
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Happy Reading!
-
-
-
-
Operasi pada Vidya kini sedang berlangsung, semua keluarganya menunggu dengan cemas keadaan Vidya saat ini.
Semuanya terus berdoa, dan berharap bahwa keadaan Vidya maupun bayinya akan baik-baik saja.
Arya terus menatap ke arah lampu ruang operasi yang masih berwarna merah pertanda bahwa operasi masih belum selesai dilakukan.
Namun tiba-tiba saja pintu ruangan operasi pun terbuka, menampilkan sosok dokter dengan pakaian operasinya.
"Siapa diantara kalian yang bernama Arya?" Tanya dokter tersebut, lalu Arya pun langsung mengangkat tangannya.
"Masuklah ke dalam, pasien ingin bertemu denganmu."
Arya menganggukkan kepalanya lalu ikut berjalan masuk ke dalam ruangan operasi bersama dengan dokter tersebut.
Ruangan operasi terlihat remang, hanya ada pencahayaan dari meja operasi saja saat ini. Lalu manik mata Arya menatap ke arah seseorang yang saat ini sedang berbaring di atas brankar.
"A...Arya."
Arya yang sedaritadi terdiam di depan pintu pun akhirnya melangkahkan kakinya menuju ke arah Vidya.
Arya mendekatkan wajahnya ke arah Vidya untuk bisa mendengar lebih jelas apa yang akan Vidya katakan padanya.
"T ... tolong selamatkan bayi ini, se ... selamatkan dia. Aku mohon padamu," ucap Vidya dengan terbata-bata.
Meskipun pencahayaan di ruangan operasi itu agak minim namun Arya masih bisa menangkap raut wajah Vidya yang tampak pucat pasi.
Arya berusaha untuk tetap tegar dan tidak menangis, namun untuk menjawab pertanyaan Vidya barusan rasanya lidah Arya terasa kelu jadi dia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban.
Vidya tersenyum lemah, namun senyuman itu akan selalu terlihat manis bagi Arya. Arya pun ikut tersenyum, lalu tangan Vidya pun tergerak pelan menggambil tangan Arya dan mengengamnya walaupun genggaman tangan Vidya pada Arya agak lemah karna saat ini Vidya masih berada di bawah pengaruh obat bius, jadi bisa dibilang Vidya masih setengah sadar.
Vidya memejamkan matanya, lalu air mata pun mulai menetes dari pelupuk matanya. Lalu matanya pun kembali terbuka, dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya. Vidya kembali menatap manik mata coklat milik Arya dengan begitu dalam.
Manik mata coklat itulah yang pertama kali Vidya lihat saat bertemu dengan Arya, pertemuan yang tidak disengaja dan justru merupakan awal dari takdir dalam hidupnya.
Arya mengenggam tangan Vidya dengan erat, mencoba menyalurkan kekuataannya pada Vidya.
"Jangan menangis," ujar Vidya seraya menghapus air mata yang mengalir di pipi Arya.
Nyatanya sekuat apapun Arya berusaha tuk tetap tegar tapi dia tetap saja tidak tahan melihat Vidya yang masih tetap tersenyum menahan rasa sakitnya.
Arya tau pasti Vidya merasa kesakitan saat ini, karna mengingat operasi masih tetap berjalan saat ini.
Arya terus membisikkan kata-kata yang menenangkan pada telinga Vidya, seraya berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Vidya hanya menganggukkan kepalanya setiap kali mendengar Arya berbicara.
"Aku ngantuk," ucap Vidya dengan tiba-tiba.
"Aku capek Arya dan aku mau istirahat."
Arya hanya diam mendengar ucapan Vidya namun jari jemari keduanya masih tetap saling bertautan.
Arya mengelengkan kepalanya, ia meminta Vidya untuk tetap terjaga dan bertahan. Arya juga bilang kalau sebentar lagi anaknya pasti akan segera lahir.
Di saat Arya sedang menenangkan Vidya, tak lama suara tangisan bayi pun terdengar nyaring. Arya yang mendengar itu langsung tersenyum serta meneteskan air mata penuh rasa haru.
"Kamu dengarkan? Itu suara bayi kita! Bayi kita sudah lahir Vidya," ujar Arya dengan begitu antusiasnya, Vidya pun ikut tersenyum penuh haru.
