Without You

Without You
Stuck With You (Gama Story)


__ADS_3

Rayn sudah kembali ke rumah, saat ini ia sedang duduk berhadapan dengan Mamah nya yang sedang menatap datar Rayn.


"Kamu tau kenapa kamu Mamah minta menghadap ke Mamah?" Rayn mengelengkan kepalanya sambil menunduk.


"Kamu Mamah didik dan besarkan dengan cara yang keras supaya kamu bisa menjadi orang yang hebat dan meneruskan usaha kita sebagai pembunuh bayaran. Kamu Mamah latih dengan giat sedari kecil, bagaimana bisa hanya karna anak SMA biasa kamu gagal mendekati target di hari pertama? Bagaimana bisa Rayn?!"


Rayn tersentak kaget saat sang Mamah membentak dirinya, Rayn masih diam tak berani menatap balik Mamahnya yang kini sedang melayangkan tatapan tajam untuknya.


"Kalau perintahnya di suruh untuk langsung membunuh target itu pasti akan mudah bagi ku Mah, tapi perintah kali ini berbeda. Aku di suruh mendekati target yang entah tujuannya apa pun sampai sekarang aku masih tidak tau," kata Rayn sambil menghela nafasnya gusar.


"Klien kita memang tidak memberitahu tujuan awal mereka untuk memperkerjakan dirimu, apapun alasan dan tujuannya itu tidak terlalu penting. Yang terpenting mereka sudah membayar kita dengan sangat mahal, dan kamu harus melaksanakan perintah dari mereka dengan benar. Jangan sampai kamu gagal mendekati target, kalau kamu sampai gagal ... reputasi anggota kita akan tercemar jelek. Mengerti kamu?!" Rayn menganggukkan kepalanya mengerti, walaupun ia merasa beban yang pikul kali ini akan terasa semakin berat lagi.


Setelah mengatakan hal itu, sang Mamah pun segera menyuruh Rayn untuk keluar dari ruangan kerjanya. Rayn menurut, ia segera berjalan menuju ke lantai dua yaitu tempat di mana kamarnya berada.


Rayn mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku nya, ia segera menyalahkan rokok tersebut dan menghisapnya. Rayn jarang sekali merokok, dan ia hanya merokok saat fikirannya terasa sedang kalut. Seperti saat ini.


Rayn duduk di balkon seraya termenung memperhatikan rembulan yang bersinar dengan redup malam ini, Rayn menyungingkan senyuman sendunya. Rayn mulai berbicara pada hatinya, berbicara tentang betapa peliknya hidup yang selama ini harus ia jalani.


Rayn berdiri sesaat dan menginjak puntung rokok miliknya, lalu tatapan Rayn beralih pada kedua telapak tangannya. Entah sudah berapa banyak nyawa melayang dan berapa banyak darah mengalir akibat perbuatan tangan Rayn, sebenarnya ia enggan melakukan pekerjaan sebagai pembunuh bayaran seperti sekarang ini. Rayn tidak ingin, namun keadaan dan Mamah nya yang selalu mendesak Rayn untuk menjadi seorang pembunuh bayaran.


Sudah banyak nyawa yang ia habiskan, dari tua bahkan hingga yang muda. Semua korbannya selama ini selalu bertekuk lutut kala berhadapan dengan Rayn. Seorang pembunuh belia yang begitu di takuti dan terkenal dengan kekejamannya, Rayn memang biasanya di perintahkan oleh perusahaan-perusahaan ternama untuk menghabisi orang yang mereka anggap akan membahayakan posisi perusahaan mereka.


Percayalah Rayn sebenarnya sangat enggan menjadi seorang pembunuh, tapi dia dari kecil selalu didik untuk tidak pernah merasa kasihan saat berada di depan korbannya. Ia di tuntun untuk bekerja secara profesional, tidak memandang usia. Mulai dari anak-anak, wanita, pria, bahkan lansia pun jika memang ia di tugaskan untuk membunuh mereka semua pasti tentu saja akan Rayn lakukan.


Rayn merasa berdosa, ia tidak ingin lagi melakukan perbuatan keji seperti ini. Namun Rayn tidak memiliki keberanian untuk meminta pada Mamah nya agar ia di lepaskan dan di bebas tugaskan dari pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran. Namun rasanya itu begitu mustahil, Mamahnya selalu saja mengancam dan tak segan-segan memukuli Rayn jika Rayn berkata ingin berhenti dari pekerjaannya ini.


