseorang membuat ia mengurungkan kegiatan sarapannya.


"Selamat pagi." sapa orang itu yang tak lain adalah Mamah mertuanya sendiri.


"Pagi juga Mah," sahut Keira agak canggung juga berhadapan dengan Mamah mertuanya pagi ini.


"Kamu mau berangkat ke sekolah?"


Keira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Mamah mertuanya, yang saat ini duduk berhadapan dengan dirinya.


"Besok-besok kamu tidak perlu berangkat ke sekolah lagi."


Keira yang tadi hendak menyuapkan makanan ke mulutnya pun ia urungkan saat mendengar perkataan Mamah mertuanya barusan.


"Maaf Mah ... maksud Mamah apa ya?" tanya Keira yang nafsu makannya sudah menguar entah ke mana.


"Maksud Mamah, kamu tidak perlu bersekolah lagi. Mulai minggu depan kamu home schooling saja."


Jderrr


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Keira tak dapat berkata-kata lagi mendengar ucapan Mamah mertuanya yang menyuruh dirinya untuk bersekolah di rumah saja.


Keira diam, menundukkan kepalanya. Berusaha menyembunyikan raut wajah kesedihannya. Ia tidak mau homeschooling, ia mau bersekolah biasa saja. Ia tidak mau di kekang seperti ini, karna sejak kecil Keira memang anak yang selalu di berikan kebebasan perihal pilihan namun tetap berpegang pada aturan.


Tapi sekarang, Mamah mertuanya malah ingin memasukkan Keira ke homeschooling dan tentu saja Keira tidak mau.


"Kei sudah selesai sarapan, Kei berangkat sekolah dulu Mah," pamit Keira seraya bangkit dari duduknya lalu memutari meja dan menyalimi tangan Mamah mertuanya. Walaupun ia merasa kesal dan merasa bahwa keputusan Mamah mertuanya itu tidak adil, Keira tetap berlaku sopan karna bagaimanapun itulah yang selalu di tanamkan oleh keluarganya sejak dia kecil.


"Iya," jawab Mamah mertua Keira singkat.


Keira pun melangkahkan kakinya ke luar rumah. sesampainya di teras rumah, Keira terdiam berusaha mengatur emosinya yang tiba-tiba saja meluap bahkan matanya kini terasa perih, ia sekali ingin menangis saat ini.


"Kei tahan Kei, lo pasti kuat," hibur Keira pada dirinya sendiri.


Ia menarik nafas dan menghembuskannya, hal itu ia lakukan berulang kali agar dirinya merasa lebih tenang. Setelah merasa agak tenang Keira pun melangkahkan kakinya, untuk berangkat ke sekolah.


"Keira tunggu." namun suara Rayn telah berhasil menghentikan langkah Keira.


"Kenapa?" tanya Keira yang sudah berbalik badan menghadap Rayn.

__ADS_1


"Biar saya antar," kata Rayn dan Keira hendak menolak namun ucapan Rayn selanjutnya membuat Keira diam tak berkutik.


"Saya tidak suka penolakkan Keira," ucap Rayn tegas dan entah mengapa nada suaranya itu membuat Keira menjadi orang yang penurut seketika.


Akhirnya Keira pasrah saja di antar oleh Rayn ke sekolah, saat ini keduanya sedang berada di dalam mobil. Rayn menyetir dengan serius sementara Keira memilih untuk menatap ke arah luar kaca mobil, dan mulai melamun.


"Kei," panggil Rayn namun belum ada sahutan dari Keira.


Rayn menghela nafasnya pelan, lalu menepuk bahu Keira dan barulah gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Eh? Kenapa Rayn?" tanya Keira sambil mengerjapkan matanya.


"Mau sampai kapan kamu terus melamun? Tidak mau turun?" tanya Rayn membuat Keira langsung menolehkan kepalanya ke arah luar, dan ternyata dirinya sudah sampai di sekolah.


"Udah sampe ternyata," gumam Keira namun masih bisa di dengar oleh Rayn.


"Kalau gitu gue turun dulu," ujar Keira yang hendak turun dari dalam mobil.


"Tunggu dulu Keira." Keira pun mengurungkan niatnya untuk turun dari dalam mobil.


"Kenapa?" tanya Keira bingung.


"Kalau ada masalah, kamu bisa berbagi masalahmu pada saya. Saya akan mendengarkannya, ya walaupun saya sendiri tidak tau nanti saran dari saya akan membantu atau tidak. Tapi setidaknya itu akan membuatmu lebih merasa tenang," kata Rayn sambil tersenyum tipis namun terlihat jelas bahwa senyuman itu penuh ketulusan bahkan berhasil membuat Keira terdiam sejenak.


"Hmm ya, terimakasih," ujar Keira sambil memberikan senyumannya pada Rayn.


"Iya," ujar Rayn mengiyakan. Namun sampai saat ini Keira belum juga turun dari dalam mobil.


"Gk jadi turun?" tanya Rayn sambil menautkan alisnya bingung.


"Tangan lo," kata Keira dan Rayn pun menurut saja.


Rayn tertegun lagi saat Keira menyalimi punggung tangannya sama seperti yang gadis itu lakukan kemarin.