"Aku sudah berhasil menyelamatkannya."
Arya menganggukkan kepalanya, ia pun tanpa sadar mengecup puncak kepala Vidya.
"Terimakasih Vidya, terimakasih sudah melahirkannya ke dunia ini. Kamu perempuan yang hebat," bisik Arya tepat di telinga Vidya.
Vidya menganggukkan kepalanya, ia juga merasa bahagia karna anaknya sudah terlahir ke dunia ini dengan selamat.
"Cepat pulih Vidya, bayi kita membutuhkan Ibu nya." Ucap Arya lalu kembali mengecup puncak kepala Vidya begitu dalam, setelahnya Arya pun melangkahkan kaki keluar ruangan.
Sementara itu bayi Vidya saat ini sedang di bersihkan oleh dokter terlebih dahulu.
Arya keluar dari ruangan operasi, di sambut dengan isak tangis orang-orang yang sedaritadi menunggu diluar.
Mereka rupanya juga mendengar suara isak tangis bayi Vidya, bahkan mereka semua mengucapkan rasa syukur pada Allah karna akhirnya Vidya bisa melahirkan anaknya ke dunia ini dengan selamat.
"Selamat Arya! Sekarang kamu sudah menjadi seorang Ayah," ucap Siren yang sudah menteskan air mata bahagiannya, Arya menganggukkan kepalanya lalu mengucapkan terimakasih pada Siren.
"Kamu gk mau meluk saya?" Tanya Abi Vidya memecah ketegangan di antara keduanya, semua orang pun ikut tersenyum saat Arya berhambur ke dalam pelukkan Abi Vidya.
Abi Vidya mengelus punggung Arya yang bergetar karna tak kuasa lagi menahan tangis.
"Maafkan saya Abi ... maaf karna saya sudah menyakiti putri Abi," ujar Arya yang saat ini berlutut di kaki Abi Vidya.
Arya sungguh menyesal karna sudah menyia-nyiakan Vidya, dia sungguh menyesal tidak bisa menepati ikrarnya untuk selalu menjaga dan melindungi Vidya karna nyatanya selama Vidya menjadi istrinya. Gadis itu selalu merasa tertekan dan merasa sedih.
"Bangunlah," ujar Abi Vidya yang mengangkat kedua bahu Arya dengan lembut.
"Saya memang sempat sangat membenci kamu, karna kamu sudah membuat putri saya menderita. Tapi Vidya pernah bilang pada saya, untuk jangan pernah membenci orang lain. Saat itu saya sangat marah sama kamu, tapi Vidya? Entahlah gadis itu terlalu baik hati, dia bahkan tak pernah menaruh dendam ataupun kebencian pada dirimu."
Arya yang mendengar hal tersebut hanya bisa menundukkan kepalanya sambil terisak, sebenarnya hati Vidya terbuat dari apa? Kenapa gadis itu sangat baik pada dirinya? Kenapa gadis itu tidak pernah menyimpan rasa benci padahal Arya sudah sering melukai hatinya.
Vidya adalah bidadari yang tak bersayap yang selama ini tak pernah bisa Arya lihat, Arya terlalu terbutakan oleh cintanya pada Siren sehingga ia mengabaikan Vidya yang notabennya adalah istrinya saat itu.
Kini semuanya hanya bisa menjadi penyesalan yang teramat di dalam lubuk hati Arya.
"Selamat saat ini kamu sudah menjadi seorang Ayah," ucap Abi Vidya lagi, lalu Arya pun mengangkat kepalanya lalu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum sendu.
"Jadilah pria yang bertanggung jawab, jangan ulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya," pesan Ayah Vidya dan di balas anggukkan lagi oleh Arya.
Lalu kemudian seorang suster keluar dari ruangan dan meminta Arya untuk masuk ke dalam, Arya pun menurutinya.
__ADS_1
Di dalam ruangan suster itu menyerahkan seorang bayi mungil yang sudah bersih pada Arya.
Untung saja Arya sudah pernah mengendong Aksara saat baru lahir dulu, jadi Arya tidak terlalu kaku untuk mengendong bayinya.
Arya pun membawa bayi itu ke dekat Vidya karna Vidya yang memintanya.
"Adzani dia," suruh Vidya pada Arya dan di balas anggukkan kepala oleh Arya.