Dari semua tugas yang telah ia terima sejak usianya masih enam tahun, kali ini adalah tugas yang terberat.


Rayn mengeluarkan secarik foto dari dalam sakunya, ia pandangi foto seorang perempuan berkerudung merah maroon sedang tersenyum lebar ke arah kamera. Foto itu adalah foto target Rayn kali ini, siapa lagi kalau bukan Keira anak dari seorang pengusaha ternama Langit Agam Perkasa.


Di pandanginya foto tersebut, Rayn akui tugas untuk mendekati seorang gadis baru ia dapatkan kali ini. Sebelumnya ia hanya di tugaskan untuk membunuh dan membunuh targetnya, Rayn tak pandai bahkan tak tau bagaimana cara agar bisa mendekati seorang gadis. Ia terlalu kaku, sikapnya terlalu dingin. Bahkan ia tidak yakin bisa menjalankan tugas yang di berikan kali ini padanya.


Namun mau bagaimana lagi, tugas tetaplah tugas yang harus ia jalankan. Ada harga yang harus di bayarkan saat nyawa seseorang melayang.


Rayn memasukkan kembali foto Keira ke dalam sakunya, ia tersenyum miring. Merasa agak senang karna sudah bisa menyingkirkan Rafly dari hidup Kaira, dengan begitu langkahnya untuk mendekati Keira semakin mudah. Walaupun sulit juga untuk mendekati seorang gadis, karna sebelumnya Rayn memang tak punya pengalaman dalam hal seperti ini. Tapi ia tidak boleh menyerah, ia harus membuat Mamah nya bangga pada dirinya. Rayn akan melakukan apapun untuk mendapatkan kasih sayang dari Mamah nya bahkan mencelakakan seseorang sekalipun. Rayn sanggup.


.........


Rayn baru saja sampai di kelasnya, telinganya langsung di sambut dengan gosip hangat yang pagi ini sedang gempar.


Gosip perihal Rafly yang masuk rumah sakit, dan harus di rawat karna patah tulang. Semua orang membicarakan hal itu pagi ini, Rayn hanya menghela nafasnya kasar. Ia lebih memilih duduk tenang di tempatnya, seolah-olah berita tentang jatuhnya Rafly dari tangga tidaklah menarik minat Rayn.


Tatapan bosan Rayn berganti dengan tatapan lain saat ia melihat kehadiran Keira yang baru saja datang. Wajah gadis itu tampak berbeda dan terlihat sedih, Rayn yakin gadis itu pasti habis menangis karna matanya terlihat sembab.


Rayn masih diam bahkan saat Keira sudah duduk di depannya pun ia masih tidak mengatakan sepatah katapun, Rayn hanya menatap punggung kecil Keira yang duduk di hadapannya saat ini.


"Keira," panggil Rayn pada akhirnya ia mau bersuara juga.


Keira yang mendengar panggilan dari Rayn pun degera menolehkan kepalanya ke arah Rayn.


"Kenapa?" tanya Keira.


Rayn diam sejenak, ia juga bingung mau mengatakan apa pada Keira.


"Mau liat pr matematika kemarin boleh gk?" tanya Rayn pada akhirnya itulah yang ia suarakan pada Keira.


Keira tidak banyak bicara, gadis itu mengeluarkan buku tulis matematikanya dari dalam tas lalu menyodorkannya pada Rayn.


"Makasih Keira," kata Rayn, dan lagi-lagi Keira hanya mengangguk pelan setelah itu ia kembali diam dengan wajah sedihnya yang begitu ketara.


"Keira, ya ampun gue daritadi nyariin lo tau."

__ADS_1


Lalu tatapan Gama beralih pada seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam kelas dan berjalan menghampiri meja Keira.


Keira yang melihat gadis itu pun segera berhabur ke dalam pelukkan gadis itu, dan bisa Rayn pastikan bahwa saat ini Keira sedang menangis. Itu terlihat jelas dari punggungnya yang bergetar.


"Hiks ... Nada ... hiks ... Rafly masuk rumah sakit," kata Keira di sela-sela isak tangisnya.