"Gue gk mau di anggap istri durhaka hehe, ya udah gue berangkat dulu ya." setelah mengatakan itu Keira benar-benar turun dari dalam mobil meninggalkan Rayn yang masih terpaku di tempat memandangi punggung tangannya yang beberapa menit lalu di salimi oleh Keira.


Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang berdesir di hatinya, terasa hangat, membuat dadanya agak berdebar tidak seperti biasanya.


"Detak jantung saya kenapa? Kok beda dari biasanya ya?" tanya Rayn pada dirinya sendiri seraya menyentuh permukaan dadanya yang bergemuruh dengan cepat.


.......


Rayn akhirnya tiba di rumah setelah selesai mengantar Keira ke sekolah.


"AAAAA"

__ADS_1


Langkah Rayn seketika terhenti saat ia mendengar teriakkan nyaring dari dalam rumah, Rayn yakin itu adalah teriakkannya Nayya.


Tanpa fikir panjang lagi Rayn bergegas masuk ke dalam rumahnya, suara teriakkan tadi berasal dari arah kamarnya dan Rayn pun segera berjalan menuju ke kamarnya.


Cklek


Kedua mata Rayn terbelalak sempurna saat ia melihat Nayya sedang meringkuk di sudut kamar, raut wajahnya terlihat begitu ketakutan lalu tatapan Rayn beralih pada seorang wanita yang duduk tepat di atas tempat tidur Rayn sedang memandang tajam ke arah Nayya.


"Apa yang Mamah lakukan sama Nayya?!" seru Rayn yang langsung berlari menghampiri Nayya.


"Rayn ...." lirih Nayya dengan mata yang berderai air mata.


"Jangan takut Nay, aku sudah ada di sini," bisik Rayn lembut seraya menangkup wajah Nayya dengan kedua tangannya.


"Apa yang Mamah lakukan pada Nayya, Mah?! Jawab!" bentak Rayn yang saat ini terlihat sangat marah pada sang Mamah yang hanya diam menatap ke arah Rayn dan juga Nayya yang masih di liputi oleh rasa takut.


"Saya tidak melakukan apa-apa, tanyakan saja pada ****** ini apa yang sebenarnya sedang ia rencanakan."


Perkataan Mamah barusan membuat Rayn menolehkan kepalanya kembali menghadap ke arah Nayya.


"Rayn, Mamah kamu mau ngusir aku dari sini," bisik Nayya sambil mencengkram tangan Rayn erat dengan tangannya yang sudah bergetar ketakutan.


"Mamah kenapa mau mengusir Nayya dari sini tanpa persetujuan Rayn?!" tanya Rayn dengan nada dinginnya, menatap nyalang pada sang Mamah yang hanya memberikan senyuman sinisnya.


"Ayolah Rayn, dia ini hanya parasit dalam hidupmu. Dia bisa menghancurkan rencana kita Rayn, kalau Keira sampai tau hubungan kalian yang sebenarnya apa yang akan kau katakan padanya? Kau mau dia pergi setelah susah payah aku berusaha mengatur semuanya?!"


Rayn mengeretakkan giginya, kedua tangannya terkepal kuat menahan emosinya yang mulai meluap.


"Bawa gadis itu pergi kalau tidak ...."


Rayn menatap Mamahnya dengan tatapan yang semakin nyalang.


"Kalau tidak kamu tidak akan pernah bisa melihatnya lagi sampai kapanpun," ucap Mamah Rayn setelah itu wanita cantik itu pun pergi meninggalkan Rayn dan Nayya yang masih ketakutan di belakang Rayn.


"Rayn ...." panggil Naya dengan suara yang bergetar.


Sadar bahwa ada Nayya di belakangnya saat ini Rayn pun menghela nafasnya ia berusaha mengatur emosinya, setelah cukup tenang ia berbalik menghampiri gadis itu yang menatapnya dengan tatapan begitu menyedihkan.


"Jangan takut Nay, seperti janji aku dulu. Aku akan selalu melindungi kamu sampai kapanpun," ucap Rayn sambil membelai lembut pipi Nayya.


Nayya menatap manik mata Rayn dalam, ia bisa melihat ketulusan Rayn padanya hanya dari sorot mata Rayn saat ini dan hal itu jugalah yang membuat Nayya merasa aman bersama dengan Rayn.


"Sini peluk," ucap Rayn sambil tersenyum dan merentangkan kedua tangannya ke arah Nayya. Melihat itu senyuman Nayya ikut mengembang dan segera berhambur ke dalam pelukkan Rayn.


Seharusnya tak ada yang perlu Nayya takutkan selagi ada Rayn bersamanya, seharusnya memang begitu namun entah mengapa Nayya merasa hatinya berkata lain. Hatinya berkata bahwa suatu saat nanti ia tak akan bisa lagi mendapatkan kehangatan dari Rayn seperti ini, namun Nayya berusaha menyangkalnya ia tidak mau sampai itu terjadi.

__ADS_1


Selamanya Rayn hanya miliknya seorang, dan sesuatu yang sudah menjadi miliknya tak akan bisa dimiliki oleh orang lain.


__ADS_2