Arya menatap wajah anaknya yang berjenis kelamin perempuan, anaknya itu terlihat sangat tenang berada di dalam gendongan Arya saat ini.
Arya pun segera mengumandangkan adzan di telinga kanan Anaknya, suara Arya ternyata terdengar merdu saat ia melantunkan Adzan tersebut.
Vidya meneteskan air matanya ketika mendengar suara Arya yang sedang mengadzani putrinya, Vidya menangis harus tidak menyangka bahwa kini dirinya sudah menjadi seorang Ibu.
"Dia sangat cantik," ucap Arya yang sudah selesai mengumandangan Adzan dan Iqamah di telinga putrinya.
Vidya menganggukkan kepalanya, ia menatap putrinya yang masih berada dalam gendongan Arya dan rasa haru pun menghampiri relung hatinya.
Di tatapnya dengan lekat setiap seluk beluk wajah putrinya itu, lalu tatapan Vidya pun beralih pada Arya.
"Jaga dan besarkan dia dengan baik," ucap Vidya dengan begitu lirih.
"Bukan cuma aku yang akan menjaga dan membesarkan dia, tapi kita berdua yang akan membesarkannya."
Vidya mengelengkan kepalanya dengan lemah, kemudian ia kembali menyungingkan senyuman di bibir pucatnya.
"Aku sudah lelah Arya, seluruh badanku terasa sakit. Aku sangat lelah dan ingin beristirahat saat ini," ujar Vidya lagi.
Arya yang mendengar ucapan aneh Vidya pun segera mengelengkan kepalanya, ia tidak terima Vidya berbicara seperti itu.
"Jangan bicara begitu Vidya, kamu harus kuat. Demi putri kita, bukankah selama ini kamu sudah berjuang mempertahankannya? Sekarang dia sudah lahir dan kamu harus tetap kuat demi dia!"
Arya berusaha menyemangati Vidya, Vidya hanya diam air matanya kembali mengalir dari pelupuk matanya.
Arya pun menaruh bayinya tepat disamping Vidya, kemudian tangannya mengenggam erat tangan Vidya seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Di tatapnya wajah pucat Vidya dengan begitu lekat, tangan Arya terulur menghapus bulir keringat yang membasahi wajah cantik Vidya.
Vidya juga menatap Arya, keduanya hanya saling diam namun tatapan mereka menyiratkan bahwa keduanya masih salingĀ mencintai satu sama lain.
Lalu Vidya menolehkan kepalanya, senyumannya terbit ketika melihat putrinya yang saat ini berbaring tepat di sisinya.
Perlahan mata Vidya mulai terpejam, lalu terdengar juga suara alat pendeteksi jantung yang berbunyi dengan begitu nyaring.
Arya menatap ke arah monitor alat pendeteksi jantung tersebut, garis-garis yang melengkung itu kini perlahan mulai berubah lurus dan mulai tidak stabil.
Arya pun segera menekan tombol darurat, sambil terus meneriaki nama Vidya agar gadis itu tetap membuka matanya.
"Vidya!" Teriak Arya dengan air mata yang menetes semakin deras, suasana di ruangan itu terasa begitu mencekam dan tak lama suara tangisan bayi Vidya mulai terdengar dengan begitu kencang.
Bersamaan dengan itu pintu ruangan pun terbuka, kemudian dokter pun masuk lalu segera menyuruh suster untuk membawa bayi Vidya ke ruangan khusus bayi dan Arya juga di minta untuk segera keluar dari ruangan.
Arya memberontak enggan meninggalkan Vidya sendiri, namun akhirnya dokter Adnan dan Abi Vidya pun berhasil membawa Arya keluar.
Arya langsung jatuh terduduk, ia masih menyuarakan nama Vidya di sela tangisnya. Ketakutan kembali mendera, membuat Arya semakin frustasi saat ini.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa di lakukan Arya saat ini selain berdoa pada Allah, meskipun Arya tau dirinya tidaklah pantas karna dirinya hanyalah seorang pendosa ulung.
Tapi bukankah Allah akan selalu mengampuni dosa setiap hambanya? Maka dari itu untuk pertama kalinya Arya kembali mengantungkan harapannya pada Allah, yang menjadi satu-satunya sumber harapannya saat ini.