"Iya gue tau, udah ah jangan nangis. Nanti pulang sekolah kita jenguk Rafly ya," kata gadis yang Rayn ketahui bernama Nada.


"Beneran?" tanya Keira sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah Nada.


"Iya, gue yang nanti temenin lo ke rumah sakit jenguk Rafly."


Keira akhirnya tidak menangis lagi, wajahnya terlihat senang saat tau kalau Nada akan menemaninya ke rumah sakit untuk menjenguk Rafly.


"Permisi, saya juga boleh ikut jenguk?"


Keira dan Nada kompak langsung menolehkan kepala mereka saat mendengar perkataan Rayn barusan.


"Dia siapa?" tanya Nada yang sepertinya agak asing dengan wajah Rayn.


"Dia Rayn, anak baru di kelas gue," jelas Keira yang memperkenalkan Rayn pada Nada.


Nada masih diam menatap wajah Rayn, dengan tatapan yang terlihat begitu terkagum-kagum dengan wajah tampan Rayn.


"Jadi? Saya boleh ikut jenguk?" tanya Rayn lagi.


"Gimana ya, sebenernya nanti kita-" perkataan Keira terhenti karna Nada langsung menyelanya.


"Iya boleh! Boleh banget kok!" seru Nada membuat Keira terheran-heran dengan tingkah sahabatnya itu.


"Oke, makasih ya," kata Rayn di sertai dengan senyuman tipis di bibirnya namun mampu membuat wajah Nada memerah.


"Nad muka lo kok merah?" tanya Keira dengan wajah polosnya, Nada yang mendengar perkataan Keira pun segera bangkit dan menarik tangan Keira keluar dari kelas, meninggalkan Rayn yang hanya diam melihat interaksi kedua gadis itu.


"Sttt, ih lo mah. Bikin gue malu aja di depan Rayn," kata Nada sambil mengerucutkan bibirnya.


Keira memicingkan matanya, mendekatkan wajahnya pada Nada lalu menatapnya dengan tatapan penuh selidik.


"Lo suka ya sama Rayn?" tuding Keira membuat Nada langsung gelagapan.


"Ish! Ng ... nggak! Apa-apaan sih lo," kata Nada yang berusaha mengelak namun justru malah semakin memancing Keira untuk terus mengoda dirinya.


"Ciee Nada ciee, gue tau kok lo suka sama Rayn. Muka lo merah banget tuh," kata Keira dan sontak saja Nada langsung menutupi wajah dengan kedua tangannya membuat tawa Keira menguar.


"Haha, tuh kan bener lo suka dia," kata Keira yang masih gencar mengoda Nada.


"Ish! Au ah, gue balik ke kelas dulu. Lo rese," kata Nada lalu pergi dengan wajahnya yang masih memerah.


Keira tertawa melihat kepergian Nada, setelahnya ia juga ikut masuk kembali ke dalam kelas karna ia melihat dari kejauhan sudah ada tanda-tanda Bu Sukmi, guru pelajaran Biologinya dan karna ia tidak mau kena hukum jadi ia langsung masuk kembali ke dalam kelas.


.......


Pelajaran hari ini sudah berakhir, kini Nada dan Keira sedang menunggu Gama yang katanya ingin ikut menjenguk Rafly di rumah sakit.


"Gama kemana sih? Duluan aja lah yuk," kata Keira yang sepertinya sudah tidak tahan lagi menunggu sosok Gama yang tidak muncul-muncul.


"Ih, sabar dong Kei. Nanti juga datang kok Gamanya," kata Nada yang masih tetap ingin menunggu Gama terlebih dahulu.


Keira menghela nafasnya, akhirnya ia diam saja walaupun sebenarnya ia kesal juga karna menunggu Gama yang tidak tau ada di mana keberadaannya saat ini.


"Maaf ya saya telat," kata Gama yang baru tiba di hadapan Nada dan juga Keira.

__ADS_1


"Tuh tau," kata Keira dengan wajah sebalnya. Nada yang mendengar ucapan Keira segera menyenggol lengan gadis itu.


"Nggak kok, ya udah ayo kita berangkat ke rumah sakit nanti keburu semakin sore," kata Nada lagi.


Akhirnya Nada dan Keira pergi ke rumah sakit dengan menggunakan taksi sedangkan Gama memilih untuk naik motor miliknya yang kebetulan ia bawa.


Lalu tak butuh waktu lama, ketiga orang itu sudah sampai di rumah sakit. Mereka melihat Rafly yang keadaannya begitu mengenaskan, saat melihat kehadiran Keira di sana. Rafly langsung menyambutnya dengan senyuman.


"Gue kira lo gk akan jengukin gue Kei," kata Rafly pada Keira yang saat ini berdiri di sampingnya.


Keira hanya diam, menatap ke arah tangan kiri Rafly yang sudah di perban.


"Eh? Kan gue yang sakit Kei, kenapa jadi lo yang nangis gini sih?" Tanya Rafly saat melihat Keira sudah meneteskan air matanya.


"Huaaa, lo nyebelin banget! Kenapa pake sakit segala coba?! Kan gue jadi susah, gk ada yang bisa gue contekkin pas pelajaran Kimia, huaa Rafly nyebelin!"


Rafly hanya meringis pelan saat Keira memukul-mukul pundaknya sambil menangis, Rafly lalu menahan tangan Keira agar tidak semakin arnakis memukuli badannya. Bisa-bisa bukannya sembuh malah jadi sakit lagi nantinya.


"Kenapa bisa gini sih?" tanya Keira yang sudah meredakan isak tangisnya.


"Gue juga gk tau, seinget gue kemarin sore tuh gue balik lagi ke kelas buat nggambil ponsel terus tiba-tiba belakang kepala gue kaya di pukul sesuatu dan setelah itu gue gk inget. Terus kata nyokap gue, semalam gue di temuin sama satpam udah gk sadarkan diri di deket tangga," kata Rafly menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa dirinya.


Keira terlihat menghela nafasnya, ia sebenarnya juga bingung. Siapa sebenarnya yang sudah mencelakakan Rafly sampai seperti ini.


"Udah gk usah sedih elah, gue gk apa-apa kok Kei," kata Rafly sambil tersenyum berusaha meyakinkan Keira.


"Gk apa-apa gimana?! Jelas-jelas lo tuh kenapa-kenapa tau gk!"


Rafly tertawa melihat Keira, namun dalam hati ia merasa senang melihat Keira yang begitu perhatian pada dirinya.


Sementara itu di lain sisi Rayn sudah mengepalka tangannya melihat kedekatan Rafly dan Keira.


Setelah lama berbincang dan bercanda tawa, Keira dan Gama pun pamit pulang. Sedangkan Nada? Gadis itu sudah lebih dulu pamit pulang karna katanya ada urusan mendadak.


"Pulang naik apa?" Tanya Gama pada Keira yang berdiri di sebelahnya.


"Gk tau nih, paling minta jemput Kakak gue," jawab Keira.


"Gk usah, bareng saya aja Kei," kata Gama membuat perhatian Keira dari layar gawainya teralihkan.


"Bareng lo? Gk ah, nanti gue yang ada ngerepotin lo," kata Keira lagi.


"Gk kok, ayo kita pulang bareng," ajak Gama lagi. Keira terlihat menimbang-nimbang ajakkan Gama.


Ia melihat ke arah langit yang sudah mengelap, pertanda sebentar lagi akan malam..


"Gimana? Mau?" tanya Gama untuk kesekian kalinya.


Keira akhirnya menganggukkan kepalanya membuat Gama  senang, Gama segera memberikan helm pada Keira. Namun gadis itu hanya diam tidak memakainya.


"Eh, gue bisa sendiri!"


Tapi Gama tidak mengubris, ia tetap memakaikan helm tersebut pada Keira. Membuat Keira terdiam menatap wajah Gama yang berada agak dekat dengannya.


"Ayo naik," kata Gama yang membuyarkan lamunan Keira.


Keira mengangguk lalu segera naik ke atas motor Gama.


"Sudah siap?" tanya Gama yang sudah siap untuk melajukan motornya.


"Iya," balas Keira dan tentu saja Gama langsung melajukan motornya.

__ADS_1


Dalam hati Gama berseru senang, akhirnya ia bisa menggambil langkah awal untuk bisa mendekati Keira yang menjadi targetnya.


__ADS_2